
"Pria akan bertarung lebih keras kepada sesuatu yang mereka inginkan daripada sesuatu yang merupakan hak mereka"
-Napoleon Bonaparte
Bahaya dan Dewa
Berlutut Ayah Filda didepan sebuah pohon sambil menenteng babi hutan mati ditangannya.
Babi hutan yang mati tersebut kemudian ditaruh didepan pohon disebuah lubang ditanah yang muat hanya untuk babi hutan tersebut.
Pohon yang Ayah Filda berlutut didepannya memiliki sebuah ukiran berbentuk sebuah gelombang angin dan bahasa orang Anglo lama.
Bahasa yang sudah hampir punah dan hanya sedikit orang yang mengetahui bahasa tersebut.
Ayah Filda sendiri sudah mempelajarinya dari kakeknya tapi cuma beberapa kata yang ia pelajari, karena huruf Anglo lama bisa dibilang rumit dan kata-kata yang ia pelajari merupakan hanya untuk ritual.
Hanno sendiri sedang berdiri dibelakangnya dengan wajah tenangnya.
Ayah Filda kemudian berbicara dengan bahasa yang Hanno mungkin tak mengerti, bahasanya terdengar sangat aneh dan kadang kali mirip seperti suara pohon bergerak.
(Wahai bumi dan dewi alam yang melahirkan dunia ini dari rahimnya tolong berkahi diriku dengan kekuatan alam) ,ucap Ayah Filda dalam bahasa Anglo lama.
Tiba-tiba datang angin yang mengibas pohon disekitar mereka yang membuat Ayah Filda merasa chill ditangan dan lehernya.
(Berikan aku kekuatan untuk membunuh musuh-musuhku...berikan aku kekuatan untuk melihat keatas langit...berikan aku kekuatan untuk menahan serangan tombak dan senjata musuhku) ,ucap Ayah Filda.
(Berikan aku kekuatan untuk menahan angin dan kemarahanmu, berikan aku kekuatan untuk menghancurkan keraguan dalam melayanimu wahai yang paling tua dan maha kuat) ,ucap Ayah Filda.
(Berikanku kekuatan untuk menggunakan tanganku diusia tuaku...berikan aku kekuatan bagi ke..kelua..kelau..) Ah! Sial! Aku lupa bagaimana ngucapkan 'keluarga' dalam bahasa Anglo lama!" ,ucap Ayah Filda marah karena melupakan sesuatu.
"Lupakan! Kumohon dewa alam berikan kekuatan pada keluargaku!" ,ucap Ayah Filda.
Kemudian Ayah Filda menoleh kearah Hanno dan kemudian kembali kearah pohon ritual didepannya.
(Hahh...berikan kekuatan untuk kakiku agar bergerak diusia tuaku, berikan kekuatan alam agar penghasilanku bertambah..dan wahai dewi alam yang terdahulu dan yang paling tua berikan aku kekuatan alam didalam darahku..) ,ucap Ayah Filda sambil mengambil pisau yang ditaruh disampingnya.
*Srettt*
Kemudian Ayah Filda mengambil pisau dan menyayat tangannya hingga darah keluar dari tangannya.
Darah dari tangan Ayah Filda kemudian diteteskan keatas mayat babi hutan tersebut.
Kemudian Ayah Filda melempar-lemparkan tetes darah dari tangannya kearah pohon tersebut.
"Hanno" ,ucap Ayah Filda memanggil Hanno dibelakangnya.
Terlihat Hanno menenteng sebuah sekop besi dan kemudian ia melangkah kedekat lubang yang berisi mayat babi hutan tersebut.
Hanno kemudian mengubur mayat babi tersebut dengan tanah dan meratakan tanahnya dengan tangannya langsung.
Karena Ayah Filda melarang Hanno menghina pengorbanan untuk dewa lama dengan menginjak diatasnya. Konon katanya siapapun yang melakukannya akan mendapat ketidakberuntungan seumur hidup.
"Nah ayo kita pulang dan tolong bawa kayu lama itu" ,ucap Ayah Filda.
Hanno kemudian mengambil kayu dengan beberapa tulang babi hutan diatasnya.
Itu merupakan tulang babi hutan yang dahulu pernah dikorbankan didepan pohon beberapa tahun yang lalu.
Ayah Filda sendiri melakukan ini selama 4 tahun sekali sejak kecil bersama kakeknya. Lebih tepatnya keluarganya bisa dibilang sudah lebih dari ribuan tahun telah melakukan hal ini.
Ayah Filda melakukan ritual ini selama 4 tahun sekali.
"Sudah selesai Hanno mari kita pulang untuk makan daging sapi yang kubeli dikota Ballerius kemarin" ,ucap Ayah Filda
"Apa kau bisa mengajariku bahasa Anglo lama?" ,ucap Hanno bertanya secara tiba-tiba.
"Hm?" ,ucap Ayah Filda terkejut.
"Bahasa Anglo lama...bisa paman ajari aku bahasa Anglo lama" ,ucap Hanno.
"Sangat jarang anak muda ingin mengetahui bahasa Anglo lama....kenapa kau menginginkan untuk mempelajarinya?" ,ucap Ayah Filda mendekat kearah Hanno.
Hanno hanya terdiam tak membalasnya dan hanya menatap Ayah Filda.
"Ya sudah akan kuajarkan, tapi kau takkan bisa banyak belajar dariku karena diriku tidak banyak juga tahu banyak soal bahasa Anglo lama. Aku hanya bisa mengajarimu sebagian sedangkan sebagian lagi kau harus ajari dirimu sendiri" ,ucap Ayah Filda berbalik dari Hanno dan mereka berdua berjalan kearah rumah.
Hutan didekat rumah Ayah Filda ini cukup lebat dan memiliki banyak hewan yang hidup didalamnya.
Suara burung berkicau terdengar.
Angin berhembus meniup dedaunan pohon.
Semak dan rumput dimana-mana, kadang terlihat ada jalan bebatuan disini tapi sayangnya jalan tersebut sudah rusak ataupun terkubur diantara semak-semak dan lumut.
Kebanyakan jalan tanah dan pohon yang Ayah Filda hafal bentuknya sejak kecil. Nenek ayah Filda bahkan sempat menamai beberapa pohon disini.
Kemudian setelah lewat pepohonan dan semak-semak yang lebat, sebuah rumah kayu sederhana terlihat dari jauh, dengan terlihat 3 wanita berbincang-bincang disana.
"Kupikir Filda cuma akan mengundang Yiara tapi ternyata Anak Perempuan Kepala Desa sialan itu datang juga" ,ucap Ayah Filda dari jauh sambil menyingkirkan beberapa semak-semak dikakinya.
Disamping Filda terdapat Yiara yang mengayun-ayunkan kakinya seperti anak kecil.
Filda meminta Ayahnya supaya memaafkan Yiara tadi malam ketika makan bersama. Sempat terjadi perkelahian antara ayah dan anak. Ayahnya pada akhirnya memperbolehkan Yiara untuk datang meskipun berjanji akan memotong jari tengah Yiara jika dia berani mencuri dagingnya lagi.
"Oh itu ayah dia sudah pulang" ,ucap Filda dari jauh melihat kearah ayah.
Terlihat satu lagi wanita selain Yiara berdiri disamping Filda, rambut wanita tersebut berambut hitam dan wajahnya bisa dibilang cukup cantik meskipun wajahnya dipenuhi debu.
"Bapak Guslau...hehe..." ,ucap Yiara sambil tersenyum ketakutan melambaikan tangannya keAyah Filda.
"Pak Guslau.." ,ucap wanita yang berdiri disamping Filda.
"Vera...kenapa kau datang kesini? Kupikir cuma Yiara yang ingin bermain kesini.." ,ucap Ayah Filda sambil berjalan mendekat.
"Tidak aku tidak kesini untuk bermain dengan Filda....ayahku ingin meminjam uang dan daging lagi" ,ucap Vera.
"Hah? Kau pikir aku itu buang air uang perak dan daging? Tidak Vera, aku itu berjuang demi uang perak. Suruh ayahmu pergi tempat lain kalau mau pinjam uang" ,ucap Paman sambil berjalan melewati mereka bertiga untuk masuk kedalam rumahnya.
"Pasukan bayaran meminta bayaran lagi, jika kita tidak memberi mereka uang dan makanan maka mereka tidak akan memberi kita perlindungan untuk melindungi desa pak" ,ucap Vera dengan nada yang sedikit tinggi.
Ayah Filda tetap terlihat tidak mendengarkan ucapan Vera dan melepas sepatunya dikeranjang berisi air garam.
Kemudian Vera mendekat kearah Ayah Filda.
"Kalau desa ini tak punya perlindungan maka pasukan penjarah dari Dalmatia akan datang lagi. Pasukan-pasukan bayaran itu mungkin kumpulan brengsek tapi mereka melindungi kita dari serangan pasukan penjarah tahun lalu. Sedangkan pasukan Garius dan Ohara sedang kembali kekota Bellarius" ,ucap Vera.
"Itu benar ayah, kita butuh memberi mereka uang kalau tidak maka kita tidak bisa melawan pasukan penjarah hanya dengan orang tua serta petani tanpa armour dan tanpa persenjataan lengkap. Kita butuh prajurit-prajurit bayaran itu yah" ,ucap Filda.
Ayah Filda kemudian mengambil membersihkan tangannya dengan air dari keranjang kayu tersebut dan tetap tak mendengarkan ucapan mereka berdua.
Ayah Filda kemudian berjalan lebih dalam masuk kerumahnya.
"Pak! Kumohon! Apakah bapak ingin desa ini dibakar dan Filda disentuh oleh pasukan penjarah dari Dalmatia lagi!?" ,ucap Vera dengan nada yang lebih tinggi.
"Tuh! 800 koin! Kuharap itu bisa membayar prajurit-prajurit bayaran sialan itu!" ,ucap Ayah Filda dengan marah sambil melempar sekantung koin perak kearah kaki Vera.
Ayah Filda kemudian masuk makin kedalam rumahnya.
"Aku mau kencing! Jangan ganggu kalian semua!" ,ucap Ayah Filda.
Vera kemudian mengambil sekantung koin yang berada dikakinya.
"Syukurlah.." ,ucap Vera yang membuka kantung koin tersebut dan ratusan perak terbentang didalamnya.
"Andai saja...perang ini berakhir maka kita tak perlu membayar prajurit bayaran lagi.." ,ucap Filda dengan wajah merenung.
"Iya, apa kau dengar Filda? Pahlawan sudah datang dari dunia lain! Katanya mereka akan membawa kedamaian dan menyatukan manusia melawan raja iblis!" ,ucap Yiara dengan ceria.
"Aku harap pahlawan itu asli...dunia sekarang penuh penipu dan orang-orang palsu" ,ucap Vera.
"Ya...aku harap pahlawan itu memang membawa kedamaian" ,ucap Filda.
Hanno hanya duduk terdiam dari tadi dan membersihkan tangan serta kakinya dari lumpur.
"Ehmm...mm..kau Hanno kan?" ,ucap Yiara mencoba mendekati Hanno.
"Mm? Ya aku Hanno" ,ucap Hanno memandang kearah Yiara.
"Aku dengar dari Filda! Katanya kau itu pintar ya?" ,ucap Yiara dengan ceria.
"Yiara! Jangan bilang kalau aku...." ,ucap Filda memerah wajahnya.
"Emmmm...5.261 x 3.248!?" ,ucap Yiara.
"17.087.728" ,ucap Hanno dengan cepat.
"Ah! Benar! Kau pintar sekali! Padahal itu pertanyaan andalan Pamanku!" ,ucap Yiara dengan matanya yang bersinar-sinar.
"Kau..pandai dalam menghitung?" ,ucap Vera mendekat kearah Hanno.
"Ya bisa dibilang" ,ucap Hanno memandang kearah Vera.
"Balai desa punya ayahku butuh orang untuk menghitung...apakah kau mau? Tenang saja kami akan membayarmu dengan mahal.." ,ucap Vera.
"Tidak, aku tidak mau" ,ucap Hanno.
"Ehh...kenapa?" ,ucap Vera.
"Tidak mau saja.." ,ucap Hanno sambil memandang kearah tempat pohon target dimana ia melatih memanah.
"Hanno! Berapa banyak bintang dilangit!? Bukankah kau itu orang pintar?" ,ucap Yiara.
"Yiara jangan menanyakan hal aneh kepada Hanno!" ,ucap Filda
"Kalau soal itu aku tidak tahu" ,ucap Hanno.
"Aissshhh...katanya kau itu orang pintar.." ,ucap Yiara yang langsung cemberut seperti anak kecil.
"Tidak, aku tak pernah mengatakan kalau aku orang pintar" ,ucap Hanno.
"Padahal aku sudah penasaran..." ,ucap Yiara merajuk bagaikan anak kecil.
"Ngomong-ngomong..emmhhh..terima kasih ya Filda nanti sampaikan terima kasihku juga keayahmu" ,ucap Vera.
"Ya, semoga bermanfaat uangnya" ,ucap Filda.
"Nanti akan kubilang pada penduduk desa kalau aku dapat 800 koin ini dari ayahmu!" ,ucap Vera sambil berjalan pergi.
Terlihat Vera berjalan pergi kearah desa menjauh dari rumah Filda.
"Hanno!" ,ucap Yiara bertanya dengan semangat.
"Hm?" ,ucap Hanno.
"Apakah aku bisa berubah menjadi kupu-kupu seperti penyihir Asmer!" ,ucap Yiara dengan semangat.
.
.
.
.
____-_-_____
.
.
.
.
Berjalan Vesius diIstana Pedang Perunggu. Dindingnya yang berwarna jingga berasal dari batu merah yang diambil dari Tyronia. Beberapa pedang terlihat menggantung didinding ini.
Pesta tadi malam membuatnya lelah sehingga membuat ia tidur terlalu nyenyak dan bangun lebih siang daripada biasanya.
*Pesta kadang lebih melelahkan daripada merencanakan strategi ditenda...* ,pikir Vesius sambil terus berjalan dilorong istana ini.
Kemudian terlihat anak kecil perempuan dengan pakaian gaun imut yang sekitar berumur 5 tahun sedang berjalan bersama seorang wanita muda disampingnya.
"Paman Vesius!" ,ucap anak kecil perempuan tersebut sambil berlari dengan kaki imutnya kearah Vesius.
Berlari ia dengan girang dan cepat membuat Vesius tersenyum sambil berlutut agar menyamakan tingginya dengan anak kecil perempuan tersebut.
"Paman Vesius!" ,ucap anak kecil perempuan tersebut mendekat kemudian dipegang dipinggangnya oleh Vesius.
Vesius kemudian mengangkatnya keatas dan tertawa girang anak kecil perempuan tersebut.
"Alani! Kau akan terbang seperti penyihir Anmer! Dadada!" ,ucap Vesius dengan nada kekanak-kanakkan sambil menggendong anak kecil perempuan tersebut.
"Terbang! Terbang!" ,ucap anak kecil perempuan yang dipanggil Alani sambil tertawa cekikikan imut dia.
"Alani! Terbang dia keangkasa!" ,ucap Vesius dengan suara besarnya.
"Terbang yeeee!" ,ucap Alani dengan girang.
"Alanniiiiii..."
Kemudian Vesius menurunkannya kelantai dan Alani terus tertawa cekikikan seiring turunnya ia kelantai.
"Paman Vesius apa kabar?" ,ucap Alani dengan manis ketika ia turun.
"Baik Alani, bahkan paman sudah mulai mandi dengan air anggur merah seperti yang Alani sarankan~" ,ucap Vesius dengan nada kekanak-kanakkan.
Alani tertawa cekikikan mendengarnya.
*Hm, pamankah..* ,batin Vesius sambil tersenyum.
Alani merupakan keponakan Vesius. Dia adalah anak Bulla Garius, seorang kakak perempuan kandung yang Vesius kagumi sekaligus benci.
Bulla sering menghina dirinya sebagai babi ataupun pemalas saat Vesius dahulu waktu masih kecil.
Tapi Vesius mengagumi kemampuan pengetahuan kakaknya, Vesius bahkan pernah bermimpi untuk sepintar kakaknya Bulla.
Alani seorang anak yang setengah Garius dan setengah Betarrus. Seseorang yang juga memiliki darah raja Victa didalam dirinya.
Tapi darah dari garis wanita tak pernah bersih dan sebagus darah dari garis pria.
Kemudian seorang wanita melangkah kearah Vesius yang sedang bermain dengan Alina.
Menunduk anggun wanita tersebut dihadapan Vesius.
"Tuan Vesius" ,ucap wanita tersebut dengan suara lembutnya.
"Hm? Ah, kau...kau Mallisa..ternyata kau sudah tumbuh besar.." ,ucap Vesius yang kemudian berdiri dengan sedikit tegap dan mengalihkan pandangannya kearah wanita yang dipanggil Mallisa itu.
"Iya tuanku, sudah berapa tahun kita tak bertemu" ,ucap Mallisa sambil menunduk.
*Mallisa...ohh demi dewa perang..dia dahulu cuma anak kecil yang penasaran terhadap buku dan legenda serta sejarah....dia tumbuh sebesar ini? Waktu berjalan lebih cepat daripada yang kukira* ,pikir Vesius dalam hatinya
Mallisa merupakan anak bibinya Vesius dan anak Tairar Ohara yang terbunuh 1 bulan yang lalu.
Dahulu Mallisa saat kecil sempat tinggal dikastil Fyrr bersama Vesius dan mereka berdua sering membaca buku diperpustakaan keluarga Vesius sampai malam.
Tapi Mallisa tak tinggal lama dikastil Fyrr dan kembali kekastil Gelaria. Vesius masih mengingat betapa kecilnya Mallisa saat itu.
"Aku..aku merasa sedih dan ingin minta maaf atas kematian ayahmu nona, aku ada disana tapi aku tidak bisa mencegahnya.." ,ucap Vesius menunduk secara rendah.
"Tidak apa tuanku..anda tidak perlu merasa bersalah" ,ucap Mallisa tersenyum sedih.
Kemudian Vesius tersenyum dan mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Oi Runarr! Sini! Coba lihat kau!" ,ucap Vesius sambil kembali memanggil seorang anak lelaki kesini.
Anak kecil lelaki dipanggil Runarr tersebut kemudian mendekat, terlihat ia hanya tersenyum polos.
"Coba lihatkan aku ototmu" ,ucap Vesius.
Kemudian Runarr membuka bagian pakaian lengannya dan memperlihatkan otot kecilnya sambil mengayunkan tangannya.
"Lihat kau...kau akan jadi prajurit yang akan membesar seperti raksasa tapi lebih tampan" ,ucap Vesius dengan nada lembut sambil memegang bahu Runarr.
"Sedangkan kau Alina, kau akan menjadi nona hebat,kuat,dan cantik yang akan membuat semua wanita iri padamu" ,ucap Vesius mengalihkan pandangannya keAlina.
Runarr dan Alina tertawa kecil dan cekikikan mendengarnya, sedangkan Vesius tersenyum.
"Paman mau pergi dulu ya..ada urusan ama ayah paman diruang kounsil.." ,ucap Vesius sambil memegang kedua kepala Runarr dan Alina dan mengelus-elus nya dengan lembut.
"Yaahhh..padahal Alina mau main dengan Paman lebih lama.." ,ucap Alina dengan nada merajuk.
"Alina..jangan ganggu paman dahulu..." ,ucap Mallisa.
"Tapi paman bawa sesuatu buat Alina" ,ucap Vesius sambil mengambil sesuatu dari pakaiannnya.
Sebuah boneka burung hantu yang memiliki terompet didepannya terlihat berada dipegangan Vesius.
"Wahhh! Burung hantu! Seperti sigil keluarga ibu dan paman!" ,ucap Alina dengan bahagia sambil memegang boneka tersebut.
Vesius tersenyum kemudian mengalihkan kepalanya kearah Runarr.
"Dan ini untuk Runarr.." ,ucap Vesius kemudian mengambil sebuah pedang kayu dengan corak sihir dari pulau suci Cyronia.
"Wahhh...ini bisa mengeluarkan sihir?" ,ucap Runarr.
"Bisa kalau Runarr berusaha, suatu hari Runarr akan terbang dan menyemburkan api dari tangan Runarr untuk membakar para Orc" ,ucap Vesius.
*Anak polos dia tidak tahu apa itu kebohongan dan tidak....aku merasa sedikit bersalah..* ,pikir Vesius
"Terima kasih paman.." ,ucap Runarr dengan polos sambil mengambil pedang tersebut.
"Jadi Mallisa,Alina,dan Runarr....ehh paman mau pergi dulu ya" ,ucap Vesius.
"Iya paman!" ,ucap Runarr dengan semangat.
"Paman! Makasih ya!" ,ucap Alina melambaikan tangan imutnya.
Sedangkan Mallisa hanya menunduk dengan anggun seperti seorang nona.
* 'Bahaya akan datang' * ,pikir Vesius sambil mengingat apa yang dikatakan Pruasarr semalam.
*Jika bahaya datang...kuharap jangan datang anak-anak kecil dan wanita tak berdosa seperti mereka* ,pikir Vesius.
.
.
.
__-_-___
.
.
"Oi Glent" ,ucap Hasteinn berjalan kearah rombongan pesta.
"Ohh hai Hasteinn" ,ucap Glent.
Terlihat Glent berdiri sambil melihat pelayan menyiapkan pesta dan makanan serta minuman.
"Kau sedang apa?" ,tanya Hasteinn.
"Tak ada aku sedang menunggu pesta untuk datang" ,ucap Glent.
"Kau tak tidur?" ,ucap Hasteinn.
"Nanti ayahku akan memanggilku jika ada sesuatu yang ia perlukan" ,ucap Glent.
"Ah, kau benar. Nanti kalau ada apa-apa malah kau tak bisa bantu ayahmu" ,ucap Hasteinn mendekat kemudian berdiri disampingnya, "apa yang ayahmu lakukan?"
"Membuat cincin dan beberapa alat untuk pesta, tadi ada penyanyi yang meminta terompet besi" ,ucap Glent.
Terlihat beberapa wanita bangsawan berbincang dan menggosip. Sedangkan pelayan mondar-mandir mengambil barang-barang untuk bersiap.
"Pesta kah.." ,ucap Hasteinn.
"Pesta panen lebih tepatnya" ,ucap Glent.
Beberapa anak-anak bermain kesana sini sedangkan beberapa pria tertawa bercanda dan berbincang-bincang.
Kastil dipenuhi ratusan orang yang tertawa dan sibuk.
"Ayahmu?" ,ucap Glent.
"Hm? Ayahku? Dia sedang bersibuk nampaknya" ,ucap Hasteinn.
"Iya juga, diakan juga Tuan dan Adipati dari kastil ini" ,ucap Glent tersenyum.
Kemudian Glent berjalan mengambil segelas anggur yang ditinggalkan begitu saja diatas meja dan meminumnya.
"Kau sudah dengar? Gosip dari wanita bangsawan" ,ucap Glent.
"Apa? Jangan gosip yang aneh-aneh lagi" ,ucap Hasteinn.
"Ini tentangmu, nampaknya kau dikenal sebagai bangsawan yang kadang menghilang dikastilnya, aku bahkan dengar kalau kau dibilang pernah memanjat tower kastil dan pergi ketempat paling dalam kastil ini" ,ucap Glent setelah meminum segelas air anggur nya.
"Bukankah itu benar? Kita berdua pernah pergi ketempat paling dalam kastil ini dan memanjat keatas tower" ,ucap Hasteinn.
"Gosip dan rumor tumbuh bagaikan rumput liar Hasteinn, sebentar lagi kita akan mendengar orang berbicara kalau kau pernah nges*x dengan hantu ditower" ,ucap Glent yang kemudian ia meminum gelas anggurnya itu.
"Aku mau tidur saja, aku tidak mau memikirkan semua itu" ,ucap Hasteinn.
Hasteinn kemudian berjalan menjauh dari Glent. Kepalanya sudah penuh dengan kebingungan tentang adiknya dan pesta, Hasteinn tak mau menambahnya dengan gosip aneh.
"Aku merasakan sesuatu Hasteinn, suatu bahaya datang" ,ucap Glent.
Ucapan Glent membuat Hasteinn berhenti berjalan dan Hasteinn kemudian membalikkan kepalanya keGlent.
"Aku juga sama" ,ucap Hasteinn dengan tatapan serius.
"Siapkan pedang, kita tidak tahu apa itu. Tapi pedang bisa membawa keamanan meskipun sedikit" ,ucap Glent sambil kembali meminum air anggur.
"Oi Glent! Jangan duduk dan minum air anggur tamu disitu sialan! Bantu aku ambil kotak besi itu!" ,ucap Ayah Glent sambil terlihat membawa palu ditangan kanannya.
"Iya-iya" ,ucap Glent sambil menaruh gelas penuh dengan air anggur dimeja.
Kemudian Ayah Glent menoleh kearah Hasteinn.
"T-tuan muda" ,ucap Glent sambil menunduk kepada Hasteinn.
Hasteinn hanya melambaikan tangannya dengan rendah dan tersenyum.
"Oi anak sialan! Menunduk kau didepan tuan muda!" ,ucap Ayah Glent berjalan sambil mendorong punggung Glent untuk menunduk.
"Eakh" ,gumam Glent sambil terlihat tersenyum pahit dan menunduk.
Hasteinn kemudian pergi dan menjauh dari mereka.
Perlahan Ayah Glent menaikkan pundaknya.
"Dasar anak sialan! Aku tahu kau berteman baik dengannya! Tapi jangan kurang ajar ditengah penglihatan pelayan dan bangsawan lain disini!" ,ucap Ayah Glent.
Glent kemudian bisa merasakan tatapan dari ratusan mata diseluruh dirinya.
"Sudah ayo bantu aku ambil kotak besi itu" ,ucap Ayah Glent sambil menatap tajam wajah anaknya.