Hannoic War

Hannoic War
Darah,Pedang,Kematian,Dan Balas Dendam (Part 35)



"Darah,Pedang,Kematian"


-


*Perhatian!**Chapter ini dipenuhi Kekerasan berlebihan!*


Darah,Pedang,Kematian,Dan Balas Dendam


Siang sudah datang dengan langit cerah dan pelayan-pelayan yang masih menyiapkan pesta.


Tamu sudah mau datang kekastil Has, dengan membawa ribuan pasukan dan ratusan bangsawan.


Terlihat rombongan pasukan berbaris didepan kastil keluarga Hasteinn. Bendera biru dengan corak badai keluarganya terlihat dari jauh.


Langit cukup panas dan cerah tapi pemandangan makin panas dengan datang kumpulan ribuan prajurit itu.


Seorang pria yang cukup gendut dengan armour bisa terlihat didepan pasukan memimpin rombongan.


Ribuan pasukan membentang didepan kastil Hasteinn.


*Paman...paman datang juga..* ,batin Hasteinn.


"Aku taruhan mereka membawa 8.000 pasukan, kutaruh 8 koin" ,ucap Glent sambil meminum segelas bir.


Hasteinn hanya tersenyum pahit mendengar Glent.


Mereka berdua saat ini duduk dikursi melihat rombongan yang datang, lewat jendela yang cukup besar dikamar ini.


Pesta sedang bersiap secara besar dibalik pintu kamar mereka, ratusan pelayan memasak dan menaruh kursi kayu untuk pesta ini diluar kamar ini.


"Kau ini...kau bisa mudah menghitung jumlah pasukan karena kau berpengalaman dipertempuran" ,ucap Hasteinn.


Glent pernah ikut dalam pertempuran, dia ikut bulan yang lalu dipemberontakan Aquantania. Dia banyak berubah setelah pulang dari sana. Tangannya memiliki bekas luka serangan pedang sedangkan ia lebih banyak minum bir dan sedikit tidur.


"Kau tidak perlu berbicara soal pertempuran sekarang" ,ucap Glent yang setelah itu meminum segelas birnya.


Bendera Petir Keluarga Mahald juga terlihat berdampingan dengan bendera keluarganya.


Disamping paman terlihat seorang pria berarmour dengan jubahnya yang berwarna ungu.


Pria tersebut memiliki senyuman sombong dan rambut hitam serta wajah yang terlihat memiliki luka dipipinya.


"Jahae Mahald" ,ucap Hasteinn.


"Hm, jenderal veteran perang Tyronia. Dia yang mengambil kota Huluda saat perang Tyronia" ,ucap Glent.


Rombongan besar ribuan pasukan tersebut mendekat kearah kastil.


Terlihat ribuan pasukan kuda bisa terlihat bersama dengan ribuan infanteri lainnnya berbaris dengan rapi.


Ribuan pedang dan tombak membentang didepan kastil.


"Apa ini..." ,ucap Hasteinn sambil berdiri.


"Ini kelihatan seperti mau berperang daripada pesta.." ,ucap Glent.


Jenderal Jahae Mahald maju bersama paman Hasteinn kegerbang kastil, beberapa bodyguard mereka juga ikut.


"Dimana ksatria Mradal? Bukankah dia selalu disisi paman?" ,ucap Hasteinn kebingungan.


Bukan cuma itu wajah paman Hasteinn terlihat murung,gelap, dan sedih.


Sedangkan prajurit Mahald terlihat bahagia dan tertawa senang. Beberapa ksatria dan prajurit milik pamannya memiliki wajah yang sama dengan pamannya.


"Buka gerbangnya!" ,ucap Jahae Mahald memerintahkan prajurit didalam kastil.


*Tingiarrrrrrrrttttttkkkkk....*


Gerbang kastil tersebut bergeser dan kastil terbuka untuk ribuan pasukan serta rombongan besar tersebut.


Masuk Jahae Mahald dengan pamannya kedalam kastil bersama ribuan pasukan.


Suara tepukan kaki kuda,suara prajurit,dan tawa terdengar. Ribuan pasukan masuk kedalam kastil bagaikan lautan besi.


"AAAAAAAAAHHHH!"


Suara teriakan kemudian terdengar.


*Shrenggggg*


Suara tawa prajurit mulai terdengar lebih keras sedangkan suara ringingan pedang mulai memenuhi kastil.


"Apa yang terjadi?" ,ucap Hasteinn yang segera kemudian berdiri.


Dan kemudian Hasteinn tanpa banyak bicara langsung melangkah keluar dari kamarnya.


"Tunggu aku Hasteinn" ,ucap Glent dengan pedang ditangannya.


Ketika mereka keluar dari kamar pemandangan yang pertama mereka lihat adalah pasukan pamannya dan pasukan Mahald membantai pelayan yang menyiapkan pesta untuk mereka.


Beberapa prajurit dan pelayan dibunuh tanpa ampun, beberapa prajurit tak siap dan mabuk dengan mudah dibunuh oleh pasukan Mahald.


*Apa ini? Harusnya mereka pergi kesini untuk bertamu dan berpesta bukan?* ,pikir Hasteinn.


Suara teriakan,ringingan pedang, dan suara tubuh yang dipotong memenuhi kastil ini.


"Ahhhh!!!! Kakak! Kakak! Tolong aku..." ,teriak adiknya Hasteinn si Vella menangis ketakutan terdengar.


Hasteinn bisa melihat dari jauh Vella diseret oleh salah satu prajurit dengan cara ditarik rambutnya.


"Vella!" ,ucap Hasteinn dengan cepat berlari kearah adiknya.


"Hasteinn! Kau lupa pakai armour!" ,ucap Glent memperingati Hasteinn tapi Hasteinn tak mendengar dan menghiraukannya.


Hasteinn hanya berlari dengan cepat kearah adiknya tanpa memikirkan apa-apa.


Dengan cepat Hasteinn sampai kearah adiknya.


*Shrenggggg!*


Dengan cepat Hasteinn mengeluarkan pedang dari sarungnya dan mengayunkan pedangnya kearah prajurit.


Dengan cepat prajurit itu menangkis pedang Hasteinn hingga pedang Hasteinn terlempar.


Hasteinn berlutut dan mengeluarkan air lendir dari mulutnya karena kesakitan.


"Dasar anak prajurit Hasral bodoh" ,ucap prajurit itu sambil terus memegang rambut Vella ditangannya.


Sedangkan prajurit tersebut memasukkan pedangnya kembali kesarungnya.


Vella mencakar-cakar tangan prajurit tersebut tapi tangan prajurit tersebut dibalut armour sehingga prajurit tersebut tak merasakannya.


*Bukk!*


Tendang prajurit tersebut dengan kakinya kearah wajah Hasteinn hingga Hasteinn terpental.


"Coba kau pakai armour palingan kau takkan merasakan rasa sakit jika dipukul ataupun ditendang" ,ucap prajurit tersebut berjalan kearah Hasteinn yang berbaring kesakitan.


"Jangan bunuh dia bodoh! Dia tawanan berharga! Dia pewaris Kyrah Hasral!" ,ucap prajurit lain yang melihat prajurit yang menendang Hasteinn.


"Ohhhhh iyakah? Aku cuma main-main kok" ,ucap prajurit tersebut sambil terus menyeret Vella ditangan kanannya.


"Main-main nanti mati pula dia" ,ucap prajurit tersebut.


"Kakak...kakak...jangan sakiti kakak.." ,Vella menangis.


Prajurit tersebut kemudian berlutut dan memegang wajah Hasteinn dengan tangan kirinya.


"Hahh...kalian berharga ribuan koin.." ,ucap prajurit tersebut sambil memegang wajah Hasteinn.


Suara langkah kaki terdengar kearah prajurit tersebut, langkah kaki tersebut bercampur dengan suara ringingan armour besinya.


Prajurit musuh tersebut berlutut dan saat ini dia tak bisa mengambil pedangnya disarungnya karena dua tangannya penuh sehingga ia tak siap bertarung.


"Ah sial" ,ucap prajurit tersebut yang sadar kalau ia tak siap bertarung.


Dengan cepat Glent terlihat muncul berlari dengan pedang mengarah kekepala prajurit tersebut.


*Klinkkgggggg!*


Glent mengenai kepala prajurit tersebut tapi prajurit tersebut selamat karena memakai helm dikepalanya.


Tapi Hasteinn kemudian mengeluarkan satu tangannya lagi dimana ia menyembunyikan pisaunya.


Dan ditusuk prajurit tersebut dengan pisau oleh Hasteinn.


Prajurit tersebut terbunuh seketika dengan darah keluar muncrat dari lehernya.


"Glent...makasih.." ,ucap Hasteinn yang bangun sambil memegang perutnya yang kesakitan.


"Kau bodoh, cepat gendong adikmu dan kita pergi dari kastil ini" ,ucap Glent sambil memegang pedangnya.


Hasteinn kemudian menggendong adiknya yang sudah pingsan.


Mereka kemudian dengan cepat berlari diantara kekacauan dikastil, dengan prajurit yang membantai pelayan dan ratusan manusia dan besi bertarung satu sama lain.


Glent berlari dengan cepat didepan mereka sambil mengawal mereka berdua.


Terlihat seorang prajurit berlari kearah mereka.


Glent kemudian menusuknya dengan cepat dicelah armournya dipinggang.


Keluar isi perut dari prajurit tersebut.


"Lari terus!" ,ucap Glent yang kemudian melepas pedangnya dari perut prajurit itu dan lanjut berlari.


Mereka kemudian terus berlari kearah gudang terlupakan dimana lubang bawah tanah agar mereka keluar berada.


Terlihat Vella menutup matanya dan mengigau ketakutan.


"Kakak...jangan menghilang...kakak..kakak" ,ucap Vella.


*Syukurlah dia pingsan setidaknya dia tak melihat horror ini..* ,pikir Hasteinn dalam hatinya.


Setelah dia berlari cukup jauh, Hasteinn melihat kebelakang.


Ratusan mayat membentang dikastil ini, beberapa wanita terlihat diseret kearah sebuah ruangan. Mayat pria menjadi telanjang dengan armour ataupun perhiasan mereka diambil.


Darah mengalir dilantai sedangkan isi perut manusia berenang didalamnya.


Jenderal Jahae terlihat tertawa dan bersenang-senang sambil duduk diatas meja tersenyum.


Paman Hasteinn hanya duduk merenung dan wajahnya penuh kesedihan.


Boen terlihat terbaring mati dengan 5 prajurit disekelilingnya yang ikut terbunuh juga, bisa dilihat bahwa Boen mati bertarung.


Geoff terlihat berbaring mati karena ditebas prajurit.


Tapi sesuatu yang membuat Hasteinn terkejut adalah mayat ayahnya yang digantung diatas kastil.


Terlihat ayahnya digantung dengan bendera biru tua Keluarga Hasral.


*Apa ini mimpi...kenapa ini terjadi..* ,batin Hasteinn melihat semua ini.


Hasteinn hanya memikirkan untuk meninggalkan semuanya dan pergi dari kastil ini dengan selamat bersama adiknya.


Tapi kemudian Hasteinn melihat Jahae Mahald sedang mengencingi bendera keluarganya.


Didalam diri Hasteinn dipenuhi amarah dan rasa benci, sementara itu ia memikirkan siapa semua dibalik ini.


*Jahae Mahald...siapapun dibalik ini...aku akan datang dan membunuhnya..* ,pikir Hasteinn dengan penuh amarah.


Mata biru berlian Hasteinn bercahaya redup dengan amarah didalam dirinya.


*Ayah maafkan aku...aku harus pergi untuk adikku..* ,pikir Hasteinn.


Hasteinn dengan cepat ia mengambil perisai yang berbaring dari tadi dilantai. Kemudian ia berjalan sambil menggendong adiknya.


"Ayo pergi Glent, kita ke ruang bawah tanah. Disana mungkin kita bisa selamat dengan aman...Glent?" ,ucap Hasteinn kepada Glent yang terlihat marah dan terdiam.


Wajah Glent penuh amarah karena melihat sesuatu.


Yang Glent lihat adalah ayahnya yang dipotong tangannya oleh prajurit dan kemudian dipukul hingga mati.


"Ayo pergi kemudian balas dendam semua ini.." ,ucap Glent dengan nada berat amarah.