Hannoic War

Hannoic War
Penyakit (Part 25)



"Ketika perang datang...hukum tentang kemanusiaan jatuh terdiam.."


-Marcus Tullius Cicero


Penyakit


Suara langkah kaki manusia maupun kuda terdengar.


Berjalan Charla diantara rombongan petani dan rakyat biasa.


Lumpur yang becak bisa dirasakan dikaki Charla.


Dibelakangnya terdapat Hanno yang terdiam, dan menatap kedepan dengan tajam.


Terlihat didepan mereka terdapat sebuah benteng buatan dari kayu…


Sebuah kamp pasukan yang dikelilingi dinding kayu buatan dengan parit disekililingnya.


Terlihat beberapa prajurit disekitar dinding menjaga dan mengawas.


Terlihat ada juga rakyat biasa yang bekerja menggali parit dan prajurit yang mengawasi mereka bekerja.


Beberapa prajurit terlihat sakit dan pucat..


Beberapa genangan muntah terlihat dibeberapa bagian…


*Penyakitkah..* ,pikir Charla.


Dan ada yang lain…


"AHHH! TOLONG PAK! SAKIT! KASIHANI AKU!"


Terlihat seorang pria diikat tangan dan kakinya disebuah papan berdiri berbentuk kotak panjang.


Tidak...tidak diikat tangan dan kakinya tapi dipaku..


Terlihat ia menangis meminta kasihan dan berteriak.


*TAAKKKKK!*


"AAAAHHHHHHH!!"


Terlihat seorang prajurit memukul alat kelamin pria tersebut dengan papan kayu.


"Yaaa! Aahhahahaha!" ,ucap prajurit yang memukulnya tertawa cekikikan dengan memegang papan dikedua tangannya.


"Andarr! Ayo putar dadunya!" ,ucap salah satu prajurit sambil duduk didekat sebuah meja.


Terlihat seorang prajurit yang lain itu memutar dadu dimeja tersebut.


"Tiga! Aku dapat pukul kepalanya! Hahahahha!" ,ucap prajurit yang duduk kemudian berdiri dari kursinya.


Charla hanya bisa terdiam melihatnya…ini tak membuatnya merasa mual, dia sudah melihat hal yang lebih buruk.


"Demi Dewa Laut kenapa pria itu dipukul? Tolong berikan dia rasa kasihan" ,ucap Charla dengan suara senada pendeta yang ia bisa.


"Hehhehe..dia seorang jenderal Geralda bodoh yang menyerang kamp kami ditengah malam dengan 3.000 pasukan kecilnya" ,ucap prajurit yang menunggangi kuda didepan Charla sambil tertawa.


"Dasar bodoh hehehe, dia pikir dengan pasukan kecil dan kejutan, dia bisa langsung mengalahkan 28.000 pasukan dibawah kepemimpinan Jenderal Toran Garius siBurung Hantu Merah" ,ucap salah satu prajurit berkuda sambil mengambil sekantung air dipinggulnya.


"30.000 pasukan disekitar sungai hitam itu disergap raja pemberontak karena kebanyakan pasukan itu milisi yang tak berpengalaman. Jenderal berpengalaman mereka pun sedang terluka parah" ,ucap salah prajurit diatas kuda yang lain.


"Sedangkan tuan Toran Garius itu berpengalaman dalam ratusan medan perang dan masih sehat, taktik murahan menyergap ditengah malam itu tak akan bisa mengenai seorang jenderal berpengalaman" ,ucap salah satu prajurit diatas kuda sambil tersenyum dengan tombak dibahunya, "ngomong-ngomong Jamrr! Bagi-bagi anggurnya lah!"


"Bacot, ini yang terakhir aku dapat dari jarah desa, kau minta Hott! Dia punya banyak!" ,ucap salah satu prajurit yang kemudian meminum air anggur dari kantung kulit.


Bisa terlihat bekas luka mereka ditangan dan wajah prajurit yang menunggangi kuda.


…prajurit bernama Jamr yang meminum anggur bisa terlihat punya luka gores miring pedang dipipinya.


Bisa terlihat beberapa dari mereka memiliki cincin hasil jarahan.


*Mereka mungkin bajingan...tapi mereka merupakan pasukan yang berpengalaman diperang…mereka pasti tak mudah kena taktik murahan menyergap ditengah malam juga..* ,pikir Charla sambil melihat kearah pria yang disiksa dan yang dipaku dipapan itu.


"Ini karena kau ganggu aku tidur tengah malam setan!" ,ucap salah satu prajurit sambil mengayunkan papan kearah kepala pria yang disiksa tersebut.


*PTAAAKKKK!*


"Engh!" ,ucap pria yang disiksa tersebut sambil merasakan papan dikepalanya.


"Oi bodoh keras sekali kau pukulnya! Nanti mati bodoh! Tak dapat giliran nanti yang lain mukulnya!" ,ucap salah satu prajurit yang melihat prajurit yang memukul itu.


Charla hanya bisa berwajah dingin sambil melihat pria yang dulunya jenderal itu yang menangis kesakitan.


Pria itu bisa terlihat cukup muda…


*Dia anak muda...pantas saja dia punya pikiran seperti itu..anak muda biasanya punya kebodohan seperti itu..* ,pikir Charla.


Charla kemudian melihat kembali kearah Hanno.


Charla berpikir berapa umur Hanno yang sebenarnya...kakaknya sendiri bilang kalau dia 17..


Hanno sendiri berbeda dari umurnya meskipun diumur begitu biasanya mereka punya ide berani mereka sendiri tapi Hanno...terlihat punya beberapa keberanian tapi bukan keberanian tipe muda..


19? Atau mungkin 20? 25? Atau mungkin lebih tua dariku…


Charla sendiri berumur 29 tahun, tak sadar dirinya sudah berumur segini, baru saja rasanya sebentar Perang Tyronia berlangsung dan berakhir.


Charla ingat rasanya baru beberapa hari yang lalu ia melawan perintah bibinya untuk tinggal dan memutuskan untuk pergi lewat kuda menemui Vespasian yang dahulu masih menjadi murid seorang bangsawan diKota Bravirias.


Kemudian dia melawan ratusan perintah bangsawan lain dan memutuskan untuk ikut kemedan perang.


'Ini perangnya Pria bukan Wanita, perang Wanita itu diatas kasur perkawinan dan kasur tempat melahirkan'


Charla ingat seseorang pria tua mengatakan hal itu padanya..dan dia sudah melupakan siapa dia..


Dia sudah terkubur ditanah Tyronia mati berperang...


"Kakak, tolong maju" ,ucap Hanno.


"Apa?" ,bertanya Charla sambil melihat kearah Hanno.


"Maju saja-


"Oi kenapa pendeta dewa laut ini berhenti!? Ganggu aja! Cepatlah berjalan bego!" ,ucap salah satu prajurit diatas kuda.


"Heh? Dia pendeta laut ya? Mana pakaiannya?" ,ucap salah satu prajurit dari jauh melihat mereka.


"Katanya dia menyamar sebagai pria karena takut diperkosa dijalan, kalau begitu tak pakai pakaianmu sekarang? Tak ada yang perlu ditakuti, tak ada yang mau memerkosamu disini" ,ucap salah satu prajurit diatas kuda yang menoleh kearah Charla.


*Sial* ,pikir Charla memikirkan bagaimana caranya dia dapat pakaian pendeta.


Kemudian Charla melihat Hanno, berharap sesuatu dari dirinya….


"Maafkan kami tuanku, pakaian pendeta kami tinggalkan ketika dikejar beberapa bandit tadi" ,ucap Hanno dengan cepat.


"Dikejar bandit ya...kenapa tak bilang dari tadi pembohong.." ,ucap salah satu prajurit diatas kuda.


"Sudah kuduga kalau mereka berbohong daritadi sih.." ,ucap salah satu prajurit diatas kuda sambil memegang pegangan pedangnya.


"Potong lidah mereka dan telanjangi perempuan yang itu, kita kasih contoh...supaya tidak ada petani yang berniat bohong kepada kita" ,ucap salah satu prajurit melepaskan pedangnya dari sarungnya.


"Oi sini perempuan!" ,ucap salah satu prajurit sambil memegang tangan Charla.


Terasa tangan kasar dingin pria itu ditangan kanan Charla.


"!" ,Charla melawan sekuatnya untuk melepaskan tangannya..


Charla dengan kuat melepasnya hingga prajurit itu terpaksa menggunakan kedua tangannya.


"Oi! Nih perempuan kuat juga!" ,ucap prajurit yang memegang Charla.


*Shringggg!*


Terdengar beberapa prajurit melepaskan pedangnya, kemudian mendekat kearah Charla.


Sedangkan beberapa memilih membawa tombaknya.


"Kumohon pak! Lepaskan kakakku!" ,ucap Hanno yang kemudian melangkah menghalang beberapa prajurit yang mendekati Charla.


*BBBRASSSH!*


Suara Charla memukul pipi prajurit yang memegangnya hingga menjatuhkannya ketanah terdengar.


Terlihat prajurit itu pingsan dengan pukulan Charla.


Beberapa prajurit terkejut melihat Charla.


Kemudian bisa dilihat dibalik rambut panjang Charla bisa dilihat mata merah bercampur ungunya…


Tapi kali ini bisa dilihat kalau mata merahnya melebihi warna ungu matanya…


Charla terlihat marah dan memasang kuda-kudanya.


"Tunggu sebentar...mata itu..cara bertarung itu.." ,ucap salah satu prajurit dengan pedang ditangan kanannya.


Terlihat prajurit itu memasang lambang Melati dengan latar belakang Hijau punya Keluarga Talass yang dari Legata didadanya.


"Siapa kau buk?" ,ucap prajurit dengan lambang Melati itu didadanya.


"Aku? Aku Charla dari Keluarga Ohara adik dari Vespasian Ohara dan anak dari Blourr Ohara dan Hera Berrau, yang kalian panggil Iblis dari Ohara dan Legata" ,ucap Charla dengan tangannya yang memiliki bekas memukul prajurit tadi.


.


.


.


.


.


.


.


.


____-_-_____


.


.


.


.


.


.


"Benteng Myhall sudah terlihat didepan kita kapten" ,ucap salah satu pelayar diatas kapal yang berlayar disungai ini.


Sungai Garpu Putih yang cukup indah bahkan ditengah malam, terbentang pemandangan tersebut diorang yang diatas dikapal-kapal ini.


"Terus mengintai kedepan, ini adalah salah satu 5 kapal terakhir milik Yang Mulia Trivistane. Kita kalah disebuah pertempuran atau disergap dan kapal ini rusak atau diambil, maka itu akan menjadi akhir untuk perang ini dengan kita kalah didalamnya" ,ucap kapten 5 kapal tersebut berdiri didek kapal.


Beberapa prajuritnya yang ikut berjaga-jaga juga disekitarnya.


Angin berkibas dimalam begini dengan obor yang cukup minimum, karena kapten tak mau ketahuan pasukan.


"Dasar Khajir, dia terlalu berani untuk mengambil kastil itu. Padahal Yang Mulia hanya mau Khajir menjarah beberapa desa dan bernegosiasi dengan beberapa keluarga untuk berpindah pihak kekita" ,ucap kapten kapal tersebut sambil melepaskan sarung tangannya untuk menyegarkan jari-jarinya.


Bisa dilihat Kastil Myhall yang berdiri tegak dengan towernya dari jauh...terlihat kecil...tapi semuanya akan sama....kalau didekati pasti akan membesar..


Kastil Myhall memiliki peran penting dalam menjaga salah satu posisi strategis Sungai Garpu Putih, bisa jadi loncatan untuk mengambil ibukota Damaltia..


Tapi kita tak punya banyak pasukan lagi untuk mengambil Ibukota...kita harus memenangkan salah satu keluarga Damaltia..


Tapi bukannya Yang Mulia memerintahkan Khajir untuk kembali kePelabuhan Harlaw..


"Sekarang Yang Mulia harus mengirimnya suplai agar membantunya dalam pengepungan...dasar.." ,ucap kapten tersebut.


Kapten itu hanya bisa menghela nafas kelelahan..


"Mau anggur tuanku?" ,ucap salah satu pelayan mendekati mereka dengan teko berisi air anggur.


"Hm? Ya mau saja" ,ucap kapten tersebut.


Pelayan tersebut hanya tersenyum kepada kapten tersebut.


Salah satu prajurit kemudian menatap pelayan tersebut....


Prajurit tersebut kemudian melihat sesuatu dari pelayan tersebut..


Kemudian prajurit itu memasang wajah terkejut.


Berlari prajurit itu kearah kaptennya


"Kapten ada pisau dipakaian pelay-


*Cnnrek*


Prajurit itu kemudian ditusuk dari belakang dengan tombak oleh salah satu prajurit.


"Ada apa ini!?" ,ucap Kapten tersebut heran sambil memegang segelas anggurnya.


Satu persatu prajurit saling menusuk satu sama lain…


Dimata kapten itu dia tak tahu yang mana musuh atau tidak..


Tong-tong bergulingan dimana-mana..bercampur dengan darah dan besi..


*AAAAAAHHHHHHHHH!!!!!*


Suara papan melangkah dan teriakan pasukan terdengar dimana-mana…


Pelayan tersebut kemudian menusuk kapten tersebut…


"Ehh.." ,ucap kapten tersebut yang kemudian menjadi lemas..


"TUAN PAHLAWAN ELRIC! SEKARANG!"


Salah satu prajurit dengan armour berlambang mahkota didadanya dengan pisau berdarah ditangannya berteriak keatas..


Terlihat seorang berjubah diatas menara pengawas kapal berdiri…


Kemudian ia membuka penutup kepalanya memperlihatkan rambut merah bercampur putihnya…


Terlihat orang berjubah tersebut berbisik sesuatu…


Kemudian ia mengedepankan tangan kirinya…


Lingkaran sihir terbentuk ditangan kanannya..


*Wwwwwuuooooorrrrrrrhhhhhhh!*


Gelombang api keluar dari tangannya...


Untuk sebentar kapten bagaikan melihat Phoenix terbang keangkasa..


Kemudian yang kapten lihat adalah gelap..


Dan suara prajurit yang berteriak menderita dibakar....


.


.


.


.


.


.


.


.


___-_-_____


.


.


.


.


.


.


.


*Tuk*Tuk*Tuk*


Berjalan Vesius masuk kedalam kastil Fyrr, dengan suara langkah kakinya menggema dilorong.


Bisa terlihat kembali dinding kastil ini yang berwarna abu-abu.


Lorong kastil Fyrr berukuran raksasa dan sangat tinggi hingga pelayan yang berjalan diruangan ini terlihat sangat kecil dari jauh.


"Kmi, dimana Komandan Jarnan dirawat?" ,bertanya Vesius kepada salah satu pelayannya.


"Di-diRuangan Pedang Abu-abu tuanku" ,ucap pelayan itu sambil membungkuk dengan rendah.


"Ruang Pedang Abu-abu? Tidak dirawat diruangan Burung Hantu? Heh, seperti biasa dia selalu merendahkan dirinya" ,ucap Vesius sambil berjalan melewati pelayan tersebut.


*Atau mungkin takut jika ayahku pulang, dia akan dimarahi jika dirawat ditempat mewah hanya untuk Anggota Keluarga Garius* ,pikir Vesius.


Tapi ini sudah belasan tahun sejak ayahnya dan Vesius pulang keKastil ini, rumah mereka.


Disini dingin,lumayan sepi,membosankan dengan dinding batu tanpa banyak keindahan,besar tapi bukan berarti banyak yang bisa dieksplorasi.


Inilah Kastil Fyrr...Kastil yang hanya fokus dimiliter dan tempat barak pasukan, hanya Garius yang bisa mencintai Kastil ini.


Berjalan Vesius dengan angin yang bisa dirasakan dikulit Vesius.


Kemudian ia melihat wanita remaja itu tersenyum kepadanya..


'Kau ingat disini?'


Ia melihat lorong ini lagi…


Vesius..merasa buruk...


'Garius itu harus melindungi satu sama lain!'


Bisa terlihat sebentar untuk Vesius wanita itu mengepalkan tangan kanannya keatas dengan ceria.


Tapi mereka semua sudah mati...beberapa ditanah Tyronia...beberapa dikasur karena sakit…beberapa berdarah dipahanya demi melahirkan manusia yang baru..


'Gendut!'


'Mirip Babi Ya!?'


'Hahahhahahaha'


'Pemalas'


'Garius itu penjaga Victa ratusan tahun dengan pedang, bukan dengan membaca buku'


'Jika seorang pria tak bisa bertarung maka dia bukan seorang pria sepenuhnya, aku tak mau melihat seorang pria Garius ternyata setengah pria'


'Pengecut, kau itu pengecut'


*Kenapa aku pernah berpikir untuk datang kesini...?* ,pikir Vesius.


Kenapa?


Tapi disinilah kita sekarang…


Hanya Vesius yang berdiri diruangan ini…


Yang lain...berada ditanah bersama belatung..


'Aku akan membelamu Vesius! Mau baca buku lagi kah!?'


"Disini" ,ucap Vesius sambil membuka sebuah pintu.


Ketika dibuka sebuah bau busuk langsung datang kehidung Vesius.


Melangkah masuk Vesius kedalam ruangan ini.


Bisa terlihat Jarnan berbaring diatas kasur dengan selimut menyelimuti tubuhnya kecuali bagian kakinya.


Kakinya bisa terlihat kuning hingga kulit dan dagingnya.


Terlihat seorang kakek tua dengan ember kayu berisi air ditangannya.


"T-tuan Vesius? Ma-maafkan aku karena ketidaksopananku" ,ucap kakek tua dengan ember ditangannya tersebut.


"Tidak apa, Vale dan yang lain tunggu diluar, Boggar masuk bersamaku kesini" ,ucap Vesius sambil mengangkat tangannya.


Kemudian Boggar maju melewati ksatrianya yang lain dan kemudian mengunci pintu ruangan ini.


"Penyakitnya tambah parah nampaknya, Harrian" ,ucap Vesius sambil melihat kaki Jarnan.


"Iya tuanku, aku perlu memberinya air bercampur herbal untuk menghambatnya setiap hari, dia tak sadar kali ini karena aku memberinya 'Bubuk Mimpi Indah' " ,ucap Harrian sambil memeras kain yang berada diember tersebut.


"Sudah kubilang orang tua, kita harus beri dia 'Kekasihanan Besi' " ,ucap Boggar sambil mengeluarkan pegangan besinya.


"Diam Boggar, tuan Jarnan masih punya kesempatan hidup dan sehat, dia masih belum mau mati" ,ucap Harrian dengan tatapan tajamnya.


"Kenapa dia memilih anak ini sebagai penggantinya?" ,bertanya Vesius sambil kemudian perlahan duduk disebuah kursi.


"Tuan Jarnan katanya melihat dirinya didalam anak ini" ,ucap Harrian yang kemudian duduk dikursi juga mengikuti Vesius.


"Apa maksudmu kakek tua? Jangan samakan aku dengan kakek yang berbaring sekarat ini!" ,ucap Boggar dengan kasar sambil hampir mengeluarkan pedangnya.


"Boggar" ,ucap Vesius dengan nada kuat hingga membuat ruangan ini menjadi ruangan paling sepi didunia.


Tatapan tajam Vesius membuat Boggar terdiam hingga ketulang dan langsung mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan pedangnya.


"Hm, aku ingat ketika Tuan Jarnan kesini Boggar, ayahnya membawanya kesini untuk belajar melayani Keluarga Garius. Dia sama sepertimu dahulu, sombong dan angkuh, menganggap kekejaman dan rasa takut itu terlalu penting, dan punya keberanian tipe anak muda.." ,ucap Harrian sambil mengelap kedua tangan tuanya dengan kain.


"Belajarlah darinya nak, dia puluhan tahun lebih tua darimu, dan ratusan tahun lebih berpengalaman darimu" ,ucap Vesius sambil mengambil sekantung kulit air dipinggulnya, "heh, anak muda selalu menganggap dirinya lebih berpengalaman dari orang tua"


Boggar hanya bisa terdiam sambil menelan ludahnya.


"Tapi umur mengubahnya nak, umur selalu mengubah seorang pria, orang tua mengalami hal buruk ratusan kali lebih banyak dari yang kalian anak muda rasakan" ,ucap Harrian dengan tatapan tuanya.


"Ngomong-ngomong kenapa Tower 'Punggung' tak diisi prajurit penjaga didalamnya?" ,ucap Vesius sambil membuka peta yang dia ambil dari tasnya.


"Kami tak punya banyak pasukan lagi tuanku" ,ucap Harrian.


"Emang berapa banyak lagi pasukan yang kita punya? 8.000? 10.000? 7.000?" ,ucap Vesius sambil mengambil lilin untuk melihat peta yang ia buka.


"1.800" ,ucap Boggar dengan cepat, "500 prajurit yang lain berada dibenteng lain"


Ucapan Boggar membuat Vesius terdiam sebentar.


Vesius kemudian menatap peta dengan lama…


"Beberapa rakyat jelata yang kita tangkap bisa kita rekrut sebagai pasukan?" ,ucap Vesius.


"Sekitar hanya 1.000 itupun hanya kakek-kakek dan beberapa anak yang terlalu muda, ada pria, tapi tak membentuk setengah dari 1.000 itu" ,ucap Boggar, "kebanyakan rakyat jelata yang kita ambil adalah wanita"


"Kebanyakan pria nampaknya sudah direkrut untuk berperang disegala front...sungguh masa gelap bagi Republik.." ,ucap Harrian dengan suara tuanya yang memiliki nada sedih sekaligus nada bijak didalamnya.


"Mari kita berhenti mengeksekusi mereka jika ada sesuatu, kita pukul saja sebagai hukuman. Kita latih saja mereka...meskipun itu mungkin tak berguna, karena kita tak punya waktu, pasukan musuh sudah mendekat" ,ucap Vesius yang setelah itu meminum air dari kantung kulitnya.


"Bagaimana penggalian paritnya? Aku susah lama tak keluar melihat" ,bertanya Harrian.


"Diam kau kakek tu-


"Kita baru saja memulainya, Boggar ternyata bukannya memerintahkan petani untuk bekerja untuk menyiapkan untuk pengepungan tapi malah menyiksa mereka" ,ucap Tuan Vesius


Harrian hanya terdiam kemudian menggeleng kepalanya.


Boggar hanya berwajah kesal melihat mereka berdua.


Vesius hanya terdiam memandang Boggar dengan tatapan tajam.


"Itu untuk mencari mata-mata! Aku menyelamatkan kastil ini dari dipenuhi pengkhianat!" ,ucap Boggar dengan teriakan yang cukup kencang.


"Kadang tak bijak seorang pria mencari pisau tersembunyi dikegelapan, yang ada kau bisa ditusuk saat langkah pertama dikegelapan karena tak bisa melihat apa-apa" ,ucap Vesius dengan tatapan tajam, "cara terbaik adalah menunggu pisau itu keluar dari kegelapan dan menangkapnya"


Vesius kemudian mengambil kantung kulit berisi air yang lain dipinggangnya..


"Lebih kau belajar itu selama aku disini, jarang kau punya guru yang bagus sepertiku dizaman ini" ,ucap Vesius sambil membuka penutup kantung kulit berisi air tersebut.


"Kau!!" ,ucap Boggar dengan suara yang lebih besar hingga Vesius rasa itu bisa membangunkan komandan Jarnan.


Ruangan ini kemudian terjatuh dalam diam..


Vesius hanya memandang tajam Boggar dengan dingin dan tajam hingga membuatnya Boggar kembali terdiam.


Boggar hanya bisa berwajah pahit, ketakutan melihat Tuan Vesius.


Boggar tak punya kata-kata lagi...atau dia terlalu ketakutan untuk mengeluarkan kata lagi…


Harrian hanya bisa melihat dari jauh, bagaikan mengatakan kalau Boggar membangkitkan Burung Hantu raksasa yang tengah tidur siang.


"Vale" ,panggil Vesius sambil menaruh mulut botol air didepan mulutnya bersiap meminumnya.


*Tuk*


Pintu kemudian terbuka dan Vale terlihat berdiri melihat kearah mereka bertiga.


"Ada apa tuan?" ,ucap Vale bertanya.


"SiKomandan pengganti mau melatih milisi yang baru kita rekrut, dia nampaknya tak tahu jalannya kemana, tuntun dia" ,ucap Vesius yang kemudian meminum airnya.


"A-aku..aku tak mau melatih-" ,ucap Boggar yang kemudian terdiam melihat Vesius yang memasang mata yang melebar dan pupil yang menyipit marah.


Vesius tak mengucapkan kata-kata…dan matanya yang melebar membuat Boggar ketakutan..


Boggar pada akhirnya keluar dari ruangan ini dengan Vale yang memegang lengannya.


Ketika pintu ini ditutup Vesius kemudian berhenti memasang wajah marahnya.


"Heh dasar anggota keluarga Betarrus, memang bangsawan Aquantania hingga ketulang. Selalu cepat marah dan temperamental, soal kalau darah Bangsawan Dwarf mengalir didarah mereka mungkin memang benar" ,ucap Vesius sambil tersenyum.


"Dia dikirim kesini untuk belajar memimpin tuanku, tapi kami tak bisa mengajarnya, dia selalu marah dan tak pernah mau, dia punya harga diri yang tinggi untuk diajarkan oleh Orang Victa" ,ucap Harrian.


"Rasa takut itu efektif Harrian, itulah salah satu yang kau tak sering gunakan" ,ucap Vesius, "semua manusia selalu digerakkan rasa takut, rasa takut kehilangan sesuatu yang mereka cintai, rasa takut mereka tak bisa bangkit lagi jika jatuh, rasa takut jika mereka mati….aku tak mengerti kenapa orang mengira menjadi pemimpin itu cuma harus bisa dicintai pada faktanya tidak..."


Kemudian Vesius melihat lukisan gambar nenek moyang pembuat Kastil ini…


Maurar Fyrr…


Vesius sekarang tahu kenapa tak ada petani atau budak yang terlalu berani memberontak padanya…


"Kadang ada sesuatu yang tak bisa ditaklukkan cinta" ,ucap Vesius.


"Hm, apa itu tuanku?" ,bertanya Harrian.


"Monster yang tak bisa merasakan cinta" ,ucap Vesius dengan suara paling dinginnya.