
"Keberanian tidak datang saat kau punya kekuatan tapi keberanian yang sesungguhnya datang saat kau tak punya kekuatan"
-Napoleon Bonaparte
Sesuatu tapi bukan Akhir (Epilogue Arc 0)
*Trudduk*Trudduk*Trudduk*
Suara langkah kaki kuda terdengar ditengah hutan yang tenggelam dilangit malam.
"Kita beruntung mendapat kuda dari rumah yang kosong tadi" ,ucap Glent sambil mengacu kudanya dengan cepat.
Didepan Glent terdapat Hasteinn yang mengacu kudanya lebih cepat dari Glent, dipunggung Hasteinn terlihat adiknya Vella yang berbaring tak sadarkan diri.
Berpacu mereka ditengah malam yang gelap dengan ratusan bintang diatas kepala mereka.
Angin membuat dingin mereka berdua, sedangkan ratusan suara mahluk malam bisa terdengar dimana-mana.
"Ngomong-ngomong kita mau kemana Hasteinn?" ,ucap Glent bertanya.
"Kekamp 18.000 prajurit punya bawahan ayahku yang dijalan Hitam" ,ucap Hasteinn.
Tapi bukan bawahan ayahnya lagi, itu sudah bawahan miliknya Hasteinn sendiri. Ayahnya sudah mati digantung dengan bendera keluarganya sendiri, itu berarti Hasteinn yang menjadi Adipati Geralda sekarang.
*Tapi tetap saja aku hanya berumur 15 tahun..* ,pikir Hasteinn.
"Jalan hitam yang mana? Kita sudah memacu berkuda dari tadi" ,ucap Glent.
"DiReruntuhan kastil Maladum" ucap Hasteinn dengan mata yang tajam "Aku menyelinap diruang ayah dan membaca surat kalau 18.000 dan ratusan bangsawan dari seluruh Geralda akan datang keKastil Has"
Mereka berpacu lebih cepat melewati hutan gelap dan daratan rumput.
.
.
Selama berjam-jam mereka berpacu kuda ditengah malam hingga..
"Itu dia, kamp pasukannya.." ,ucap Hasteinn.
Terlihat kamp ribuan pasukan membentang dilihat Hasteinn.
Cahaya kamp bisa terlihat dari jauh dengan ribuan pasukan sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing.
Ada beberapa prajurit yang bersenang-senang dengan pelacur, ada juga yang sedang enak-enak makan, ada yang bercanda bersama temannya.
Bendera ratusan keluarga berkibar dikamp-kamp itu.
"Ini...seperti bukan 18.000 pasukan.." ,ucap Glent.
"Kau benar...jumlahnya lebih besar.." ,ucap Hasteinn.
*20.000? Tidak...30.000?...Harusnya jumlahnya hanya 18.000..* ,pikir Hasteinn.
Kemudian suara langkah kuda terdengar mengarah kemereka.
Terlihat 8 pengendara kuda lengkap dengan armour dan pedang dipinggul mereka, berpacu kearah mereka.
Bendera Angin hijau keluarga Balur berkibar ditangan pengendera kuda tersebut.
Kemudian dengan cepat pengendara kuda tersebut mengelilingi mereka.
"Siapa kalian!? Dan atas nama siapa kalian disini!?" ,ucap salah satu pengendara kuda sambil menyiapkan untuk menghunus pedangnya.
Hasteinn hanya menelan ludah takut kalau ia menjawab ia malah diserahkan ke Jahae Mahald.
*Tunggu sebentar...jika ini bukan 18.000 pasukan maka pasukan apa ini? Jangan-jangan..* ,pikir Hasteinn dengan ketakutan dan rasa khawatir.
"Tunggu sebentar Mader.." ,ucap salah satu pengendara kuda.
Salah satu pengendara kuda tersebut kemudian maju kedepan Hasteinn.
"Kau...kau anak Tuan Kyrah....ma-maafkan ketidaksopanan pasukan kami tuan muda" ,ucap pengendara kuda tersebut sambil menunduk rendah.
.
.
.
.
"Kastil Has telah diambil dan Hakoon Hasral telah mengumumkan dirinya sebagai Adipati Geralda!"
Nama pamannya terdengar selama Hasteinn berjalan kearah tenda besar dimana bangsawan melakukan pertemuan.
Saat penyerangan kastil Has pamannya terlihat aneh. Pamannya seperti pasrah dan sedih seperti dia tak menyukai menyerang kastil Hasteinn.
"Dia cuma saudara Kyrah Hasral, dia tak punya klaim terhadap Keadipatian Geralda selama anak Tuan Kyrah yaitu Hasteinn Hasral masih hidup!"
"Aku dengar-dengar Kyrah Hasral beserta anaknya Hasteinn Hasral ditangkap oleh Hakoon Hasral sendiri!"
"Bukan cuma dirinya sendiri tapi pasukan keluarga Mahald juga ikut dalam penyerangan itu!"
"Jahae...jenderal sombong itu mungkin dibalik semua ini.."
"Kita harus menyelamatkan mereka dan menyerang kastil Has saat malam!"
"Menyerang? Kau hanya membahayakan nyawa Tuan Adipati Kyrah dan anaknya, jika kita menyerang maka Hakoon dan Jahae tidak akan segan-segan memotong kepala mereka berdua. Membuat hilang semua alasan kita untuk menyerang kastil Has"
"Dia tidak akan berani membunuh Tuan Adipati Kyrah dan anaknya, jika iya maka dia akan dicap sebagai membunuh keluarganya sendiri. Membunuh keluarga membuatmu dikutuk baik dimata tuhan maupun manusia"
Suara debat bangsawan terdengar sampai suara mereka keluar dari tenda mereka sendiri.
Membuat keberadaan tenda mereka seperti tak ada gunanya.
"Disini tuan muda, tenda nya" ,ucap salah satu prajurit yang berada didepannya sedang menuntun Hasteinn.
Didepan pintu kain tenda terdapat 2 bodyguard menjaganya.
Hasteinn dengan mudah melewati bodyguard tersebut dan kemudian dibuka tenda untuk dirinya.
Terlihat puluhan bangsawan duduk dimeja mereka sambil berbincang dan berdebat.
Saat Hasteinn melangkah masuk, puluhan mata diarahkan kepada dirinya.
Seketika Hasteinn bisa merasakan ratusan aliran angin bagaikan menodongnya...
"T-tuan-tuan...ini Tuan Muda Hasteinn dari keluarga Hasral" ,ucap prajurit yang menuntun dirinya.
Kemudian beberapa bangsawan menunduk sedikit kepadanya sedangkan sebagian besar hanya duduk ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun.
Aliran angin tersebut menghilang sebentar.
"Dia Hasteinn itu?"
"Kasihan diumur 15 tahun.."
"Katanya kastil Has telah diambil tapi bagaimana dia kesini?"
Beberapa bangsawan mengobrol tentang dirinya ketika melihatnya, sebagian menghormatinya sedangkan sebagian lagi meragukannya sebagai anak umur 15 tahun.
"Bagaimana dia kesini? Apa dia penipu?"
Ada juga yang mengiranya sebagai penipu yang mengaku-ngaku, tapi beberapa bangsawan yang mengenalnya langsung menampar perkiraan tersebut.
"Tuan muda...saya maaf, tidak bisa membantu anda menyelamatkan rumah anda...Kastil Has" ,ucap salah satu bangsawan gendut menunduk terlihat ia memiliki rambut beruban dengan lambang angin hijau menghiasi pakaiannya.
*Dia...dia tuan Malare dari keluarga Balur..* ,batin Hasteinn menyadari sesuatu.
Tuan Malare sempat keKastil Has waktu Hasteinn masih berumur 6 tahun tapi cuma satu kali ia datang kekastil Has.
Ia ingat waktu kecil Tuan Malare menatapnya dengan tatapan tajam dalam waktu lama hingga membuat Hasteinn ketakutan.
"Maaf menyinggung tuanku...tapi bisa anda beritahu soal kondisi Tuan Kyrah saat ini? Apakah dia masih hidup? Serta apa yang terjadi diKastil Has? Soalnya kami mendapat banyak informasi aneh jadi bagi kami situasi ini tidak jelas...tuan muda" ,ucap seorang pria tua dengan kepalanya yang terlihat botak dengan janggut kecil menghiasi dagunya.
Terlihat lambang pohon keluarga Malibax menghiasi armournya.
"Ayah.....dia sudah mati dan kastil Has telah diambil" ,ucap Hasteinn terdiam sebentar kemudian melanjutkan bicaranya, "saat itu kami pikir Mahald adalah dia tamu, tapi saat kami buka gerbang untuknya, dia malah membantai orang kami dan mengambil kastil kami untuknya sendiri. Ayah.....dia dibunuh oleh Jahae dengan digantung dengan bendera keluargaku"
Seluruh bangsawan ditenda kemudian terdiam, sedangkan aura marah mereka bisa dirasakan diseluruh ruangan ini.
Seseorang bangsawan besar kemudian berdiri dan berteriak ribut.
"Kita duduk disini! Sementara Tuan Adipati kita digantung bagaikan kriminal oleh orang sombong Mahald itu! Ini penghinaan terhadap kita semua! Kita sebagai bawahan Adipati harusnya melindungi dan berada disampingnya saat musuh menyerang! Mari kita pergi keKastil Has dan rebut kembali dengan pasukan!" ,ucap bangsawan besar tersebut dengan teriak marah.
"Benar!" ,ucap salah satu bangsawan.
Bangsawan-bangsawan kemudian mengangguk setuju dan suara semangat mereka bangkit.
"Mari kita telanjangi Mahald itu setelah kita ambil kastil Has!"
"Pasukanku akan membuat pasukan mereka terkencing-kencing bahkan sebelum pasukanku menyerang tuan muda!"
"Akan kupancang mereka didinding setelah ini berakhir!"
Tapi diantara suara bising semangat bangsawan, mata tuan Malare menatap tajam mata Hasteinn sambil terus terdiam.
"Tuan pangeran...akan kubalas dendam kematian ayahmu.." ,ucap tuan Malare sambil menunduk dengan perut gendutnya.
Ucapan tuan Malare membuat diam para bangsawan, membuat bangsawan berhenti ribut dan memikirkan apa yang Malare katakan.
"Tuan Balur? Apa yang anda tadi bilang?" ,ucap salah satu bangsawan.
"Ya kalian semua dengar! Dia pangeran! Anak dari Jayne Vehan sang Ratu dari Geralda dan tuan pemilik tanah Angin!" ,ucap Malare sambil menunjuk kearah Hasteinn.
"Apa?"
"Jayne...Vehan?"
"Apa maksudnya ini?"
Bangsawan-bangsawan mulai kebingungan dan berbicara sambil memandang Tuan Malare.
"Tuan Malare? A-apa yang anda maksud?" ,ucap Hasteinn kebingungan.
"Aku dan ayahmu telah bertahun-tahun merencanakan Restorasi Kerajaan Geralda, ibumu Jayne Manstown....dia bukan berasal dari keluarga Manstown tapi Vehan. Yang Mulia Hasteinn dan Yang Mulia Vella adalah yang terakhir memiliki darah keluarga Geralda.." ,ucap Tuan Malare mengucapkannya dengan pipi tembem gendutnya.
Kemudian beberapa bangsawan berdiri dengan wajah terkejut.
"Itu berarti..."
Beberapa Bangsawan kemudian berlutut dengan satu kaki mereka.
"Yang Mulia"
Ucap para bangsawan tersebut sambil berlutut.
"Ya Tuan-tuanku!" ,ucap Tuan Malare.
Malare kemudian menunjuk kepada Hasteinn dan wajahnya terlihat lebih keras daripada siapapun ditenda ini.
"Buat apa kita orang Geralda yang selama ribuan tahun yang tidak pernah berlutut kepada manusia manapun kecuali Vehan! Kita seharusnya berlutut ke darah dari dewa lama yang dikirim untuk memimpin kita daripada berlutut kepada pendatang barbarian Victa itu!"
Tatapan Malare terlihat serius dan tajam.
"Hidup Raja Geralda!" ,teriaknya dengan keras.
Dan kemudian Malare berlutut diikuti semua orang ditenda ini.
Semua bangsawan dari seluruh Victa berlutut dihadapan Hasteinn.
"Hidup Raja Geralda!"
Teriak Tuan Malare dengan suara besarnya.
"Hidup Raja Tanah Angin!"
Ucap salah satu bangsawan.
Ditenda itu berbunyi sebutan yang tak pernah disebutkan lagi selama puluhan tahun sejak pemberontakan pertama Geralda kepada Victa.
Ditenda itu naik mahkota dan gelar yang tak pernah dipakai satu orang pun selama puluhan tahun.
"Hidup Raja Geralda!"
"Hidup Raja Geralda!"
"HIDUP RAJA GERALDA!"
.
.
.
.
.
__-_-___
.
.
.
.
.
"Geralda telah memberontak" ,ucap ayah Vesius sambil membakar surat yang diberikan oleh pelayannya.
Semua anggota kounsil hanya bisa berwajah pahit dan terdiam.
"Tuan muda Hasteinn berhasil kabur dari kejaran Mahald dan memahkotai dirinya sebagai raja Geralda ditenda pasukannya" ,ucap Toran dengan mata yang terlihat marah.
"Kita bodoh mempercayai Jahae Malald, dia membunuh Tuan Kyrah daripada menawannya dan membiarkan Pewarisnya melarikan diri" ,ucap salah satu Anggota Kounsil.
"Bagaimana dia bisa melarikannya diri?.." ,ucap Tuan Lryser.
"Tak ada waktu untuk mencari tahu soal itu, yang penting kita punya 1 kerajaan berperang lagi dengan kita" ,ucap Torrmund dengan nada dingin.
"Mungkin kita harus mengirim perjanjian damai dan memaafkannya, kita tidak bisa berperang satu musuh lagi tuanku" ,ucap Tuan Lryser dengan lemah.
"Perjanjian damai? Damaimu sudah tenggelam dilangit karena Jahae membunuh Kyrah Hasral, kalau dia tak membunuhnya maka kita bisa dengan mudah membuat Tuan muda Hasteinn menurunkan pedangnya....ohhh maaf..maksudku Raja Hasteinn menurunkan pedangnya" ,ucap Vesius dengan tatapan tajam kearah Kounsil.
"Tapi kita kalahkan jumlah mereka maka dia akan bis-
*Ktttitttttettt*
Suara Tuan Toran Garius berdiri kemudian terdengar.
"Torrmund, kirim surat keseluruh Victa. Kita butuh bantuan keseluruh keluarga diVicta untuk menghancurkan pemberontakan ini" ,perintah Toran Garius.
"Baik tuanku" ,ucap Torrmund sambil berdiri dari mejanya segera.
"Oh iya, perintahkan Ballis juga, untuk menyiapkan 15.000 pasukan agar bersiap. Kita berangkat 2 hari lagi dari ibukota" ,ucap Toran Garius.
Torrmund kemudian mengangguk sambil menunduk kemudian berjalan keluar dari ruang kounsil.
Ayah Vesius, Toran Garius kemudian berjalan kearah sudut ruangan kounsil.
"Tuanku! Perang masih bisa dihindari! Kita harus-
"Perang ini tidak bisa dihindari Lryser! Ini golongan Geralda yang kita bicarakan! Mereka bukan seperti golongan lain, mereka punya budaya tradisi berusia ribuan tahun dan akan bertarung hingga akhir untuk melindungi budaya ribuan tahunnya" ,ucap Toran Garius berteriak marah hingga membuat Tuan Lryser terdiam hingga ketulang.
Suara langkah kaki keras Toran bisa terdengar, Ayah Vesius berjalan makin jauh dari meja kounsil.
Kemudian Toran berjalan kearah sebuah peti dan membuka peti tersebut, kemudian setelah mengambil suatu barang dari peti tersebut Toran menutup peti dan berjalan kearah meja kounsil kembali.
"Anakku Vesius dari keluarga Garius yang akan menggantikanku sebagai menteri militer" ,ucap Toran Garius sambil kembali kemeja Kounsil dan menaruh badget pedang berwarna merah diatas meja.
Kemudian Toran Garius berjalan keluar dari ruang kounsil sambil diikuti puluhan prajurit merahnya yang menjaga ruang kounsil.
Suara ringingan armour besi dan pijakan kaki keras Toran Garius bisa terdengar.
Sedangkan tatapan seluruh kounsil mengarah kearah Vesius yang terdiam.
*Badget itu...akan terlihat aneh jika aku yang memakainya..*
.
.
.
____-_____
.
.
.
Suara kuda melangkah bisa terdengar diantara suara burung berkicau dipagi hari.
Embun pagi membasahi tanaman disekitar kuda tersebut.
Diatas kuda tersebut terdapat seseorang wanita berambut pirang menunggangi kuda tersebut dengan wajah yang serius.
Kaki kuda tersebut melewati rumput hutan.
Kemudian ia sampai ditempat dimana ia akan datangi.
Terlihat sebuah rumah kosong dengan mayat-mayat prajurit terbaring mati didepannya.
Armour besi mereka bercampur dengan darah gelap yang sudah dingin.
Ratusan lalat terlihat mengerumuni mayat-mayat prajurit tersebut.
Tombak dan pedang bisa terlihat ikut terbaring diantara mayat prajurit.
Terlihat seorang pria bersandar dipohon dengan mayat wanita dipegang ditangannya.
Pria bersandar tersebut nampak terlihat duduk sangat lama dipohon tersebut hingga lumpur hujan menyelimuti celananya.
Pria tersebut terlihat hampir mirip seperti orang mati, matanya kosong dan dia diam bagaikan pohon.
Mayat wanita yang dipegang pria tersebut terlihat mati dengan lalat sudah mengerumuninya.
".....oi Hanno" ,ucap Jean sambil turun dari kudanya.
Kemudian Jean melempar sekantung kulit berisi air kepada Hanno.
"Minumlah kau pasti haus" ,ucap Jean.
Hanno terlihat tidak menanggapi dan terdiam.
"Jujur saja kau terlihat seperti orang mati" ,ucap Jean sambil mendekat kearah Hanno.
Kemudian Jean berlutut dan menaruh tangannya dihidung Hanno memeriksa apa dia masih hidup.
"Ehehaha...kenapa aku berpikir kau sudah mati? Kau masih bernafas dan hidup" ,ucap Jean sambil menepuk bahu Hanno.
Mata Hanno kemudian mengarah kearah Jean menatapnya dengan lemas.
Tatapan Hanno terlihat lebih kosong dari biasanya.
Aliran kuat,kelam,dan aneh sudah hampir menghilang dari matanya, memudar dari matanya.
"Kau sudah jadi mayat cuma badanmu saja yang masih bernafas" ,ucap Jean sambil tersenyum aneh dan dirinya kemudian tertawa kecil diakhir ucapannya.
"Se..sem" ,gumam Hanno dengan suara datarnya yang lemas.
"Hm?" ,gumam Jean memperhatikan Hanno yang mulai berbicara.
"Semua..semua..semuanya...hilang" ,ucap Hanno.
"Minum dulu" ,ucap Jean sambil mendekatkan kantung air kewajah Hanno.
Dengan terburu-buru Hanno memegang sekantung air Jean dan dengan lemah ia meneguk tetesan airnya.
Air mata keluar dari mata Hanno meskipun sedikit itu tetap air mata.
Wajahnya tetap datar dan tenang tapi air mata turun dari matanya.
"Semuanya hilang.." ,ucap Hanno dengan nada datar setelah meneguk tetesan airnya.
"Kau terlihat menyedihkan nak" ,ucap Jean sambil berdiri.
"...keluargaku sudah hilang...tujuan hidupku juga...sesuatu yang kucintai...sesuatu yang kuanggap rumah..sudah hilang semuanya.." ,ucap Hanno dengan wajah datarnya.
Mayat Filda berada disamping Hanno berbaring dengan dikerumuni lalat dan terlihat senyuman kecil diwajahnya meskipun matanya sudah memutih mati.
"Hahh...langit pagi dengan aroma mayat ini mengingatkanku sesuatu..dihari dimana aku diseret keluar dari Aula senat itu..memori yang menyedihkan.." ,ucap Jean tersenyum sambil melihat kearah langit.
Jean kemudian menatap Hanno.
Bisa dilihat mata Jean lebih kosong dari Hanno tapi ada sesuatu yang berbeda...
Terlihat aliran berbentuk mawar menjalar yang kuat didalam mata Jean.
"Semuanya bisa hilang dalam sekejap nak didunia ini...keluarga..sesuatu yang kau cintai...popularitas..kekayaan.." ,ucap Jean yang kemudian kembali berlutut kearah Hanno.
Gigi Jean bisa terlihat merapat dengan keras ketika ia menatap Hanno sedangkan aliran mawar dimatanya mengalir kuat.
Pegangan kuat bagaikan monster memegang bahu Hanno.
"Tapi semua itu bisa kita dapatkan kembalikan dengan cara lain.." ,ucap Jean tersenyum bagaikan monster.
.
.
.
Seketika Hanno merasakan mawar raksasa memegang tubuhnya dengan tangkai nya yang berduri.