Hannoic War

Hannoic War
Keberanian itu tidak Pintar (part 21)



"Bahkan orang paling bodoh terbesar didunia bisa lebih pintar daripada yang menertawakannya"


-Tywin Lannister


Keberanian itu tidak pintar


"Tuan muda" ,Ucap para prajurit penjaga aula menunduk sepanjang jalan kepada Vesius.


Dibelakangnya Wale dan Taivarr mengikuti serta beberapa pasukan bodyguard veterannya.


Dia masuk keistana pedang perunggu.


Istana yang dipakai para menteri dan kounsil khusus Victa untuk tinggal diibukota.


Ayahnya sudah mengatur dan menata ulang semuanya ketika ia pertama kali menjadi menteri perang.


Ia ingat masa-masa kecilnya dimana ia sering mendengar orang-orang mengatakan.


"Burung hantu memimpin dengan menempelkan cakarnya keVicta."


Kata-kata tersebut masih terdengar ditelinganya bahkan lebih sering sekarang.


Ia berjalan dilorong dengan banyak pintu terlihat dan kemudian ia melihat wajah seseorang yang ia kenal.


"Ksatria Ballis" ,Ucap Vesius memanggilnya.


"Tuan muda" ,Ucap Ballis menunduk dengan sopan.


"Dimana Ayah?" ,Ucap Vesius bertanya.


"Didalam tuan muda, dia sedang bekerja didalam kamar" ,Ucap Ballis minggir sedikit dan memperlihatkan pintu, "mau masuk tuan muda?" ,Ucapnya bertanya.


"Ya" ,Jawab Vesius.


Kemudian Ballis membuka pintunya.


Terlihat ayahnya Toran Garius duduk dikursi dan dimejanya terdapat tumpukan ratusan kertas dokumen.


Sudah lama ia tak melihat wajah keras tuanya.


Muka yang menanggung semuanya sendiri.


Ia memimpin keluarganya menjauh dari kejatuhan, hasilnya adalah hanya Vesius yang sekarang tersisa dari keluarganya.


Dia juga sudah membantu Victa keluar dari banyak krisis dan pemberontakan.


Jika tanpa dia Victa takkan bisa melewatinya dan republik sudah lama hancur.


Ia membawa Victa kesalah satu masa kejayaan ekonomi dimana ada damai selama 15 tahun.


Dimasa itu kota baru dibangun dimana-mana.


Dimasa itu petani bisa sangat aman dalam memanen tanamannya.


Pelabuhan Victa menjadi yang paling ramai diseluruh kerajaan yang lain.


Apa yang ia dapat setelah semua itu hanya kebencian dan rasa iri dari senat dan ratusan pembunuh mencari kepalanya.


Baru setelah itu ia diasingkan sebagai jenderal kePegunungan hitam diutara untuk melawan Dwarf.


"Apa yang kau tunggu? Masuklah" ,Ucap Toran dengan suara kerasnya.


Tanpa sadar Vesius telah merenung cukup lama.Vesius menelan ludahnya dan segera berjalan masuk kamar tersebut. Aura menakutkannya tak berubah.


"Kalian semua tak usah masuk, kali ini aku hanya ingin berbicara dengan anakku" ,Ucap Toran.


Taivarr dan Wale beserta prajurit Vesius yang lain hanya bisa menjauh dari depan pintu.


Vesius masuk dan kemudian pintu ditutup.


"Kau nampaknya tidak menganggap suratku yang kuberikan kepada kau agar segera datang keibukota sebagai perintah langsung" ,Ucap Toran memandangnya dengan tatapan menakutkan.


"Maafkan aku ayah, ada pertemuan dengan bangsawan lain diperbatasan dan kampanye militer yang masih harus dilanjutkan" ,Ucap Vesius.


"Kampanye militer? Hah! 30.000 pasukan Dalmatia dipimpin Robert Raimmel sedang terjebak dipegunungan hitam karena jebakan gerilya Vespasian. Sedangkan 12.000 pasukan Dalmatia yang dipimpin Cerdwyn Garuman terakhir kali mata-mataku mengatakan bahwa ia masih menetap dikota Aulius menunggu kesempatan. Sedangkan 8.000 pasukan dipimpin oleh Cellus Garuman dikalahkan olehmu 2 bulan yang lalu. Meskipun begitu harusnya kau bisa pulang sejak 3 minggu yang lalu" ,Ucap Toran menoleh Vesius dengan tatapan tajam.


Vesius hanya terdiam.


"Kampanye militer yang kau bilang hanyalah kau membahayakan nyawamu membantai bandit diperbatasan dan sudah kuberi kau 1 bulan untuk pulang keibukota tapi kau menyia-nyiakan waktu itu" ,Ucap Toran melanjutkan ucapannya.


"Jadi? Buat apa kau memanggilku kesini?" ,Tanya Vesius.


*Trekk*


Suara kursi bergeser ketika Toran berdiri.


Dan kemudian ia membuka sejumlah laci dimejanya.


Beberapa laci ia buka dan kemudian ia menemukan sesuatu yang ia cari.


Sebuah peti kecil ia bawa keatas meja dihadapan Vesius.


Kemudian Toran menepuk tangannya menyingkirkan beberapa debu dipakaiannya dan tangannya.


"Jadi apa kau membawa kepala Cellus Garuman dari pertempuran? Atau kau menawannya?" ,Ucap Toran.


"Ia lari dengan bawahannya, yang bisa kutangkap hanya kakinya yang terpotong oleh salah satu prajuritku" ,Ucap Vesius.


"Kaki? Apakah prajuritmu yang membawanya kepadamu?" ,Ucap Toran sambil mencoba membuka peti kecil tersebut dengan kunci.


"Ya" ,Jawab Vesius.


*Fuohhhh*


Toran kemudian meniup lubang kunci peti kecil tersebut.


"Jadi apa kau memberi prajuritmu hadiah?" ,Ucap Toran.


"Ya cuma 80 koin" ,Ucap Vesius.


"Kau terlalu baik terhadap prajuritmu, uang itu bisa kita pakai untuk hal yang lain" ,Ucap Toran.


Kemudian Toran memasukkan kunci kepeti tersebut dan suara gesekkan besi terdengar


"Mereka pantas mendapatkan hal itu" ,Ucap Vesius sambil menatap peti kecil tersebut, "banyak dari mereka telah melayani kita selama bertahun-tahun dengan gaji kecil, terutama beberapa anak petani."


"Kita adalah Garius, bangsawan tinggi, buat apa kau peduli terhadap petani?" ,Ucap Toran.


Toran kemudian berhasil membuka peti kecil tersebut.


Terlihat badget merah berbaring dipeti tersebut.


Terlihat badget merah tersebut berbentuk pedang dan memiliki peniti untuk dipakai dipakaian.



Note:Badget Menteri Perang


Badget merah tersebut hanya ada 2 diVicta.


Dibuat dengan besi perak yang dicampurkan berlian merah delima.


Badget menteri perang, badget yang hanya boleh dipakai menteri perang.


Ayahnya sendiri sedang memakai badget ini.


"Ini adalah badget yang akan kau pakai ketika sementara aku akan pergi kemedan perang" ,Ucap Toran.


"Kau akan pergi kemedan perang? Kau ingin.." ,Ucap Vesius kemudian sebentar berhenti.


"Rencana pemberontakan Geralda sudah jelas dan selama pemberontakan tersebut terjadi, kau akan memimpin diibukota dalam namaku sementara aku dimedan tempur memimpin sebagai jenderal" ,Ucap Toran sambil kembali duduk dan mengambil segelas anggur untuk meminumnya.


"Ya soal pemberontakan Geralda sudah aku dengar tapi.." ,Ucap Vesius.


"Oh kau sudah tahu? Terus apa masalahmu?" ,Ucap Toran.


"Tapi kenapa aku? Kenapa tidak Taivarr atau orang yang lebih pantas dan kau percayai?" ,Ucap Vesius.


"Kau pikir aku punya orang yang kupercayai saat ini disenat? Kau yang tersisa dari keluargaku" ,Ucap Toran kemudian berjalan mengambil sebuah botol kecil berisi tinta, "kau anakku, kau yang paling kupercayai saat ini dan takkan kubiarkan mati konyol karena panah atau pedang dimedan perang" ,Ucapnya sambil berjalan kembali kursinya.


"Mati dimedan perang bukan mati konyol" ,Ucap Vesius dengan nada berat karena kesal mendengar apa yang diucapkan ayahnya.


Vesius menatap ayahnya dengan tatapan tajam


"Terserah kau melihatnya tapi mati tetap mati" ,Ucap Toran dengan keras, "aku tidak ingin kau mati secepat itu dan juga lagipula aku tidak ingin kau memakai badget ini secepat itu" ,ucap Toran yang kemudian mengambil badget merah tersebut dan menaruhnya kepeti kembali.


"Jadi..?" ,Ucap Vesius.


"Aku ingin kau menikah" ,Ucap Toran.


"Apa? Menikah?" ,Ucap Vesius.


"Kita bisa mencegah pemberontakan Geralda dengan menikahkanmu dengan salah satu bangsawan kuat dari mereka yang merencanakan pemberontakan" ,Ucap Toran.


"De-dengan siapa?" ,Ucap Vesius.


"Anak perempuan dari keluarga Hasral" ,Ucap Toran.


"Berapa umurnya?" ,Ucap Vesius.


"Cukup untuk dihamili" ,Ucap Toran.


"Setidaknya bisakah kau biarkan aku menikah dengan seseorang yang aku mau" ,Ucap Vesius.


"Yang kau mau? Jangan bercanda didepanku, umurmu sudah 29 dan sudah waktumu untuk menikah" ,Ucap Toran.


Kemudian Toran kembali duduk dan menulis surat dengan pena bulunya.


"Pamanmu sudah mati, semua saudaramu sudah mati, ibumu sudah mati lama sekali, dan aku mungkin mati tak lama lagi, kau harus punya anak agar keluarga kita bisa berlanjut" ,Ucap Toran sambil menulis surat.


Vesius marah dan kesal, dia tak ingin menikah dengan seorang anak perempuan yang tak ia kenal, ia ingin mencari istrinya sendiri...


Kemudian Toran menekan bell kecil dimejanya.


*Ting*Ting*


Suara bell terdengar dan kemudian Ballis membuka pintu tersebut.


Didepan pintu ia berdiri.


"Ada apa pak?" ,Tanya Ballis kepada tuannya Toran.


"Beri ini ke pengirim surat dan bilang kepadanya kalau surat ini ditujukan ketuan adipati Kyrah dari keluarga Hasral" ,Ucap Toran sambil menodongkan surat kepada Ballis.


Ballis kemudian masuk dan mengambil surat tersebut dan berjalan kelorong untuk menyerahkannya kepada pengirim surat.


Pintu kemudian ditutup kembali.


Vesius hanya menggoyang-goyangkan tangannya.


Dia mau melawan ayahnya tapi dia tak bisa...


"Jadi..kau tahu keluarga Hasral yang mencoba memberontak?" ,Ucap Vesius.


"Ya, emangnya kenapa?" ,Ucap Toran.


"Jadi itu kenapa kau menikahkanku dengan salah satu anak perempuan mereka?" ,Ucap Vesius.


"Ya, dengan begitu kau akan mengamankan barat daya Victa untuk kita sekaligus membuat keluarga kita menjadi lebih kuat" ,Ucap Toran.


Toran kemudian meminum segelas anggur sekali lagi.


"24.000 pasukan keluarga Hasral jika digabungkan keseluruhan kekuatan mereka ditanah barat daya Victa belum lagi ditambah ribuan pasukan dari keluarga lain yang loyal kepada keluarga Hasral dibarat daya" ,Ucap Toran.


"Orang barat daya Victa tidak loyal kepada keluarga Hasral mereka loyal kepada keluarga Vehan dan semua keluarga Vehan sudah mati sejak puluhan tahun yang lalu karena dibantai oleh kita" ,Ucap Vesius.


"Apakah kau sudah dengar gosip yang beredar belasan tahun yang lalu?!" ,Ucap Toran dengan suara yang cukup lantang.


Nampaknya Toran sudah lelah berdebat dengan anaknya. Vesius terdiam dan menelan ludahnya.


"Kau memang tidak peduli terhadap gosip, tapi gosip terkadang memiliki sedikit benang kebenaran didalamnya" ,Ucap Toran.


Kemudian Toran berdiri mengambil teko anggur dimejanya dan menuangkannya kegelasnya.


"Kau sudah tahu bukan?" ,tanya Toran pada anaknya Vesius, "kalau Kyrah Hasral menikah dengan bangsawan rendah yang bahkan tak punya tanah beberapa tahun yang lalu katanya dia menikah karena rasa cinta bukan karena menguatkan keluarganya."


"Ya terus emangnya kenapa?" ,Ucap Vesius.


Kemudian Vesius menemukan sesuatu.


Ketika tatapannya bertemu dengan ayahnya Toran, ia langsung mengerti.


"Siapa nama bangsawan rendahan tersebut?" ,Tanya Vesius.


"Jayne Manstown" ,Jawab Toran, "dia katanya salah satu anggota keluarga Manstown."


"Manstown..... jujur saja aku tak pernah mendengarnya....tapi kalau perkiraanku benar..." ,Ucap Vesius.


Vesius menemukannya meskipun itu hanya perkiraan. Toran hanya terdiam dan terus menulis beberapa dokumen terakhir.


Vesius kemudian memandang jendela melihat pemandangan sunset merah darah.


"Itu sangat mungkin" ,Ucap Vesius dengan suara datar.


"Ya....harusnya kita sudah bisa mengetahuinya sejak lama dan membunuhnya" ,Ucap Toran.


Kemudian Toran menaruh gelas anggur dimejanya kembali.


"Tapi kita biarkan mereka berkembang biak" ,Ucap Toran.


Vesius menoleh keayahnya.


"Ya, harusnya kita tahu kalau wanita bernama Jayne Manstown itu adalah yang terakhir memiliki darah Raja Geralda, darah keluarga Vehan. Itu berarti anak-anak juga mewarisi klaim dan darah tersebut...." ,Ucap Vesius memandangi sunset merah darah dijendela.


"Anak-anaknya memiliki klaim tahta raja Geralda..." ,Ucap Vesius melanjutkan.


.


.


.


____-_-____


.


.


.


"Kyrah Hasral" ,Jawab Hasteinn sambil membuka kantung kulit berisi air miliknya.


"Bagus, berarti kau tidak melupakan kebangsawananmu sekalipun kau terus bergaul dengan rakyat biasa" ,Ucap Glent.


"Dasar bodoh, memang semudah itu melupakan siapa orang tuamu ketika kau bermain dengan orang yang lebih rendah dari dengan orang tuamu?" ,Ucap Hasteinn sambil meminum air dari kantung airnya.


"Siapa nama ibumu?" ,Tanya Glent.


"Ayolah berhenti lakukan hal itu, mentang-mentang aku tidak suka menghina orang tuamu" ,Ucap Hasteinn.


"Siapa ibumu?" ,Tanya Glent mengulangi pertanyaannya.


"Jayne Manstown" ,Jawab Hasteinn.


"Bagus, nanti ketika kita pulang, ayahmu tidak mengeluarkanmu dari keluarga Hasral karena kau melupakan kau anak siapa" ,Ucap Glent.


"Dasar anak sialan, seakan-akan kau berdoa kalau aku akan dikeluarkan dari keluargaku.." ,Ucap Hasteinn.


Kemudian suara langkah kaki terdengar dari jauh.


Suara kaki sepatu ini Hasteinn sepertinya kenal.


Suara sepatu penari.


Kemudian terlihat kaki kulit hitam terlihat didepannya.


Saat Hasteinn melihat lebih keatas ia melihat Cyara berdiri didepannya.


Cyara berdiri dengan muka merah.


"Ka..kakak..kakak Hasteinn...terima kasih melindungiku ta-tadi dibar..." ,Ucap Cyara dengan terbata-bata.


Dalam beberapa menit Cyara maupun Hasteinn terdiam.


Cyara mukanya makin memerah.


"Iya...sama-sama" ,Jawab Hasteinn tersenyum.


Wajah Hasteinn juga ikut memerah tapi tak terlalu merah.


Hasteinn bisa menyembunyikan rasa malu dan bahagianya.


Cyara kemudian dengan cepat berjalan.


Ia sempat tersandung.


Dan menoleh kebelakang tapi ia bisa melanjutkan berjalan kekelompoknya.


"Kakak Hasteinn!! Kakak Glent!! Terima kasih ya!" ,Teriak para wanita penari lainnya.


"Yaaa!!" ,Jawab Glent berteriak sambil melambaikan tangannya kepada mereka.


Sedangkan Hasteinn hanya tersenyum dan duduk.


Glent berdiri dan kemudian menyingkirkan debu jalanan dipakaiannya.


Setelah itu Glent mengulurkan tangannya keHasteinn


"Oi ayo" ,Ucap Glent keHasteinn


Hasteinn tersenyum Dan mengambil uluran tangan Glent.


Dia kemudian berdiri.


"Mari kita pulang kekastil, mari berharap malam ini kita tak dimarahi Boen" ,Ucap Hasteinn.


Glent juga ikut tersenyum.


"Ya..." ,Ucap Glent.


Mereka kemudian berjalan kedepan gerbang terlihat beberapa prajurit penjaga kota dan orang tua duduk disitu sambil bercanda.


"Oi Hasteinn? Kau tak ada lagu yang bisa kubuat untukku?" ,ucap seorang penyanyi duduk dengan gitar ditangannya memanggil mereka berdua.


"Aku tak punya" ,ucap Hasteinn.


"Sialan, aku pada gak punya uang, padahal kalau kau punya aku bisa pakai untuk dapat uang dipesta bangsawan" ,ucap penyanyi tersebut.


"Dasar kau ini Ceryd, kenapa tak buat lagu sendiri? Padahal kau punya suara yang bagus" ,ucap Glent.


"Aku punya suara bagus untuk menyanyi Glent tapi tak punya otak untuk membuatnya" ,ucap Penyanyi yang dipanggil Ceryd tersebut.


"Kapan-kapan datang lagi kesini Hasteinn dan buat lagu untukku" ,ucap Ceryd.


"Iya tenang saja" ,ucap Hasteinn yang kemudian berjalan menjauh dari penyanyi tersebut.


Kemudian saat mereka sampai kedepan gerbang ia mendekati kumpulan prajurit penjaga dan orang tua yang mengobrol tersebut.


Suara tawa dan candaan terdengar.


"Oi ini nih anak yang tadi dibar, Verrick!" ,ucap Kakek tersebut sambil menunjuk kearah Hasteinn.


"Oi nak! Sini!" ,ucap salah satu prajurit ikut memanggil Hasteinn.


Hasteinn dan Glent kemudian mendekat kekumpulan tersebut.


Terlihat kumpulan tersebut tertawa dan tersenyum senang kearah Hasteinn.


"Hehehehe, ini anak yang melindungi wanita tercinta nya nih ***!" ,ucap Kakek tersebut menggandeng Hasteinn dengan erat.


"Eh?" ,ucap Hasteinn kebingungan.


"Banyak orang yang membicarakan keberanianmu" ,ucap salah satu prajurit penjaga.


"Ya! Jangan lupa biar kuberi kau nasihat nak....lakukannya perlahan-lahan pada saat pertama kau melakukannya dengan dia....hahahaha!" ,ucap kakek tersebut sambil memegang bahu Hasteinn dengan erat, sangat kelihatan kalau kakek tersebut mabuk.


"Kau sangat berani tadi dibar" ,ucap salah satu prajurit penjaga.


"Tak seperti kita yang tak punya biji yang melakukan itu" ,ucap salah satu kakek tua.


"Hahahahaha!" ,tawa semuanya kecuali Hasteinn yang cukup kebingungan.


"Ya mereka benar, kurasa kau satu-satunya yang punya biji untuk melakukan itu" ,ucap Glent sambil menepuk bahu Hasteinn.


"Kau juga berani tadi nak" ,ucap kakek yang menggandeng Hasteinn.


"Hm?" ,ucap Glent.


"Kau ikut melindunginya tadi" ,ucap salah satu prajurit penjaga.


"Ya, 6 lawan 2, aku penasaran jika tadi bertarung dibar" ,ucap kakek tersebut.


"Sayang tadi aku ada jadwalnya mengawas dinding kota, jadi aku tak bisa ke bar. Kalau aku tahu ada kejadian seru kayak gitu dibar, aku bolos mengawas tadi" ,ucap salah satu prajurit penjaga.


"Iya kita melewatkan kejadian bagus" ,ucap salah satu prajurit penjaga.


"Makanya, ke bar setiap hari.." ,ucap salah satu kakek tua sambil meminum bir.


"Oi mau minum dulu? Ayo sini!" ,ucap salah satu kakek tua.


"Ehh...maaf, aku mau pulang kerumahku, babi ternakku belum makan" ,ucap Hasteinn berbohong.


"Ohhh...kau pelihara babi ternyata..ohh baiklah..pergi aja, nanti babimu kabur pula dari kandangnya ditengah malam" ,ucap salah satu prajurit penjaga kota.


Hasteinn memiliki indetitas nya sendiri ketika ia keluar dari kastilnya. Ia berpura-pura sebagai anak yatim piatu peternak babi yang tahu membaca.


"Oi temanmu ini? Kau mau pergi kemana?" ,ucap kakek tua.


"Palingan aku mau pergi ketempat ayahku untuk membantunya membuat senjata untuk tuan bangsawan Hasral" ,ucap Glent.


Glent tidak, dia tidak terlalu ahli dalam berbohong dan sadar itu jadi dia memilih untuk tetap menggunakan indetitasnya.


"Ohh..anak pelayan bangsawan..pasti ayahmu hidupnya enak karena diberi uang setiap hari oleh bangsawan" ,ucap salah satu prajurit penjaga kota.


"Iya ayahmu tinggal buat senjata untuk satu orang bangsawan langsung diberi puluhan kantung koin sedangkan ayahku buat ratusan pedang palingan cuma dapat 70 koin sehari" ,ucap salah satu prajurit penjaga kota satu lagi.


"Hahahahaha" ,tawa kumpulan mendengar hal tersebut.


"Belum lagi tukang besi pelayan bangsawan biasanya dikasih rumah dikastil" ,ucap salah satu prajurit penjaga sambil meminum air anggur.


Hasteinn dan Glent hanya ikut tersenyum. Mereka agak sedikit menyukai berbicara dengan orang-orang seperti mereka.


Kemudian salah satu prajurit menoleh kebelakang. Terlihat seorang kakek yang menyendiri dari tadi dibelakang mereka.


"Oi Kakek! Ayo minum sini! Jangan dari tadi menggalau karena dihina" ,ucap prajurit yang menoleh tersebut.


Kakek yang menyendiri tersebut hanya minum anggur perlahan tanpa menghiraukan panggilan atau ucapan mereka.


"Oi Grelarr! Ayo minum! Kau ini membosankan sekali!" ,ucap salah satu kakek tua ikut memanggil kakek tersebut.


"Udah-udah dia tak mau diganggu" ,ucap salah satu prajurit.


"Setiap hari dia begitu, sifatnya sendiri juga buat dia tiap hari dihina" ,ucap salah satu prajurit penjaga.


"Kau juga ikut dia hina dia sialan setiap hari" ,ucap salah satu prajurit.


"Kenapa dia?" ,tanya Hasteinn.


"Kau tadi lihat dia dibar kan? Dia itu veteran perang Tyronia tapi dihina terus setiap hari" ,ucap salah satu kakek tua menjawab pertanyaan Hasteinn.


"Kenapa?" ,ucap Hasteinn penasaran.


"Karena dia jatuh cinta ama Garius" ,ucap salah satu prajurit.


"Pfff.." ,tertawa kecil para prajurit.


"Kalian ini! Hormati lah dia bodoh" ,ucap kakek tua.


"Iya! Kalian ini kenapa tertawa?" ,ucap salah satu prajurit.


"Kau juga ikut ketawa bodoh" ,ucap salah satu prajurit penjaga kota.


"Udah-udah, nih kujawab pertanyaanmu nak" ,ucap kakek tua, "dia itu punya hutang budi ama Vesius Garius, dan kalau dia dengar ada yang buat candaan ama Garius, biasanya dia marah" ,ucap kakek tua tersebut.


"Dia pernah bertemu Vesius Garius?" ,ucap Hasteinn.


"Iya" ,ucap kakek tua tersebut


Kemudian Hasteinn berjalan melewati kumpulan tersebut, sedangkan Glent yang mengikutinya dibelakang.


"Oi nak jangan berbicara dengannya terlalu dalam tentang Garius!" ,ucap kakek tua tersebut sambil meminum segelas bir.


Kemudian Hasteinn mendekat kekakek veteran tua tersebut, terlihat beberapa luka ditangannya dan satu jarinya hilang.


*Nampaknya benar dia pernah berjuang diperang Tyronia* ,pikir Hasteinn dalam hatinya


"Boleh aku tanya pak?" ,ucap Hasteinn


"Hm? Oh kau anak yang katanya membela cintanya itu ya?" ,ucap kakek veteran tersebut.


"Dan kau kakek tua yang dihina dibar itu ya?" ,ucap Glent dengan cepat.


"Oi Glent, jangan ganggu dulu" ,ucap Hasteinn yang kemudian mendorong Glent sedikit kebelakang.


Glent terpaksa mundur sedikit kebelakang.


"Jadi? Apa yang kau tanya?" ,ucap kakek veteran tersebut.


"Tak ada, aku cuma penasaran dengan Vesius Garius, jenderalmu" ,ucap Hasteinn,"Dia terkenal diperang Tyronia tapi kemudian banyak orang yang meragukannya dan mulai memanggilnya pengecut" ,ucap Hasteinn melanjutkan.


"Jadi? Apa yang kau tanya lagi?" ,ucap kakek tua tersebut.


"Siapa Vesius Garius ini? Apakah dia jenderal pengecut yang cuma tahu bersembunyi dibalik tendanya atau jenderal brilian yang pintar. Aku menanyaimu karena kau yang pernah bertemu dengannya" ,ucap Hasteinn dengan tatapan tajam ia menatap kakek veteran tersebut.


"Cukup jarang seseorang tertarik kepada Vesius Garius.." ,ucap kakek veteran tersebut tersenyum, "apa yang membuatmu tertarik?"


"Rasa penasaran...bisa dibilang, reputasi Garius itu bisa dibilang kacau dan bercampur. Karena itu aku ingin tahu seperti apa Garius yang sesungguhnya" ,ucap Hasteinn.


"Dia orang yang hebat. Dia bisa berani tapi cuma dalam beberapa waktu, dia hati-hati dalam langkahnya. Seperti kata orang-orang dia punya mata besar seperti burung hantu, menatap setiap langkah orang-orang disekitarnya dan membuat langkah menangkap mangsanya" ,ucap kakek veteran tersebut.


"Kau tahu yang paling menakutkan soal jenderal nak? Kau tak tahu kalau dia itu orang pintar karena cuma wajahnya yang jelek, banyak musuh dan jenderal yang meremehkannya cuma gara-gara itu" ,ucap Kakek veteran tersebut melanjutkan kata-katanya sambil meminum air anggur.


"Kata-kata yang bagus dan keren, kenapa kau tak jadi penulis syair saja hah?" ,ucap Glent


"Udah Glent" ,ucap Hasteinn sambil menoleh kearah Glent.


Kemudian Hasteinn mengembalikan pandangannya kepada kakek veteran tersebut.


"Aku dengar kau punya hutang budi kepada jenderal Vesius Garius, apa itu?" ,ucap Hasteinn bertanya.


Tersenyum kakek tua tersebut.


"Aku punya 3 anak dan istri nak, sebelum aku pulang dari perang Tyronia mereka hanya tinggal dirumah kayu sialan yang bocor karena hujan setiap hari. Tapi kemudian aku mendapat hadiah dari tuan Vesius cuma karena aku menghalang lari salah satu tawanannya" ,ucap kakek veteran tua tersebut.


"Ribuan koin dia siram kepadaku, sejak itu aku berubah pandangan tentangnya. Aku bahkan melihat bagaimana keahlian strateginya dan melihat diri jenderal yang sesungguhnya. Ketika aku pulang, aku berhasil membangun rumah nyaman untuk keluargaku karena uang dari tuan jenderal" ,ucap kakek tua tersebut berlanjut.


"Kau pikir dia hanya dihina sekarang nak? Tidak, jenderal sudah dihina sejak 15 tahun yang lalu cuma karena tubuh dan wajahnya yang jelek banyak yang menghinanya sebagai jenderal yang tak pantas, beberapa menganggapnya bodoh dan hanya tahu makan" ,ucap kakek tua tersebut.


"Bagaimana brilian dia nya hah? Dia bisa membuat prajurit melompat keatas dinding dengan pemikirannya yang brilian?" ,ucap Glent menghina.


"Diam nak, apa yang kau tahu soal dihina terus menerus oleh orang yang kau coba selamatkan?" ,ucap kakek tua tersebut dengan kuat.


Glent hanya bisa terdiam sambil menelan ludah, dirinya tak bisa membalas ucapan kakek tua tersebut.


"Apa yang kau tahu soal rasa dianggap sebagai orang beruntung dan bodoh sedangkan sebenarnya kau tidak?" ,ucap kakek tua tersebut.


"Tapi itu tak mengubah fakta kalau ia suka bersembunyi ditendanya, mau sepintar apapun dia itu tak mengubah fakta kalau ia pengecut" ,ucap Hasteinn.


Suasana menjadi hening sebentar, Glent memandang Hasteinn dengan wajah tersenyum.


Kemudian kakek veteran tersebut berdiri. Hasteinn dan Glent mundur sedikit memberi ruang kepada kakek veteran tersebut berdiri.


Glent menyiapkan pedang takut kalau kakek tersebut mau bertarung..


Tapi ternyata tidak, kakek tersebut hanya meregangkan punggungnya dan kemudian melanjutkan bicara.


"Pengecut mungkin, tapi pengecut bukan orang bodoh. Orang yang ketakutan terhadap suatu bahaya biasanya adalah orang pintar" ,ucap Kakek veteran tersebut kemudian meminum air anggur dari kantung kulitnya.


"Sedangkan orang paling berani didunia ini biasanya adalah orang paling bodoh didunia ini, orang pintar tahu resiko sedangkan orang bodoh tidak. Itulah yang membuat orang berani biasanya orang bodoh" ,ucap kakek veteran tersebut dengan tatapan kuat menatap mata Hasteinn.