Hannoic War

Hannoic War
Berlian yang Hangat (Part 12)



"Hati yang bersih dan indah memimpikan untuk pergi keatas diatas langit diatas ribuan awan, sedangkan Hati yang Paham dunia ini tahu kalau Kebenaran berada ratusan ribu lapis tanah jauh dibawah"


-Mushakashi Sikibu diLegenda Genji


Berlian yang Hangat


Berjalan Szeth dilorong Istana Balradius..gelap malam sudah menutupi istana dan mata semua yang didalamnya..


Beberapa penjaga menjaga malam yang belum tidur ada dan jumlahnya berlipat sejak Pesta Hitam karena perintah Perrin ,tapi tak cukup jumlahnya untuk mengisi beberapa lorong diistana luas ini.


Kebanyakan diIstana semua sudah tidur termasuk hampir semua pahlawan...


"Oi Szeth" ,ucap Dryer yang langsung muncul dari kegelapan.


Terlihat Szeth cukup terkejut dengan kemunculan Dryer dari kegelapan.


"Kau benar-benar mirip dengan Assasin sekarang, kau benar-benar mengejutkanku" ,ucap Szeth.


"Hm" ,tersenyum Dryer mendengarnya, "kau benar-benar mirip seperti Ketua OSIS sekarang"


"Aku selalu Ketua OSIS" ,ucap Szeth.


"Jadi bagaimana? Cleorah" ,ucap Dryer.


"Perkembangannya tumbuh sama seperti yang Perrin katakan, kalau Cyrus..." ,ucap Szeth sambil mengerutkan kedua alisnya.


"Dia diluar arah dan prediksi Perrin kan?" ,ucap Dryer.


"Ya, dia menjadi lebih serius" ,ucap Szeth, "banyak sisi lembutnya hilang setelah Ceramah Perrin dikamarnya dengan pahlawan lain"


"Iya, kau juga banyak berubah" ,ucap Dryer.


"Semua orang berubah satu sisi dan semua sisi, kau tak perlu mengatakan itu" ,ucap Szeth.


"Iya, aku hanya mengawasi kalian seperti yang diperintah Perrin kepadaku" ,ucap Dryer sambil mengambil apel dari pakaiannya.


"Iya-iya, aku juga diperintahnya. Tak usah bilang hal-hal yang tak berguna, lagipula ada informasi yang bisa kau berikan kepadaku?" ,ucap Szeth.


Dryer hanya terdiam sebentar mengunyah apelnya, suasana lorong ini kemudian menjadi hening sebentar.


"Hm, Nona Harlaw tidur dengan Tuan Selass dari Keluarga Veel" ,ucap Dryer sambil menelan buah apelnya.


"Hahh...." ,menghela nafas Szeth mendengarnya, "tunggu sebentar Tuan Selass?"


"Ya, Tuan Selass dari Keluarga Veel" ,ucap Dryer.


"Bagaimana om-om kaya raya itu didapat hatinya oleh Nona Harlaw?" ,ucap Szeth.


"Aku tidak tahu, dia tidur hanya itu yang kuketahui" ,ucap Dryer dengan santai sambil menaikkan kedua bahunya.


"Tidak, kau harusnya tahu. Kau dan Casca merupakan 2 mata-mata besar untuk Perrin. Dan kau satu-satunya yang dapat dijamin loyal daripada Casca" ,ucap Szeth.


"Aku tidak tahu Szeth" ,ucap Dryer dalam suara yang lebih tajam kali ini, "aku melihat kejadiannya dan memastikan orangnya tapi aku tak bisa melihat dan memastikan hatinya"


"....baiklah" ,ucap Szeth, "apa yang terjadi padamu?"


"Hah? Apa yang terjadi pada diriku?" ,ucap Dryer dengan kebingungan dengan ucapan Szeth.


"Kau banyak berubah, lebih banyak berubah daripada pahlawan lain bahkan melebihi Cleorah dan Cyrus" ,ucap Szeth sambil mengerutkan alisnya.


Lorong ini menjadi sunyi..keduanya terdiam sedangkan Szeth menatap tajam Dryer. Sedangkan Dryer sendiri...


Dryer menggeser wajahnya...gelap ruangan ini menutupi wajahnya...Szeth tak tahu kalau Dryer tersenyum atau apapun reaksi wajahnya..


"Aku berubah dengan cepat ya..." ,ucap Dryer, "..aku bahkan tak sadar kalau itu...aku hanya berubah dengan cepat. Aku rasa itu saja Szeth"


"....ya sudah" ,ucap Szeth tanpa tersenyum, "ada informasi lain?"


"Ada, tapi Perrin memerintahkannya untuk tak membagikannya" ,ucap Dryer.


"Bahkan kepada teman-temannya sendiri?" ,ucap Szeth.


"Dia itu Perrin" ,ucap Dryer dengan santai.


"Hm" ,tersenyum Szeth, "ya dia itu Perrin"


"Apa ada kau tahu rencana dia?" ,ucap Dryer.


"Hahh...sekali lagi dia itu Perrin, aku tak punya informasi sekalipun soal rencananya untuk perang ini" ,ucap Szeth.


"Jadi begitu kah....dia benar-benar merahasiakan ini" ,ucap Dryer.


Malam menjadi semakin gelap dan misterius bagaikan masa depan mereka berdua saat ini....dan hanya saat ini hanya tangan kuat Perrin yang menopang masa depan mereka..


.


.


.


.


.


.


.


____-_-___


.


.


.


.


.


.


Berjalan Vella dikamp prajurit dengan 2 bodyguardnya mendampinginya disampingnya.


Rumput tanah bisa dirasakan dikaki Vella meskipun Vella memakai sepatu hak tinggi khas Geralda.


2 bodyguard itu sangat lebih tinggi daripada Vella, membuat Vella bagaikan boneka kecil berjalan didampingi mereka berdua.


Semua prajurit,pelayan,bangsawan dan ksatria memperhatikannya selama ia lewat. Beberapa langsung menunduk memberi sopan kepada Vella.


Terutama gaun biru tua yang mewah dengan lambang keluarga Hasral digaunnya membuat banyak orang makin memperhatikannya.


*Kakakku dan aku mungkin Vehan...tapi hati kami dan almarhum ayah kami masih Hasral..* ,pikir Vella.


Bau keringat prajurit dan asap bakar makanan bisa terasa dihidung Vella selama ia berjalan dikamp pasukan ini.


Terlihat beberapa bangsawan dan tuan-tuan pemilik kastil mengobrol didepan sebuah kamp yang lebih mewah dari kamp lain.


Ratusan jumlah mereka bersama beberapa ksatria.


Bendera mahkota Geralda berkibar dikamp mewah tersebut.


*Apa yang terjadi didepan kamp kakak?* ,pikir Vella.


Ratusan bangsawan dengan tubuh besar mereka...bagaikan menara mereka bagi Vella yang bertubuh kecil.


Terlihat terjadi perkelahian antara 2 orang didepannya ditengah-tengah kamp.


Dan 2 orang itu bisa dilihat dikelilingi bangsawan lain yang penasaran.


"Pasti tulangmu terlalu penuh lemak keangkuhan, hingga kau berani menghina ayahku didepan yang mulia raja" ,ucap seorang pria...tidak bukan cuma seseorang pria..tapi anak dari Tuan Bybur bernama Jymar.


Sedangkan yang berkelahi dengannya...anak tuan Handam..Jaguar.


"Heh, banyak bicara, kenapa kita tidak berkelahi saja hah? Mari duel" ,ucap Jaguar dengan senyuman senang.


Senyuman melepaskan kebosanan, Jaguar nampak sekali menginginkan pertarungan.


Jaguar mewariskan temperamen dan sifat petarung berani Tuan Handam…


Sedangkan Jymar..mewariskan kesopanan dan rasa kehormatan milik Tuan Bybur nampaknya.


"Apakah segitu haus darahnya keluarga kalian? Mau bertarung,bertarung,dan terus bertarung?" ,ucap Jymar sambil menaikkan alis kanannya.


Dia juga mewariskan sedikit lidah tajam Tuan Bybur, meskipun aura mudanya membuat itu sedikit hilang.


"Heh, tentu saja seorang pria harus tahu bertarung daripada cuma tahu berbicara saja" ,ucap Jaguar dengan senyuman sambil melentangkan kedua tangannya.


Tapi Vella kemudian mendekat kearah mereka.


Beberapa bangsawan memerhatikannya sebagian lagi tidak.


Jaguar dan Jymar yang termasuk tidak.


*Aku harus menghentikan mereka...jika tidak Geralda akan membantai satu sama lain..sebelum ada pertempuran* ,pikir Vella.


"Ada apa ini!?" ,ucap Bodyguard Vella dengan nada kencang.


Beberapa orang langsung mengarahkan pandangan mereka kedirinya.


Beberapa terlihat terdiam.


Tapi bisa terdengar ada yang berbicara tentang dirinya...


"Hm, lihat tuan putri sudah datang"


"Apa yang dibuat perempuan dikamp prajurit?"


"Kenapa yang mulia mau membahayakan nyawa wanita kecil ini disini?"


*Tidak ini bukan salah kakak..ini salahku…..bukan salah kakak..* ,ingin berteriak Vella tapi ia tak bisa.


Vella telah menolak banyak tawaran dari kakaknya dan bangsawan untuk mengangkutnya ke sebuah kastil dan kota agar aman.


Tapi Vella memutuskan untuk disamping kakaknya selama perang tetap berjalan..


Meskipun dikamp ia tak bisa merasakan benar-benar disamping kakaknya..


"Maafkan aku yang mulia putri, tapi aku ingin segera meminta orang kasar ini untuk meminta maaf atas ketidaksopanannya ditenda yang mulia" ,ucap Tuan Jymar sambil membungkuk sopan.


*Ya..aku sudah mendengarnya..tentang perkelahian ayah kalian ditenda kakak….* ,pikir Vella.


"Heh, apakah sebegitu cerewetnya keluargamu? Sampai dihina sedikit langsung marah?" ,ucap Jaguar.


"Kau.." ,ucap Jymar dengan mengencangkan mulutnya karena marah.


*Mereka harus berhenti..* ,pikir Vella.


Vella ingin berteriak…


Ingin mengomando sama seperti kakaknya..


Tapi jantung yang berdetak kencang…


Kaki yang serasa ingin jatuh dan bergetar…menghalang mulutnya...


*Secepat Angin,Sekuat Petir,dan Setajam Pedang…*


Vella ingat ucapan ibunya.


Sekuat petir..


Sekuat petir….


Sekuat petir……


"Hahh.."


Menghela nafas Vella...


"Tuan-tuan" ,ucap Vella mencobanya dalam nada yang kecil.


"Oh! Kau mau berduel hah!? Mari! Mari!" ,ucap Jaguar.


"Dasar orang kasar!" ,ucap Jymar dengan amarah.


"Tuan-tuan!" ,ucap Vella dalam nada yang lebih kuat.


Jymar dan Jaguar langsung memandangnya.


Itu membuat Vella sedikit gugup.


"Orang Victa tengah tertawa dimeja mereka sekarang, dengan kalian orang Geralda bertarung satu sama lain" ,ucap Vella melanjutkan dengan nada kuat.


"Heh, nama orang Geralda akan rusak dengan bencong yang cuma tahu berbicara ini" ,ucap Jaguar dengan senyuman sombong sambil menunjuk ringan kearah Jymar.


"Aku bisa membawa dirimu bersama dirinya ke pendeta dewa Angin dan berlutut ditanah yang sama, agar kalian mengingat kalau kalian itu masih dari tanah dan bangsa yang sama" ,ucap Vella dengan nada yang lebih kuat.


Hal itu membuat Jaguar terdiam.


Tatapan Vella berubah menjadi kering..


*Aku harus kuat..aku Hasral dan Vehan..* ,pikir Vella.


"Ingat kalau kalian bertarung dibawah bendera kakakku demi tanah kita...demi persatuan Geralda" ,ucap Vella dengan nada yang lebih kuat.


"Takkan ada persatuan yang mulia tuan putri, jika diGerlada masih ada yang merusak kehormatan seseorang dan masih ada membiarkannya lari begitu saja" ,ucap Jymar dengan nada yang lebih sopan daripada Jaguar.


Meskipun begitu isi katanya adalah racun, jika dia tak diminta diam seperti Jaguar maka Geralda takkan makin bersatu.


"Siapa yang anda bilang 'masih ada' tuan? Yang mulia kakakku? Raja yang keluarga anda sumpah untuk layani?" ,ucap Vella dengan kuat.


Ucapan itu membuat Jymar terdiam sadar.


"Takkan ada duel untuk masalah ini tuan-tuan, maaf Tuan Jymar. Pedang anda harusnya ditajamkan untuk diayunkan kearah musuh kita Orang Victa bukan sesama Geralda" ,ucap Vella dengan nada kuat.


Tapi terlihat Jaguar hanya mendecakkan lidahnya mendengar, kesal.


Sedangkan Jymar hanya menghadap kebawah dan terdiam, tak bisa mengatakan apa-apa.


Nampaknya negosiasi dan pidato tentang persatuan tak efektif seperti yang Vella duga.


*Rasa takut...ya rasa takut...rasa takut yang digunakan kakak saat memukul Tuan Handam..* ,pikir Vella.


"Masih tak setuju? Aku bisa meminta yang mulia kakakku mengurusi ini kepada kalian. Aku yakin dia tak suka tentang ini sama seperti diriku, aku mengenalnya. Jika dia tak suka….hahh, kita akan lihat apa yang terjadi" ,ucap Vella dengan nada sedingin angin Geralda dan setajam Pedang juga sepasrah sebuah pedang tenggelam disungai.


Ucapan tentang kakak Vella membuat semua bangsawan terdiam, tak ada yang berani bicara.


Tak ada yang terlalu bodoh untuk terlihat kesal seperti tadi.


Jaguar juga ikut terdiam, lebih terdiam ratusan kali lebih diam dari yang tadi.


Dia nampaknya mengingat bagaimana ayahnya yang kuat dan tak terhentikan, bisa didiamkan hanya dengan Hasteinn yang duduk terdiam.


*Kakakku kuat...lebih kuat dari diriku hingga menyinggung dirinya bisa lebih kuat dari ratusan kali kekuatanku* ,pikir Vella menyadari hal itu.


"Bubar dan pergi ke tenda kalian masing-masing tuan-tuan, takkan ada lagi yang menyinggung soal ini" ,ucap Vella dengan dingin.


Satu persatu bangsawan kemudian pergi terdiam semuanya.


Mata Vella hanya kering dan datar menatap kedepan tanpa menatap semua bangsawan yang pergi.


Jymar kemudian pergi.


Tak lama Jaguar ikut pergi.


Semuanya kemudian bubar dan prajurit yang menyaksikan dengan penasaran juga bubar.


Menyisakan Vella dan 2 bodyguardnya…


Vella kemudian menatap bendera kakaknya...mahkota dilangit biru muda..


Apakah menyelesaikan perkelahian dengan 2 keluarga akan memenangkan perang ini? Tidak..


Vella sekali lagi ditampar kenyataan...Perang ini masih jauh dari kata selesai..


Tubrukan pedang,kertas,dan darah belum berakhir...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Suara burung laut bisa terdengar, sedangkan suara ombak laut lebih ribut. Ribuan oang-orang bisa terdengar mengangkut barang,persenjataan,tong,makanan,dan anak panah.


Bolak-balik mereka,naik kapal,turun kapal,suara langkah kaki mereka diatas papan bisa terdengar.


"Raja sudah bersiap digerbang, aku rasa kau takkan memberi ucapan selamat tinggal kepadanya" ,ucap Khajir sambil berjalan disamping Qharlan, dipelabuhan.


"Aku sudah 2 hari yang lalu" ,ucap Qharlan sambil melihat cincin pemberian kakaknya, "raja tak butuh ucapan selamat tinggalku untuk memenangkan perang ini, yang dia perlukan hanyalah pelayananku"


"Kau ketakutan kalah?" ,ucap Khajir sambil memajukan bibir hitam bagian bawahnya.


"Aku bodoh jika tidak" ,ucap Qharlan sambil mengambil jubah berwarna abu-abunya dari tangan budak Akkadia nya.


"Iya..kau benar, semuanya hilang. Kita semua mungkin akan mati, Trivistane takkan menyerah bahkan setelah ia kalah. Kita tahu raja yang kita pilih Qharlan, Trivistane takkan menyerah dalam perang ini selama ia berdiri" ,ucap Khajir sambil memberi Qharlan sebuah kantung kulit berisi sesuatu.


".....apa ini?" ,ucap Qharlan sambil mengambil kantung kulit tersebut.


" 'Belejum' " ,ucap Khajir.


Ketika dibuka terlihat daging lembut berwarna coklat keemasan didalam gelap kantung kulit tersebut.


Bau rempah-rempahnya bisa terasa dihidung Qharlan ketika ia mendekatkan kantung tersebut kewajahnya.


"Tak usah banyak berbahasa Akkadia disini Khajir, kalau orang asing manggilnya 'Ikan Manis'.......ngomong-ngomong sudah berapa lama kita tak makan ini?" ,ucap Qharlan sambil mengambil sepotong daging dari dalam kulit tersebut.


"Entah sejak kita berlayar ke tanah asing ini, kita tak makan ini lagi sekitar 5-8 bulan mungkin? Aku rindu ini, aku temukan digudang hasil jarahan pasukan bayaranku" ,ucap Khajir sambil mengambil satu lagi daging Ikan Manis dari sebuah kantung miliknya sendiri.


Qharlan kemudian memakannya, rasa manis pertama yang datang kelidahnya, kemudian rasa pedas sedikit, setelah itu baru rasa kenyal daging Ikan Manis ketika mengunyahnya.


"Makanan ini memang tak ada tandingannya dibanding roti,anggur,dan buah-buahan disini. Aku bosan makan roti dan daging sapi terus. Aku heran kenapa Cabe dan kayu manis tak ada ditanah orang asing. Makanan tak ada bau bagusnya" ,ucap Khajir sambil mengunyah Ikan Manis.


"...iya" ,ucap Qharlan sambil ikut mengunyah Ikan Manis.


Berdiri mereka berdua melihat matahari tenggelam kedalam laut dengan burung-burung terbang didepannya.


Suara ombak laut menghantam pasir pantai bisa terdengar ditelinga mereka.


"Kalau salah satu dari kita mati, apa yang akan dilakukan salah satu dari kita lagi yang masih hidup Qharlan?" ,ucap Khajir.


"Bertarung sampai akhir disamping Raja Trivistane hingga Raja Trivistane sendiri mati, kalau Trivistane punya anak maka bertarung disamping anaknya" ,ucap Qharlan dengan melihat kearah Khajir sambil mengerutkan alisnya.


"Tentu saja" ,ucap Khajir dengan tersenyum sambil menunjukkan gigi kekuningannya yang penuh daging Ikan Manis, "aku akan lakukan itu, demi kakak perempuanmu yang manis"


*Bahkan ketika dia mati...Khajir masih belum bisa menghilangkan bayang-bayangnya nampaknya..* ,pikir Qharlan.


"Aku akan pergi nanti malam, palingan 6 hari kalau kutebak aku akan sampai ditujuanku" ,ucap Qharlan sambil menolehkan kepalanya kearah bendera kapalnya yang mengarah kearah timur.


"Aku sendiri akan pergi lusa, untuk ng*ntot orang negara pelacur putih ini" ,ucap Khajir sambil tersenyum dengan bibir hitamnya, "hehehehah"


Qharlan hanya tersenyum.


Ia mewajari ucapan Khajir....kemudian Qharlan kembali melihat kearah laut.


Meskipun ditanah asing, ketika Qharlan melihat kearah laut saja memberi nya banyak pengingat kenangan waktu ia hidup bersama kakaknya dan Khajir.


Mereka bertiga sering bermain bersama, Qharlan rindu waktu-waktu sederhana itu...dimana mereka hanya tahu bermain,berenang,mengumpulkan kulit kerang,memancing ikan,dan mendengarkan legenda tentang negara asing diutara bernama Strantos.


Katanya orang Strantos banyak makan roti bukan nasi, dan katanya mereka memiliki wanita putih yang lebih cantik daripada kampung halamannya.


Qharlan ingat hal itu, mendengarkannya legenda dari nenek Oma yang tinggal diujung pantai.


Qharlan ingat berlomba mencari kerang bersama Khajir untuk membuatkan kakaknya kalung dari kulit kerang terbaik


Kakaknya yang menjadi juri, tapi kakaknya tidak ada mau perkelahian jadi kakaknya memilih kalau Khajir dan Qharlan berdua adalah pemenang.


Qharlan ingat Khajir sangat bekerja keras jadi kecewa, bahkan merajuk dan pulang kerumahnya.


Tapi keesokan harinya Khajir berbaikan dengan kakaknya dengan cepat dan mudahnya. Kakaknya hanya tinggal mengelus rambut Khajir.


Meskipun sudah tua mereka berdua masih mengingat banyak hal...dan melupakan banyak hal..


*Andai saja kakak disini....apa yang akan dikatakannya melihat aku dan Khajir akan berperang dinegara asing demi memahkotai anaknya* ,pikir Qharlan.


"Mari kita ng*ntot negara orang asing bencong ini" ,ucap Qharlan.


.


.


.


.


.


.


.


.


______-_-_____


.


.


.


.


.


.


.


.


Charla membuka matanya...


Dihadapannya terbentang ruangan kecil berdinding kayu dengan sebuah lentera lilin meneranginya.


Angin malam bisa terasa dikulit Charla, menggelitik kulitnya saat malam.


Namun dia merasakan sesuatu menyentuh sesuatu...


Charla kemudian menggeser kepalanya dan bisa dirasakan tubuh Hanno berada disampingnya.


Bisa dilihat wajah Hanno yang hampir seperti mayat dan pucat, tapi tak begitu pucat untuk benar-benar seperti mayat.


Nafas ringannya bisa terdengar.


"Hm" ,tersenyum Charla.


Charla mengingat tadi malam, Hanno menginginkan agar tidur dilantai. Tapi Charla tidak menginginkannya, Charla tidak sebegitu menginginkan Hanno bersikap bagaikan anjing peliharaannya.


Lagipula Charla sudah terbiasa seperti ini, terutama ketika Perang Tyronia. Berbaring dikamp pasukan terluka bersama ratusan pria terluka yang kehilangan bagian tubuh lainnya.


Berbaring satu pria bagi Charla bukan suatu yang masalah baginya.


Tangan Charla kemudian menggeser selimut agar bangun dari kasurnya.


Rasa lembut kain selimut bisa terasa ditangan dan tubuhnya, meskipun Charla memakai pakaian dengan beberapa armour rantai dibagian celananya.


Charla kemudian turun dari Kasurnya.


Kerasnya lantai kayu bisa terasa dikakinya, langkah kakinya bisa terdengar menekan lantai kayu dibawahnya.


Berjalan Charla kearah pintu dan keluar dari ruangan ini.


*Tuk*


Lorong ruangan menjadi lebih dingin dari biasanya terutama malam begini, angin malam bisa terasa menggelitik Charla lewat sela-sela pakaiannya.


Tangga menuju lantai bawah bisa terlihat dengan mata Charla terutama agak malam begini, kadang malam dapat membuat Charla melihat lebih baik.


Mata Charla kadang merasa sakit ketika melihat cahaya secara tiba-tiba, sangat sakit kadang itu membuat Charla tak bisa melihat untuk sementara.


Tabib keluarganya bilang kalau Charla memang memiliki keadaan begitu karena matanya.


"N-nona...apa ada yang perlu saya b-bantu?" ,ucap salah satu pelayan dengan sapu ditangannya yang terlihat berjaga ditengah malam begini.


Bar menjadi lebih sepi ditengah malam dan penginapan kehilangan semua suaranya.


"Apa boleh aku beli peta?" ,ucap Charla dengan senyuman agar membuat pelayan itu agak sedikit nyaman.


*Dia ketakutan dengan mataku dan rambutku* ,pikir Charla menyadari sesuatu.


"Ba-baik nona, tunggu sebentar" ,ucap pelayan itu sambil menaruh sapu tersebut didinding.


Terlihat pelayan itu berjalan kearah belakang bar ini.


Bar menjadi sepi dan Charla kemudian berdiri merenung memikirkan apa yang akan kedepan.


Jalanan akan cukup berbahaya buat kedepan, Charla saja diserang oleh 4 bandit beberapa hari yang lalu.


Bagaimana hal yang sama terjadi dengan dirinya dan Hanno lagi? Meskipun mereka berdua bisa bertarung, bukan berarti mereka bisa melawan puluhan bandit sekaligus.


...Hanno? Bagaimana Hanno? Hanno punya kontrol tapi tidak dengan kekuatan, Hanno punya kekuatan tapi tak sekuat kebanyakan orang yang berpengalaman diperkelahian.


Tapi apakah itu benar? Apakah Hanno punya kekuatan yang seperti ditebakan Charla.


"Nona" ,ucap Pelayan dengan gugup mendekati Charla, "ini peta nya"


Pelayan itu kemudian memberi Charla, sebuah kertas dengan gambar Benua Strantos kedirinya.


Terlihat petanya berwarna jingga, dan ketika Charla menyentuhnya bisa dirasakan tekstur kertasnya yang keras.


Charla bisa mencium peta ini memiliki bau buku yang khas.


*Bau kertas dari Pulau Suci Cyronia* ,pikir Charla sambil melihat peta itu.


"Peta dari gambaran Kelenn 'Si Pembaca' " ,ucap Charla menyadari sesuatu ketika melihat peta itu.


Kelenn 'Si Pembaca' tidak berasal dari Victa melainkan dari Dalmatia dan hanya menggambar Victa berdasarkan gambar dari pendahulunya, jadi Victa bisa dibilang tak cukup akurat dengan peta ini.


Yang paling akurat hanya gambarannya soal Dalmatia.


"Apa ada peta gambaran Gelenn 'Sang Pelukis'?" ,ucap Charla sambil menyerahkan kembali peta itu.


Gelenn 'Sang Pelukis' adalah salah satu penggambar peta yang paling akurat, gambarannya berasal dari gambaran temannya yang dahulu bertualang keseluruh Strantos dan dunia.


Bukan cuma itu Gelenn berasal dari Victa dan menggambar peta dan wilayah Victa dari kumpulan gambaran peta adsministrasi diseluruh Strantos.


"Ada nona….tapi..takutnya lama.." ,ucap Pelayan itu dengan gugup.


"Tak apa, nanti pagi saja bisa kau berikan peta itu" ,ucap Charla sambil tersenyum.


*Toh, tak apa, aku masih punya banyak waktu…* ,pikir Charla.


"Baik nona, nanti pagi...nanti pagi akan ada temanku yang akan bawakan anda petanya" ,ucap pelayan itu.


"Ya, baiklah sampai jumpa, aku mau kembali kekamar ku dulu ya?" ,ucap Charla dengan ramah.


*Aku mau melihat Hanno kembali..* ,pikir Charla sambil berbalik dan berjalan kembali kekamarnya.


Charla tak bisa berhenti memikirkan siapa Hanno sebenarnya, seperti ada sebuah instink yang bilang kalau semua tebakan Charla tentang Hanno adalah salah.


Kekuatan,kecepatan,kelincahan,kontrol,kepintaran,postur,pengetahuan,dan masa lalu….semuanya berubah setiap saat….tak ada yang Charla bisa tebak dari Hanno...setiap Charla menebak Hanno itupun berubah..


*Trek*


Pintu kayu terbuka..dan terlihat Hanno berbaring diatas kasur….


Cahaya lilin bisa dilihat hanyalah satu-satunya yang menerangi kamar ini...


Wajah Hanno terlihat cukup gelap dan tidak bisa dilihat.


*Tuk*


Charla menutup pintu kembali...dan berjalan kearah Hanno…


Papan lantai bisa dirasakan kembali ditelapak kaki Charla selama ia melangkah kearah Hanno..


Berdiri Charla didepan Hanno yang sedang tidur...


Charla kemudian menatap Hanno cukup lama..


Charla kemudian membuka sarung tangannya...dan menyentuh pipi Hanno..


*Keras...mulus..sekaligus ada lembutnya juga..* ,pikir Charla.


Rambut tebal Hanno kemudian bersentuhan dengan jari Charla…


Hanno tidur...benar-benar tidak mirip seperti Vespasian..tidak seperti yang Charla bayangkan…..


Vespasian sudah lama tak pernah tertidur, tapi Charla sangat mengingat bagaimana Vespasian tertidur.


Tapi apa perbedannya? Entahlah...tapi Charla bisa merasakan perbedaannya....


*Apakah aku salah menduga kalau kau anak haram dari Vespasian?* ,pikir Charla sambil merasakan rambut Hanno.


Rambut Hanno pun berbeda..berwarna hitam dan tak sekasar Vespasian…


*Siapa dia?...* ,pikir Charla dengan penuh pernyataan…


Tangan Charla kemudian menggeser kearah hidung Hanno yang bisa dirasakan tulang kuatnya..


Nafas Hanno bisa terdengar oleh Charla..


Bibir Hanno yang lembut selanjutnya disentuh oleh Charla….


Bibir Hanno berwarna merah muda dengan campuran merah dan coklat…


"Hehehe" ,tertawa Charla sebentar..


Tapi kemudian Charla tak bisa menahannya…


"Hehhehehe" ,tertawa Charla terus.


Charla tak bisa menahan paru-parunya untuk terus tertawa…


"Hehehahahaha" ,tertawa terus dia…


*Apa yang kupikirkan ditengah malam begini?* ,pikir Charla dengan tawa cekikikan.


"Hahahahahahhahehehhahahahhaha!" ,tertawa Charla lebih keras.


*Astaga bodohnya aku? Menyentuh wajah anak muda tengah malam begini* ,pikir Charla.


"HAHAHHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHHAHAHAHAHAHHA!" ,ucap Charla tertawa cekikikan sangat kuat hingga ruangan ini dipenuhi oleh tawanya.


Charla tertawa terlalu kuat hingga dirinya mulai memegang perutnya karena kesakitan.


"Astaga...dasar kau nak..kau terlalu misterius sampai buat aku melakukan hal aneh ditengah malam...hehaha" ,ucap Charla sambil terus tertawa cekikikan.


*Kau adalah Hanno...tetap Hanno..kita melakukan sumpah sakral dihutan itu….hanya keluarga,dewa,dan kematian yang dapat memutuskan kita Hanno..* ,pikir Charla dengan senyuman memandang Hanno.


Charla merasakan sesuatu, serasa perasaan peduli dan keinginan untuk melindunginya…


Tapi kenapa?


*Anak ini akan kuubah...dia masih putih dengan bercak hitam ditengah-tengahnya....tapi sisanya tinggal aku saja yang mengubahnya jadi lebih indah..* ,pikir Charla sambil tersenyum.


Kenapa?


Entahlah....


*Apakah mungkin dewa,keluarga,dan kematian akan memutuskan kita? Aku tidak tahu...atau mungkin ada sesuatu yang akan memutuskan kita?* ,pikir Charla sambil menyentuh pipi Hanno yang lembut dan pucat.


Mata Charla berkilau redup dikegelapan, dengan warna ungu dan merah bercampur bagaikan berlian….warna matanya menjadi lebih hangat dan indah malam ini..