Hannoic War

Hannoic War
Kebingungan (Part 21)



"Setiap orang yang membentang jaring laba-labanya untuk menangkap sesuatu bisa antara akan membawa dirinya kearah kejayaan atau penyesalan..."


-Vergil dibuku Aeneid


Kebingungan


Berdiri Perrin disebuah lantai..lantai yang sangat ia kenal...lantai keramik..


"Dimana aku?" ,ucap Perrin kebingungan sambil melihat tubuhnya.


Anehnya ketika ia melihat kebelakangnya terdapat sebuah cermin yang berdiri tegak..


Rambutnya berubah kembali menjadi hitam...dan matanya juga berubah dari kuning kuat kewarna lama matanya...coklat gelap.


Dihadapannya terdapat lorong sekolahnya didunianya yang lama terbentang.


Terlihat sekolahnya sepi mati, tak ada orang disini selain Perrin..dan...seseorang.


Terlihat seseorang berdiri ditengah-tengah sebuah lorong sekolah.


Seseorang dengan jubah hitam dengan wajahnya yang tidak bisa dilihat Perrin.


"Kelihatannya kau menyukainya...pertempuran itu. Hanya satu yang kau tidak suka disaat-saat seperti itu...ketidakberadaannya.." ,ucap seseorang berjubah hitam itu.


"Dimana aku? Siapa kau? Ini mimpi?" ,ucap Perrin sambil melihat sekelilingnya dengan setengah panik.


"Ini bukan mimpi...dan diriku ini...heh bukan siapapun" ,ucap seseorang berjubah hitam tersebut.


Kemudian seseorang berjubah hitam itu berjalan kearah Perrin…


Langkah kakinya sangat kuat,gelap,dan hitam..


Setiap dia melangkah..Perrin melihat sesuatu...


Ribuan mayat berbaring dilantai keramik ini…


Ribuan mayat terlihat pucat dan matanya putih seperti mayat dengan mulut mereka dipenuhi air.


Sedangkan ada juga yang terlihat menjadi gosong hitam terbakar.


"Kenapa? Kau melihatnya? Ribuan korban dari perangmu..ribuan hasil dari kenikmatanmu" ,ucap seseorang berjubah hitam itu sambil terus melangkah.


Senyuman seseorang berjubah hitam tersebut bisa dilihat.


Kemudian seseorang berjubah hitam itu melangkah sekali lagi…


Dan terlihat dihadapan Perrin…


Ratusan wanita terjatuh berlutut ketanah dan menangis…


Ratusan anak kecil menangis histeris.


Ratusan orang tua yang juga ikut menangis.


"Kau lihat? Hasil dari perangmu, ratusan istri yang menjadi janda,ratusan anak yatim,dan ratusan orang tua kehilangan anak mereka" ,ucap seseorang berjubah hitam itu dengan senyuman yang lebar.


Perrin hanya bisa terdiam dan menatap tajam keseseorang berjubah hitam itu.


Perrin terlihat tak menghiraukan apapun yang ia lihat tadi.


Perrin tak menghiraukan ribuan mayat,janda,orang tua,ataupun anak yatim dan hanya menatap tajam seseorang berjubah hitam tersebut.


"Ya...itu memang dirimu..monster yang menatap tajam kedepan..tapi kenapa tak lihat kesampingmu sekali-sekali?" ,ucap seseorang berjubah hitam itu sambil membentangkan kedua tangannya.


Perrin kemudian mengerutkan dahinya kemudian melihat kesampingnya..


Terlihat kelasnya dan pahlawan duduk dikursi mereka masing-masing sama disaat sekolah.


Tapi ada sesuatu yang aneh...terlihat sebagian besar pahlawan menjadi mayat..


"Semua orang akan mati tak peduli siapapun mereka atau apapun yang mereka sembah.." ,ucap seseorang berjubah hitam tersebut dengan senyuman.


Cleorah terlihat menjadi setengah mayat,setengah Perrin,setengah dirinya sendiri….


Cyrus sendiri menjadi setengah mayat dan……


….setengah dewa..


Elric terlihat memiliki dada yang berlubang...terlihat dirinya lagi memiliki janggut besar dan api mengelilingi tubuhnya..


Kemudian Perrin menggeser kepalanya melihat pahlawan satu persatu.


Terlihat kelas itu dipenuhi dengan mayat,pohon,es,api,besi,dan dewa..


Tapi ada sesuatu yang kosong dikelas ini…


Kursi dan meja Julius…terlihat tak ada yang duduk disitu...dan Julius pun tak ada dikelas ini..


"Dimana Julius?" ,ucap Perrin bertanya.


"Dia? Dia pergi kejalannya sendiri..kau akan bisa menggapainya….tapi takkan bisa kau lihat ia berjalan dijalannya sendiri.." ,ucap seseorang berjubah hitam itu sambil menyentuh pipi Perrin.


Perrin kemudian menepis tangan seseorang berjubah hitam itu dengan cepat.


Tapi kemudian terlihat tangan kiri Perrin menjadi hancur dan bengkok liar.


Perrin hanya bisa bengong dan menganga melihat ini..


"Oh iya coba kau lihat dirimu sendiri dicermin?" ,ucap seseorang berjubah hitam itu.


Kemudian Perrin kembali melihat kebelakang.


Dan terlihat dirinya sendiri…


Setengah mayat..setengah Julius...setengah dirinya sendiri…dan setengah ksatria pelindung dibuku yang Perrin baca saat kecil…


Seorang ksatria pelindung yang membunuh monster demi menyelamatkan negerinya…


Sedangkan tangan kanannya berubah jadi tangan Julius...kurus memiliki urat dan otot tapi tak banyak..dan sangat ringan...


Kali ini Perrin menganga terkejut.


"Kau melakukan semua tindakan memerintah dan militer itu...karena kau ingin melindungi mereka bukan? Teman-temanmu? Kau tak dekat dengan mereka tapi ingin bicara dengan mereka...seperti hubungan guru dengan murid, kau menganggap teman-temanmu sebagai negerimu" ,ucap seseorang berjubah hitam itu sambil tersenyum.


"Apa maksudm-


" 'Apa maksudmu' ? Hm, kau tak menyadarinya bukan? Dan kau bisa lihat dicermin sekarang...kau ingin menjadi Julius. Makanya kau menghiraukan semua orang yang kau buat menderita karena Julius melakukan itu juga. Kau menyukai pertempuran..karena kau ingin membuktikan kau bisa sepintar Julius..." ,ucap seseorang berjubah hitam tersebut sambil tersenyum.


"Siapa dirimu!?" ,ucap Perrin dengan suara kencang sambil memandang kembali kearah seseorang berjubah hitam itu.


"Sudah kubilang...aku bukan siapa-siapa.." ,ucap seseorang berjubah hitam itu dengan senyuman lebar.


Kemudian dihadapan Perrin terlihat ratusan pedang diarahkan kedirinya.


Tapi ada sesuatu…


Ratusan pedang itu terlihat bukan mengancam...tapi bagaikan tunduk dan jinak kepada Perrin..


Sebagian pedang terlihat ketakutan kepada Perrin…


Tapi ada beberapa pedang..yang terlihat rusak penuh dengan lecet dan goresan tapi kuat dan tajam...terlihat pedang-pedang itu bagaikan akan menusuk Perrin..


Kemudian belatung raksasa sedang melihat kearah dirinya dengan tatapan yang seakan tersenyum…


"Akh!" ,ucap Perrin sambil bangun dari kasurnya.


Bisa terasa kasurnya yang lembut dan bau parfum Dalmatia..


Dihadapan Perrin bisa terlihat kamar kastil dan kasurnya..


Dengan dinding batu abu-abu yang membentang kemana-mana.


Dengan lentera mewah menerangi kamarnya..


*Itu...semua mimpi...? Atau bukan?* ,pikir Perrin.


"Akkkkhhhh..ssshhhhhh.." ,gumam Perrin sambil merasakan tangan kirinya yang kesakitan hingga ketulang.


Terlihat tangan kirinya diperban dengan ratusan perban.


"Prajurit!" ,ucap Perrin dengan kencang.


Tapi tak terdengar apa-apa…tak ada langkah kaki seseorang terdengar atau sesuatu…


"PRAJURIT!" ,ucap Perrin dengan lebih kencang.


Kemudian terdengar suara langkah kaki melangkah kearah kamarnya.


*Tuk*


"Ada apa tuanku?" ,ucap prajurit itu.


"Katakan pada semua orang…ssshhhhhh" ,ucap Perrin sambil merasakan tangan kirinya yang kesakitan.


*Kalau aku memiliki mimpi aneh..* ,ingin Perrin mengatakan itu.


Tapi dia tak bisa..dia punya orang yang ia lindungi dan negeri untuk ia pimpin..


Dan musuh yang bersembunyi untuk ia temukan dan kalahkan..


Seseorang dibalik Pesta hitam...pemberontak Trivistane...korban pertempuran...kapal yang ia ambil dipertempuran…perang yang ia harus menangkan...nyawa teman-temannya…


"Apa yang terjadi waktu aku tidur?" ,bertanya Perrin.


*...tuk*...tuk*...tuk*


Suara langkah kaki terdengar memasuki ruangan Perrin, bersama dengan ringingan armour besi.


"Angkatan Laut Pengkhianat Trivistane hampir dihancurkan semua, 100 kapal angkatan laut hancur..21 kapal hilang, 11 kapal hancur, 18 kapal diambil oleh kita, sedangkan dilaporkan sisanya tidak diketahui banyak, kebanyakan kapal bajak laut katanya pergi meninggalkan Trivistane atau kembali kepelabuhan Harlaw" ,ucap Jaruman masuk kedalam ruangan ini, " 'Pertempuran Api Hitam' orang-orang menjulukinya"


Perrin terdiam mendengarnya dan melihat tangan kirinya yang diperban.


"Berapa lama aku tertidur?" ,ucap Perrin sambil melihat kembali kearah Jaruman.


"2 hari tuanku, setelah kita kembali dari laut, aku memerintahkan beberapa tabib dari Pulau Suci Cyronia untuk merawat anda" ,ucap Jaruman sambil membungkuk sopan kepada Perrin.


"Apa katanya penyakitku ini?" ,ucap Perrin sambil melihat tangan kirinya.


Kemudian Perrin membuka perbannya sedikit dan melihat tangannya…


Tangannya berwarna hitam bercampur ungu dengan kulitnya yang terlihat rusak…


Mata Perrin melebar sedangkan pupilnya mengecil melihat ini....


Dia tak bisa menggerakkan tangan kirinya sekarang...dia kehilangan tangan kirinya..


*Aku menang...tapi kerugian macam apa ini..* ,pikir Perrin.


" 'Tubuh manusia biasa harusnya tak bisa menanggung kekuatan sihir seperti ini, jarang hanya tangan yang seperti yang menghitam. Yang paling sering adalah hampir semua badannya menghitam seperti ini, harusnya yang menghitam bukan cuma tangannya..' " ,ucap Jaruman, "itu yang tabib itu bilang"


"Bisa....sembuh..?" ,ucap Perrin dengan suaranya yang pelan.


"Bisa tapi sangat jarang katanya hanya 1 dari 1 juta, jika tangan tuan dipotong maka katanya rasa sakit takkan bisa tertahan" ,ucap Jaruman.


"Potong" ,ucap Perrin dengan cepat sambil mengambil segelas air dimeja disamping kasurnya.


"Tuan yakin?" ,bertanya Jaruman.


"Yakin, potong tangan kananku, aku tak mau ada tangan yang menghambatku bahkan kalau bisa ada kemungkinan sembuhnya yang kecil" ,ucap Perrin yang setelah meminum airnya.


*Gluk*Gluk*Gluk* ,suara Perrin


"Aku tak seoptimis dan sebodoh itu untuk menggantung tangan mayat ini menunggu untuk sembuh" ,ucap Perrin sambil menaruh kembali gelasnya dimeja.


Jaruman bisa terlihat menelan ludah dan sedikit terkejut.


"Baiklah, aku bisa beritahu tabib soal itu" ,ucap Jaruman.


"Tunggu sebentar berikan aku kertas dan pena dengan tinta" ,ucap Perrin dengan suara kuat.


"Tuanku?" ,gumam Jaruman itu kebingungan.


"Kau tak dengar kataku? Kertas dan pena dengan tinta" ,ucap Perrin dengan kencang, "aku perlu menulis sesuatu...untuk seluruh Dalmatia.."


.


.


.


.


.


.


.


____-_-____


.


.


.


.


.


.


.


.


Angin pagi bisa terasa ditangan Charla, menggelitik dirinya dengan dingin.


Sedangkan rambutnya yang sudah cukup panjang membentang hingga kebelakang punggung Charla.


Charla kemudian keluar dari semak-semak…


"Oi Hanno...bagaimana diriku?" ,ucap Charla.


Terlihat rambut Charla yang hitam dan panjang cukup berantakan.


Dadanya yang sudah rata karena diikat tali dan wajahnya yang sudah lumayan kotor karena debu dan lumpur membuatnya benar-benar mirip seperti lelaki sekarang.


"Benar-benar bagus, mirip seperti lelaki cantik" ,ucap Hanno dengan tenang.


*Apa?* ,batin Charla dengan menganga.


"Apa kau bilang?" ,bertanya Charla merasa ia salah dengar tadi.


"Ibuk, mirip seperti lelaki cantik sekarang" ,ucap Hanno dengan cepat tanpa rasa tersangkut pun dilidahnya.


Wajah Charla menjadi merah mendengarnya.


"Ba-baguslah, berarti penyamaranku cukup bagus" ,ucap Charla.


*Aku tak menyangka itu akan keluar dari mulutmu* ,pikir Charla.


"Ja-jadi? Ehem" ,ucap Charla memperbaiki lidahnya dan mulutnya, "jadi? Kau bisa melihat atau mendeteksi ada beberapa prajurit Victa didepan?"


"Tidak, aku tidak tahu, kalau ada memang kenapa buk?" ,ucap Hanno dengan wajah datarnya.


*Hm, langka, biasanya kau tidak menanyai diriku soal rencana...* ,pikir Charla sambil meletakkan tangan didadanya.


Wajah Charla masih sedikit merah padam, tapi ia menarik nafasnya.


"Kita akan masuk kedalam kamp pasukan Toran Garius, jika aku lihat peta nampaknya sudah cukup dekat sekarang, palingan beberapa jam lagi" ,ucap Charla sambil membongkar tas dipinggulnya.


Terlihat sebuah pisau besi yang sudah ditajamkan dengan meminjam batu asah dibar untuk menajamkannya.


Kemudian Charla memasukkan pisau itu dalam pakaiannya untuk disembunyikannya.


*Untuk berjaga-jaga* ,pikir Charla.


"Hanno, kau juga harus menyimpan sejumlah senjata yang disembunyikan untuk berjaga-jaga" ,ucap Charla sambil melihat kearah Hanno.


Ketika Charla melihat kearah Hanno...ia melihat Hanno yang sama dengan dikamar penginapan tersebut…..Hanno yang mual..


Hanno terlihat menutup mulutnya sedangkan pupil dimatanya menyipit..


Terlihat tangannya bergetar…


"Ada apa?" ,bertanya Charla sambil mendekat keHanno dengan cepat.


"Suara kuda...suara orang yang mengendarai kuda mendekat kearah kita.." ,ucap Hanno dalam suara lemas mual.


"Kuda?" ,gumam Charla.


Ketika Charla mencoba fokus...dari jauh bisa terdengar…


*Ddruduk*drududk*


Suara kuda melangkah terdengar, daripada suara kuda ini lebih kesuara seorang pengendara kuda mendekat.


*Ddruduk*drududk**ddruduk*drududk*


Tapi bisa terdengar pengendara kudanya bukan cuma 1...2..atau..5 tapi lebih banyak…


*Ddruduk*drududk**ddruduk*drududk*


Charla kemudian menyiapkan pisaunya dan juga pedang besinya…


"Tidak jangan lawan" ,ucap Hanno dengan suara yang lebih kuat sambil melepas tangannya dari mulutnya.


"Jangan lawan?" ,gumam Charla kebingungan dengan perkataan Hanno.


"Kita-uhuk! Ohoek!" ,ucap Hanno sambil menutup mulutnya kembali.


Hanno kemudian terlihat hampir menangis…matanya merah sedangkan tenggorokannya bergerak aneh..


"Kita tidak bisa melawannya, lari bahkan mungkin tak bisa...ibuk bisa dengar suara ringingan besinya...ini prajurit..ehem,ehem,kkkhhek" ,ucap Hanno sambil memperbaiki tenggorokannya.


*Dia mau muntah tapi menahannya* ,pikir Charla menyadari sesuatu.


"Baiklah kita menyerahkan diri" ,ucap Charla sambil memasukkan kembali pedangnya kesarungnya dan pisaunya kepakaiannya.


Hanno memang benar...


Menyerahkan diri lebih bagus..karena Charla bisa saja selamat oleh mereka...kalau ini perampok dan mereka dirampok, mereka hanya tinggal meninggalkan barang mereka..dan mereka akan dibiarkan pergi...


Diperkosa? Charla yakin tidak..penyamarannya cukup bagus jadi mungkin tak ada yang mengetahui kalau Charla wanita…


Kalau prajurit? Dari yang Charla ketahui, kelompok prajurit kecil berjalan kemana-mana seperti ini antara mengantarkan tugas atau mencari makanan atau...menjarah…


Tapi menjarah juga tak sebrutal itu...asalkan Charla menyerahkan makanan dan pedang..mereka bisa selamat….


Lagipula mereka tak punya urusan untuk membunuh 2 pria dijalan...jika mereka bisa percaya kalau Charla itu memang pria..


Lagipula kalau ini pasukan Victa ngapain mereka menjarah tanah negeri mereka sendiri?


Terlihat pengendara kuda itu mendekat kearah mereka, ada puluhan dengan pakaian besi lengkap, dengan pedang dipinggul atau tombak ditangan mereka..


Charla bisa merasakannya dia ketakutan…


Bagus bagi Charla...karena Charla merasa tak bodoh karena ia ketakutan..


Bendera kemudian terlihat dibawa pengendara itu…


Warna benderanya terang...


*Putih...warna putih…bendera putih…Ohara? Vespasian?* ,pikir Charla.


.


.


.


.


.


.


.


.


_____-_-_____


.


.


.


.


.


.


.


.


"Matikan api unggunnya" ,perintah Vesius bersiap dengan pedang dipinggulnya.


Semua ksatrianya telah bersiap untuk berangkat dengan kuda mereka.


Tas dipunggung mereka, makanan yang lebih siap daripada perjalanan cuma 4 hari…


Pedang kualitas ibukota dipinggul mereka..


*Aku bahkan ragu akan ada bandit bersedia untuk menyergap kita sekarang..* ,pikir Vesius sambil mengambil roti ditasnya.


Kemudian Vesius mengunyahnya, rasa tebal roti hambar dimulutnya membuat siapapun akan merasa bosan..tapi ini lebih baik daripada perut kosong.


*Tssuuurrrkkkrrrukkk*Tssuuurrrkkkrrrukkk*


Suara sayap merpati mendarat terdengar..


Terlihat Vale dengan merpati mendarat dilengan tuanya, terlihat dikaki burung merpati tersebut terdapat kertas surat dengan stempel.


"Vale, ada kabar baru?" ,bertanya Vesius.


Vale kemudian membuka kertas surat tersebut.


"Jenderal Vespasian dari Keluarga Ohara memenangkan pertempuran di 'Hutan Pendek'...menyergap 11.000 pasukan gabungan keluarga Geralda diSungai Angin, dan mengambil hampir semua Kastil Penting diSungai Angin" ,ucap Vale dengan cepat menjelaskan semuanya…


* 'Hampir semuanya'...dasar Vespasian….sekarang Geralda Barat aman ditangan Victa...meskipun jantung Geralda Kastil Has sudah diambil kembali..* ,pikir Vesius sambil mengambil segelas air untuk menenggelamkan roti yang tebal dimulutnya.


"Satu kemenangan besar pertama bagi Republik" ,ucap salah satu ksatria Vesius.


"Kemenangan besar bagi Republik" ,ucap beberapa ksatria Vesius dengan serempak.


*Memenangkan 1 pertempuran takkan memenangkan perang ini...yang kita perlukan adalah kemenangan yang langsung menusuk kejantung Geralda dan mengakhiri jiwa pemberontak diGeralda selamanya* ,pikir Vesius.


"Tujuan kita adalah Kastil Fyrr..kita harus cepat sebelum 14.000 pasukan Geralda itu datang…mari kita lebih cepat" ,ucap Vesius sambil mengambil tali pengikat kudanya.


*Sedangkan kita memikirkan cara untuk menusuk langsung kejantung Geralda...saat ini Geralda sedang menusuk kearah jantung kita...Kastil Fyrr..* ,pikir Vesius sambil memegang erat tali pengikat kudanya.


Kastil Fyrr merupakan kastil yang strategis...dengan pedagang diutara yang membayar pajak untuk melewatinya setiap hari..menghasilkan uang penghasilan yang banyak untuk Keluarga Garius..


Bukan cuma kastil yang menghasilkan uang dan koin perak...tapi rumah bagi Vesius...rumah juga untuk ayahnya.


Bukan cuma itu Kastil Fyrr memiliki salah satu tambang besi paling besar diVicta….jika jatuh maka ratusan batang besi dan baja akan hilang...


Kehilangan Kastil Fyrr ditangan orang Geralda dan membayangkannya dibakar saja membuat Vesius menjadi marah…


Ratusan kenangan bersama keluarganya...ratusan kenangan bersama teman-temannya..


"Aku akan lindungi Kastil itu, bahkan kalau itu membayar nyawaku dan negeri ini sekalipun" ,ucap Vesius sambil mengambil satu lagi pagi potong roti kemulutnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


__-_-______


.


.


.


.


.


.


.


"Semua surat sudah disalin tuanku" ,ucap pelayan tersebut sambil memperlihatkan semua kertas surat yang digulung.


Tangan kanannya yang digantung dengan perban didadanya bisa dilihat tapi tak bisa dirasakan.


Sebentar lagi tangan kanan ini akan menghilang...diamputasi dan dipotong…


Tangan yang punya ratusan kenangan dengan temannya...dengan Julius…


Tidak kalau Julius dia akan langsung memotongnya dan membuatnya simple.


*Potong saja Perrin...kenangan yang sesungguhnya itu hanya dikepalamu..* ,pikir Perrin.


Bisa dirasakan rasa hangat stempel tersebut, menandakan baru saja dibuat.


"Sudah distempel semuanya?" ,bertanya Perrin sambil melihat satu persatu surat yang digulung tersebut.


"Iya tuanku" ,ucap pelayan tersebut.


*Hm, pelayan yang berpengetahuan seperti dia memang bagus..* ,pikir Perrin sambil menaruh kembali surat dimeja.


Jarang ada pelayan seperti dia, karena tak banyak dipasukan Perrin yang tahu menulis dan membaca.


'Prajurit tak dibuat untuk duduk membaca kertas atau buku, itu kerjaan ilmuan,tabib,dan orang berpengetahuan dari Pulau Suci Cyronia'


Salah satu komandan pasukan Perrin bilang.


Komandan Jaruman bahkan tak bisa membaca dan hanya bisa membaca beberapa huruf.


Perrin tak menemukan seseorang pun dikastil ini yang bisa menulis selain pelayan ini.


Pelayan ini sendiri merupakan seseorang yang disewa dari Pulau Suci Cyronia.


Perrin kelelahan setelah pertempuran jadi dia merasa malas menulis banyak surat seperti ini.


"Seperti yang kubilang tadi, kirim semuanya keseluruh bangsawan besar diDalmatia" ,ucap Perrin dengan nada kuat.


"Baik tuanku" ,ucap pelayan tersebut dengan tenang.


*Lusa aku akan berangkat...bukan keKastil Balradius...tapi ibukota..* ,pikir Perrin sambil melihat kearah laut.


Berdiri dia didepan jendela besar kastil Kura-kura, sebuah kastil penjaga mulut Sungai Lebah dari serangan.


Prajuritnya membawa Perrin untuk diangkut kesini agar dirawat, kalau fokus bisa terdengar ada beberapa prajurit yang masih berpesta untuk kemenangan.


"Tolong beritahu semua komandan,kapten,dan jenderal dikastil ini, 3 hari nanti kita akan acarakan pemakaman untuk semua korban dipertempuran.." ,ucap Perrin sambil berjalan kearah pintu keluar ruangan ini.


*Aku takkan menghiraukan semua yang aku buat menderita...tak seperti yang kau katakan..* ,pikir Perrin dengan tatapan tajam kedepan.


*Tssuuurrrkkkrrrukkk*Tssuuurrrkkkrrrukkk*Tssuuurrrkkkrrrukkk*Tssuuurrrkkkrrrukkk*


Sedangkan puluhan merpati terbang dari kastil ini...