
"Ketika perang datang...hukum tentang kemanusiaan jatuh terdiam.."
-Marcus Tullius Cicero
Perawan
"Ini nona, tendamu" ,ucap prajurit dengan lambang Keluarga Talass menunjukkan tenda kepada Charla.
"Tenda tempat orang sakit dan perlengkapan medis dimana?" bertanya Charla.
"Disana, disudut" ,ucap prajurit tersebut sambil menunjuk keutara, "nanti nona akan lihat tenda yang ada banyak pelayan dan pendeta berkumpul"
"Terima kasih" ,balas Charla kepadanya.
Prajurit itu kemudian menoleh kearah prajurit-prajurit bayaran yang diiring-iring oleh orang-orang dibelakang Charla.
Terlihat hampir semua orang-orang yang mengiring prajurit-prajurit bayaran tersebut memakai lambang keluarga dari Legata.
"Bagaimana dengan prajurit-prajurit bayaran ini yang memperlakukan anda dengan kurang ajar ini nona?" ,bertanya prajurit itu kepada Charla.
"Gantung saja mereka" ,ucap salah satu prajurit lagi.
"Terlalu ringan kalau eksekusi mati, penghinaan kepada Keluarga yang memimpin Legata harus lebih kuat" ,ucap salah satu prajurit, "potong lidah mereka"
"Tidak" ,ucap Charla dengan kuat sambil mengetatkan sarung tangannya.
Charla kemudian merapikan rambut panjangnya dan menarik rambutnya kebelakang untuk diikat.
Terlihat wajah Charla yang tak memiliki telinga.
Disamping kanan kepala Charla yang bagian telinganya hilang terlihat memiliki bekas luka.
"Memotong lidah mereka hanya akan mengurangi suara teriakan perang kita" ,ucap Charla yang kemudian menginggit ikat rambutnya sembari merapikan rambutnya.
Charla bisa lihat tatapan prajurit-prajurit bayaran tersebut…
Mereka semua hanya terdiam dan hanya memasang wajah gugup.
*Mereka ketakutan...tapi tak cukup ketakutan hingga mereka mau meminta belas kasihan seperti domba disembelih* ,pikir Charla.
Mereka sudah siap untuk menghadapi kematian dan rasa sakit...mereka sudah siap sejak ribuan tahun yang lalu…
Mereka adalah prajurit yang berpengalaman, jutaan besi dan darah sudah mengarah kewajah mereka.
"Taruh mereka difront paling depan ketika pertempuran datang" ,ucap Charla sambil mengikat rambutnya, "mereka akan menjadi yang paling pertama bertemu musuh sebagai hukuman mereka"
Hampir semua prajurit hanya setuju akan perintah Charla.
Beberapa hanya terdiam.
"Itu bijak nona" ,ucap salah satu prajurit sambil membungkuk, "bawa mereka ketenda hukuman, akan kupastikan bawahan-bawahanku untuk membawa mereka difront depan"
Charla kemudian terdiam dan melihat seseorang diantara rombongan..
"Hanno" ,panggil Charla, "ayo ikut bantu aku bawa alat medis ditempat penyimpanan"
Hanno kemudian maju kedepan, terlihat wajah dingin dan datarnya.
"Biar aku saja yang bantu anda nona" ,ucap salah satu prajurit.
"Tak perlu" ,ucap Charla dengan kuat.
"Alat medis itu cukup berat, pelayan..atau bawahan anda akan cukup sulit membaw-
"Murid" ,ucap Charla dengan lebih kuat.
Semua prajurit dan rombongan terdiam semua mendengarnya…
Semua prajurit Legata terbengong dan nada terkejut terpasang semua diwajah mereka..
*Reaksi yang sudah kutebak..* ,pikir Charla.
"Mu..murid?" ,ucap salah satu ksatria terbata-bata.
"Iya, dia muridku" ,ucap Charla dengan tenang, "namanya Hanno"
"Dari keluarga mana dia nona?" ,bertanya salah satu ksatria yang lain maju kedepan.
"Dia bukan bangsawan" ,ucap Charla dengan cepat.
*Atau mungkin dia bangsawan..* ,ingin Charla mengatakan itu.
Beberapa prajurit terdengar menelan ludah mendengarnya..
Gumam dan bisik-bisik pecah...dan semua prajurit mulai bisik-bisik berbicara antara temannya..
"Tidak mungkin…" ,suara itu terdengar dari salah satu ksatria.
"Tidak bisa.." ,ucap salah satu prajurit dengan kuat, "apa kata paman anda nanti nona? Petani tidak bisa menjadi murid dari Keluarga besar seperti dia"
Beberapa terlihat setuju dan mengangguk.
"Heh" ,tersenyum Charla.
*Ratusan bangsawan tak bisa menandingi tenang dan diamnya anak ini* ,ingin sekali lagi Charla mengatakan itu.
Tapi dia malah mengatakan.
"Apa aku peduli?" ,bilang Charla.
"Tak bisa tuank-
"Sudah kubilang.." ,ucap Charla dengan suara yang lebih dalam dan kuat, "..apa aku peduli?"
Charla sudah menolak semua tawaran dari hampir semua Keluarga bangsawan diLegata...baik murid,pelayan,bodyguard..
Charla bahkan mengeluarkan pedangnya didepan pamannya, ketika dia diminta untuk bertunangan dan menikah..
Pasti sesuatu yang mengejutkan bagi mereka ketika mendengar Charla si 'Iblis dari Ohara' menerima seorang murid.
"Bubar" ,ucap Charla dengan suara perintah.
Beberapa prajurit terdiam sebentar, kemudian perlahan berjalan pergi.
Beberapa menelan ludah sekali lagi dan kemudian membungkuk kepada Charla, baru setelah itu pergi.
Beberapa langsung saja pergi.
Charla kemudian berjalan kearah tenda medis yang tadi ditunjuk prajurit.
Hanno bisa dirasakan mengikutinya dibelakang.
"Boleh saya tanya satu pertanyaan lagi nona?" ,bertanya lagi salah satu ksatria dengan wajah yang gugup mendekat ke Charla.
"Apa?" ,balas Charla dengan suara kuat sambil berbalik menoleh kepadanya.
"Kenapa anda disini? Bukankah anda harusnya berada disamping Jenderal Vespasian?" ,bertanya ksatria itu sambil membungkuk gugup.
Charla hanya terdiam sambil menoleh kearah dirinya..
*Kenapa….? Aku menyerah..aku menyerah untuk mengubah moralnya...dia tak bisa diubah sama seperti diriku..aku gagal untuk mengubahnya sejak awal..* ,pikir Charla.
Charla hanya bisa menggertakkan giginya..
Dia bisa membayangkan apa yang Vespasian lakukan setelah dirinya pergi, yaitu mengancam siapapun untuk tak menceritakan tentang Charla yang menghilang..
*Potong lidah...gantung...penyiksaan..* ,pikir Charla.
Jika Charla diceritakan menghilang ditangan Vespasian maka nama Vespasian akan memburuk.
'Saudara harus melindungi saudara yang lain, terutama jika itu kakak lelaki kepada adik perempuan'
Suara ibunya bisa terdengar ditelinga Charla.
Charla menghilang maka...berarti tidak ada yang tahu dia hidup atau mati..
Vespasian juga tak mau Keluarga Ohara tahu soal ini karena akan ada perubahan ketika Charla ternyata hidup.
Termasuk semua properti Charla seperti tanah milik Charla diutara Victa akan diwariskan dan dibagi-bagikan.
Berita tentang kematian Charla dan Charla masih hidup akan bercampur dengan rumor lainnya..
Itu akan menambah kekacauan diKeluarga Ohara ketika Charla diketahui masih hidup.
"Itu bukan urusanmu" ,ucap Charla dengan suara yang lebih dalam dan kuat daripada yang tadi.
"B-baik nona" ,ucap ksatria tersebut yang kemudian membungkuk dan mundur.
Seorang pria muda yang lain memakai armour menutup tubuhnya kecuali kepalanya kemudian maju.
"Nona, ini adalah penghinaan kepada keluargaku Jylah ketika anda memilih seorang petani sebagai murid dibanding diriku" ,ucap pria muda tersebut sambil memegang pegangan pedangnya.
"Oi nak hentikan" ,ucap salah satu ksatria sambil menarik bahu pria muda tersebut.
Rambut pirang pria muda tersebut terlihat berkibas ketika pria tersebut menepis tangan ksatria tersebut.
"Aku mau memperbaiki kehormatan keluargaku nona" ,ucap pria muda tersebut sambil menelan ludahnya, "aku mau melakukannya dengan cara ksatria"
Charla mengerutkan alisnya.
Pria muda tersebut kemudian menunjuk kepada Hanno dan menggeser kepalanya memandang kepada Hanno.
*Shhhrrringgggggg!*
"Aku mau kita melakukan 'tantangan', pilih duel dengan pedang, jika kau menolak atau memilih permainan lainnya. Maka kau pengecut dan bencong yang tak pantas menjadi murid nona Charla" ,ucap pria muda tersebut sambil mengeluarkan pedangnya.
Dan pria tersebut menodong Hanno dengan pedangnya…
Dan kemudian pedangnya menyentuh leher Hanno...
Hanno hanya mengerutkan wajahnya..
Tiba-tiba suasana menjadi makin berat…
*...tuk*
Dan suara langkah kaki yang gelap dan dalam terdengar.
*Shhhrrringgggggg!*
Pedang Charla ditodongkan kearah pria muda tersebut.
Terlihat dibalik rambut hitamnya, mata Charla kali ini hampir berwarna merah penuh..
Wajah terkejut dan ketakutan mengelilingi mereka bertiga..
Hanno bahkan terlihat ketakutan melihat Charla..
"Singkirkan pedangmu dari Hanno..." ,ucap Charla dengan suara yang gelap dan kuat ratusan kali dari yang tadi..
.
.
.
.
.
.
.
____-_-____
.
.
.
.
.
.
.
.
Duduk seorang wanita disofa lembutnya, sofa buatan orang Legata dengan kerajinannya yang lembut selalu membuat nyaman siapapun yang mendudukinya.
Wanita tersebut cukup tinggi dengan dua buah dadanya yang besar, dan rambut hitamnya yang panjang.
Serta kedua mata yang memakai Celak dari Tyronia yang membuat bagian disekitarnya matanya menjadi hitam.
Mata coklat gelapnya menatap seseorang pria yang cukup tua yang berdiri ditengah ruangan ini.
Terlihat pria tua itu menatap peta dengan ratusan pion diatasnya.
"Menatap peta dengan ratusan pion diatasnya takkan membantumu untuk memenangkan semua masalahmu sayang~ mari kesini~ tinggalkan masalahmu~ peluk diriku~ Taivarr yang jantan~" ,ucap wanita tersebut sambil meletakkan jarinya didadanya dan menyeret jarinya dengan lembut keperutnya.
Suaranya terdengar bernada indah dan akan menghangatkan siapapun yang mendengarnya..
Kecuali seseorang..
"Shajidah, kau akan dalam bahaya diibukota sekarang, kau orang Akkadia dan aku adalah orang Dalmatia. Akan ada waktunya senat Victa cukup muak dengan sepasang suami istri orang asing" ,ucap Taivarr dengan suara beratnya.
"Fufufu...bawa aku ratusan senat itu~ kita sudah melewati jutaan masalah bersama Taivarr…" ,ucap Shajidah sambil bangun dari sofanya yang lembut dengan perlahan.
Kemudian berjalan dengan pakaian indah menunjukkan paha dan lengan serta bagian besar dadanya.
"Sejak kita bertemu dilapangan itu...dimana kau membawaku kekasur dan melayaniku fufu~" ,ucap Shajida sambil mendekat keTaivarr dan memegang kedua bahunya dengan lembut.
"Melayani dan membawamu kekasur? Kenapa kau gunakan kata-kata itu? Aku merawatmu dari 'bentolan hitam' " ,ucap Taivarr dengan heran.
"Maaf saat itu aku masih kecil dan polos~ jadi aku tidak tahu, kau harusnya bisa wajar sayang~" ,ucap Shajida sambil memeluk dari belakang Taivarr dengan lembut dan perlahan.
Kemudian kedua buah dadanya menempel dan ditekan kepunggung Taivarr.
"Sayang sudah, aku punya banyak masalah sekarang. Vesius Garius meninggalkan tanggung jawabnya sebagai Pengganti Menteri Militer, sedangkan senat sedang dalam keadaan kacau, stabilitas negeri ini makin rusak, Geralda sedang memberontak, Anak-anak Muda disenat mau terlalu cepat untuk mengubah Republik" ,ucap Taivarr mengucapkan semua masalahnya dengan cepat.
Shajida kemudian menggigit telinga Taivarr dengan lembut dan kemudian melepas setelah itu meninggalkan lendir manisnya.
"Aku butuh dirimu Shajida, aku butuh informasi dari pelacur-pelacur yang bekerja dengan dirimu" ,ucap Taivarr sambil mengelap lendir Shajida ditelinganya.
"Hm" ,tersenyum Shajida mendengarnya, "aku punya banyak cara untuk memberimu informasi~"
Kemudian Shajida mengelus-elus dada kuat Taivarr dengan lembut.
"Jangan terlalu serius...kau sudah terlalu lama serius, sejak pertama kali kita bertemu kau selalu begitu sejak diriku masih kecil, jutaan kali aku menggodamu nampaknya itu takkan berguna" ,ucap Shajida sambil memeluk Taivarr.
Dengan kepalanya yang bersandar dibelakang punggung Taivarr.
"Ini serius Shajida, demi Republik, demi Victa, negeri ini butuh stabilitas....negeri ini butuh perdamaian" ,ucap Taivarr.
"Beristirahatlah Taivarr, kau sudah berapa hari tak tidur? Tidurlah..tidurlah dipelukanku, tinggalkan semuanya sebentar, aku yakin itu akan membuatku berhenti menggodamu selama seminggu" ,ucap Shajida sambil terus memeluk Taivarr dengan erat.
"Aku tak bisa tidur, dengan ratusan wanita yang diperkosa bertambah, ratusan anak kecil yang kelaparan bertambah, ratusan pria menjadi cacat, ratusan janda bertambah setiap harinya, negeri ini tak bisa dibiarkan dalam tidur Shajida" ,ucap Taivarr sambil memegang tangan Shajida dengan tangan kuatnya.
"Kau sudah mengatakan hal itu sudah sejak lama, kita bertumbuh tua dan dirimu tak bisa melepas dari kata-kata itu…" ,ucap Shajida yang perlahan mengubah matanya menjadi hangat sambil merasakan punggung Taivarr.
Taivarr kemudian menutup matanya sebentar setelah itu melihat petanya.
"Aku tak bisa tenang Shajida.." ,ucap Taivarr.
"Hm" ,tersenyum hangat Shajida sambil memeluk Taivarr, "salah seorang senat bernama Hemerat merencanakan pembunuhan kepada Frudarr sang kepala mata-mata Republik Victa"
"Ada lagi yang lain?" ,ucap Taivarr.
"Berikan aku waktu memelukmu sebentar lagi..karena kau akan pergi kejalanan berbahaya ibukota, mungkin ini akan jadi pelukan terakhir kita" ,ucap Shajida sambil menutup matanya dipunggung Taivarr.
"Aku punya pertemuan dengan salah satu temanku, Shajida, bagaimana rasanya dia ketika aku sudah berjanji dan dia harus menunggu ditempat duduknya dengan lama" ,ucap Taivarr.
"Hm" ,tertawa kecil Shajida, "dia bisa mati tua dengan duduk, sedangkan aku memelukmu seharian.."
Shajida kemudian menggigit leher Taivarr dengan lembut..
"Shajida.." ,ucap Taivarr.
"….ya sudah, Janyrr Hellaw sempat bilng kalau dia mau menyingkirkan salah satu temanmu dijabatan penjaga suplai Ibukota" ,Shajida bilang kepada Taivarr sambil melepaskan lidahnya dari leher Taivarr.
"Apa ada lagi?" ,ucap Taivarr.
"Kurasa tak ada lagi" ,ucap Shajida sambil melepas tangannya dari tubuh Taivarr.
Shajida hanya bisa tersenyum setengah sedih setengah senang sambil menjauh dari tubuh Taivarr.
Taivarr kemudian ikut menatapnya dengan tatapan hangat yang sama waktu dihari itu, diwaktu dia merawatnya..
'Tuanku! Dia budak yang terkena penyakit! Dia tak berguna jika anda selamatkan!'
Shajida masih bisa mengingat ucapan salah satu seorang saat itu.
'Budak ini gratiskan? Karena tak berguna? Herr tolong ambilkan kain, aku sendiri saja yang mau gendong dia soalnya tidak ada yang mau, setelah itu bawa kegedung, aku mau rawat dia dengan tabib'
Shajida masih ingat suara mudanya..ia bisa melihat semua tatapan semua orang disekitar anak muda itu…
Semuanya menatap mereka berdua bagaikan mereka berdua menjadi gila..
Tangan kuatnya mengangkat dia…
Sisanya kacau dan dia tak bisa mengingatnya...
Tapi ia ingat suara dan rasa dipotongnya kulit ditangannya…
Dan dia ingat perasaan kalau dia mungkin akan menemui Dewi Elang penjaga akhirat setelah kematiannya..
Ia ingat wajah anak muda tersebut....
'Sudah sembuh sepenuhnya tuanku, ini sesuatu yang langka'
'Apa aku peduli? Berapa harganya?'
'2.000 koin'
'Nih ambil'
Shajida ingat 2 kantung koin itu dilemparkan hingga memenuhi tangan tabib itu.
Kemudian anak muda itu menoleh kedirinya dengan tatapan yang takkan ia lupakan seumur hidupnya..
'Kau sudah merasa baik? Mulai sekarang kau akan jadi pelayanku. Coba dengarkan semua orang disekitarmu, biarkan mereka menghinamu...dan bergosip tentang hubungan kita..terus dengarkan dan terima hinaan itu...biasakan semua'
Ucapnya dengan tatapan rumah...tatapan yang ia sudah hilang sejak seorang bajak laut menyerang rumahnya diAkkadia…
Sejak ia diikat dan diseret keatas kapal..
Sejak ia kemudian dimasukkan sesuatu kebagian bawah tubuhnya…
Sejak ia terus memutuskan untuk bertahan...meski tak tahu kemana..
Sejak ia mulai terbiasa membiasakannya...
"Shajida, aku mau pergi" ,ucap Taivarr dengan senyuman hangat sambil berjalan kearah pintu keluar ruangan ini.
Shajida hanya bisa memerah hangat wajahnya sambil memegang bekas luka dibagian lengan atasnya.
Taivarr kemudian keluar dengan tatapan tajam kedepan.
Suara pintu ditutup terdengar.
Ruangan ini kemudian menjadi sepi, dengan Shajida yang hanya bisa terdiam.
*Tuk*tuk*tuk*
Suara ketuk pintu kemudian terdengar setelah Taivarr pergi.
Shajida kemudian mengalihkan pandangannya kearah pintu lain.
"Masuk" ,ucap Shajida sambil menenangkan dirinya.
"Nona Shajah...ada karyawan baru yang mau masuk" ,ucap salah satu wanita pekerja Shajidah dengan membungkuk ringan.
Shajidah hanya bisa kembali memakai senyumannya...senyuman dewasa dan senyuman ularnya..
Senyuman yang melindunginya ketika Taivarr tak ada...
"N-nona" ,ucap salah satu wanita maju kedepan dengan rambut pirang dan wajah yang lumayan cantik meskipun sedikit terkotor karena debu ibukota.
"Jadi kau karyawan baru?" ,bertanya Shajidah sambil berjalan kearah wanita itu.
"A-ah iya" ,ucap wanita itu.
"Tenang saja, kau akan terbiasa dengan rumah kenikmatan ini dan diriku" ,tersenyum Shajidah sambil mendekat kearah wanita itu, "untuk mempercepat proses terbiasamu, kau boleh tanya kepadaku apa saja"
"A-apa saja?" ,gumam wanita itu dengan kebingungan.
"Apa saja, aku jawab semampuku" ,ucap Shajidah senyuman.
"K-kalau begitu, pria tadi yang kesini itu..si-siapa?" ,ucap wanita itu lebih gugup.
"Pria tadi?" ,ucap Shajidah.
"Ya pria yang ta-tadi kami dengar nona berbicara" ,ucap wanita itu dengan gugup yang mulai turun.
"Hmh" ,tertawa kecil Shajidah sambil kembali kesofanya.
Kemudian Shajidah duduk disofa lembutnya sambil melentangkan kakinya..
Kemudian Shajidah menatap hangat pintu keluar Taivarr tadi..
Kemudian Shajidah melihat peta yang tadi ditatap Taivarr dengan lama..
Terlihat digambar tersebut terdapat garis merah dengan nama diatasnya…
'Republik Victa'
"Seorang pria yang jatuh cinta sepenuhnya dengan sesuatu yang tidak harusnya dicintai seorang pria biasa"
.
.
.
.
.
.
.
___-_-______
.
.
.
.
.
.
.
.
Danau Sunder terbentang dihadapan Hasteinn dengan hutan disekitarnya, danaunya cukup besar dengan beberapa pasukannya sedang berkamp ditepi-tepinya.
Duduk Hasteinn didekat meja pertemuan diatas tanah bersama beberapa bangsawan besar Geralda.
Hasteinn duduk cukup jauh dari kamp pasukannya dan dijaga ratusan bodyguard ditengah-tengah pepohonan, agar tak ada yang mendengar rencana dirinya.
"Bagaimana perebutan Kastil Blamara Tuan Malare?" ,bertanya Hasteinn.
"Berhasil dengan lancar yang mulia" ,balas Tuan Malare, "kerugian kita hanya ada 40 pasukan"
"Kastil kecil, dengan musuh yang kebingungan karena kita kearah lain" ,ucap Randax 'Si Bencana bagi Serigala' dari keluarga Vyrivia.
"Hahahhaha! Mereka berpikir kita akan ke Gelaria tapi kita malah kearah Pelabuhan Perawan Silver" ,ucap Tuan Handam.
Note:Peta Pergerakan Pasukan Hasteinn
"Amankan semua bangsawan yang kita tangkap, perlakukan mereka dengan baik, jangan ada penyiksaan atau eksekusi tanpa ijinku" ,ucap Hasteinn sambil melihat Legata dipeta tersebut.
Hasteinn sudah merencanakan untuk mengambil Pelabuhan Perawan Silver sejak datang ke Legata.
Ada yang bilang kalau menaklukkan Gelaria maka kau dapat jantung Legata, tapi jika kau taklukkan Pelabuhan Perawan Silver maka kau taklukkan Jantung Victa dan Legata sekaligus.
Bagaimana tidak jika mengontrol Pelabuhan Perawan Silver maka kau dapat mengendalikan Mulut Sungai Hitam.
Tapi Gelaria itu lebih kaya dan indah dengan dipastikan jutaan uang silver akan kau dapatkan ketika menjarahnya, membuat banyak dari pasukannya kehilangan logika strategi itu.
"Yang mulia ada juga laporan penaklukkan benteng dengan penjarahan yang parah dari salah satu pasukan kita diBenteng Ikan Tuna" ,ucap anak dari Tuan Malare bernama Kaix.
"Gantung mereka yang ketahuan menjarah" ,ucap Hasteinn dengan cepat.
"Yang mulia maafkan aku, ini perang, prajurit butuh dapat bagian dari hasil penjarahan. Buat apa mereka datang lagi keLegata kalau untuk hasil jarahan yang mulia?" ,ucap Kaix dengan suara yang memprotes.
"Hush, Kaix, ini yang mulia jangan kurang ajar" ,ucap ayahnya Kaix, Tuan Malare.
"Tapi ayah-
"Kita butuh dukungan orang-orang Legata dari rakyat biasa hingga kebangsawan Kaix, kita tak bisa melawan Victa sendirian. Makanya aku memisah semua pasukanku, mereka aku tugaskan untuk bertindak bagaikan pahlawan pembebas diseluruh wilayah dari tangan Victa" ,ucap Hasteinn.
Tuan Randax secara spontan berdiri dari mejanya..
"Apa tak apa memberitahu rencana ini sekarang yang mulia?" ,ucap Tuan Randax.
"Tak apa" ,ucap Hasteinn, "kita tak perlu buat kebingungan dikamp kita lagi"
"Maafkan ketidaksopanan anakku yang mulia" ,ucap Tuan Malare.
"Tak apa Tuan Malare, aku maafkan" ,balas Hasteinn.
Hasteinn kemudian melihat Pelabuhan Perawan Silver dipeta…
Note:Peta Pertahanan Pelabuhan Perawan Silver
Dan melihat posisi strategisnya...dan bagaimana tak pernah runtuhnya Pelabuhan tersebut selama ratusan tahun..
Kemudian ia melihat kembali meja kounsilnya..
Terlihat masih ada bangsawan Geralda yang menatap bangsawan lain dengan tatapan tak menyamankan.
Banyak dari mereka yang tak dijamin keloyalannya..
Hasteinn butuh aliansi dengan pernikahan...untuk menjamin keloyalan keluarga kuat diGeralda.
..Layare dari keluarga Balur bisa..anak dari keluarga Vyrivia juga bisa, kalau bangsawan Legata...bisa...untuk mendapat dukungan Legata.
Tuan Randax kemudian kembali duduk secara perlahan…
"Tapi Pelabuhan Perawan Silver itu susah diambil Yangmulia" ,ucap Tuan Janax dari Keluarga Meracaxia.
"Ya mereka memiliki kapal kuat dan benteng disekitarnya yang bisa bertahan dari serangan laut" ,ucap Tuan Malare.
"Didarat dinding mereka pun sangat kuat, 8 tower disetiap sisi dinding didarat. Dinding yang hanya memiliki 3 tower hanya bisa diserang lewat laut, yang kita juga kesulitan untuk menyerangnya karena kapal mereka yang kuat" ,ucap Tuan Randax.
"Apa tak ada kapal yang kita ambil dari benteng yang kita taklukkan?" ,bertanya Raja Geralda.
"Tak ada laporan tentang hal itu yang mulia" ,balas Tuan Malare.
"Bagaimana dengan membangunnya?" ,bertanya Hasteinn.
"Itu akan lama yang mulia, bahkan kalau paling cepat dalam waktu seminggu maka itu palingan hanya bisa 3 kapal. Sedangkan Pelabuhan Perawan Silver punya 30 kapal yang mulia" ,ucap Tuan Malare.
Hasteinn kemudian merenung..dan melihat danau ini…
Hasteinn kemudian berdiri dengan wajah terkejut..
"Aku punya rencana.." ,ucap Hasteinn yang berbalik kearah bangsawan.
Hasteinn kemudian melihat Tuan Handam.
Tuan Handam tersenyum bagaikan mengatakan..
'Aku menunggu sesuatu yang menarik darimu lagi nak'