Hannoic War

Hannoic War
Potongan Dua (part 23)



"Ada kambing dengan tanduk besar diantara kumpulan para domba dan kambing tersebut bisa membunuhmu"


-Lem Lemoncloak


Potongan Dua


*Tik*Tik*Tik*Tik*


Suara tetesan air jatuh kebawah terdengar.


Gelap dan busuk, itulah yang hanya bisa dijelaskan Hasteinn untuk lorong masuk rahasia dibawah kastilnya.


*Busssshhh*Basssh*


Langkah kaki Hasteinn terasa berat disini karena air meneggelami kakinya. Hujan turun lebih sering akhir-akhir membuat air membanjiri lorong bawah tanah ini.


"Ah sial beberapa makanan yang kubawa dari tenggelam tadi dibelakang" ,ucap Glent yang mengangkat tasnya yang terlihat basah.


"Buang aja makanannya, simpan tasnya" ,ucap Hasteinn sambil memegang lentera ditangannya untuk penerangan.


"Masalahnya susah sialan untuk membuang makanannya sekarang, karena satu tanganku lagi bawa lentera sedangkan yang satu bawa tas basah ini" ,ucap Glent.


"Gigit bagian pegangan besi lenteranya bodoh" ,ucap Hasteinn.


"Oh iya" ,ucap Glent langsung menggigit pegangan lenteranya dan membuang makanan basah dari tasnya.


Mereka berdua kemudian terus melanjutkan jalan mereka dibawah ruangan bawah tanah ini.


Hasteinn dan Glent lah yang menemukan jalan bawah tanah ini. Jalan ini merupakan jalan pembuangan buang kotoran beberapa puluhan tahun yang lalu, tapi kemudian pembuangan bawah tanah yang baru dibangun. Membuat jalan bawah tanah ini terdampar dan dilupakan.


Tapi ketika mereka berdua masih kecil Hasteinn dan Glent ketika bermain dikastil ini, mereka berdua menemukan sebuah lubang dan masuk kedalamnya.


Hasteinn ingat saat ia tak menemukan Glent saat main petak umpat saat mereka masih kecil. Ternyata Glent bersembunyi dilubang bawah tanah ini.


Mereka kemudian menjadikan tempat ini sebagai tempat penyelinapan mereka untuk keluar dan masuk dari kastil ini.


"Ah cahaya sudah muncul" ,ucap Hasteinn.


Kemudian cahaya dari luar terlihat.


Didepan mereka berdua tertampang sebuah lubang yang terhubung dari bawah tanah untuk naik keatas kastil.


Lubang ini hanya kosong tanpa tangga ataupun alat yang bisa mereka panjat. Tapi ada cara yang mereka bisa pakai untuk naik keatas.


*Tuk*Tuk*Tuk*


Hasteinn kemudian mengetuk dinding ruangan ini.


*Tuk*Tuk*Tuk*Tuk*


Ketuk lagi Hasteinn beberapa kali.


Suara langkah kaki seseorang terdengar dan kepala seseorang pria muncul.


"Tu-tuanku" ,ucap pria tersebut.


"Talinya" ,ucap Hasteinn.


Kemudian pria tersebut memasukkan tali yang panjang kelubang tersebut.


Pegang Hasteinn kemudian tali tersebut dan memanjatnnya.


Hasteinn kemudian dengan memanjat tali tersebut.


*Tak*Tak*Tak*


Panjat Hasteinn dengan kakinya mengenai dinding lubang tersebut selagi ia memanjat.


Hasteinn kemudian menggigit pegangan lenteranya dan berhasil naik keatas lubang.


Satu lagi ruangan terlupakan dikastilnya terlihat. Itu karena jalur pembuangan yang terlupakan ini terhubung dengan bagian gudang dikastilnya yang juga ikut terlupakan.


Gelap dan berdebu serta terlupakan, sekali lagi hanya itu yang bisa Hasteinn jelaskan untuk ruangan yang ia lihat ketika keluar dari lubang.


Beberapa kotak barang terlihat, tapi nampak sangat berdebu dan tua sekali. Ada keramik tapi sudah pecah dengan jaring laba-laba mengelilinginya.


Mitos mengelilingi ruangan yang terlupakan ini. Mulai dari konon katanya bayi orang Geralda dikubur hidup-hidup disini ketika Victa menaklukkan Geralda, hingga seorang anak perempuan bangsawan Geralda diperkosa pasukan Victa ditempat ini.


Dan arwah bayi-bayi maupun arwah anak perempuan bangsawan tersebut masih belum tenang kemudian bergentayangan ditempat ini.


Hasteinn sendiri merupakan orang Geralda, tapi tak terlalu peduli terhadap mitos tersebut.


Meskipun begitu 'disetiap kebohongan dan mitos kadang terdapat benang kebenaran didalamnya'.


Orang Victa memang diketahui melakukan ratusan kejahatan dan kekejaman ketika menaklukkan Geralda, ratusan legenda dan cerita ditulis untuk tak melupakannya. Sebagian asli dan sebagian lagi palsu kata ayahnya.


*Takk*Tukk*Tukk*


Kelihatan giliran Glent memanjat dan dengan cepat ia berhasil naik juga.


"Kenapa kau gunakan tali yang didapur Geoff?" ,ucap Hasteinn bertanya kepada pria disebelahnya yang membantu mereka berdua.


Geoff namanya, dia merupakan pelayan yang merawat bagian ruangan kastil yang terlupakan ini selama bertahun-tahun.


"Ma-maafkan aku tuanku, tali yang digudang sudah hilang" ,ucap Geoff.


"Sudah hilang?" ,ucap Hasteinn.


"Sudahlah nanti kita bisa beli tali yang baru, yang penting kau juga cepat naik kekastil dan ganti baju" ,ucap Glent yang muncul dari lubang bawah tanah tersebut.


"Iya, kau juga harus cepat. Jangan sampai ditangkap ayahku" ,ucap Hasteinn.


"Dia boleh coba tangkap diriku maka dia takkan punya kaki lagi" ,ucap Glent tersenyum.


Hasteinn kemudian ikut tersenyum dan berjalan keluar dari ruangan tua ini.


Mereka berdua kemudian berpisah diruangan terlupakan tersebut.


Sedangkan pelayannya Geoff mengikuti Hasteinn dibelakang.


Hasteinn berjalan dilorong gelap dan berdebu


Hasteinn kemudian keluar dari gudang terlupakan tersebut lewat pintu kayu tua.


Didepannya terlihat lapangan didalam kastil keluarganya yang ia punya ratusan kenangan masa kecil disana.


Tapi lapangan kastil ini tidak kosong ia melihat beberapa prajurit serta pelayan mondar-mandir seperti menyiapkan sesuatu.


"Apa yang terjadi Geoff?" ,tanya Hasteinn kepada Geoff.


"Ada pesta pertemuan bangsawan diseluruh Geralda untuk beberapa hari lagi tuanku" ,ucap Geoff.


"Ohhh...ada pertemuan.." ,ucap Hasteinn.


*Glent pasti menyukainya, dia suka melihat wanita bangsawan yang datang kepesta dan pelacur cantik...Dia menyukai pesta dan minuman serta makanan didalamnya* ,pikir Hasteinn sambil tersenyum memikirkan bagaimana senangnya Hasteinn mendengar hal ini.


Hasteinn memikirkan dimana Glent saat ini. Biasanya Glent saat ini pergi tidur didekat kandang kuda dimana ia dan ayahnya biasanya tidur.


Hasteinn kemudian masuk kekastil dengan cepat. Ia menaiki tangga dan berjalan melewati dinding kastil yang gelap.


Beberapa prajurit ia lewati dan beberapa menunduk sopan ketika melihatnya mereka sudah tahu kalau ia menyelinap keluar. Semua prajurit tersebut bekerja sama dengan Hasteinn.


Sudah Hasteinn atur jadwal pengawasan beberapa prajurit dikastil ini untuk membantu penyelinapan masuknya dan keluarnya ia dari kastil ini.


Hasteinn biasanya keluar untuk melihat keadaan diluar kastilnya dan melihat bagaimana keadaan orang-orang yang akan dia pimpin sebagai adipati, bukan cuma untuk bermain-main.


Dia mendapat banyak pengalaman saat ini karena sering menyelinap keluar kastil. Tahu soal bagaimana rumor serta kabar angin bekerja dan pendapat orang-orang soal keluarganya.


*Kamar mandi..* ,ucap Hasteinn.


Dirinya berjalan dilorong istana melihat sebuah pintu tempat dimana ia biasanya mengganti bajunya setelah keluar dari kastilnya.


Masuk Hasteinn kekamar mandi dan segera mengganti pakaiannya.


Sedangkan Geoff menunggu didepan toilet.


*Hari ini aku harap ayahku tidur dikasurnya seperti biasa, atau mengurusi beberapa urusannya sebagai Adipati* ,pikir Hasteinn dalam kamar mandi.


Ia kemudian mengambil pakaiannya yang ia taruh disela-sela tempat kain dikamar mandi.


Ia kemudian dengan cepat memakai pakaiannya.


*Nampaknya pakaianku tak hilang seperti tali, apakah ayah sudah tahu kalau aku sering keluar seperti ini?* ,pikir Hasteinn yang sedikit takut.


Sebentar pikiran Hasteinn dipenuhi rasa takut, rasa takut kalau ayahnya sudah mengetahui bahwa ia keluar dari kastil ini. Rasa takut kalau ayahnya menggantung Glent dan Geoff serta ratusan bawahannya yang lain membantu dirinya keluar dari kastil.


Kemudian suara langkah kaki terdengar dari luar pintu, seseorang mendekat kekamar mandi.


*Tak*Tak*Tak*Tak*Tak*


Seorang prajurit dengan armour melangkah mendekat kedepan pintu toilet, dimana Geoff berdiri.


"Oh Geoff? Lagi apa?" ,tanya prajurit tersebut.


"A-aku sedang menunggu tuan ditoilet" ,ucap Geoff terbata-bata sedikit canggung.


"Ahhh...dia menyelinap keluar lagi dari kastil lagi....ya, sekarang sudah bahaya sih kalau dia ketahuan dari tuan Kyrah" ,ucap prajurit tersebut, "Ah maafkan aku, aku pergi dulu ya" ,ucapnya sambil melangkah pergi.


"Ah i-iya" ,ucap Geoff.


Prajurit tersebut kemudian melangkah pergi.


Waktu berjalan dan malam mulai menjadi lebih gelap. Pelayan sudah memasang ratusan lilin dan obor dimana-mana.


Beberapa menit kemudian Hasteinn keluar.


*Trreekkkkttt*


Suara pintu dibuka terdengar.


Hasral keluar dari toilet dengan pakaian yang lebih rapi dan mewah.


Pakaian mewah dia pakai dengan corak sedikit coklat dan putih.


"Nampaknya ada beberapa bagian yang basah tapi nampaknya baik-baik saja" ,ucap Hasteinn sambil melihat-lihat pakaian yang ia pakai ditubuhnya, "ayo Geoff."


"Y-ya tuanku" ,ucap Geoff.


Mereka berjalan dilorong dan Hasteinn disapa beberapa prajurit serta bawahan keluarganya.


Juga nampaknya beberapa tamu dari keluarga lain yang ayahnya sambut dikastilnya. Beberapa bangsawan terlihat berkeliling dan mengobrol disini.


Ada beberapa perempuan bangsawan yang mengobrol tentang pria tampan dan legenda.


Pria minum bir dan mengobrol dengan candaan.


Ia kemudian menaiki tangga dan melihat pintu kamar adik perempuannya.


Nampak pintu kamar adiknya ditutup rapat dengan tanda didepan pintunya.


"Ah..Kiara nampaknya mengunci dirinya lagi.." ,ucap Hasteinn tersenyum dan terus berjalan.


Tak lama kemudian ia sampai didepan kamarnya. Tak jauh dari kamar adik perempuannya.


"Geoff sampai jumpa besok pagi" ,ucap Hasteinn.


"Ya, tuan" ,ucap Geoff kemudian mundur dan pergi dari Hasteinn.


Hasteinn kemudian membuka gembok pintu kamarnya dengan kunci.


*Trreekkkkkttttt*


Suara pintu terbuka bergeser terdengar.


Kemudian ia melihat pria tua yang hanya mempunyai satu kaki duduk dikursi dikamarnya.


Rambutnya bercampur warna hitam dan warna putih uban.


Terlihat terdapat bekas luka diwajah tuanya.


Sedangkan ia memiliki tubuh tua tapi otot-otot dipaha dan ditangannya sangat kuat.


Tangannya bahkan memiliki banyak bekas luka.


"Selamat pulang kerumah" ,ucap Pria tua tersebut tanpa tersenyum dan dengan suara yang berat.


"A-ayah?" ,ucap Hasteinn dengan terkejut dan memikirkan apa yang terjadi.


.


.


.


___-_-___


.


.


.


"Wah, muridku benar~!" ,ucap Jean dengan nada penuh kebahagian.


Sedangkan Hanno hanya diam dan sambil membuka satu persatu lembaran buku tebal.


Didalam ruangan sebuah penginapan mereka duduk.


Penginapan yang dimiliki keluarga Ohara dikota ini dan nampak hanya mereka berempat dilantai ini.


Hanno duduk didekat meja besar dengan puluhan buku tebal menumpuk disampingnya.


Jean tersenyum dan terlihat sangat cerah seperti biasanya.


Charla duduk diujung ruangan sambil meminum segelas kantung air.


Ayah Filda duduk berada cukup dekatnya dengannya.


Ayah Filda dan Charla kemudian memandang satu sama lain.


Meratapi kenapa mereka ada disini.


Ayah Filda kemudian mengalihkan pandangannya kejendela.


"Kau takut bangsawan, nampaknya kau punya trauma atau ketakutan" ,ucap Charla.


"Aku tidak takut bangsawan..." ,ucap Ayah Filda.


"Terus kenapa kau mencoba lari dari kami tadi?" ,ucap Charla.


"Aku cuma takut akan apa yang bangsawan lakukan kepada kami" ,ucap Ayah Filda.


"Ya, kau benar, kau cuma takut apa yang akan dilakukan bangsawan kepada keluargamu semua orang kelas bawah begitu. Kau terlihat sangat santai dan kasar kepada kakakku yang berasal dari keluarga kecil" ,ucap Charla.


"Keluarga Berrau...mereka awalnya bukan bangsawan, cuma tukang besi yang kemudian dihadiahi tanah karena membuat pedang bagus untuk seorang raja" ,ucap Ayah Filda menghina dengan santai.


"Ya...kita semua tidak mementingkan kita semua berasal dari mana, kami keluarga Ohara sendiri mengaku keturunan dewa alam" ,ucap Charla sambil mengambil sekantung gelas air dimeja.


"Keturunan dewa? Heh, jika kau keturunan dewa maka kau sudah abadi dan melempar kekuatan sihir kemana-mana" ,ucap Ayah Filda dengan kasar.


"Ya....mungkin legenda itu tidak benar" ,ucap Charla mengakui.


Kemudian Ayah Filda menoleh ke Jean. Tapi kemudian Jean memperhatikan dan menoleh kembali kepada Ayah Filda.


"Kenapa paman~?" ,ucap Jean dengan nada cerianya.


Ayah Filda kemudian membalasnya dengan wajah yang merasa jijik.


"Jangan membosankan begitu deh paman~" ,ucap Jean dengan nada ceria dan dengan cepat Jean kembali ke Hanno.


"Kau nampak tidak nyaman dengan para wanita" ,ucap Charla sambil meminum air.


"Wanita yang aku hanya nyaman lihat adalah istriku" ,ucap Ayah Filda.


"Kalau anak perempuanmu?" ,tanya Charla.


"Kalau anak perempuanku, aku sudah jijik melihatnya sejak ia berubah menjadi fanatik aneh. Tapi terkadang aku bisa melihatnya tanpa rasa jijik jika aku membayangkan dirinya yang masih imut saat dirinya masih kecil" ,ucap Ayah Filda.


"Ya terkadang jika orang terdekat kita tumbuh menjadi sesuatu yang kita tak sukai, kita bahkan mulai jijik melihat mereka" ,ucap Charla.


"Kurasa kau sudah merasakannya juga.." ,ucap Ayah Filda.


"Ya, aku sudah merasakannya juga, bagaimana orang yang aku sayang berubah menjadi sesuatu yang aku tak sukai..." ,ucap Charla sambil meminum air sekali lagi dari kantung.


"Ngomong-ngomong darimana kau tahu anak perempuanku?" ,ucap Ayah Filda.


"Dari kakakku" ,ucap Charla.


"Wanita sialan" ,ucap Ayah Filda.


"Tenang saja paman, aku takkan melakukan apapun pada keluargamu, aku tak menyukai menyakiti petani atau orang tak bersalah" ,ucap Charla.


"Aku sudah dengar itu dari ratusan kali dari wajah para bangsawan yang terakhir kali aku temui, tapi apa? Banyak dari memancang beberapa petani didinding kastil mereka" ,ucap Ayah Filda.


"Apa ada bangsawan dimasa lalu yang menyakiti keluargamu?" ,ucap Charla dengan sedikit penasaran.


"Kau pikir aku mau menceritakan masa laluku disini? Didepan kalian semua, bangsawan-bangsawan bangs*t" ,ucap Ayah Filda dengan kasar.


"Hanno bukan bangsawan" ,ucap Charla dengan tenang, "sejauh yang kakakku dan aku ketahui, tapi dilihat dari kulitnya dan penampilan fisiknya ia benar-benar seperti bangsawan"


"Tetap saja itu tak mengubah pikiranku" ,ucap Ayah Filda menyengir.


"Ayo ceritakan~" ,ucap Jean yang tiba-tiba duduk didekat Ayah Filda.


Ayah Filda maupun Charla bahkan tak mendengar bagaimana ia bergerak.


"Cerita! Cerita! Cerita!" ,ucap Jean dengan sorak-sorak sambil menepukkan tangannya.


Jean tersenyum sangat bahagia didepan Ayah Filda.


"Ayo paman! Cerita! Cerita! Cerita!" ,ucap Jean dengan sorak-sorak yang lebih semangat.


Ayah Filda kemudian menoleh keHanno.


Ayah Filda kemudian melihat keHanno dengan wajah isyarat, *Ayo bantu aku Hanno, tolong jauh guru sialanmu ini dari diriku*


"Filda bilang; kalau paman biasanya lebih bersemangat dalam bercerita jika meminum anggur" ,ucap Hanno dengan dingin dan tenang.


*Anak sialan!* ,pikir Ayah Filda dalam hatinya.


"Mm?" ,Jean kemudian menyuguhkan kepada Ayah Filda sekantung air berisi anggur.


Ia kemudian tersenyum sambil menyuguhkan anggur kepada Ayah Filda.


"Iya! Iya! Aku cerita sialan!" ,ucap Ayah Filda sambil mengambil sekantung anggur tersebut.


Kemudian meneguk beberapa tetes anggur.


Ayah Filda terlihat meneguk banyak air anggur dan terus meneguk dengan cukup lama.


Dan tanpa sadar kantung berisi anggur tersebut hanya tersisa setengah isinya.


*Aku sudah melupakan sedikit rasa sakit kehilangan istriku, jika aku menceritakannya juga aku tak terlalu masalah, meskipun ada rasa sakit dan sedih tersisa, tapi semua itu tak masalah* ,pikir Ayah Filda dalam hatinya.


"Jadi bagaimana aku mulai?" ,ucap Ayah Filda setelah meneguk air anggur tersebut, "ah...iya...Kota Jeramarr"


"Kota Jeramarr?" ,ucap Charla yang kemudian menjadi lebih serius dan penasaran mendengar cerita Ayah Filda.


"Ya Kota Jeramarr, aku bersama Ibu Filda berencana untuk mengunjungi pembeli barang-barang kami diKota Jeramarr, saat itu Filda hanya umur 4 tahun dan kami menitipkannya keteman istriku yang bisa kami percaya" ,ucap Ayah Filda.


"Kota Jeramarr....kota itu sudah hancur sejak 9 tahun yang lalu.." ,ucap Charla.


"Ya..dihancurkan dan dijarah habis-habisan oleh Dwarf" ,ucap Jean.


Hanno kemudian memutuskan untuk ikut pembicaraan ,"jika Filda umurnya saat itu 4 tahun maka-"


"Ya itu sekitar 11 tahun yang lalu tapi aku ingat banyak...sekitar 4 tahun sebelum kota Jeramarr dihancurkan" ,ucap Ayah Filda memotong ucapan Hanno.


Kemudian Ayah Filda meneguk kembali banyak air anggur.


"Lanjutkan" ,ucap Charla.


"Ahh...sabar aku sedang minum" ,ucap Ayah Filda sambil menjilat beberapa tetes air dibibirnya, "ketika kami disana, kami berhasil menjual barang-barang kami dan ribuan koin kami dapatkan dan saat itu kami berdua benar-benar bersenang-senang memikirkan masa depan tanpa kesulitan"


"Tapi kemudian saat kami pulang, kami bertemu gelandangan dan Ibu Filda berencana menyumbang sejumlah uangnya....tapi itu ternyata bencana.." ,ucap Ayah Filda melanjutkan dan berbicara dengan nadanya yang sedikit berat.


Kemudian ia meneguk air anggur dengan cepat hingga sekantung air anggur tersebut langsung habis dalam beberapa tegukan.


"Bisa aku minta lagi?" ,ucap Ayah Filda meminta.


"Nih" ,ucap Jean memberinya sekantung air anggur untuknya, "ini anggur yang terakhir."


"Bagus..." ,ucap Ayah Filda sambil kembali meneguk air anggur lagi.


"Gelandangan itu ternyata ada urusan berat dengan salah satu bangsawan keluarga besar" ,ucap Ayah Filda.


"Bangsawan keluarga besar? Keluarga besar yang mana? Regard? Garius? Basileus? Betarrus? Atau keluargaku Ohara?" ,ucap Charla.


"Betarrus dan bawahannya...kalau nama keluarga bawahannya aku tak ingat......tapi yang penting Ibu Filda mencoba ikut campur dan melindungi gelandangan tersebut" ,ucap Ayah Filda.


"Aku mencoba menariknya tapi Ibu Filda terus melawan bangsawan bahkan menghinanya dan juga ksatria bawahannya" ,ucap Ayah Filda melanjutkan.


"Itu adalah sebuah kesalahan, harusnya aku menariknya lebih keras, kemudian peganganku lepas. Dia tanpa sengaja mendorong bangsawan besar tersebut hingga jatuh ketanah..." ,ucap Ayah Filda menatap kelantai dengan mata yang kosong tanpa emosi.


Kemudian Ayah Filda terdiam panjang.


"Apa yang terjadi selanjutnya?" ,tanya Charla.


Ayah Filda menoleh keCharla dengan matanya yang kosong. Matanya seperti tak beremosi dan kosong.


"Ksatria bodyguard bangsawan tersebut reflek memotong Ibu Filda menjadi dua dan semua orang disekitar itu melihat itu. Ibu Filda cuma mendorong bangsawan Betarrus tersebut dan tak terlalu menyakitinya, tapi tak ada yang membela bahkan rakyat biasa ataupun petani disekitarku" ,ucap Ayah Filda.


"Semua orang terlalu takut dan tak terlalu peduli pada kami, tak ada yang mau ikut campur. Pada akhirnya bangsawan tersebut pulang begitu juga dengan ksatria membawanya gelandangan tersebut...sedangkan aku sendiri selamat dengan uang-uangku" ,ucap Ayah Filda melanjutkan.


"Dan kau pulang dengan selamat....dengan uangmu...tapi dimana uang-uang itu? Dan bagaimana kau menghabiskan uang tersebut? Harusnya kau bisa bangun rumah lebih besar dengan uang itu bukan?" ,ucap Jean penasaran.


"Aku...aku mencoba menyewa penyihir untuk membangkitkan Ibu Filda kembali dari kematiannya, tapi ternyata mereka cuma penipu dan banyak koin yang sudah kuhabiskan....aku benar-benar bodoh bagaimana aku percaya orang mati bisa hidup kembali.." ,ucap Ayah Filda yang kemudian wajahnya menjadi kelam.


Sementara Ayah Filda terus terdiam, seluruh ruangan ini juga ikut terdiam.


Jean,Charla,dan Hanno diam tanpa mengatakan apa-apa.


Rasa sedih karena kehilangan seseorang tak bisa menghilang oleh kata-kata orang lain.


Seseorang kemudian berdiri.


*Trekk*


Suara kursi bergeser terdengar.


Bukan Ayah Filda,Charla,ataupun Jean yang berdiri tapi Hanno yang berdiri.


"Jean, bisa kau temani aku? Aku mau beli sesuatu dipasar" ,ucap Hanno dengan tenang.


"Eh? Kau beli sesuatu?" ,ucap Jean dengan sedikit terkejut.


"Ya, ada sesuatu yang aku mau beli" ,ucap Hanno.


"Wah~~" ,ucap Jean sambil mengeluarkan mata yang bersinar-sinar, "ayo kita pergi! Mau ikut Charla?" ,ucap Jean memanggil Charla.


"Ah..." ,ucap Charla sambil memandang keAyah Filda.


Tapi Ayah Filda tak memandang balik dan nampak Ayah Filda masih meratap serta merenung.


"Aku ikut" ,ucap Charla yang kemudian berdiri.


"Ayo~!" ,ucap Jean dengan berdiri dengan bahagia.