
"Kapan sebuah perang berakhir? Itu ketika ada suatu pihak yang menang"
-Lelouch vi Britannia
Perut yang terpotong
"Kita harus menerima gencatan senjata dan perjanjian damai, ini kesempatan kita untuk beristirahat dari perang dan menstabilkan negeri" ,ucap Tuan Faudav dari keluarga Garuman sang menteri keuangan berbicara.
"Tuan Faudav benar, mereka sudah kelelahan dan begitu juga dengan kita, ini kesempatan" ,ucap Tuan Cherralas seorang pendeta besar dewa Auris yang tua yang bahkan tak mengingat umurnya sendiri.
"Victa lebih kacau dan kelelahan daripada kita, tuan Toran sudah pulang dari pengasingannya diutara melawan Dwarf dan dia akan menstabilkan kekuatannya kembali dengan cara melawan senat" ,ucap Regio sambil memegang surat yang berisi kabar tentang kedatangan Taitus keDalmatia, "senat memang terpecah-pecah sekarang tapi tak lama lagi mereka akan bersatu dan melawan Toran lagi membuat Victa dalam kekacauan yang lebih besar."
Chelarras kemudian terdiam sebentar memikirkan sesuatu tapi kemudian ia menoleh kearah Regio dengan wajah serius.
"Maksud tuan kita akan menerima gencatan senjata dulu tapi tidak perjanjian damai dan menunggu kesempatan kita untuk menyerang?" ,tanya Chelarras.
"Itu benar" ,ucap Casca dengan cepat dan tersenyum ia sambil mengambil sesuatu dari pakaiannya, "Victa itu berpecah belah dengan bangsa-bangsa yang mereka taklukkan."
Casca kemudian menunjukkan pisau dengan corak aneh diukir diatasnya.
Dia kemudian menaruhnya diatas meja dan seluruh Kounsil yang berada didekat meja bisa melihat.
"Apa ini tuan Casca?" ,tanya Frudarr.
"Ini adalah tanda dan pesan" ,jawab Casca dengan senyum.
"Pesan?" ,ucap Regio.
"Ya, jika dilihat dari tato nya ini dalah corak khas budaya orang Regarda dibarat daya yang ditaklukkan Victa sekitar 50 tahun yang lalu" ,ucap Casca.
"Maksud tuan? Ini adalah tanda yang diberikan kelompok perlawanan Regarda yang akan memberontak kepada Victa untuk kita?" ,ucap Chelarras.
"Ya tepat sekali tuan pendeta" ,senyum licik Casca, "pemberontakan Regarda akan terjadi dibarat daya."
Ucap Casca sambil menaruh satu pion catur diatas meja.
"Kemudian kekacauan politik oleh senat" ,ucap Casca sambil menaruh satu pion catur lagi diatas meja, "ini adalah dua pion besar kesempatan yang bisa kita gunakan tuan-tuan" ,senyum Casca dengan licik.
Chelarras kemudian menelan ludahnya.
Sedangkan Regio hanya berwajah tidak nyaman dan mewajari Casca.
*Selalu...selalu...selalu orang ini seperti itu, aku tak pernah tahu apa yang dipikirkan orang itu sejak kecil*, pikir Regio.
Casca kemudian menyeringai makin lebar.
"Ini adalah....kesempatan.." ,ucap Casca.
____-_-_____
"Apa kau tak apa?" ,ucap Charla sambil mengikat perban dipaha seorang prajurit untuk menghentikan pendarahan dipahanya.
"Aa..iya...aku tak apa.." ucap prajurit itu dengan lemas.
Pahanya terluka dengan serpihan kayu besar dan meskipun sudah dicabut oleh Charla nampaknya infeksi nya sudah terlanjur menyebar.
Dan kadang Charla terpaksa melakukan hal yang ia tak suka yaitu memotong bagian tubuh pasiennya.
Erangan mereka dan bagaimana mereka meminta kalau mereka tak ingin menjadi orang cacat.
Charla benci hal itu dan ingin menyembuhkan setiap pasiennya hingga benar-benar sembuh.
"Aghh!"
"Air! Air! Aku butuh air!"
"Buk! Buk! Darahnya keluar!"
Erangan pasukan makin bertambah seiring banyaknya pasukan yang terluka.
Pasukan yang terluka dirawat makin banyak seiring singgahnya berbagai pasukan diseluruh front diperbatasan, rumah sakit dikota Ballerius yang hanya berkapasitas sekitar 250-300 orang.
Sedangkan beberapa pasukan yang singgah kekota Ballerius menambah jumlah pasukan yang terluka dirumah sakit ini hingga ribuan.
"Berapa banyak lagi yang terluka?" ,tanya Charla kepada salah satu suster dirumah sakit tersebut.
"Aku tak tahu buk, mungkin sekitar ada 700-1000 lagi" ,ucap suster tersebut.
Charla hanya mewajari jumlah tersebut, ia sudah pernah mengobati lebih dari 3.000 pasien dalam waktu 4 hari.
"Bagus, jumlahnya sudah cukup sedikit" ,ucap Charla dengan tegas.
Kemudian terdengar pasukan berjalan dan dengan obrolan dibawa mereka.
"Hahahaha! Kau tahu betapa beraninya dia dipertempuran lapangan Volaria" ,ucap seorang prajurit.
"Ha! Pertempuran lapangan Volaria itu tidak terkenal bro" ,ucap prajurit lain.
Bising-bising prajurit itu cukup mengganggu pasien. Meskipun begitu mereka nampaknya ingin mengunjungi pasien yang merupakan teman mereka.
"Kita tanya suster yuk dimana orang sialan itu?" ,tanya seorang prajurit keteman-teman prajuritnya yang lain.
"Jangan kau pikir namanya cuma ada satu didunia ini, jika kita tanya sama suster, malah nanti kita kebingungan" ,ucap prajurit tersebut.
"Jadi, kita kesini percuma aja?" ,ucap prajurit lain.
Charla memperhatikan kumpulan prajurit tersebut, ia cukup tidak menyukai keberadaan mereka yang mengganggu pasien lain.
"Dari kumpulan prajurit keluarga mana mereka?" ,tanya Charla memastikan ke suster disampingnya.
"Ka..kalau..soal itu buk, mereka pasukan keluarga Garius yang ditinggalkan jenderal tuan Vesius disini...karena tuan jenderal Vesius sedang mengomando sendiri pemburuan bandit" ,ucap suster tersebut dengan suara yang terdengar lemah.
"Dia mengomando sendiri perburuan bandit? Pantas saja dia bisa berteman dengan Vespasian" ,ucap Charla mewajarinya dengan tersenyum, "Jadi? Siapa yang bertanggung jawab atas pasukan keluarga Garius disini?" ,tanya Charla sekali lagi ke suster tersebut.
"Ya-yang aku dengar dia memberi tanggung jawab komando kesalah satu bangsawan dari keluarga Merald" ,ucap suster tersebut.
"Kau tak tahu namanya selain dia berasal dari keluarga Merald?" ,ucap Charla.
"I-ia buk ma-maaf aku tak tahu" ,ucap suster tersebut dengan gugup.
Kemudian seorang prajurit terdengar berlari dengan armournya bersuara keras.
"Oi! Kalian! Jenderal Vesius sudah datang!" ,panggil seorang prajurit teriak memanggil teman-temannya, "Kalian pasukan garda depan bukan!? Kalian disuruh untuk berbaris menyambut jenderal Vesius!"
"Oi Rerarr bukankah kau pasukan garda depan? Kalau aku bukan bro" ,ucap salah seorang prajurit kepada temannya.
"Oh iya! Astaga!" ,ucap prajurit tersebut sambil berlari dengan cepat.
Langkah mereka terdengar diantara rumah sakit tersebut dan cukup bising.
*Baru saja orang itu dibicarakan...*,pikir Charla dalam hatinya.
"Suster tunggu sebentar, aku mau keluar" ,ucap Charla kemudian berdiri.
"Ah! B-baik buk" ,ucap suster tersebut lemah, "t-tunggu! Ibu mau kemana buk!? Buk?"
dan segera Charla melangkah pergi keluar dari rumah sakit mengingat sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan pamannya Tairar.
___-_-____
Bendera burung hantu berkibar dan pasukan dengan armour silver melangkah dengan kuda mereka.
Kemudian satu persatu pasukan garda depan berbaris rapi menyambut jenderal mereka.
Sedangkan beberapa tawanan diiring-iring pasukan termaksud Pruasarr Bee.
"Kita rapat dahulu dengan para bangsawan lain, baru kita keibukota" ,ucap Vesius terdengar dari jauh dengan suara langkah kaki kudanya.
"Tuanku ini perintah langsung dari ayahmu, kita harus segera mengarah keibukota" ,ucap Wale terlihat ia berjalan kaki disamping Vesius yang menunggangi kuda.
"Sudah kubilang berapa kali Wale, jika aku tak pergi merapat dengan bangsawan lain tentang perang ini maka aku akan menyinggung banyak keluarga kuat diVicta" ,ucap Vesius sambil turun dari kudanya.
Perutnya cukup gendut dan besar sehingga ia perlu diturunkan dari kudanya dengan kotak dan dibantu beberapa pelayan.
Prajurit berbaris menyambutnya.
Tapi Vesius tidak menghiraukan pasukan yang berbaris menyambutnya dan langsung masuk kegerbang kota.
"Aaaa!!!" teriak salah seorang rakyat kecil mengejutkan banyak orang.
Kemudian didepan perumahan tepat didepan gerbang dimana Vesius berjalan.
Rakyat berkerumunan melihat sesuatu.
"Ada apa itu?" ,tanya Vesius, "kenapa itu?"
Kemudian Vesius yang turun dari kudanya menghampiri kerumunan tersebut dan diikuti Wale dari belakang.
"Minggir! Tuan muda keluarga Garius mau lewat!" ,ucap salah satu prajurit Vesius.
Para petani dan rakyat biasapun minggir dan disingkirkan oleh prajurit.
Para keramaian pasrah minggir dan Vesius berhasil lewat meskipun ada beberapa rakyat biasa yang mengganggu.
Saat Vesius sampai ketempat yang diperhatikan keramaian ia kemudian terkejut sampai ketulang.
Kemudian terlihat Tairur Ohara mati dengan armour yang terlihat terpotong dan perutnya dipenuhi darah yang mengalir.
Matanya sudah mati dan kosong, begitu juga dengan tubuhnya yang sudah mati.
Kemudian Charla juga ikut muncul menerobos gerombolan penonton mayat tersebut.
Charla keluar dari rumah sakit ketika dirinya sedang berjalan dan melihat gerombolan rakyat kecil dijalanan menyaksikan sesuatu, ia langsung kesini.
"Paman!" ,teriak Charla dengan sepontan dan segera berlutut melihat mayatnya.
Vesius dan Charla mengenal orang itu.
Tairur merupakan paman yang Charla sukai, Tairur telah baik dengan keponakannya sejak kecil dan memanjakan Charla.
Sedangkan Vesius sendiri mengenal Tairur sebagai orang yang menikah dengan bibi Vesius yang merupakan pernikahan aliansi antara kedua keluarga.
Tairur juga cukup baik bagi Vesius meskipun dimatanya dia merupakan orang lemah.
Tapi kematiannya membuat kedua orang itu sok dan terkejut, mereka melihat keseraman mayat Tairur yang sudah mati.
Kematiannya akan mengguncang Victa dan seluruh keluarga besar diVicta.