
"Semakin banyak hukum..semakin berkurang keadilan"
-Marcus Tullius Cicero
Munculnya Penghancur Sumpah
*Srakkkk..*
Darah biru keluar dari tubuh orc bermuncratan kedinding gua dungeon.
Pedang besi dinginnya bisa terlihat menjadi dibaluti daging orc dan darah birunya.
"Aku tidak tahan melihat yang merah tapi darah biru aku bisa" ,ucap Szeth sambil mengangkat pedangnya.
"Entah apa yang akan dikatakan Perrin ketika mendengarmu seperti itu" ,ucap pahlawan Hanud dengan perisai dan pedang dikedua tangannya.
"Jangan membuat candaan tentang Perrin terus menerus Hanud" ,ucap Cleorah yang berada ditengah-tengah pahlawan, "apa kau kelelahan Szeth? Mau digantikan?"
Terlihat disamping Cleorah terdapat Cyrus yang dijadikan pasukan pengganti.
Cleorah telah menyusun formasi pasukan untuk penerobosan dungeon, Szeth sebagai garda depan bersama beberapa pahlawan kuat dalam fisik lainnya.
Sedangkan penyihir dan orang yang memegang komando dirinya sendiri Cleorah berada ditengah-tengah, bersama beberapa pahlawan lemah yang tugasnya hanya mengangkat persediaan suplai.
Dibelakang ada beberapa pahlawan kuat dalam fisik tapi tak sekuat garda depan.
"Tidak, aku masih bisa" ,ucap Szeth sambil terus melihat kedepan.
*Ia tak berniat untuk berbalik bahkan untuk cuma sebentar* ,pikir Cleorah.
"Ya sudah" ,ucap Cleorah.
Makin dalam gua ini makin gelap dan makin menakutkan rasanya, meskipun bahkan mereka melewati lorongnya tanpa ada musuh datang kemereka.
Orc bahkan mulai berkurang jumlahnya semakin dalam mereka masuk kedalam dungeon, tapi ini malah tambah menakutkan.
Mereka menunggu musuh datang dari kegelapan tapi musuh tak datang-datang juga.
"Ah! Itu dia!" ,ucap Willy dengan rasa senang.
Willy tiba-tiba menerobos pahlawan lain dan maju kedepan dengan bodohnya, tanpa berhati-hati.
"Willy!" ,ucap Cleorah.
Willy kemudian berlutut dengan satu kaki disebuah tanah yang jauh dari pahlawan lain dan terlihat menggali tanah.
"Hanud dan Gakka pergi lindungi Willy" ,ucap Cleorah langsung memerintah.
"Haahh...ya sudah" ,ucap Hanud sambil menghela nafas kemudian langsung menurunkan perisainya dan berjalan kearah Willy, "oi! Jangan jauh-jauh anak sialan!"
Gakka kemudian juga mengikuti Hanud.
Bisa dilihat Gakka dan Hanud sampai kearah Willy, mereka bertiga terlihat baik-baik saja.
Terlihat mereka bertiga aman-aman dan tak ada yang mengganggu mereka, bahkan suara tawa mereka bisa terdengar.
Memang dari tadi tak ada monster atau orc yang datang kearah mereka, jadi mungkin dungeon ini sudah cukup aman...dan tak seberbahaya yang Cleorah kira..
*Nampaknya...ini aman..* ,pikir Cleorah.
"Kita beristirahat disini" ,ucap Cleorah dengan suara komando.
"Kita beristirahat disini!" ,ucap Cyrus lebih kencang memberitahu apa yang diucapkan Cleorah.
Beberapa pahlawan langsung menurunkan perisainya dan pedangnya, dengan cepat mereka semua menurunkan penjagaannya.
Pasukan bagian tengah langsung membantu pahlawan lain dengan memberi makan pahlawan lain ataupun menyembuhkan mereka dengan perban.
Sera terlihat gugup karena dia tak bisa menggunakan sihir penyembuhannya.
"Kau tak perlu menggunakan sihir penyembuhanmu kecuali ada situasi yang parah" ,ucap Cleorah sambil menoleh kearah Sera.
Sera langung mengangguk gugup.
"Ahahahahhaha! Akhirnya aku mendapatkan item untuk menambah levelku!" ,ucap Willy sambil terlihat dari jauh mengangkat sebuah peti.
Peti tersebut terlihat memiliki corak hijau yang sudah cukup memudar dan beberapa kata-kata dalam huruf yang tidak dibaca oleh para pahlawan.
Gakkan dan Hadun terlihat tersenyum bersamanya melihat peti itu.
Pahlawan juga terlihat menjadi ceria dan bahagia melihat mereka Willy yang senang.
"Buka petinya Willy!" ,ucap Gakkan dengan semangat.
"Iya-iya! Aku sedaanggg...bukka..nihhgh.." ,ucap Willy sambil mencoba membuka peti tersebut dengan kesusahan.
Dengan kesulitan Willy membuka peti tersebut tapi tanpa sengaja tiba-tiba Willy menekan sesuatu dipeti tersebut.
Tiba-tiba corak hijau dipeti tersebut bersinar terang sedangkan huruf dipeti tersebut bersinar hingga....
[Level mu telah ditingkatkan 30 level oleh Dewa Lama!]
[Willy Jerome telah membangkitkan Boss tingkat 5!]
[The Loyal Warrior of the Orc And The Army dibangkitkan sebagai boss!]
[LARI ATAU BERTARUNG!]
Layar digital itu telah datang kembali kehadapan Cleorah.
Jantung Cleorah berdetak kencang...
*Ddukk...Ddukkk..Dukkkk...Druuukkkk*
Suara langkah kaki dan gua dungeon yang bergoyang terdengar didepan mereka semua.
"Willy! Gakkan! Hadun! Lari kesini!" ,ucap Cleorah berteriak
Mereka semua terlihat berdiri melihat sesuatu...sesuatu yang besar datang kearah mereka......
Hitam,gendut,kuat,besar...
Seorang orc dengan armour besi hitam dan kapak yang hitam juga.
Bukan cuma orc itu…..ratusan tengkorak dibelakangnya...dengan pedang dan perisai tua mereka masing-masing..
Cleorah dan pahlawan lain berhenti bengong untuk sebentar.
"Bentuk formasi!" ,ucap Cleorah.
Tapi baru ia sadar...dia tak memimpin pasukan...dia memimpin anak muda...
Beberapa dengan cepat berdiri tapi dengan ceroboh mereka menjatuh beberapa senjata mereka, sedangkan beberapa terlalu takut untuk berdiri.
Cleorah kemudian melihat kedepan kembali...kearah Orc dan pasukan tengkorak itu..
*Carrrarararrrakkkkkkkk.....*
Suara tubuh terkoyak dan tulang patah ikut didalamnya terdengar....
Terlihat Kapak Orc besar itu tenggelam dalam tubuh Hudan...mengeluarkan darah tubuhnya...membunuhnya seketika..
Dan terlihat pasukan tengkorak berlari mengikuti Orc itu...
"AAAKKKHHHHHHH!!!! KAKIKU!! KAKIKU!!" ,ucap Willy yang terbaring dengan kakinya dipijak oleh orc dan tengkorak lainnya..
Orc itu terlihat memijak Willy...tapi terlihat Orc itu tidak peduli terhadap Willy, tapi peti yang Willy ambil.....
Begitu juga dengan pasukan tengkorak yang
Cyrus terlihat melesat dari samping Cleorah, langsung berlari dengan cepat kearah Willy.
*Cyrus?!* ,ingin berteriak Cleorah tapi ia tak bisa.
Sedangkan Gakkan menusuk pinggang orc itu dicelah armournya dan terlihat tusukannya tak berpengaruh.
Gakkan terlihat ketakutan ketika Orc mengalihkan pandangannya kearah Gakkan dan pasukan tengkoraknya mendekat kearahnya...
"Gakkan lari! Lari!" ,ucap Cleorah.
Gakkan langsung berlari-
Tapi dengan cepat kepala Gakkan digenggam Orc tersebut dengan kuat....sangat kuat hingga Gakkan mulai meronta kesakitan..
Kemudian ratusan tengkorak ikut menusuk-menusuk tubuh Gakkan dengan ratusan tombak dan pedang mereka..
"AAAAAAHHHHHHHHH!!!!!!!"
Mata Gakkan keluar dari kepalanya...dan berguling ditanah...
sedangkan tengkoraknya hancur...
Darah keluar bagaikan ledakan.
Sedangkan tubuhnya hancur penuh dengan tusukan tombak dan pedang..
Semua pahlawan bengong dengan shock...
"Gakkan..Willy...Cyrus...Hadun...mati semua...lari! LARI! LARI! KITA MUNDUR! KITA NAIK KELANTAI ATAS! LANTAI ATAS! MUNDUR!" ,ucap Cleorah dengan nada yang setengah panik setengah memerintah.
Beberapa pahlawan langsung bergerak dan berlari cepat ketakutan, beberapa berlari dengan panik.
Beberapa bahkan menggendong teman mereka untuk berlari.
"Cleorah! Mari lari!" ,ucap Cyrus yang tiba-tiba berada didekat Cleorah.
*Cyrus? Kapan kau disini?* ,Cleorah ingin mengatakan itu tapi dia memilih untuk tidak.
Terlihat Cyrus menggendong Willy yang terlihat kehilangan kakinya dan darah keluar banyak dari kakinya yang hancur.
Darahnya sangat banyak keluar hingga punggung dan paha Cyrus menjadi merah.
Cleorah kemudian ikut berlari dengan Cyrus dengan cepat.
Sedangkan Orcbitu terlihat mengambil peti tersebut.
Pasukan tengkoraknya dibelakang malah terdiam dan tak bergerak...
Untuk sebentar Cleorah berbalik…
Ia melihat Orc menjadi terlihat sangat marah, kemudian dengan cepat Orc itu mengejar mereka bertiga.
Pasukan tengkoraknya juga ikut lebih marah bergerak dengan liar hingga mereka mendorong dan memijak satu sama lain.
Berlari Orc itu dengan kecepatan yang tak pas dengan tubuhnya....
"Fire ball!" ,ucap salah satu pahlawan melemparkan sihir kekuatan apinya.
*Tidak jangan!* ,ucap Perrin dalam hatinya.
Lemparan api dan api yang membara membakar pasukan tengkorak tersebut..tapi itu tak efektif dengan jumlah mereka..
Ratusan membanjiri pahlawan yang berhenti melemparkan kekuatan sihirnya tersebut…
"AAAHHHHHHHHHHHHH!!!!"
Pahlawan tersebut dihancurkan didalam banjiran tengkorak itu..
"Terus! Lari terus!" ,ucap Cyrus sambil berlari.
Cleorah hanya bisa berwajah pahit sambil terus berlari.
Kemudian terlihat tangga untuk naik kelantai atas didepan mereka....
Tapi Orc dan pasukan tengkorak itu semakin mendekat dan mereka mulai tak yakin kalau mereka mencapainya...
Semakin dekat...semakin dekat....
Kaki Cleorah mulai merasa lelah...
Tanpa sadar Cleorah mulai memperlambat jalannya...
Didepan Cleorah terdapat Cyrus yang terus berteriak memperingatinya didepannya.....
Terlihat wajah Cyrus berteriak sekuat tenaga...
Entah kenapa Cleorah tak mendengarnya...
[Anda telah berada dizona aman]
*BBBBBUAKKKK!*
Dibelakang Cleorah terdengar sebuah benturan besar, seperti sebuah sesuatu yang besar menabrak dinding tak tertembus.
*Bbbbrrruuaakkktetetetyejkekekkettt!*
Cleorah kemudian berbalik....
Orc itu terhalang…
Begitu juga dengan pasukan tengkoraknya…
Terlihat pasukan tengkorak membanjiri dinding tak terlihat tersebut...tapi tetap…
Mereka tak bisa menebusnya..
Orc itu terhalang sebuah dinding tak terlihat...
Orc dan pasukan tengkoraknya itu mencoba menembusnya...tapi Orc dan pasukannya itu tak bisa....
Orc itu bahkan terdengar berteriak kencang tapi dia tak bisa menembusnya...
*Apa yang terjadi?...* ,pikir Cleorah kebingungan.
"Ada apa?" ,ucap Cyrus yang mendekat ke Cleorah setelah melihat Orc itu tak bisa menembus sesuatu.
Sebuah dinding yang tak terlihat...dan bisa dilewati oleh pahlawan..
Tapi kemudian sesuatu didahi Willy bercahaya...
Cleorah kebingungan…bengong ia melihat kearah Willy yang sedang digendong Cyrus.
"Oi, ada apa?" ,bertanya Cyrus kebingungan melihat Cleorah.
Cyrus kemudian menemukan apa yang Cleorah lihat ternyata dibelakang punggungnya.
Cyrus melihat kearah Willy...dan ikut terkejut
Cahaya itu masih bercahaya meskipun mulai berkurang.....
Dan kemudian sesuatu bisa dilihat dijidat Willy…
Sebuah zamrut hijau bercahaya menempel didahi Willy…
Untuk sebentar bisa dirasakan aura keluar dari tubuh Willy yang digendong Cyrus...
Aura itu bagaikan sebuah tumbuhan liar yang memegang semua bumi ini..
.
.
.
.
.
.
.
_____-_-_____
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kakak! Kemana saja kakak! Aku bahkan memerintahkan 20 prajurit keluarga kita untuk mencarimu!" ,ucap Relia adiknya Mya didepan pintu kamarnya menyambut kakaknya.
Mya hanya terlihat tersenyum sambil membawa keranjang berisi bunga ditangannya, senyumannya bahagia untuk sebentar dia benar-benar mirip dengan remaja biasa bukan seorang nona.
Tapi juga ada nada sedihnya didalam senyumannya.
"Kakak! Kakak pergi keluar hanya untuk mencari ini! Padahal bisa suruh pelayan untuk mengambilnya!" ,ucap Relia dengan suara setengah panik setengah lega.
Mya terlihat tertawa imut melihat adiknya.
"Terlalu membosankan untuk tinggal didalam kastil, kau bisa keluar dan melihat banyak hal Relia. Lagipula diulang tahunmu yang ke-12, aku ingin memilih bunga Haranid kesukaanmu" ,ucap Mya sambil mengelus-elus rambut adiknya.
"Ka-kakak..." ,ucap Relia dengan nada sedikit terharu.
"Bunga Haranid? Bukannya bunga Haranid itu warna ungu bukan hijau?" ,ucap Vesius sambil menaikkan alisnya dibelakang mereka berdua.
"T-tuan Garius! Ke-kenapa tuan...disini.." ,ucap Relia dengan suara yang mengecil.
"Tidak usah panik, Relia" ,ucap Mya, "ayo sambut tuan Vesius, jangan tidak sopan begitu"
"T-tuan Vesius.." ,ucap Relia sambil menunduk anggun dengan nada malu didalamnya.
"Hm" ,gumam Vesius mewajari malu nya Relia, "ngomong-ngomong soal bunga itu..itu bukan bunga Haranid nona"
"T-tuan Vesius! Tuan Vesius! Maaf kakak! Hehehe! Aku mau bicara berdua dengan Tuan Vesius sebentar ya!" ,ucap Relia dengan nada panik diwajahnya.
Kemudian Relia memegang kain pakaian Vesius untuk menariknya kesuatu tempat.
Nampaknya Relia ingin membicarakan sesuatu yang penting.
"Ma-maaf kakak!" ,ucap Relia sambil menunduk meminta maaf sebentar sambil memegang baju Vesius.
Ketika Relia keluar dari kamarnya dan menjauh nampak diwajah Relia terdapat nada sedih.
Kesedihan itu terlihat berhubungan dengan kakaknya.
"Fufufu.." ,ucap Mya tertawa melihat Relia dan Vesius menjauh dari dirinya.
Tawanya terdengar oleh mereka berdua. Vesius dan Relia kemudian berbalik melihat kenapa kakaknya tertawa.
"K-kenapa kakak?" ,ucap Relia.
"Selalu..selalu kau begitu....kau tak pandai berbohong dan menyembunyikan sesuatu Relia..katakan saja disini....aku tak masalah" ,ucap Mya sambil tersenyum licik.
Tapi dibalik senyuman liciknya...Vesius bisa melihatnya bahwa dia juga punya nada sedih disenyumannya...
"Apakah tak apa?" ,ucap Relia.
"Ya.." ,ucap Mya sambil kemudian senyumannya mulai mendekat kearah nada sedih.
"T-tuan Vesius" ,ucap Relia dalam nada gugup dan nada sedih, "Kakak Mya itu buta warna"
.
.
.
.
.
.
.
_____-_-___
.
.
.
.
.
.
.
.
Bangun anak muda itu dari tidurnya, matanya bangun bahkan menakutkan untuk sebentar meskipun dia baru bangun.
Tubuhnya sedikit kurus, otot ditubuhnya ada tapi tak banyak. Tapi kekuatan fisiknya lebih kuat dari Charla kira.
Memar ditubuh Charla masih ada karena pukulannya, rasa sakit ditubuh Charla juga bisa terasa.
"Hanno kau bangun.." ,ucap Charla duduk didekat sebuah meja.
Dimeja Charla terdapat mangkuk berisi telur rebus dan beberapa bawang.
Ada roti juga tapi terlihat hanya tersisa sedikit.
Hanno hanya terdiam dan keluar dari keranjangnya.
Bahkan tidurnya aneh dan rapi, tanpa ada bergerak...ia tidur bagaikan mayat..
Ketika bangun ia bahkan tak mengusap mata atau wajahnya seperti yang lain.
Ketika manusia tidur kadang kita kadang dapat melihat sisi tersembunyi manusia, sisi jelek wajahnya ketika tidur, sisi kelelahan orang yang rajin dan kuat, sisi lemah dari seseorang yang kuat, tapi anak ini....dia berbeda.
*Dia Hanno...apa yang aku harapkan?* ,pikir Charla.
"Mau makan?" ,bertanya Charla.
Charla kemudian melihat kearah jendela dimana ini masih belum terlalu pagi.
Bahkan matahari baru saja terbit.
*Apa yang anak ini lakukan dengan bangun ditengah shubuh begini?* ,pikir Charla.
"Nih, telur dan bawang, kita makan itu untuk sarapan" ,ucap Charla sambil melempar Hanno sebuah bawang.
Hanno dengan cepat mengambil bawang yang dilempar Charla.
*Bahkan reaksi dan refleksnya cepat…apa yang bisa kutajamkan dari anak ini?* ,pikir Charla.
Kemudian Hanno berjalan kearah Charla dan kemudian duduk didekat meja.
Hanno kemudian duduk sambil mengambil telur rebus.
"Mau makan roti bekas ku? Cukup disayangkan karena aku sudah lumayan kenyang" ,ucap Charla sambil mencuil putihnya telur rebus.
Hanno hanya terdiam sambil memakan telur rebus.
Suara mengunyahnya terdengar.
"Hahh...jawab Hanno, aku memerintahkanmu. Kadang tak menjawab jawaban seseorang itu tidak sopan" ,ucap Charla.
Hanno hanya melanjutkan diamnya. Kemudian mengambil roti bekas Charla itu, dan memakannya.
"Hahh…bicara dengan aksi itu kadang juga tak sopan membuat seseorang kesal Hanno" ,ucap Charla yang kemudian lanjut memakan telur rebusnya.
Kali ini Charla sudah mencapai kuning telurnya.
Rasa kuning telur memang seperti biasa bagaikan bubur lembut yang diendap menjadi bola.
Rasanya membuat mulut penuh dan tak begitu enak dimakan tapi ketika dicampur dengan bawang, itu menambah rasa selera makan.
Kemudian Charla mengambil segelas air putih.
*Gluk*Gluk*Gluk*
Teguk Charla air itu.
Rasa kuning telur,bawang,roti terhanyut kedalam membuat tenggorokan Charla terasa segar.
"Kita akan berangkat beberapa jam lagi, bersiap" ,ucap Charla.
Hanno adalah tipe yang tak pernah bertanya 'kemana kita ini?' merupakan sesuatu yang bisa disyukuri Charla. Karena dia tak cerewet dan membuat Charla merasa pusing.
"Perang sudah datang..dan sebentar lagi gelombang perang akan datang kedirimu Hanno..bersiaplah" ,ucap Charla.
"Nona sendiri?" ,ucap Hanno.
"Hah?" ,ucap Charla dengan cukup terkejut.
*Heh, akhirnya dia berbicara juga* ,pikir Charla sambil tersenyum.
"Apa nak?" ,bertanya Charla.
"Apakah nona siap untuk perang yang akan datang?" ,ucap Hanno dengan tenang.
Tatapan Charla kemudian menjadi tajam dan senyuman diwajahnya memudar...
"Aku pernah berperang melawan orang Tyronia, tak usah tanyakan apakah aku siap atau tidak Hano..." ,ucap Charla yang kemudian kembali menggigit bawangnya.
Terlihat Hanno hanya menatap mata Charla dengan tenang.
Tatapan Charla menatap Hanno dengan tatapan tajam.
Keduanya terdiam.
Dan hanya suara mengunyah bawang Charla yang terdengar...
*Tuk*Tuk*Tuk*
Diketuk pintu ruangan ini, nampaknya ada seseorang yang ingin menemui Charla.
"Nona...ini peta yang anda minta" ,ucap seorang wanita dibalik pintu tersebut.
"Hm" ,gumam Charla sambil menaruh bawangnya kemeja.
Charla yang langsung berdiri dengan tangannya yang sedikit basah dengan cairan bawang.
Berjalan Charla kearah pintu itu dan mendekatinya dengan cepat.
Dengan pelan Charla membuka pintu itu dan terlihat didepan mereka wanita yang terlihat memakai pakaian putih.
"Ini peta Republik Victa, salinan dari peta Gelerr 'Si Pelukis' nona" ,ucap wanita tersebut.
"Ya...terima kasih, ini 20 koinnya" ,ucap Charla sambil memberi wanita itu 20 koin.
"Ya sama-sama, semoga Tuan Cahaya memberkati anda selama perjalanan anda" ,ucap wanita itu sambil meletakkan tangan didadanya dan menunduk kepada Charla.
"Ya....terima kasih, tapi aku tidak perlu bantuan dari sebuah dewa baru selama perjalananku" ,ucap Charla.
"Tuan cahaya adalah satu-satunya dewa...dewa yang asli dan tidak palsu" ,ucap wanita tersebut.
"Terima kasih...nasihat religiusnya....tapi aku tidak membutuhkannya.." ,ucap Charla dengan mencoba tetap sopan.
"Baiklah kalau begitu" ,ucap wanita tersebut sambil menunduk yang terakhir kalinya.
Wanita tersebut kemudian pergi berjalan menjauh dari kamar mereka berdua.
*Tuk*
Tutup pintu kamar oleh Charla.
"Hahh...dewa kah.." ,gumam Charla sambil memikirkan semua hidupnya saat ini, "Hanno tolong ambilkan aku kompas dikasurku, kemudian minggirkan makanan itu"
Tapi Hanno terlihat terdiam dan tak mendengarkan....
Hanno terlihat menghadap kebawah, sedangkan keringatnya turun banyak dari badannya...
Tangannya terlihat bergetar...
*Tak*tak*tak*
.sedangkan kakinya terus mengetuk-ngetuk lantai
"...Hanno?" ,ucap Charla sambil mendekat kearah Hanno dan memegang bahunya, "Hanno? Oi jawab aku! Apakah kau baik-baik saja?"
Hanno terlihat tak menjawab,tak berbicara,tak mendengarkan....hanya diam dan orang yang bergetar ketakutan sesuatu..
"Oi! Hanno! Jawab!" ,ucap Charla sambil meletakkan tangannya didada Hanno.
Ketika meletakkan tangannya didada Hanno...Charla bisa merasakannya..Jantung Hanno berdetak kencang....tapi detak jantung ini..detak jantung ketakutan sesuatu....
Hanno terlihat langsung menutup mulutnya.
"Oekkk..." ,suara muntah Hanno terdengar.
.
.
.
.
.
.
___-_-____
.
.
.
.
.
.
*AAAAUOOOOOOOOOO*
Suara Sangkakala Kerang Janggut Hijau terdengar keruang singgasana Adipati Geralda ini.
"Kenapa kami dipanggil ke ruang singgasana ini Jahae!?" ,ucap Hakoon dengan nada marah.
Terlihat diwajahnya ada nada senang menantikan melihat kastil ini akan diterobos dan kepala Jahae dipajang dinding.
Dibelakang Hakoon ada beberapa komandan bawahan Jahae dan bawahannya Hakoon sendiri.
Beberapa pelayan kastil ini yang masih dibiarkan hidup oleh Jahae.
Aethel bisa melihat nona Merry ada disini...terlihat nona Merry tubuhnya bergetar ketakutan melihat Jahae...
"Hahahhahahahaha! Kenapa aku membawa kalian kesini!?" ,ucap Jahae dengan tawa gilanya sambil duduk disinggasana Adipati Geralda dengan angkuh.
Sayang sekali bahkan bahaya dan jalan buntu sudah ada didepan matanya..dia masih terlalu gila untuk merasakan ketakutan...
Disamping Jahae terdapat Aethel dengan armour besi bersinarnya, menjaga Jahae...
"Kau sudah berakhir...kau sudah menjadi mayat yang berjalan, Jahae. Ketika pasukan keluarga Malibax menerobos kastil ini maka kepalamu akan menjadi mainan untuk prajurit didinding kastil ini" ,ucap Hakoon dengan kuat.
"Kau juga akan begitu..tuan Hakoon, kau menyerang kastil ini bersamaku....maka kau juga akan berakhir didinding bersamaku.." ,ucap Jahae dengan senyuman senang.
"Aku masih paman dari Rajanya tuan Malibax, aku masih bisa meminta maaf kepada keponakanku. Hasteinn itu tahu kalau aku tak mungkin menyerang kastil ini demi kepentingan diriku sendiri" ,ucap Hakoon.
"Apakah kau pikir Tuan Malibax akan mendengarkanmu?" ,ucap Jahae.
"Tuan Malibax adalah orang yang bermoral Jahae, dia akan menunggu perintah rajanya untuk mengeksekusi keluarga rajanya sendiri. Tak seperti dirimu yang langsung memenggal saudaraku Kyrah Hasral tanpa izin dari orang yang memerintahmu sendiri" ,ucap Hakoon.
Jahae terdiam terlihat matanya kuat dan aura marah bisa dirasakan dimatanya.
Perlahan Jahae berdiri dari singgasana yang ia ambil dengan paksa...
*...tuk*.....tuk*...tuk*
Langkah kakinya dalam dan kuat membuat ketakutan semua orang yang berada disinggasana ini...bahkan Aethel sekalipun....
"Bawakan kuenya" ,ucap Jahae dengan senyuman lebar.
Kemudian suara langkah kaki dan ringingan armour besi terdengar.
"Ah! Sakit! Tolong jangan!"
Sedangkan suara rintihan seorang wanita kecil terdengar.
"Ck" ,mendecak lidah Aethel mendengarnya, "....diamlah"
Kemudian terlihat seorang wanita kecil terlihat diseret oleh prajurit Jahae dengan rambutnya dipegang kuat.
Sedangkan dileher wanita tersebut terdapat tali yang bisa ditarik lebih kuat hingga membuat wanita tersebut mati kehilangan nafas.
Tali tersebut masih longgar, jadi wanita kecil itu tersebut aman...untuk sekarang...
"Setiap suara dobrakan pintu ruangan singgasana ini terdengar...maka tali dileher anak perempuanmu akan semakin kencang..." ,ucap Jahae dengan senyuman yang lebih lebar lagi.
"Kau! Mahluk sialan!" ,ucap Hakoon dengan kuat.
Terlihat beberapa pasukan penjaga bodyguardnya Hakoon maju kedepan dan memegang pegangan pedang mereka, bersiap untuk menghunus senjata mereka.
Aethel yang melihat itu juga ikut melakukan hal yang sama dengan mereka.
"Ei..ei..ei..ei..ei....ingat..Tuan Hakoon...nyawa anak perempuanmu masih ada ditanganku.." ,ucap Jahae sambil melentangkan tangan kanannya.
"Ayah...sakit ayah...ditarik rambutku...sakit...tolong ayah.." ,ucap anak perempuan Tuan Hakoon menangis merintih kesakitan dan ketakutan.
"Wisha! Jangan takut Wisha! Ayah nanti bantu!" ,ucap Tuan Hakoon dengan wajah paniknya melihat kearah anaknya sendiri.
Wisha terlihat berhenti menangis sebentar tapi dia masih ketakutan sekaligus kesakitan.
"Apa yang kau inginkan Jahae!?" ,ucap Hakoon sambil mengalihkan pandangannya keTuan Jahae.
"Apa yang ku inginkan? Hehehheee" ,tawa Jahae lebih licik dan gila daripada biasanya, "katanya kau paman Raja Geralda anak umur 15 tahun itu? Kalau begitu bisa minta dia untuk menghentikan serangan kekastil ini.."
"Kau memang kehilangan sebagian otakmu untuk menggantikan kegilaanmu, pembawa surat takkan bisa keluar dari kastil ini, dan jikapun bisa, maka butuh berminggu-minggu untuk sampai keHasteinn" ,ucap Hakoon dengan suara yang hampir mirip seperti angin berkibas kencang, "sedangkan pasukan itu sudah mendobrak gerbang kastil ini dan mereka akan menerobos kekastil ini dalam beberapa jam lagi"
"Kalau begitu ya sudah" ,ucap Jahae dengan mata gilanya, "Mon dan Hadi! Potong kuenya untukku!"
Terlihat prajurit itu mulai mengencangkan ikatan dileher Wisha...perlahan...
"Ayah! Ayah! Ayah!" ,rintih ketakutan Wisha.
"Jahae! Hentikan!" ,ucap Hakoon berteriak dengan kuat.
Tapi bisa terlihat Jahae...tak mendengarkannya....
"HEHEHEHHEHAHAHAHAHHAHAHAHA!" ,tawa kencang Jahae sangat kuat hingga seperti petir menggelegar diruangan ini.
"Kau memang gila Jahae!" ,ucap Hakoon dengan marah, "prajurit! Siapkan pedangmu!"
*Shreengggggghh!*
Beberapa prajurit bawahan Hakoon mulai menghunuskan pedang mereka masing-masing.
Begitu juga dengan bawahan Jahae meskipun beberapa dari mereka terlihat ingin menyerah dan ketakutan.
*Srengg..*
Aethel juga menyiapkan pedangnya dan berjalan maju kedepan.
Terlihat Jahae tersenyum kesenangan lebar melihat Aethel yang maju kedepan. Terutama ketika Jahae melihat pedang Aethel..
Jahae menggila...dan mulai berteriak gila..
"Oh iya Aethel! Bunuh mereka semua! Bunuh mereka semua! Bunuh wanita pelacur kurus bernama Merry itu! Bunuh anjing-anjing kampungan yang kupanggil bawahanku itu! Bunuh mereka semua! Sama saat seperti saat kau membantai satu desa itu sendirian! Kau bisa kan?! KAU BISA KAN!? BUNUH MEREKA SEMUA-
*Cnrekkk....*Sringgggggghhh.....*
Pedang besi ditusukkan dipunggung Jahae...
Ketika Jahae melihat...yang melakukannya adalah Aethel sendiri..
Aethel menusuk Jahae...merusak sumpah sakral melayani keluarganya...
Aethel menusuk Jahae dipunggungnya...membunuhnya...
Aethel kemudian menendang tubuh Jahae untuk menarik pedangnya sendiri dari tubuh kotornya....
Mayat Jahae berguling kebawah dengan darahnya muncrat dari tubuhnya...
"Harusnya membunuhnya tak semudah ini.." ,ucap Aethel dengan suara dingin dan pelannya.
Bisa dirasakan semua tatapan terkejut diarahkan kearah Aethel...semuanya terkejut...Hakoon..bahkan nona Merry pun terkejut shock...
Bawahan Jahae...ksatria bawahan Hakoon...
Tapi Aethel berbalik dari mereka dan berjalan kearah kursi singgasana tersebut...
*...tuk*...tuk*....tuk*
Suara langkah kaki Aethel hampir mirip dengan langkah kaki Jahae tadi....
Bahkan nada kegilaannya hampir sama...
"Aku Raja Geralda sekarang...." ,ucap Aethel dengan nada setengah iblis setengah orang gila.., "....yang menentangku maka akan kubunuh diruangan ini sekarang.."
Ucap Aethel sambil duduk dikursi singgasana tersebut...dengan pedang berdarah disisinya....