
"Terkadang 'Diam' adalah suatu karya seni besar dalam sebuah pembicaraan"
-Marcus Tullius Cicero
Andai Perang Semudah Itu
"Tuanku ada kebakaran tadi pagi disudut ibukota dan ada kuda yang ikut terbakar kemudian lari dijalanan menyebabkan kekacauan di 'Pasar Sapi Merah' " ,ucap komandan pasukan penjaga ibukota tersebut.
Terlihat banyak orang mengantri untuk melapor dan menaruh perselesaian masalahnya lewat menteri perang.
"Berapa banyak korban?" ,ucap Vesius sambil duduk dikursi didekat meja yang ada ratusan kertas diatasnya.
"2 mati karena api sedangkan 1 mati karena ditabrak kuda tersebut dan banyak yang terluka tuanku" ,ucap Komandan.
"Apa ada kasus pencurian dipasar Sapi Merah ditengah kekacauan ini?" ,ucap Vesius sambil mengambil pena bulu ayam.
"Iya tuanku banyak" ,ucap Komandan.
*Ditengah kekacauan kadang ada orang yang akan mencoba mencari kesempatan didalamnya* ,batin Vesius sambil tersenyum pahit.
"Kuberikan kau 50 pasukan keluarga Garius lengkap dengan armour dan persenjataan...kuperintahkan kau komandan pasukan penjaga ibukota untuk mengembalikan kedamaian disudut pasar tersebut" ,ucap Vesius.
"Baik tuanku" ,ucap Komandan pasukan penjaga ibukota sambil menunduk kemudian pergi keluar ruangan ini.
"Maju" ,ucap Vesius kearah antrian didepan.
Kemudian seorang prajurit maju dengan pakaiannya yang terlihat kusam dan kotor.
"Aku komandan pasukan yang menjaga gudang makanan dan suplai pasukan diibukota bagian barat tuanku" ,ucap komandan prajurit tersebut.
"Hm, terus? Ada apa?" ,ucap Vesius sambil mengisi tinta dipena bulu ayamnya.
"Ada rombongan ratusan rakyat kelaparan didepan gudang yang meminta makanan tuanku dan itu terus bertambah" ,ucap komandan tersebut.
*Jika ratusan rakyat mengemis sudah mulai bertambah jadi ribuan dan jika mereka sudah mulai kehilangan kesabaran atas kelaparan, maka akan ada protes kekerasan, dan ibukota akan jatuh dalam kekacauan* ,pikir Vesius.
"Tembak dan bunuh mereka semua dengan Crossbow hingga semuanya lari, jika ada yang mendekat kedepan gudang tembak lagi" ,ucap Vesius.
*Ini adalah cara terakhir, sebaiknya tembak ratusan sebelum ribuan mulai memberontak padamu* ,batin Vesius.
Kemudian ia melihat dokumen diatas mejanya yang penuh laporan tentang habisnya sumber daya diberbagai kota.
*Hahh...lagipula jika aku membagikannya kepada rakyat kelaparan apa itu cukup? Ribuan akan berebut makanan hingga kekacauan mulai muncul. Saat kekacauan datang maka ribuan lagi akan mati, lagipula suplai itu untuk perang bukan untuk petani* ,batin Vesius.
"Baik tuanku, kami punya banyak anak panah dan crossbow untuk melakukan itu" ,ucap Komandan prajurit tersebut.
"Datang kesini jika ada masalah tapi jangan memberi laporan tentang jumlah korban yang kau tembak" ,ucap Vesius sambil terus menandatangani surat dimejanya.
*Aku tak mau mendengar tentang lebih banyak darah lagi* ,batin Vesius.
"Ba-baik tuanku" ,ucap komandan prajurit itu.
Komandan prajurit itu kemudian pergi dan antrian bergerak.
"Maju" ,ucap Vesius dengan kuat kepada antrian.
Terlihat seorang pelayan pria maju.
"Ada Kereta yang menghalang gerbang bagian timur tuanku hingga terjadi kemacetan dijalanan bagian timur tuanku" ,ucap pelayan tersebut.
*Harusnya masalah ini diberikan kepada Gubernur Ibukota dan bawahannya..* ,batin Vesius.
"Apakah ada prajurit disana atau ada komandan pasukan penjaga sudah mengirim pasukan kesana?" ,ucap Vesius sambil menatap tajam pelayan tersebut.
*Tapi masalahnya jabatan Gubernur Ibukota sudah kosong sejak beberapa minggu yang lalu, karena gubernur ibukota terakhir dikatakan menghilang dihutan saat ia pergi berburu. Sudah pasti dia dibunuh dan mayatnya masih belum ditemukan* ,pikir Vesius.
"Ada prajurit yang membantu tuanku" ,ucap pelayan tersebut.
*Jika aku menaruh atau mengisi jabatan gubernur dengan orang loyal kepadaku sekarang, takutnya akan menyinggung banyak orang dan merusak kondisi politik stabil sekarang, lebih baik aku saja yang pengganti gubernur ibukota saat ini* ,pikir Vesius.
"Berapa banyak?" ,ucap Vesius menanyai pelayan tersebut.
*Tapi masalahnya aku akan terlihat lebih tirani jika aku memegang jabatan gubernur ibukota lebih lama....haruskah aku memanggil pemilihan senat untuk memilih jabatan gubernur ibukota? Tapi jabatan gubernur ibukota bisa saja jatuh ketangan musuhku....dan itu akan menjadi fatal..* ,batin Vesius sambil merapatkan kedua tangannya.
"Puluhan mungkin tuanku kalau bukan ratusan? Tapi banyak tuanku" ,ucap pelayan tersebut.
"Kalau begitu pergi sana, hal itu sudah diselesaikan" ,ucap Vesius.
*Aku butuh teman disenat...untuk membantu pemilihan jika aku berniat melakukannya..aku butuh teman disenat jika aku berniat menaruh orangku dijabatan gubernur ibukota..* ,pikir Vesius.
.
.
.
.
___-_-____
.
.
.
.
*Treeeetttttttkkkkkkkkkt*
Suara gerbang kamar pertemuan Kastil Harlaw terbuka terdengar.
Diikuti dengan ringingan suara armour prajurit dibelakang Qharlan dan langkah kaki tuanya Qharlan bisa terdengar.
Qharlan berjalan diatas lantai batu yang berumur ratusan tahun.
Berjalan Qharlan diruangan yang perlahan dimakan oleh gelap malam.
Dan cahaya matahari yang biasa menerangi ruangan ini berganti dengan cahaya lilin.
Suara terjangan ombak laut bisa terdengar diluar.
Dihadapan Qharlan terbentang ruangan besar yang berumur ratusan tahun.
Lilin dan obor menyebar dibanyak tempat untuk menerangi ruangan besar ini.
Diruangan besar ini ditengah-tengah terdapat meja dengan petanya.
Raja berdiri didekat meja tersebut bersama bawahannya yang lain.
Raja kemudian menoleh kepada Qharlan.
"Kau terlambat" ,ucap Raja Trivistane.
Raja Dalmatia mungkin dirinya mahkotai tapi pada faktanya ia hanya Raja Pelabuhan Harlaw dan 120 kapal serta beberapa ribu pasukan.
Raja Trivistane dari keluarga Gandaria...sang Raja Dalmatia, tuan dari orang Anglo dan Illaria, Dan pewaris sah Makaria...
"Yang mulia" ,ucap Qharlan menunduk kepadanya dengan sopan.
"Cepat..jangan buat diriku marah Qharlan" ,ucap Raja Trivistane dengan wajah kuat dan kerasnya.
Dia terlihat kurus sekaligus berotot, matanya berwarna coklat gelap tajam serta kuat bagaikan kapak besi.
Kepalanya yang botak ditengah dan rambutnya yang tipis membuat dirinya kelihatan lebih tua dari umurnya yang sesungguhnya.
Padahal baru 30 tahun umurnya.
Pipinya kelihatan seperti tak berdaging dan hanya memiliki kulit.
Kebanyakan tubuhnya hanyalah kulit dan otot tanpa kegendutan sedikitpun, daging lemak terakhir yang ia miliki sudah habis ketika dirinya dikepung dipelabuha Makull diAkkadia selama lebih dari 9 bulan hingga suplai makanannya habis dan terpaksa memakan daging tikus selama berhari-hari.
"Maafkan aku yang mulia" ,ucap Qharlan sambil berjalan maju kearah meja besar tersebut.
"Aku tak butuh minta maaf, yang sekarang kubutuhkan akan adalah rencana untuk mengambil Damaltia" ,ucap Trivistane dengan suara keras dan kuatnya.
Membentang diatas meja sebuah peta benua Strantos raksasa yang dibuat oleh bawahan Cassandria yang agung.
Ratusan pion membentang diatasnya.
Mata veteran Trivistane melihat kearah peta.
Bawahannya yang lain hanya duduk terdiam begitu juga dengan komandan milik pasukan bayarannya yang lain.
Qharlan kemudian duduk dikursi yang disediakan didekat meja.
"Berapa banyak jumlah pasukan musuh kita?" ,ucap Trivistane.
"Kalau percaya dari kata pedagang katanya 68.000 pasukan tuanku, total pasukan pengkhianat" ,ucap salah satu komandan pasukannya.
"Dalmatia dan Victa sudah berperang selama lebih dari 25 tahun pada faktanya jumlahnya pasti sudah berkurang atau hanya diisi dengan milisi tanpa armour atau persenjataan" ,ucap Qharlan.
"Manusia dengan tombak maka manusia dengan tombak, mereka tetap bisa menusuk kita Qharlan. Aku mempelajarinya diDaratan Pasir Putih" ,ucap Raja Trivistane dengan tatapan kuatnya.
"Dari yang kupelajari...daging tetap daging mereka tetap bisa dibunuh dengan pasukan paling berpengalaman kita" ,ucap salah satu komandan pasukan bayarannya bernama Khajir Qaan sambil tersenyum.
"Aku takkan mengirim pasukanku untuk terjun kemedan perang melawan pasukan yang hampir 3 kali jumlahnya. Itu berani tapi bodoh, hanya sebuah strategi tak berguna" ,ucap Trivistane.
"Mungkin kita bisa menggunakan kapal kita untuk masuk keSungai Garpu Putih dan menyerang ibukota Damaltia" ,ucap salah satu komandan pasukan Trivistane.
"Ibukota Damaltia Galradius itu hanya sebuah kota dan tak berguna diambil, pahlawan palsu beserta putri pengkhianat tengah berada diKastil Balradius" ,ucap salah satu komandan pasukannya lagi.
"Jika kita mengambil ibukota itu akan membuat bangsawan semakin yakin kalau kita menang dan jika kelihatan menang maka bangsawan akan mulai berpindah pihak pada kita" ,ucap salah satu komandan.
"Hanya dengan mengambil sebuah satu kota maka akan membuat bangsawan mulai berpindah pihak pada kita? Andai perang semudah itu" ,ucap Khajir Qaan sambil melempar koin keatas dan menangkapnya.
"Mungkin kita bisa lewat diplomasi" ,ucap Qharlan sambil memegang janggut tua tipisnya yang ia cukur dengan pisau beberapa hari yang lalu.
"Diplomasi? Apa kau tahu caranya Qharlan?" ,ucap Trivistane.
"Bicara dengan keluarga Veel tuanku, mereka cukup marah dengan 3 anak dari keluarga mereka diberikan keorang Victa sebagai tawanan. Keluarga Melera tak puas karena mereka tak mendapat kursi dikounsil. Yang mulia kita hanya perlu membuat mereka berpindah pihak maka pasukan kita akan berjumlah 51.000 pasukan" ,ucap Qharlan.
"Dan bagaimana kita membuat mereka yang lain selain Melera dan Veel berpindah pihak pada kita?" ,ucap Trivistane.
"Janjikan mereka sesuatu" ,ucap Qharlan dengan tatapan tajam ia menatap raja.
.
.
.
.
___-_-_____
.
.
.
.
*Sringgh*Sringgh*
Suara Pisau diasah terdengar.
Perrin melihatnya Pisaunya sekali lagi memeriksa apakah sudah cukup tajam dan kemudian kembali mengasahnya.
Ia terus mengasah dan kemudian mengusapnya dengan air.
"Apakah itu bijak membuat kita sebagai Faksi Perdana Menteri daripada Pahlawan? Itu cuma menambah banyak orang menganggap kita sebagai palsu bukan?" ,ucap Cleorah berdiri sambil melihat Perrin mengasah pisau.
*Dia nampaknya mulai merasa aneh melihat seorang wanita mengasah pisau* ,pikir Perrin menyadari hal tersebut.
"Kupikir teman-temanku lebih tak memedulikan apa yang dikatakan orang lain kepada mereka" ,ucap Perrin sambil melihat pedangnya yang sudah terlihat berkilau.
"Kau mungkin tak memedulikan pikiran orang lain kepada dirimu sendiri, aku mungkin, Cyrus mungkin, tapi banyak pahlawan lain tidak. Mereka mulai tidak nyaman dengan orang yang diam dan ketakutan ketika mereka lewat" ,ucap Cleorah.
"Bagus, banyak orang sudah mulai diam. Maka 2 pelayan wanita yang aku gantung karena menggosip soal kita tidak sia-sia" ,ucap Perrin sambil terus mengasah pisaunya.
"Aku ingin kita neutral dan mundur dari jabatan Perdana menteri" ,ucap Cleorah dengan suara yang cukup kuat.
"Neutral? Jadi kau tak ingin ikut dalam Perang Demi Mahkota Dalmatia" ,ucap Perrin.
"Kita ini pahlawan Perrin, kita ini datang kedunia ini untuk mengalahkan Raja Iblis bukan datang untuk berperang membunuh manusia dan memerintah manusia" ,ucap Cleorah.
*Tuk...*
Suara Perrin menaruh pisaunya dimeja dengan perlahan membuat sedikit takut Cleorah.
"Heh..." ,tersenyum Perrin sambil berbalik menoleh kearah Cleorah, "kupikir kau lebih pintar, apakah Misi dilayar digital tentang Perang untuk Mahkota Damaltia itu tidak jelas?"
"Misi untuk Perang Mahkota Damaltia?" ,ucap Cleorah.
Kemudian Perrin menatap Cleorah dengan tatapan kebingungan dan terkejut.
"Kau tidak mendapat misi itu..?" ,ucap Perrin.
"Misi apa Perrin? DiPesta Hitam itu layar digital sudah mengumumkan kita menang" ,ucap Cleorah.
Perrin kemudian bengong sebentar dan terdiam.
"Layar Digital sialan itu tidak memberimu Misi Perang Untuk Mahkota Damaltia?" ,ucap Perrin yang terlihat bengong sambil melihat pedangnya.
"Misi Perang Untuk Mahkota Damaltia?" ,ucap Cleorah yang terlihat kebingungan.
Perrin kemudian bengong dan memikirkan semua ini membuat kepalanya sakit.
Perrin berharap ada orang yang membantunya sekarang...seseorang lelaki yang ia kagumi.
*Sial...* ,batin Perrin.
Perrin kemudian mengambil pisaunya dan mengangkatnya keatas melihat cahaya matahari memantul dipisaunya yang mengkilat.
*Tukkk!*
Perrin kemudian menghantam dan menusuk pisaunya kesebuah kertas diatas meja.
*Semua ini...sial..kenapa aku dipanggil kedunia ini..* ,pikir Perrin dengan amarah.
Cleorah terlihat ketakutan sedikit melihat Perrin yang menghantamkan pisaunya kemeja.
"Kau ingin neutral bukan Cleorah?" ,ucap Perrin dengan suara berat menakutkannya.
"I-iya" ,ucap Cleorah yang mulai merasa ketakutan dengan Perrin.
*Krekkk*
Perrin kemudian menarik surat yang ia tusuk dengan pisau hingga sobek.
"Coba kau baca ini Cleorah.." ,ucap Perrin sambil memberi Cleorah sebuah surat dengan bagian sudutnya koyak akibat tusukan pisaunya.
Cleorah kemudian mengambil surat tersebut dengan gugup dan Perrin pelan-pelan menjauhkan tangannya dari Cleorah.
Cleorah kemudian mulai membaca surat tersebut.
" 'Untuk....Untuk semua tuan,bangsawan,rakyat biasa, dari seluruh kalangan. Aku minta kalian untuk menyerahkan Sang Pengambil Tahta Tuan Putri Voa dan Penipu-penipu diIstana Balradius yang memanggil diri mereka sebagai Pahlawan kepada diriku....Sang Raja Sah Dari Dalmatia untuk memberi hukuman kepada mereka. Yang berpihak pada mereka akan disita tanah dan jabatannya. Sedangkan yang berpihak padaku akan tetap menjaga tanahnya dan jika layanan kalian bagus maka akan mungkin kalian akan diberi hadiah oleh diriku'
-Ditulis Oleh Sang Raja Trivistane yang pertama dari Keluarga Gandarius, Sang Tuan Orang Anglo dan Illaria, Dan Pewaris sah dari Makaria' ..."
Cleorah hanya bisa berwajah pahit dan terdiam setelah membaca surat itu.
"Kau pikir aku bisa neutral setelah membaca surat itu? Jika kita membiarkan anak haram bernama Trivistane ini memenangkan perang dan mahkota Damaltia, maka kita kemungkinan akan digantung mati" ,ucap Perrin sambil melihat pisaunya dengan tatapan tajam.
Kemudian Perrin membasuh pisaunya dengan air.
"Jangan cuma pikirkan tentang mengalahkan Raja Iblis Cleorah, tapi kadang pikirkanlah masa depan kita setelah kita mengalahkan Raja Iblis. Ketika Raja Iblis sudah dikalahkan maka aku bisa menjamin kalian semua akan mendapat harta,kehormatan,dan kekuatan yang cukup diDalmatia. Sedangkan anak-anak kalian akan tumbuh menjadi bangsawan yang hidup enak" ,ucap Perrin sambil mengasah pisaunya kembali.
"Anak-anak...." ,ucap Cleorah dengan wajahnya memerah, "kalau Raja Trivistane menang..bisakah kita mengungsi kenegara lain?"
Perrin kemudian berhenti mengasah pisaunya.
"Kemana Cleorah? Victa? Apakah kau pikir orang Victa percaya terhadap kita? Dwarf? Yang malah mungkin membenci kita yang dalam wujud manusia? Atau Elve? Yang bahkan kita tidak ketahui apa reaksi mereka terhadap kita? Pilihan untuk mengungsi kenegara lain tidak jelas Cleorah....itu bagai melangkah kelumpur yang kau tidak tahu kedalamannya" ,ucap Perrin yang kemudian mengambil sebuah kain.
Kemudian Perrin mengusap pisau tajam tersebut dengan kain secara perlahan.
"Aku ingin kita selamat didunia aneh dan misterius ini Cleorah...itu saja..aku ingin kita terjamin hidup kita....kebanyakan manusia memikirkan kenikmatan sementara daripada mengamankan kenikmatan mereka untuk waktu lama...aku tak mau jadi kebanyakan manusia..." ,ucap Perrin sambil terus mengelap Pisaunya hingga mengkilat.
Kemudian Perrin mengelap tangannya yang basah dengan kain dan mendekat kearah Cleorah.
"Kau mengerti?" ,ucap Perrin dengan tatapan tajam ke Cleorah.