
"Bahkan orang paling bodoh terbesar didunia bisa lebih pintar daripada yang menertawakannya"
-Tywin Lannister
Mahkota dan Ratu Kecil
Suara gaduh dan suara alat-alat musik terdengar.
Tepukan gendang dan gesekan indah biola terdengar.
Suara musik dinyanyikan ceria menyambut sesuatu.
"Penyihir mengayunkan sihir dan palunya~"
Orang-orang membicarakan sesuatu ketika mereka lewat.
39 pahlawan yang dipindahkan dari dunia lain berjalan dengan armour mewah dan elegan.
Armour mereka terlihat kuat dan menutupi dari bawah hingga atas tubuh mereka.
Beberapa pahlawan memakai helm yang menutupi kepala mereka sepenuhnya.
Seperti Perrin yang satu-satunya memakai armour yang sepenuhnya berwarna hitam dan helm monster.
"Siapa mereka?" ,suara gaduh-gaduh para bangsawan mulai terdengar ketika para pahlawan berbaris dan berjalan dikarpet merah.
"Aku dengar, katanya mereka pahlawan dari dunia lain yang dipanggil oleh sekte putih" ,ucap salah satu bangsawan wanita.
"Pahlawan? Sebanyak ini? Apakah ini cara untuk menyembunyikan kelemahan militer mahkota saat ini?" ,ucap bangsawan tua disebelah bangsawan wanita tersebut.
"Tapi..aku rasa ini bukan tipuan...aku merasakan kekuatan mereka" ,ucap seorang penyihir dengan pakaian putih dan dengan corak biru berdiri disebelah mereka.
"Apakah menurutmu mereka bisa menggunakan sihir? Yang aku tahu hanya sedikit yang bisa menggunakan sihir saat ini, tapi kalau ada sebanyak ini....itu terlalu kuat.." ,ucap bangsawan wanita tersebut bertanya-tanya.
"Ngomong-ngomong dimana Sarum sikepala sekte putih? Bukankah pemahkotaan putri ini harus dihadiri olehnya?" ,ucap penyihir tersebut.
"Memang ada kabar kalau ia sudah menghilang dari 4 bulan yang lalu dan katanya anggota sekte putih yang lain juga menghilang" ,ucap bangsawan tua.
"Apapun itu sebaiknya kita lihat saja saat ini dan aku mau lanjut duduk" ,ucap bangsawan wanita tersebut.
.
"Apa-apaan kita diparadekan begini?" ,ucap Perrin dengan suara kecil tapi terdengar ditelinga orang sebelahnya.
"Shhh...biarkan saja, lagipula banyak teman-teman kita yang menyukai hal ini" ,ucap Cyrus disebelah Perrin menenangkan Perrin dengan lembut.
Mereka berjalan rapi ditengah-tengah pesta.
Sudah ada karpet merah yang disediakan mereka.
Kelihatannya para pejabat sudah sepakat untuk melakukannya hari ini.
*Aku tak habis pikir, apa yang dipikirkan mereka? Sebagian besar pahlawan bahkan belum bisa mengontrol kekuatan mereka saat ini*, pikir Perrin sambil menoleh kehadapan kerumunan.
*mereka memerintahkan kita untuk melakukan hal ini? Apa yang bisa membuktikan bahwa kita itu pahlawan? Apakah mereka langsung percaya bahwa kita pahlawan? Atau mereka berniat mengenalkan kita sebagai indetitas lain?* ,pikir Perrin bertanya-tanya sambil mengembalikan pandangannya kedepan.
Armournya cukup panas didalam dan ia bisa melihat lewat lubang kecil dihelmnya.
Bau makanan,parfum,dan wangi-wangi pesta dan bau dandelion serta bunga-bungaan lainnya tercium.
Dihadapannya terdapat panggung yang terbuat dari batu berbentuk bulat dengan hiasan corak khas Dalmatia diukir diseluruh bagian panggung tersebut.
"Hah....aku malas melakukan hal ini.." ,ucap Perrin.
Parade ini sudah direncanakan sejak minggu yang lalu dan para pahlawan sudah disiapkan untuk hal ini.
Mereka sudah berlatih untuk hal ini tapi keramaian dan panasnya armour yang mereka pakai bisa saja membuat salah satu dari mereka pingsan
Perrin menoleh kebelakang sebentar, memeriksa keadaan teman-temannya didalam armour.
*Kurasa tidak, mereka takkan semudah itu pingsan, pelatihan didungeon dan pelajaran dari para ksatria menajamkan fisik dan psikologi mereka. Mereka sudah berubah 4 bulan ini*, pikir Perrin sekali lagi.
Ia kembali menoleh kedepan.
"Mereka takkan semudah itu pingsan" ,ucap Perrin dengan cepat tanpa sadar ia mengucapkannya.
"Apa? Kenapa?" ,ucap Cyrus bertanya-tanya disebelahnya.
"Tak ada" ,ucap Perrin membalas pertanyaan Cyrus.
Kemudian Perrin dan pahlawan lain berbaris dengan rapi dipinggir karpet.
Sedangkan bangsawan lain berdiri dan minggir sedikit, menjauh dari para pahlawan.
Membuat karpet kosong dan membuatnya bisa dilewati sesuatu.
Kemudian disaat bising-bising bangsawan mengobrol, terdengar sesuatu.
*Kekkk**Kekkk*
Suara gesekan kursi roda kayu terdengar membuat bangsawan lain terhening sebentar.
Suara kursi rodanya membuat para bangsawan menaruh perhatiannya pada dirinya.
Putri lumpuh tersebut masuk dan duduk dikursi rodanya berjalan diatas karpet merah.
Dibelakangnya terdapat banyak ksatria setia terhadapnya.
Salah satu penyihir sekte putih muncul.
Terlihat penyihir sekte putih tersebut memakai pakaian putih yang memiliki corak emas.
Dan tongkat putih dengan berlian warna kuning keemasan ditaruh diatas tongkat putih tersebut.
*Itu pakaian yang pernah kulihat dibuku sejarah Dalmatia...pakaian penyihir sekte putih* ,pikir Perrin dalam hatinya
Flynn Curaias adalah nama orang tua yang memakai pakaian tersebut, satu-satunya penyihir sekte putih yang pernah Perrin lihat selama 4 bulan Perrin didunia ini.
Katanya ada 20 penyihir disekte putih tapi hanya ada 1 yang pernah ia lihat katanya 19 telah menghilang sejak hari Perrin dipanggil kedunia ini.
Regio berjalan dibelakang putri lumpuh juga nampaknya.
Beberapa ilmuan dan penyihir juga muncul dibelakangnya.
Muka-muka mereka cukup tua bahkan ada satu yang ikut juga dibawa dengan kereta roda.
Bangsawan mulai membicarakan putri lumpuh tersebut.
Panggilan lumpuh,lemah, dan perempuan terdengar, bahkan ada orang yang terdengar mengatakan 'garis darah raja Dalmatia sudah habis'.
Bisik-bisik bangsawan menghina dan menggosip terdengar dimana-mana.
Suara bisa tawa terdengar, begitu juga dengan ejekan dan lelucon.
*Jujur saja aku sedikit kasihan untuk putri kecil ini...ejekan,tawa,dan hinaan aku sering merasakan ini dan terbiasa dengannya, aku rasa putri lumpuh ini juga sudah terbiasa* ,pikir Perrin dalam hatinya
Tuan putri tersebut kemudian naik keatas panggung.
Pendeta besar Chelarras juga ikut naik.
Sedangkan bangsawan dan ksatria lain duduk dibawah.
"Voa Gandaria 'siputri lumpuh' ,dia sudah cukup besar" ,ucap bangsawan wanita tersebut duduk dikursi didekat meja.
"Hm?" ,ucap bangsawan tua berdiri disebelah bangsawan wanita tersebut.
"Nama siputri lumpuh itu, tapi entah kenapa orang-orang lebih suka memanggilnya siputri lumpuh" ,ucap bangsawan wanita tersebut.
"Orang-orang sangat tidak menghargai sebuah nama ketika seseorang tersebut sudah membuat reputasi, Shopie" ,ucap penyihir duduk disebelah wanita bangsawan yang ia panggil Shopie tersebut.
"Jangan panggil aku nama itu Barcalon, panggil aku dengan nama yang biasa Philip dan ksatria setiaku memanggil aku, 'Phierass' ",ucap Shopie
Bangsawan tua yang berada disamping Shopie bernama Philip.
"Hah!" ,tawa penyihir yang dipanggil Barcalon tersebut, "nama tersebut terdengar seperti orang Victa yang barbar dan harus menggetarkan lidah terlalu banyak" ,ucap Barcalon menoleh ke Shopie.
"Kau harus menghormati tuan Phierass, penyihir" ,ucap Philip melihat keBarcalon mengancam.
Philip kemudian melangkah dan mencoba mendekati Barcalon sambil bersedia mengeluarkan pedangnya dari sarungnya.
"Hentikan Philip, jangan bertindak bodoh sekarang. Kau sedang melakukan ketidaksopanan dipemahkotaan tuan putri Voa" ,ucap Shopie menghentikannya.
Philip kemudian mundur dan kembali berdiri disamping Shopie.
Barcalon hanya tersenyum dengan bibir keriput tuanya.
.
"Voa dari keluarga Gandaria!!"
.
Suara pendeta tua Chelarras menggelegar membuat para bangsawan terdiam dan membuat suasana hening.
Burung-burung bahkan terbang mendengarnya.
Sedangkan pendeta Chelarras kemudian mengambil mahkota dari tempat istimewa yang disediakan pelayan.
Mahkota emas yang cukup pendek tapi mewah dan memiliki banyak berlian berwarna beragam menghiasinya.
.
"Atas nama dewa Aurex!"
.
Chelarras melanjutkan
Mahkota mengambang diatas kepala kecil tuan putri tersebut.
Sayangnya tidak ada singgasana bagi tuan putri.
Hanya sebuah kursi roda yang ia duduki saat pemahkotaan.
"Nampaknya tak ada singgasana bagi tuan putri kecil itu" ,ucap Barcalon.
"Ya, harusnya kau tahu kalau singgasana pohon Alaras dan istana besar ibukota sudah hancur sejak 7 tahun yang lalu" ,ucap Shopie.
"Ya...andai saja keributan diibukota dahulu tak terjadi, kita mungkin masih bisa melihat singgasana pohon Alaras" ,ucap Barcalon.
"Andai saja keributan petani diibukota Gallwarius saat itu tak terjadi, maka dia takkan kehilangan kakinya saat itu" ,ucap Shopie mengambil segelas anggur dan meminumnya.
"Tentu saja, pangeran Bellegh yang menakjubkan juga akan masih hidup dan dia akan menjadi raja yang sangat baik, tapi sayang...dunia berkata lain.." ,ucap Barcalon.
.
"Mulai hari dirimu akan berjanji!" ,ucap Chelarras dengan kencang.
.
"Mulai hari ini aku berjanji" ,ucap tuan putri lumpuh dan lemah tersebut dengan suaranya yang imut.
.
Tangannya bisa terlihat bergetar tapi kata-katanya tak bergetar malahan terdengar kuat untuk anak sekecil dia.
Jantung tuan putri Voa berdetak kencang seiring ia berbicara kuat bagai seorang ratu.
.
"Sebagai ratu kau akan memimpin orangmu bijaksana dan adil" ,ucap Chelarras.
.
"Aku akan memimpin orang-orangku bijak dan adil" ,ucap tuan putri dengan suaranya yang imut.
.
"Kau akan membawa mereka yang melayanimu setia ke kenyamanan dan hadiah dibalik perlindunganmu" ,ucap Chelarras.
.
"Aku akan membawa kenyamanan dan hadiah bagi yang melayaniku setia" ,ucap tuan putri Voa membuat sumpahnya dengan suaranya yang imut sekali lagi.
.
"Dia kuat untuk umurnya" ,ucap Barcalon.
"Aku tak mengira ucapan itu akan keluar dari mulutmu, Barcalon" ,ucap Shopie.
Tersenyum Barcalon.
.
"Tuan putri Voa dari keluarga Gandaria!" ,ucap Chelarras dengan kencang.
.
"Tidak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi kedepan, Shopie" ,ucap Barcalon.
"Ya...tak ada yang bisa" ,ucap Shopie.
.
"Disini! hari ini! dibawah langit ini! Kumahkotai dirimu! Sebagai Tuan dari orang Anglo dan Ilarria!"
.
"Ah..sudah terjadi.." ,ucap Perrin.
"Tuan putri kuatlah" ,ucap Regio dibawah panggung melihat tuan putri dimahkotai.
Sementara itu Casca menyeringai dari tempat duduknya dibawah.
.
"Pewaris sah dari Makaria!"
.
"Apapun yang terjadi aku akan melindungimu tuan putri" ,ucap Cyrus.
.
"Dan Ratu dari Dalmatia!"
.
Mahkota turun kerambutnya dan menempel dikepalanya.
Senyum imut terukir diwajah tuan putri tersebut.
"Semoga panjang umur dia memimpin!!"
Teriak Chelarras sekuat tenaga.
"Semoga panjang umur dia memimpin!"
Teriak bangsawan dan ksatria lain.
"Semoga beruntung..nak" ,ucap Perrin.
.
.
.
.
Sekarang seluruh kerajaan dan jutaan nyawa berada dibawah tangan kecilnya..