Hannoic War

Hannoic War
Ruang Singgasana yang Gelap (Part 10)



"Hati yang bersih dan indah memimpikan untuk pergi keatas diatas langit diatas ribuan awan, sedangkan Hati yang Paham dunia ini tahu kalau Kebenaran berada ratusan ribu lapis tanah jauh dibawah"


-Mushakashi Sikibu diLegenda Genji


Ruang Singgasana yang Gelap


"Dia sudah pergi..." ,ucap Cleorah sambil melihat dari jendela diKastil Ballerius.


Perrin sudah berangkat bersama 34.000 pasukan dan bangsawan lain, bersama pedang dan besi....bersama instink politik dan komandonya..


'Nona Harlaw yang memimpin sekarang, kau akan belajar memimpin darinya. Dia itu veteran dalam hal seperti ini, aku khawatir jika aku pergi lagi maka aku harus memercayakannya kepada janda merah tua itu...kau harus belajar agar aku bisa memberi komando kepada dirimu selama aku pergi'


Itulah ucapan Perrin yang terakhir kepada Cleorah sebelum ia berangkat dengan pasukannya.


*Aku belajar memimpin...aku belajar komando..kata Perrin aku harus bisa...Perrin percaya padaku.....tapi apakah aku bisa? Aku ini bodoh dibanding Perrin dan Nona Harlaw* ,batin Cleorah.


Cleorah dahulu menganggap kalau politik dan intrik itu membosankan, tapi setelah dekat dengan Perrin, ia mulai merasakan rasa nikmat dengan kemenangan dan komando.


Disisi lain ia merasakan betapa berbahayanya dan curamnya politik, kadang dengan sedikit langkah maka kau akan jatuh kedalam jurang dan tak punya kesempatan kembali.


Dan betapa bodohnya dirinya sendiri.....dia lebih bodoh daripada Perrin...atau bahkan dia itu lebih bodoh dari semua orang disini.


Dan dia sadar itu daripada siapapun...


"Wah! Skill intelligence mu tinggi sekali Cleorah!" ,ucap Willy dengan semangat.


Duduk Willy diruangan ini bersama banyak orang disekilingnya


Skill Willy untuk melihat kemampuan orang lain seperti profil game menjadi banyak perhatian disekelilingnya.


Terutama yang penasaran tentang perbandingan tentang skill mereka dan skill orang lain.


"Benarkah berapa!?" ,ucap Vairy dengan semangat.


Beberapa orang menaruh perhatiannya kepada Cleorah dan penasaran.


Szeth terlihat juga penasaran.


"129...lebih tinggi 10 poin daripada Cyrus dan 7 poin lebih tinggi dari Szeth.." ,ucap Willy.


Beberapa pahlawan langsung terkejut.


Mereka tidak menyangka kalau salah satu anak perempuan paling bawel dan narsis dikelas mereka mempunyai tingkat intellegence dari mereka.


Wajah mereka menunjukkan ada sedikit rasa tidak percaya.


Tapi bisa terlihat sudah ada sebagian rasa menerimanya...


*Mereka mulai berkembang sejak Perrin memarahi mereka diruangan itu...mereka mulai menerima kekurangan mereka* ,batin Cleorah.


Tapi Cleorah juga terkejut dengan hal itu, ia sudah melihat set skill dirinya sendiri tapi ia tak melihat set skill orang lain.


*Kalau begitu ini berarti aku orang terpintar dikelas nomor 2 setelah Perrin...tapi Cyrus? Apakah aku lebih pintar darinya..itu tidak mungkinkan?* ,pikir Cleorah.


"Willy berhenti untuk mengintip profil orang lain tanpa ijin mereka, itu tak sopan dan kau menjadi seperti stalker" ,ucap Cleorah sambil menoleh kearah Willy, "dan kalian juga, berhenti mengintip skill orang lain tanpa ijin mereka. Itu seperti mengintip privasi orang lain"


Beberapa pahlawan nampaknya langsung mengerti.


"Kelihatannya benar..hehe" ,ucap Vairy sambil menggaruk rambutnya.


"E-ehh..baiklah aku tak lakukan lagi..m-maafkan aku hehe.." ,ucap Willy dengan sedikit gugup.


*Tunggu...aku tadi..mirip Perrin? Aku memperingati dan membuat berhenti aksi seseorang....* ,batin Cleorah menyadari sesuatu didirinya.


Cleorah mulai merasakan kalau itu tak mirip dengan Perrin.


Cleorah mulai merasakan menjadi asing dengan dirinya yang mau seperti Perrin, karena dirinya mungkin tak cocok dengan gaya seperti ini.


Tapi meskipun Cleorah tak sebagus Perrin, nampaknya pahlawan mulai sadar apa yang mereka lakukan dan nampaknya berhenti menanyakan skill orang lain.


Dan meskipun kadang rasa mereka menyesal dan sadar karena diperingati oleh dirinya membuatnya nikmat.


...tapi Cleorah sadar kalau ia berdiri sendiri jauh dari teman-temannya yang lain.


Cleorah merasa kesepian meskipun sebentar..


*Jadi inikah yang dirasakan Perrin...atau mungkin bukan? Aku penasaran kenapa Perrin bisa nyaman sendirian dan memerintah terus menerus* ,batin Cleorah sambil melihat teman-temannya.


Cleorah hanya bisa kembali memandang jendela, memikirkan semua keadaan saat ini sementara temannya tenggelam dalam senang dan candaan.


"Kelihatannya kau memikirkan banyak hal, untuk sebentar kau ingin jadi Perrin bukan?" ,ucap Szeth sambil mendekat kearah Cleorah.


*Seseorang membaca pikiranku lagi...memang benar aku bukan yang terpintar seperti set skill katakan..* ,pikir Cleorah.


Szeth kemudian berdiri disamping Cleorah memandang lapangan rumput didepan kastil Ballerius.


"Aku tidak pernah bisa menjadi seperti Perrin...ketika kau mencoba menjadi seseorang dan kau sudah menderita menjadinya maka itu berarti kau tak bisa menjadi sepertinya" ,ucap Cleorah sambil melihat tangannya yang ada gelang emas indah dipakainya.


"Kau menderita karena kesepian?" ,ucap Szeth.


"Selalu kalau aku jadi sendirian tanpa teman-teman" ,ucap Cleorah.


"Sama aku juga kadang, aku heran bagaimana Perrin dan Julius bisa begitu. Meskipun dulu aku sering sendirian..hingga kalian datang" ,ucap Szeth sambil tersenyum.


"Hm, tak usah ingatkan aku soal dirimu yang hampir menusuk Cyrus dengan tongkat kayu" ,ucap Cleorah tersenyum ingin tertawa mengingatnya.


"Itu diriku dulu...kita banyak berubah" ,ucap Szeth, "Perrin juga banyak berubah"


"Semua orang akan berubah..hanya waktu yang menentukan" ,ucap Cleorah.


"Ya teman-teman kita termasuk..." ,ucap Szeth sambil melihat kembali ketemannya.


Teman-temannya terlihat tertawa dan bercanda, mereka bersenang-senang. Cyrus terlihat tersenyum dibelakang mereka semua dan ada beberapa wanita berada disampingnya.


"Teguran Perrin nampaknya mengubah mereka...kebanyakan dari mereka sudah berubah jadi lebih sopan dan tidak kekanak-kanakkan, bukan cuma itu...mereka mulai menerima kekurangan mereka sendiri.." ,ucap Szeth.


"Kau juga Szeth, kau sudah menerima kekurangan dirimu sendiri...aku juga.., tapi menerima kekurangan tidak cukup kau harus tumbuh dari menerima kekuranganmu sendiri" ,ucap Cleorah.


"Heh...tuhkan kau mau jadi mirip Perrin lagi..dia pernah mengatakan itu.." ,ucap Szeth dengan senyuman.


"D-diam" ,ucap Cleorah dengan wajahnya yang memerah karena malu ketahuan.


Kastil ini sudah mulai kosong sejak Pesta Hitam, karena bangsawan mulai takut akan bahaya diistana ini.


Tuan ratu sendiri sempat mau dibawa keibukota Dalmatia yaitu kota Galwarius tapi Perrin melawan ide tersebut, Perrin malah memerintahkan untuk menggandakan penjagaan diistana ini.


Sekitar 6.000 pasukan ksatria lengkap dengan armour dibawa kesini bersama 3.000 pasukan dari keluarga lainnya. Total sekitar 9.000 pasukan berada disini sekarang.


'Itu sudah besar dibanding kastil lain yang punya cuma 5.000-2.000 pasukan penjaga dimasa perang seperti ini'


Ucap Perrin kepada Cleorah.


"...kau sudah dengar?" ,ucap Szeth dengan wajah serius memandang Cleorah.


"Apa?" ,ucap Cleorah.


"Penerobosan Dungeon akan diadakan beberapa hari lagi" ,ucap Szeth.


"Hah? ...apakah yang lain sudah siap?" ,ucap Cleorah sambil melihat teman-temannya yang lain.


"Mereka belum diberitahu, Cyrus dan Perrin tahu. Aku baru diberitahu oleh Cyrus tadi. Tapi pemberitahuan penerobosan Dungeon kepada pahlawan lain belum ditentukan kapan" ,ucap Szeth dengan tatapan kuat, "Perrin tak menentukan kapan penerobosan dungeon. Kita bertiga. Cyrus,aku dan kau yang akan menentukan kita beritahu mereka.....tapi kami berdua tak tentu...jadi pilihan kami berbaring dipunggungmu.."


Tatapan Cleorah kemudian mengarah keCyrus.


Cyrus terlihat menatap Cleorah dengan tatapan tajam.


Tatapan Cyrus kearah Cleorah nampak seperti tatapan kuat sekaligus harapan.


Cleorah hanya menelan ludahnya, ia tak pernah menjadi seseorang untuk berbaring harapan mereka dipunggungnya.


*Kenapa aku…?* ,pikir Cleorah.


Kenapa dia…? Kenapa Cleorah anak wanita bodoh dan cerewet ini…? Padahal dia hanya orang sampingan bukan siapa-siapa...


Dia bukan pemain utama seperti Perrin atau Cyrus…


Cleorah melihat ketangannya sebentar…


Jantung bergerak kencang..


Haruskah dirinya mengurusi urusan orang utama seperti ini…?


Atau haruskah dia menjauh...karena dia bukan apa-apa?


Pilih! Pilih! Pilih! PILIH CLEORAH!!


Itu yang dikatakan kepalanya hingga membuatnya pusing..


Cleorah menelan ludah sebentar..


Kemudian mengepalkan tangannya..


Tidak..


....semua orang pemain utama asalkan mereka cukup hidup untuk melakukannya..


"Aku pilih 4 hari dari waktu penerobosan Dungeon, itu waktu yang cukup sekaligus tak cukup untuk pahlawan lain" ,ucap Cleorah dengan kuat.


Untuk sebentar mata Cleorah yang berwarna coklat gelap bersinar redup menjadi memiliki warna emas.


"Mereka bisa bersiap dalam waktu itu, tapi mereka takkan semudah itu siap dalam 4 hari, sehingga mereka bisa menjadi belajar untuk siap setiap saat" ,ucap Cleorah menatap Szeth dengan tajam.


Cleorah kemudian melepas gelang emas ditangannya dengan berlian abu-abu yang menghiasi gelangnya.


"Untuk persiapan dungeon, seperti makanan,suplai kesehatan,armour dan beberapa senjata. Katakan pada Nona Harlaw dan berikan ia gelang ini, kalau dia mau hutang budi kepada kami ini maka dia hanya perlu memberikan uang yang 20x lipat dari gelang ini untuk membantu penerobosan dungeon" ,ucap Cleorah dengan memberi Szeth gelangnya.


"Keh" ,tertawa kecil Szeth.


Szeth kemudian mengukir senyuman kecil.


"Kau hampir mirip dengan Perrin tadi, tapi dalam bentuk yang lebih cantik, kau memang mau jadi Perrin ya?" ,ucap Szeth.


.


.


.


.


.


.


____-_-__


.


.


.


.


.


.


Berjalan Jahae Mahald ditempat singgasana Adipati Geralda, atau dahulunya ini merupakan ruang singgasana Raja Geralda.


Tapi setelah Victa menaklukkan Geralda banyak dari dalam ruangan ini yang dihancurkan, serta orang terakhir yang punya klaim untuk duduk disinggasana ini sudah dieksekusi mati.


Atau mungkin tidak...orang yang punya klaim disinggasana ini telah muncul dibarat..dengan 38.000 pasukan..


Disamping Jahae Mahald terdapat 1 prajurit bodyguard yang tinggi.


*Aku jadi penasaran bagaimana dengan anak 15 tahun yang jadi Raja Geralda itu..* ,pikir Bodyguard yang berada disamping Jahae Mahald.


"Aethel...mungkin akan bagus melihat mayat bapak Kyrah sialan itu duduk diatas ini, terus bayar pelacur untuk s*x dengan mayatnya disinggasana ini sambil diperlihatkan oleh semua orang..." ,ucap Jahae sambil tersenyum lebar kearah bodyguard disebelahnya.


Aethel hanya bisa tersenyum.


"Mayatnya sudah membusuk digantung dengan kain bendera itu, lebih baik kita cepat-cepat taruh disini kalau tuan mau" ,ucap Aethel dengan senyuman kecil terukir diwajahnya.


"Yaa..ya...ya! Ya! Hahahahaha! Malam nanti kita taruh disini dan minta Hakoon gendut bersama pelayan-pelayan lainnya lihat pemandangan singgasana yang diduduki tuan Kyrah hebat yang mereka layani itu!" ,tertawa Jahae setelah mengucapkan itu.


Jahae tertawa cekikikan hingga memegang perutnya karena kesakitan.


"Sayang kita tak menangkap anak perempuan Tuan Kyrah, padahal kalau bisa...kita tinggal paksa anak perempuan itu nges*x dengan mayat ayahn-Hehehhehahahahhahahha!!!" ,ucap Jahae dengan tawa yang tak bisa ia tahan diakhir ucapannya.


"Pasti pemandangan yang menarik, tapi ada banyak yang masih belum kita mainkan lagi tuanku" ,ucap Aethel dengan tersenyum licik.


"Ahahaha...kau benar..termasuk anak perempuannya siHakoon.." ,ucap Jahae dengan tersenyum *****.


"Heh, dia itu anak kecil 5 tahun..terlalu bagus untuk dimainkan sekarang" ,ucap Aethel sambil menurunkan satu alisnya dan tersenyum.


"Aku punya satu pikiran untuk anak itu...Hehahhahahahaha!" ,tertawa aneh lagi Jahae.


Aethel hanya bisa merasa jijik melihat Jahae.


Tawa anehnya menjadi seperti kebiasaannya...sedangkan kekejaman dan kegilaannya menjadi semacam hobinya.


"Jahae!" ,ucap Hakoon Hasral dengan suara bapak-bapaknya.


Terlihat Hakoon berjalan kearah mereka dengan memiliki 3 penjaga bodyguard dibelakangnya, dan wajahnya terlihat cukup kesal.


"Kembalikan anak perempuanku! Aku sudah melakukan apa yang kau katakan! Aku sudah menyerang kastil milik saudara ku sendiri! Aku sudah mengejar keponakanku sendiri untuk dibunuh! Kemudian aku mendeklarasikan diriku sebagai adipati Geralda meskipun melanggar hukum pewarisan tanah! Apa lagi hah!?" ,ucap Hakoon dengan marah.


Pipi tembem Hakoon terlihat memerah kuat karena marah.


*Dia sudah tak bisa menahannya....* ,batin Aethel sambil tersenyum kecil.


"Tenang saja Hakoon...sebentar lagi, kau akan melihat putrimu sendiri..cuma sebentar..sebentar lagi.." ,ucap Jahae dengan nada yang sedikit kekanak-kanakan.


"Saat ini aku punya lebih banyak prajurit bodyguard dibelakangku sekarang ini...3 lawan 1..." ,ucap Hakoon dengan wajah kuat sambil melihat kearah Aethel, "jangan lupa aku juga punya 5.000 pasukan dikastil ini..sedangkan kau punya 3.000..bisa kita bayangkan siapa yang menang Jahae.." ,ucapnya sekali lagi sambil kembali melihat kearah Jahae.


"Hahahahahahehehehahhahahaha!" ,tertawa Jahae lebih keras mendengarnya, "jangan coba mengancamku bapak gendut....jika pertarungan dimulai..ingat ini....aku janjikan teriakan anak perempuanmu akan terdengar dari Legata barat hingga keDalmatia...."


"Kau!" ,ucap Hakoon dengan wajah kesal.


Hakoon hampir mirip seperti babi hutan yang siap menabrak musuhnya.


Tapi Hakoon itu tidak bodoh, dia memilih menjadi diam dan tidak melakukan apa-apa.


"Hm" ,tersenyum Jahae, "lagipula...3 bodyguard mu itu akan mudah dibunuh oleh Aethel..bahkan sekarangpun mereka bisa dipotongnya seperti kue"


Ucapan Jahae Mahald membuat beberapa penjaga bodyguard Hakoon memegang pegangan pedang mereka menyiapkan untuk menghunuskan pedang mereka.


Aethel juga sedang memegang pegangan pedangnya dan menyeringai sombong.


"Ksatriamu tak pernah membantai 200 orang sendirian bukan? Ksatria ku disamping ini pernah..dia membantai 200 pemberontak yang melawan perintahku.." ,ucap Jahae sambil tersenyum.


"200 orang pemberontak...cih! Lebih mirip 200 wanita,anak kecil,dan orang tak bersalah disebuah desa yang menolak perintah untuk memberikan 5 wanita cantik didesa mereka kepada dirimu! Ksatria? Dia ksatria palsu! Ksatria itu mengucap sumpah sakral melindungi yang tak bersalah ketika dinaikkan sebagai ksatria!" ,ucap Hakoon.


Aethel langsung memegang pegangan pedangnya dengan kuat.


Sedangkan prajurit bodyguard Hakoon sudah sangat siap sampai mereka terlihat memasang kuda-kudanya.


Hakoon terlihat hanya merapatkan giginya dengan kuat.


Kilauan armour dan pedang mereka bisa terlihat diruangan singgasana ini.


Dan selanjutkan pedang Aethel mulai dihunuskan secara perlahan.


"Wah,wah, nampaknya...anak-anak seperti kalian mau pertunjukan. Ayo kesini, tunjukan padaku kehebatan ksatria dari Kastil Dinding Rusak" ,ucap Aethel dengan tersenyum sombong.


*Shringgggkkkkk!*


Suara besi terdengar.


Kemudian dengan cepat Aethel mengeluarkan pedang.


*Cnrakk*


Suara terpotong terdengar.


Cahaya dari jendela membuat sebuah bayangan dilantai yang menggambarkan gerakan Aethel..


Bagaikan menunjukkan sebuah dimensi lain yang juga dihuni Aethel dan pedangnya...


Bayangan hitam menunjukan Aethel mengayunkan pedangnya kearah bodyguard Hakoon…


"AKH!"


Teriakan terdengar.


Darah kemudian terlihat memuncrat ke angkasa dari bayangan ini.


Darah merah mengalir dilantai ruang singgasana ini…


"Ahahhahahaha! Hahahahhahahahha!" ,tertawa Jahae melihatnya.


"AAAHHHHHHHHHHKK!" ,ucap salah satu ksatria berbaring dilantai


Terlihat tangannya terpotong dan tulangnya bisa terlihat.


Dan darahnya muncrat kelantai.


Berbaring ksatria itu berteriak kesakitan…


"Kau!" ,ucap salah satu ksatria bersiap mengeluarkan pedang tapi-


"Lihat? Kalian semua terlalu lambat mengeluarkan pedang" ,ucap Aethel sambil mengancam leher Hakoon dengan pedang.


"Ahk!" ,gumam Hakoon terdesak dengan Aethel memegangnya dan mengancam lehernya dengan pedang besi.


"Tuan!" ,ucap salah satu ksatria dengan pedangnya ditangannya.


"Tuanmu sedang dibesi ku, diam" ,ucap Aethel sambil tersenyum dengan menunjukkan gigi nya.


Kemilau besi pedang Aethel bercahaya di kegelapan ruangan ini.


"Sudah lihat? Bodyguardku lebih berharga daripada 3 anak kecil ini yang cuma tahu mengayunkan besi" ,ucap Jahae sambil memainkan alis diwajahnya, "...ohh maaf, sekarang cuma 2 anak kecil dan 1 orang lumpuh satu tangan"


Hakoon terlihat memasang wajah kesal kepada Jahae.


Sedangkan bodyguard Hakoon tak bergerak dengan ejekan Jahae dan nyawa tuan mereka ditangan Aethel.


Sedangkan bodyguard Hakoon yang kehilangan tangannya berbaring dengan mengerang kesakitan.


*Tuk!*Tuk!*Tuk!*


Suara langkah seseorang yang panik bisa terdengar kearah mereka.


Langkah tersebut membuat mereka semua mengalihkan perhatiannya kepada arah suara langkah tersebut.


"Tuanku! Ada laporan dari mata-mata tadi! Katanya 8.000 pasukan dipimpin Callix Malibax akan sampai sekitar 3 hari kesini! Sudah ada 7.000 pasukan yang terdiri dari pasukan keluarga Flint,Mahore,dan Nuram bergabung dengan mereka!" ,ucap prajurit tersebut melapor.


"Hm" ,tersenyum sombong Jahae mendengarnya.


"Cih" ,ucap Aethel sambil melepaskan Tuan Hakoon dari pegangannya, "kalian selamat, kami butuh orang untuk pengepungan yang akan datang"


"Ya sudah ya mainnya Tuan Hakoon, jika kau main lagi denganku maka ingat ini" ,ucap Jahae dengan senyuman lebar, "...maka anak perempuanmu akan berdarah dikasurnya malam ini.."


Kemudian Jahae berjalan melewati mereka semua.


"Hehe, mungkin aku akan melaksanakan tugas bagus membuat perempuan kecil itu berdarah dikasurnya" ,ucap Aethel ketika mendengarnya.


Jahae setelah itu mengikuti Aethel dengan tawa kecil.


Dan air darah yang dilantai Aethel pijak dengan sepatu besinya...


.


.


.


.


.


.


_____-_-_____


.


.


.


.


.


.


Perrin berjalan dikamp pasukan yang terlihat sibuk.


Satu persatu prajurit dan ksatria Perrin lewati banyak dari mereka yang langsung menunduk kepada dirinya.


Terlihat beberapa pasukan memasak makanan mereka.


Dan beberapa membersihkan armour mereka.


Beberapa ksatria memiliki pedang dan pelayan mereka sendiri.


Beberapa membawa armour sendiri atau bahkan armour yang mereka rampok dari rakyat lain.


Yang ketahuan menjarah digantung, sedangkan yang mencuri dipotong tangannya oleh Perrin atau jenderal lain.


Tapi pasti ada yang menjarah tapi Perrin tak ketahui dan dia terlalu sibuk untuk menyelediki hal itu.


Beberapa candaan kotor dan candaan ringan dari prajurit untuk bercanda terdengar, beberapa bercerita tentang kisah mereka sendiri.


Veteran mengajarkan beberapa anak muda yang polos tentang perang.


Bangsawan berkeliling memerintah dengan bodyguard mereka sendiri.


Kamp pasukan membentang besar dipinggiran Sungai Garpu Putih yang bisa membantu suplai air bersih mereka.


"8.000 dari pasukan Melera...3.000 pasukan Rommel...12.0000 pasukan Garuman...10.000 pasukan Veel.." ,ucap prajurit yang disamping Perrin melapor.


"3.000...pasukan Rommel bukankah punya lebih banyak?" ,ucap Perrin.


"Banyak pasukan Rommel masih terjebak diGunung Hitam tuanku, beberapa beranggapan pasukan-pasukan itu sudah mati. Kita juga belum dapat kabar dari pasukan tersebut tuanku" ,ucap prajurit tersebut.


"Hm" ,gumam Perrin sinis kalau pasukan itu sudah mati, "Keluarga Rommel sedang dalam ambang kejatuhan nampaknya, tapi wilayah Kepunyaan Keluarga Rommel masih cukup luas dan kaya akan ladang subur, jadi mungkin mereka bisa bangkit lagi.."


"Sedangkan suplai tuanku....ada sekitar 400 kereta dari keluarga...Ja-


"Biar aku saja yang baca itu nanti ditendaku sendiri" ,ucap Perrin sambil berhenti berjalan melihat sesuatu.


Terlihat beberapa prajurit diseret oleh beberapa ksatria.


"Aaaaaaa!!!! Aaaaa!!! Aku tak mau! Maaf! Maafkan aku! Aku minta rasa kasihan! Kasihani aku tuan! Kasihani aku tuan!" ,ucap salah satu prajurit itu tersebut sambil diseret.


Terlihat ksatria-ksatria langsung menunduk kepada Perrin ketika melihat dirinya.


Beberapa ksatria menunduk terpaksa dalam ketakutan.


"Berapa jumlahnya pendosa ini?" ,ucap Perrin dengan tatapan tajam.


"Ada sekitar 53 dari seluruh kamp" ,ucap salah satu ksatria.


"Tuanku! Maafkan aku! Aku cuma berbicara tentang anda! Aku cuma tidak sengaja! Aku cuma tidak sengaja!" ,ucap prajurit tersebut dengan histeris.


"Bicara tentang meragukan pahlawan yang dipanggil dari dunia lain untuk melawan pendosa seperti kalian dan raja iblis" ,ucap salah satu ksatria dengan kuat.


"aku dengar dia mengatakan kalau anda punya dada yang besar jadi anda punya kekuatan untuk menghantamkannya kebatang raja iblis" ,ucap Elric yang kemudian muncul dan mendekat kearah Perrin.


*Dan sebaiknya kau tak usah membawa omongan itu lagi kesini, atau kau akan ikut dihukum Elric* ,ingin Perrin berteriak itu tapi ia tak menahannya.


"Apa hukumannya tuanku buat orang-orang ini?" ,ucap salah satu ksatria.


"Eksekusi adalah hal bagus terutama jika kita gantung atau taruh kepala mereka disekitar kamp ini, maka bisa membuat prajurit lain menjaga mulutnya" ,ucap salah satu ksatria.


"A-ampuni tuanku, mengobrol merupakan sesuatu yang wajar tuanku terutama jika itu candaan kotor" ,ucap salah satu ksatria lagi dengan rasa kasihan dan kekesatriaan.


"Apakah kau berpihak pada mereka Roff?" ,ucap salah satu ksatria kepada ksatria yang penuh rasa kasihan itu.


"Tidak, kasihan kadang adalah hal baik melawan hal buruk" ,ucap Roff.


"Kasihan dan kebaikan itu tidak efektif dalam menghancurkan rumor busuk, Ksatria Roff...mereka takkan melewati hari ini tanpa rasa sakit" ,ucap Perrin dengan matanya yang terlihat seperti tatapan monster.


"Telanjangi mereka setelah itu pukul mereka 100 kali kemudian arak-arak mereka dikamp" ,ucap salah satu ksatria.


"Itu terlalu ringan" ,ucap salah satu ksatria.


"Tidak seringan yang kau kira Ksatria Vargo" ,ucap salah satu ksatria, "mereka tidak akan melupakan hari ini"


"Itu tidak cukup" ,ucap Perrin dengan kuat membuat diam ksatria lain.


"Ampun tuanku! Ampun!" ,ucap salah satu prajurit yang kemudian mencoba berdiri tapi didudukkan langsung oleh ksatria lain.


Perrin terdiam sebentar melihat 53 orang menangis dan ketakutan...sebagian minta ampunan dari tuhan...sebagian minta ampunan kepada dirinya...dan sebagian kecil hanya pasrah...


"Hahhh.." ,menghela nafas Perrin, "potong lidah mereka semua kemudian telanjangi setelah itu arak-arak keseluruh kamp"


Beberapa ksatria lain langsung mengerti dan segera mengambil pisau mereka.


Sedangkan ksatria lain terlihat keberatan dan hanya bisa terdiam ketakutan mendengarnya.


"Ta-tapi tuanku-


"Diam, aku tak mau lagi dengar...arak mereka dengan lidah mereka terpotong dan satupun kain dari tubuh mereka diambil dari mereka.." ,ucap Perrin dengan nada berat yang menakutkan.


Beberapa ksatria lain langsung mengerti dan segera memegang salah satu orang.


Elric hanya mengalihkan pandangannya tak mau melihat hal semacam ini.


"Ampun tuanku! Ampun tuanku! AMPUN TUANKU! Ekwki ekkejewwwwww! Wshehhs...


Berteriak histeris prajurit itu sambil tangan ksatria yang memasuki mulutnya dan menarik lidahnya.


Elric hanya terlihat hanya mendecakkan lidahnya.


"Kau tak suka Elric? Ini adalah hal yang paling efektif dalam menghancurkan rumour" ,ucap Perrin.


"Hanya disekitarmu, tapi dibelakangmu akan ada banyak orang yang merumourkan hal ini" ,ucap Elric.


"Setidaknya mereka tidak menghina dan mengobrol itu sesuka hati disekitar kita" ,ucap Perrin.


*Cernk*


Suara dipotong lidah dengan gunting besi terdengar.


Dan lidah prajurit tersebut terlihat berbaring ditanah sedangkan prajurit tersebut menangis histeris tanpa suara.


"Dengan ini kita tak perlu mengucapkan kata 'diam' dengan kuat" ,ucap Perrin.


Wajah Perrin tidak tersenyum, Perrin tidak pernah menyukai hal ini.


Perrin hanya melihat bagian lidah tersebut dengan tatapan kuat.


"Rasa kasihan itu hal bodoh jika ditujukan kepada musuhmu..." ,ucap Perrin.


Elric hanya terlihat berwajah pahit, dia tak suka melihat pemandangan ini.


Terlihat ada prajurit yang melawan untuk dipotong lidahnya tapi ksatria langsung memukulnya ketanah hingga salah satu giginya keluar.


Satu persatu prajurit dipotong lidahnya...


Ada yang berdoa kepada tuhan mereka diakhir...


Ada yang berdoa kepada ksatria yang menghukum mereka untuk mengasihini mereka...


Ada yang berdoa kepada Perrin dan Elric..


"Oi Elric" ,ucap Perrin sambil memberi sebuah kekertas kepada Elric ditangannya.


"Apa ini?" ,ucap Elric sambil memegang kertas yang diberi Perrin.


"Aku akan berkendara bersama 2.000 pasukanku kesuatu tempat pada malam hari, kau akan mengomando pasukan ini kearah Kastil Myhall untuk mengalahkan 8.000 pasukan bayaran Trivistane" ,ucap Perrin dengan tatapan tajam.


"...aku?" ,ucap Elric dengan kebingungan.


"Tenang saja, Trivistane itu terlalu bodoh untuk membiarkan 8.000 pasukan bayaran pergi tanpa komandonya. Kau bisa menawarkan 8.000 pasukan bayaran itu uang daripada bertempur dengannya. Soal komando tenang saja aku sudah mengaturnya dan banyak ksatria veteran yang akan menemanimu selama aku pergi" ,ucap Perrin dengan tatapan kuat.


"Tapi kenapa aku?" ,ucap Elric.


"Dikamp ini yang paling bisa kupercaya adalah temanku sendiri dari kelasku" ,ucap Perrin sambil mengambil helm dari pelayan disampingnya, "soal Elara, tenang saja dia baik-baik saja. Aku sudah memeriksa keadaannya lewat surat dari merpati mata-mataku"


Elric yang mendengar itu terlihat langsung mengerutkan alisnya.


"Oh iya aku jumpai beberapa pasukan kita menjarah beberapa desa disini, perintahkan 1.000 pasukan dibawah Komando Ksatria Mailann untuk mengevakuasi mereka keKota Jurumm, itu dekat dari sini. Juga berikan 4.000 koin kompensasi kepada Walikota Jurumm karena mengganggunya dengan pengungsi masuk kedalam kotanya" ,ucap Perrin, "sedangkan beberapa pasukan penjarah...akan kugantung jika kutemukan"


Elric hanya mengerutkan kedua alisnya.


"Kau punya sisi lembut Perrin, cuma kau tak menyadarinya" ,ucap Elric sambil memasukkan surat yang diberi Perrin kepakaiannya.


"Hm" ,tersenyum Perrin mendengarnya, "aku sadar...tapi cuma aku tak tahu cara memakainya" ,ucapnya sekali lagi sambil memakai helmnya.