
"Kau tidak punya ide berapa lama kau terbang sampai kau mengepakkan sayapmu"
-Napoleon Bonaparte
*Perhatian terhadap para pembaca*
*Chapter ini akan disertai kekerasan fisik yang brutal*
Balas dendam para petarung
Suara ceria dan tawa para pria mabuk terdengar.
Suara batuk dan godaan pria terhadap pelayan wanita lebih berisik dari apapun ditempat minum ini.
Tapi suara tawa pria lah yang memimpin kebisingan ditempat minum ini.
Glent dan Hasteinn duduk sambil membeli sejumlah daging dan bir.
Glent lah makan banyak daging ayam dan membeli banyak bir dibanding Hasteinn, tentu saja Glent menggunakan uang Hasteinn untuk membeli semua makanan itu.
Hasteinn sendiri tak terlalu masalah, Glent memang sering begitu dari kecil.
Hasteinn sendiri sedang memikirkan sesuatu, merenung dari tadi dan hanya meminum sedikit bir. Sedangkan daging ayam sendiri Hasteinn tak menyentuhnya.
"Kau masih memikirkan burung-burung ibukota itu?" ,ucap Glent sambil mengunyah daging ayamnya.
"Kenapa? Kau masalah?" ,ucap Hasteinn.
"Tak ada, sebaiknya kau bersenang-senang saja dahulu, selagi kita punya kesempatan ketempat minum seperti ini. Kita hanya 2 minggu sampai sebulan sekali loh makan dan minum seperti ini" ,ucap Glent sambil mengunyah daging ayamnya.
Kemudian Hasteinn menatap Glent dengan mata yang membuat Glent tak nyaman.
Hasteinn hanya terdiam dan terus menatap Glent untuk beberapa menit.
*Bisa kau berhenti? Aku ingin makan daging ayamku dengan tenang* ,pikir Glent dalam hatinya.
"Kenapa?" ,ucap Glent setelah meneguk segelas bir.
"Kau suka gosipkan? Mari tentang Vesius dari keluarga Garius" ,ucap Hasteinn dengan serius.
"Kenapa kau tertarik dengannya?" ,ucap Glent.
"Ada orang yang mengatakannya dia pengecut karena hanya tahu sembunyi ditenda sementara pasukannya menderita dimedan perang" ,ucap Hasteinn sambil mengambil gelas berisi birnya.
Kemudian Hasteinn meneguk segelas bir tersebut barulah kemudian ia menyambung ucapannya.
"Tapi ada yang bilang kalau dia menatap musuhnya dimedan perang menggunakan burung hantu peliharaannya, ada beberapa orang yang memanggilnya 'Burung hantu besar' karena ukuran badannya" ,ucap Hasteinn sambil kembali meneguk segelas bir.
"Hahh..itu hanya rumor Haste-
"Bahkan ada yang bilang kalau dia bisa berubah menjadi burung hantu, sehingga ia bisa menatap bagaimana pertempuran terjadi tanpa perlu membahayakan nyawanya" ,ucap Hasteinn memotong ucapan Glent.
"Itu semua hanya rumor seperti yang kubilang, aku masih lebih suka jenderal yang mau berjuang dengan prajurit dimedan tempur" ,ucap Glent sambil meneguk segelas bir.
"Ahhh.." ,suara lega keluar dari mulut Glent ketika ia selesai meminum air bir tersebut.
"Jenderal yang mau dan berani menikmati rasa penderitaan prajurit dimedan tempur, daripada duduk dibelakang terlalu takut untuk melihat darah seperti Vesius Garius itu, dia itu pengecut Hasteinn" ,ucap Glent sambil mencuil daging ayam dan kemudian memakannya.
"Oi" ,seorang pria yang duduk dikursi lain kemudian ikut dalam pembicaraan mereka.
"Kalian membicarakan si 'Burung hantu gendut' ya?" ,ucap pria asing tersebut.
Hasteinn dan Glent kemudian menoleh ke arah pria asing yang mengganggu mereka.
"Iya, emangnya kenapa?" ,ucap Glent.
"Furai! Ini nih! Mereka bicara dengan tuan gendut tercintamu! Hahahaha!" ,ucap pria asing tersebut tertawa.
Terlihat beberapa pria tertawa mendengarkan apa yang diucapkan pria tersebut.
Hasteinn kemudian memperhatikan siapa yang mereka tertawai.
Pria asing sempat menunjuk kearah seseorang sambil tertawa.
Ternyata seorang kakek tua yang memakai jubah duduk dengan tenang dan diam dimejanya.
"Anak sialan! Beraninya kau hina jenderal Vesius!" ,ucap kakek tua tersebut marah sambil berdiri.
"Ohhh! Aku takut! Oi Bennerick! Lihat dia marah lagi karena aku menghina kekasihnya! Hahahahaha!" ,ucap pria tersebut tertawa kencang.
Tawa pun memenuhi tempat minum tersebut, beberapa pria mabuk juga ikut tertawa.
Hanya beberapa kakek tua yang tak ikut tertawa, ataupun pelayan wanita yang hanya merasa tidak enak dengan kakek tersebut.
Hasteinn dan Glent sendiri tak ikut tertawa dan hanya melanjutkan makan minum mereka.
"Kau! Anak pelacur!" ,ucap kakek tersebut sambil kemudian memukul mejanya, kemudian melempar gelas birnya hingga pecah kelantai.
"Ohhh!! Dia marah Bennerick! Hahahaha!" ,ucap pria tersebut tertawa terus menerus.
Kakek tua tersebut mengepal tangannya dengan kuat, tapi nampak dia tak mau memulai perkelahian.
Sudah terlihat beberapa prajurit menyiapkan pedangnya jika perkelahian terjadi.
Sedangkan pria yang menertawakan kakek tersebut terlihat punya teman yang akan membantunya dibelakang jika terjadi perkelahian.
Kakek tersebut hanya menggesek giginya kesal dengan pria yang terus menertawakannya tapi apa daya, ia tak punya teman ditempat minum ini.
Orang-orang yang tak ikut menertawakannya, hanya lemah dan tua. Juga mereka nampak sekali tak mau ikut campur perkelahian. Banyak dari mereka bahkan yang tak membawa senjata apapun.
Sedangkan pria yang menertawakannya punya pedang dipinggangnya.
"Oi! Ini bayarannya! Termasuk ganti rugi meja dan birnya!" ,ucap kakek tua tersebut melempar sekantung koin kelantai.
Demikian kakek tersebut berjalan keluar dari tempat minum ini dengan rasa amarah.
"Dia pergi! Hahahaha! DIA PERgi! Hahahahaa! Uhuk! Uhuk! Hahahaha!" ,pria tersebut terus menertawakannya hingga batuk karenanya.
"Dasar fanatik penyembah keluarga Garius"
"Emang, mungkin benar kalau Garius memiliki sihir membuat orang setia terhadap mereka"
Obrolan tentang Garius pun memenuhi tempat minum tersebut.
"Orang Garius! Diberi sedikit uang mereka langsung setia! Apalagi ama orang gendut yang berjalan diibukota itu!"
"Hahahaha! Coba kita buka nanti perut gendutnya! Mungkin kita akan dapat banyak daging ayam!"
Tawa terus terdengar dan candaan kotor menghina pun mulai memimpin candaan ditempat minum ini.
"Sudah berapa minggu kita tak kembali kekota ini? Rumor soal jenderal itu tersebar dan sudah menjadi lelucon nampaknya" ,ucap Glent tersenyum.
"Ya sepertinya begitu.." ,ucap Hasteinn.
"Oi Hasteinn! Kenapa kau tertarik ama Burung ibukota itu hah?" ,ucap salah seorang pria kepada Hasteinn.
"Tak ada" ,ucap Hasteinn dengan tenang.
"Mungkin dia akan menulis lagu tentang mereka" ,ucap Glent bercanda.
"Hahahaha! Si gendut dan penyembahnya! Itu nama yang bagus untuk lagu yang kau mau buat!" ,ucap pria tersebut.
Candaan terus terdengar, Glent mulai ikut mabuk bersama beberapa teman-temannya. Sedangkan Hasteinn hanya ikut minum bir dari atas kursinya. Menahan dirinya.
Candaan tentang jenderal Vesius mulai terdengar kotor dengan beberapa pria membuat candaan tentang alat kelaminnya yang kecil.
Bahkan ada pria yang membuka celananya secara langsung ditempat minum ini.
Kemudian pelanggan teralihkan oleh hal lain.
*Teng*Dung*Teng*Dung*
Suara gendang terdengar dan dari pintu masuk seorang pria memukul gendang ditangannya.
Seorang pria juga ikut berjalan dibelakangnya, pria tersebut membawa harpa dan mulai memainkannya.
Dan 4 penari pun ikut masuk dan memulai tarian indah mereka.
Pelanggan bersorak terhadap yang 4 penari menari didepan mereka.
Sorak-sorakan pelanggan lain dibar terdengar.
Glent bahkan menyorak sambil menaikkan gelasnya keatas membuat air bir bercurah keatas.
Sedangkan Hasteinn mampu menjaga dirinya dan tidak ikut bersorak hanya diam sambil tersenyum cukup bahagia.
Pandangan melihat kepada salah satu wanita yang menari.
Penari wanita yang Hasteinn tatap tersebut memiliki kulit hitam muda.
Wajahnya cukup cantik dan disembunyikan dibalik kain putih yang tembus pandang.
Membuat hati Hasteinn seperti dipeluk dengan bantal sutra lembut hanya dengan melihatnya.
Ia memandang penari berkulit coklat tersebut dengan senang.
Hasteinn sudah menyukainya sejak pertama kali melihat ia menari dikota ini.
Cyara namanya.
Hasteinn mengetahuinya karena ia sudah pernah berbicara beberapa kali dengan bagian atraksi.
Ia ingin mengundangnya kekastil keluarganya suatu hari nanti dan menikahinya.
Tapi sejenak kemudian ia berhenti memikir semua itu, ia sadar kewajibannya sebagai bagian keluarga Hasral untuk menikah dengan wanita bangsawan lain untuk menguatkan kekuatan keluarganya.
Tapi ia ingin menikmati saat-saat ini dan jatuh cintanya dengan Cyara, tapi bagi Hasteinn semua ini hanya sementara.
Ketika ia dewasa, maka ia akan meninggalkan semua ini.
Ia ingin menikmati masa-masa mudanya sementara dan mengingatnya ketika ia nanti menjadi kepala keluarga Hasral.
Semua ini hanya akan menjadi kenangan indah untuk hari dewasa.
Mungkin ia takkan melupakan cintanya kepada Cyara.
*Kling-kling!*
Koin dilemparkan dengan kencang oleh salah seorang pria, membuat koin tersebut berhamburan keseluruh lantai.
"Ayo Terus menari! Hahaha" ,ucap salah satu prajurit bayaran yang duduk dikursi bersama teman-temannya
Koin tersebut terlempar ketubuh para penari dan menyakiti beberapa bagian tubuh mereka
Teman-teman dimejanya hanya tertawa
"Ayo menari dipangkuanku gadis-gadis!" ,ucap salah satu teman semeja tentara bayaran tersebut.
Beberapa pelanggan hanya melihatnya dengan tidak enak dan beberapa hanya ikut tertawa.
Namun penari-penari hanya terus melanjutkan performa mereka.
Cyara tetap diam dan menari dengan baik meskipun terlihat tadi beberapa koin menghantam perutnya dengan kencang.
Tertawa terus para teman-teman prajurit bayaran tersebut.
Bahkan kata-kata panggilan pelacur sudah mulai terdengar.
Glent hanya diam dan merasa tak enak dengan tingkah laku mereka, tapi ia sadar sesuatu akan terjadi.
*Krekk-krekk*
Tawa terus terdengar dari pria tersebut dengan teman-temannya.
"Dasar pelacur orang selatan!" ,hina pria tersebut
Hingga kemudian tentara bayaran tersebut menoleh kearah Hasteinn.
"Oi..oi" ,ucap tentara bayaran tersebut sambil berdiri.
Terlihat Hasteinn dengan muka marah dan suram menyiapkan Crossbow dengan panah yang sudah ditarik.
Hasteinn terlihat menodongkan crossbow ketentara bayaran tersebut.
Crossbow tersebut siap ditembakkan hanya dengan satu geser pematuk maka panah sudah akan mendarat dikepala pria tersebut.
Pria tersebut kemudian menghunuskan pedangnya.
Begitu juga dengan teman-temannya.
Glent juga ikut menghunuskan pedangnya dan berdiri sambil meminum sebentar segelas bir.
"Berani kau...ya.." ,ucap pria tersebut mendekat.
Hasteinn hanya terus menodongkan crossbow nya dengan muka suramnya.
"Udah-udah" ,ucap salah satu pelayan wanita mendekat mencoba menenangkan keduanya.
Tentara bayaran tersebut kemudian menodongkan pedangnya keHasteinn.
Pelayan wanita itupun menjauh takut dengan pedang.
Tapi kemudian Glent ikut dalam perkelahian dan mendekatkan pedangnya keleher tentara bayaran tersebut.
Para teman-teman tentara bayaran tersebut kemudian menodongkan pedang mereka keGlent.
Para penari terlihat berhenti sebentar bergerak dengan momen tegang ini, begitu juga dengan pelanggan lainnya.
Pelanggan lainnya hanya hening terdiam dan menunggu sesuatu untuk memecah keheningan.
"Jauhkan pedangmu dari teman kami....maka akan kami jauhkan pedang kami juga" ,ucap salah satu teman tentara bayaran tersebut.
"Jauhkan! Cepat sebelum kami tusuk perutmu nak!" ,teriak salah satu teman tentara bayaran tersebut memperingati Glent.
Glent hanya bersantai mengancam leher tentara bayaran tersebut dengan pedangnya dan terlihat tidak menganggap peringatan tersebut.
Dan kemudian ia mengunyah sebentar daging dari mulutnya.
"Tusuk aku, aku tak masalah" ,ucap Glent dengan santai sambil mengunyah daging ayam dimulutnya, "asalkan kau menjauhkan pedangmu dari Hasteinn, aku tak masalah tertusuk dan mati disini"
Hasteinn tetap dengan wajah marah menodongkan crossbownya.
"Minta temanmu untuk berhenti menodongkan crossbow nya kepadaku maka aku akan meminta temanku juga" ,ucap tentara bayaran tersebut dengan lehernya sudah tergores dan berdarah sedikit akibat sentuhan pedang Glent.
"Hah?" ,ucap tentara bayaran tersebut.
"Aku tak bisa memintanya untuk tenang, kalau dia bisa tenang maka itu hanya jika dirinya sendiri bisa tenang" ,ucap Glent.
Hasteinn hanya terus dengan muka marah menodongkan crossbownya ketentara bayaran tersebut.
Dan terlihat ia takkan mundur menarik pelatuk crossbownya.
Kelihatannya ia tak mendengarkan satupun diruangan ini.
Kecuali satu....
"Kak Hasteinn...tenanglah.." ,ucap Cyara menenangkan Hasteinn dengan lembut
Perlahan.
Perlahan.
Perlahan Hasteinn kemudian menjauhkan crossbownya sedikit dari tentara bayaran tersebut.
Meskipun begitu pelatuknya masih tertarik dan bisa dalam beberapa detik panah mendarat dikepala tentara bayaran tersebut.
Hasteinn mencoba menenangkan dirinya dengan menghela nafas.
"Oi! Udah! Udah!" ,ucap salah satu tentara penjaga kota tersebut mendekat menenangkan suasana.
Beberapa teman tentara penjaga kota tersebut juga ikut bersamanya dibelakang dengan pedang mereka siap mereka hunuskan.
Pria tersebut kemudian menjauh dari Hasteinn dan Glent dengan muka kesal.
Dan segera kembali menaruh pedangnya. disarungnya.
Teman-temannya mengikutinya dibelakang dan menaruh pedang mereka disarungnya kembali.
Mereka juga pergi dari tempat minum ini.
Berjalan dengan kesal dan mendobrak pintu tempat minum untuk keluar.
Hasteinn dan Glent masih duduk dan minum.
Glent melanjutkan makan daging ayamnya dengan santai sedangkan Hasteinn membuat crossbownya agar kembali ke keadaan semula.
Keheningan masih belum hilang dari tempat ini dan hanya beberapa orang yang melanjutkan makannya.
Pelayan kemudian kembali berjalan bekerja melayani pelanggan.
Suasana menjadi hening sebentar tapi dalam beberapa menit semua tawa dan senang-senang itu kembali ditempat minum ini.
____-_-___
"Penginapan satu malam...biaya makan....racun untuk perburuan....sekitar...140 koin.." ,ucap Ayah Filda menghitung disebuah kamar penginapan.
Kamar nya cukup gelap dan hanya satu lilin yang menerangi ruangan tersebut.
Mereka berdua berbagi kamar agar menghemat biaya.
Meskipun begitu kamar tersebut memiliki dua kasur dan Hanno serta Ayah Filda berpisah kasur.
Hanno duduk dengan tenang dengan selimut menutupi lengan hingga lehernya.
"Pak?" ,panggil Hanno ke Ayah Filda.
"Ada apa?" ,tanggap Ayah Filda.
"Tak ada, cuma aku tadi melihat bapak menghitung" ,ucap Hanno.
"Iya sekitar pendapatan yang akan kita dapat ketika pulang adalah sekitar 366 koin" ,ucap Ayah Filda sambil berdiri mengambil kantung koin dan menaruh sejumlah koin, "terus bagaimana pendapatanmu dibagian pasar lain?" ,tanya Ayah Filda kepada Hanno.
"160 koin" ,ucap Hanno.
"Hah?" ,ucap Ayah Filda dengan terkejut.
"160 koin" ,ucap Hanno sambil memberikan sekantung koin diatas meja.
"Bagaimana kau mendapat 160 koin? Aku hanya memberimu hanya satu potongan besar daging sedangkan harga pasarannya adalah 50 koin atau bahkan 30 koin sepotong" ,ucap Ayah Filda masih terkejut tak percaya membuka kantung koin tersebut.
"Aku tinggal memotong potongan daging besar tersebut menjadi beberapa bagian, setelah itu menjualnya dengan harga 10-30 koin kesetiap pedagang atau pelanggan yang aku temui" ,ucap Hanno.
"Apa? Bagaimana kau bisa menggoda mereka untuk membelinya?" ,ucap Ayah Filda mulai sedikit terkagum.
"Aku tinggal menipu mereka dengan mengatakan bahwa daging ini memiliki membawa keberuntungan,atau aku tinggal mengatakan bahwa daging ini sehat juga segar atau ada legenda dibelakangnya" ,ucap Hanno dengan santai.
"Tunggu sebentar" ,ucap Ayah Filda sambil mengambil kantung yang diberikan Hanno dan menghitung jumlah koinnya.
"Aha..ahahahahahaha!" ,tawa Ayah Filda.
Dan dengan berdiri kemudian mendekat keHanno.
Kemudian dengan akrab ia menepuk bahu Hanno.
"Kau memang punya insting pengusaha yang lebih kuat daripada diriku nak!" ,ucap Ayah Filda teriak kagum.
Hanno hanya terdiam.
Sedangkan Ayah Filda hanya terus tertawa.
Kemudian suara gaduh-gaduh terdengar dari luar jendela.
Suara gaduh-gaduh itu cukup besar dan membuat Ayah Filda serta Hanno menoleh kejendela.
"Tangkap dia!" Suara gaduh tersebut mulai terdengar.
Gemericing armour dan pedang prajurit terdengar.
Langkah kaki keras yang cukup ramai terdengar dari luar.
Hanno kemudian mencoba membuka jendela terse-
"Jangan" ,ucap Ayah Filda.
Hanno menoleh keAyah Filda dan berhenti mendorong jendela tersebut.
"Kenapa?" ,tanya Hanno.
"Jangan ikut campur urusan bangsawan berbahaya diluar sana" ,ucap Ayah Filda dengan mata yang terlihat serius.
Kemudian ia duduk dikasurnya dan melihat Hanno dengan muka yang cukup serius.
Tapi ada kesedihan didalam matanya dan rasa takut.
"Jangan, satu kesalahan jika kau ikut campur maka kepalamu akan ditombak didinding sana" ,ucap Ayah Filda sambil kemudian mengambil selimut dan menyelimuti tubuhnya perlahan-lahan.
"Tidurlah" ,ucap Ayah Filda menyambung kata-katanya sambil berbaring dikasurnya.
.
"Ah sial! Dia lari!" ,ucap prajurit pertama gaduh-gaduh.
"Beri tahu pasukan didinding barat untuk kerahkan beberapa pasukannya menangkap pembunuh tersebut!" ,ucap prajurit kedua sambil memegang bahu prajurit ketiga.
Kemudian prajurit ketiga tersebut berlari.
Gaduh-gaduh prajurit lain terdengar
"Dia disana!" ,teriak salah satu prajurit menunjuk kecela-cela bangunan.
"Cepat-cepat!" ,ucap salah satu prajurit berjalan bersama teman-temannya untuk mengepung pembunuh tersebut.
Pembunuh tersebut kemudian berlari dengan cepat dijalanan kosong.
Pisaunya terlihat memiliki corak aneh.
Tangannya memegang pisaunya dengan bergetar.
Ia berlari secepat yang ia bisa.
Kemudian kumpulan prajurit memblokade jalannya.
"Ha! Disini dia!" ,ucap salah satu prajurit pertama teriak.
"Sialan! Kesini kau sialan!" ,ucap salah satu kedua prajurit gaduh menemukannya.
Pembunuh tersebut mencoba berbalik mencari jalan lain dengan berlari.
Tapi kemudian prajurit lain memblokade jalannya.
"Hahahahaha! Ditangkap kau akhirnya pelacur kecil!" ,ucap salah satu prajurit ketiga tertawa senang.
"Menyerahlah!" ,ucap salah satu prajurit lagi memintanya menyerah.
"Iya menyerahlah! Dan kubawa kau kejenderal Vespasian anak sialan! Atau pantatmu kutaruh dipedangku!" ,ucap salah satu prajurit lagi mengancam.
Pembunuh tersebut sadar dia dikepung dan tak ada bangunan yang bisa ia panjat.
Tali bisa membuatnya jatuh seketika.
Sedangkan tak ada jendela kuat disekitarnya dan beberapa jendela ada tapi itu terlalu tinggi untuk melompat.
Dan pembunuh tersebut sadar bahwa hanya ada satu jalan.
"Hahahahha! Ayo kesini bawa pantatmu nak!" ,ucap salah satu prajurit mendekat kepembunuh lebih dekat dari prajurit lain dengan berani.
Berapa banyak prajurit disekelilingi saat ini?
50..30..20..19..
Terserah...
*Shrab*
Dengan cepat pisau pembunuh tersebut menusuk leher prajurit yang mendekatinya dengan berani itu.
Kemudian ia mengayunkan salah satu pisaunya kepaha salah satu prajurit.
"Aghhhhh!" ,ucap prajurit yang ditusuk dipaha tersebut kesakitan.
"Sialan!" ,Teriak prajurit lain.
Prajurit kemudian mengayunkan pedangnya kepembunuh tersebut.
Ia mencoba menangkis pedang salah satu prajurit dengan pisaunya.
*Trangggggg*
Tapi pedang tersebut terlalu berat dan membuatnya kebelakang.
Dan kemudian prajurit mulai mengelilinginya dengan tombak dan pedang.
Tapi ia tetap mengayunkan pisaunya.
*Trreengkkakk*
Kemudian ia menyuapkan sebotol racun keprajurit dengan kuat dan botolnya hingga pecah kemulutnya.
"Ahhhh!!! Belebuabeb!" ,ucap prajurit yang disuapkan botol racun tersebut terbaring dengan mulut penuh darah dan dengan mulutnya yang sudah kehilangan giginya.
Prajurit tersebut terbaring kesakitan hingga mulutnya memuntahkan darah dan kaca botol racun.
Dipahanya,lengan serta punggung pembunuh tersebut sudah mulai muncul dengan luka goresan akibat pedang dan tombak.
*Srek*
Kemudian salah satu tombak mengenai bahu bagian belakangnya.
*Srek*
Salah satu pedang prajurit pun mengikuti untuk menusuk paha pembunuh tersebut.
"Aahhhh!!!" ,teriak pembunuh tersebut kesakitan karena paha dan bahunya ditusuk.
Dan kemudian salah satu prajurit memancangnya dengan tombak dari perutnya.
Darah dimana-dimana dan mengalir dilantai.
"Agghhhhhhhhhhh" ,ucap pembunuh tersebut menderita dengan tusukan prajurit tersebut.
Tombak yang memancangnya menusuk dari usus keparu-paru hingga ketenggorokan.
Prajurit tersebut terus menusuknya hingga Mata tombaknya muncul dari mulut pembunuh tersebut.
Darah muncrat dari mulutnya dan mata tombak tersebut bercampur dengan daging tubuh pembunuh tersebut.
Membunuhnya seketika.
Darah muncrat kepara prajurit yang mengelilingnya.
Kemudian mayatnya terjatuh sedangkan tombak masih memancang tubuhnya.
Perutnya terbuka dan terlihat tatto disekujur perutnya juga ikut terbuka.
Coraknya aneh tapi beberapa prajurit mengetahui tatto tersebut.
Dibarat daya Victa banyak yang mengetahuinya
Tatto 'balas dendam para petarung' tradisional milik Gerarda.
Ketika mayat pembunuh tersebut terbaring ditanah bersama dengan mayat prajurit lainnya.
Semuanya mulai menjadi jelas..
Note:Ilustrasi Tatto Balas Dendam Para Petarung.
Tatto 'Balas dendam para petarung' merupakan tatto lama yang berasal dari Geralda dan telah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu bahkan sebelum Victa berdiri.
Tatto ini hanya boleh digunakan untuk orang yang bersumpah mati pada Dewa Lama Vurussamur untuk mendedikasikan seumur hidupnya untuk membalas dendam terhadap seseorang atau sesuatu golongan.
Bagi yang menggunakan tatto ini sembarangan maka konon katanya akan mendapat kutukan dari dewa lama.