Handsome Boss

Handsome Boss
Episode 8



***


Agnes terlihat membolak balikan surat kabar , di bacanya satu persatu info lowongan kerja yang terlampir di surat kabar itu. Tidak ada satupun pekerjaan yang sesuai untuknya,,,


" Aduuhhhh,,,, kok yang di butuhkan minimal D3 semua ya. Aku harus cari kerja secepatnya, jika tidak bekerja , bagaimana kami bertahan hidup" gumam Agnes dalam hatinya sambil duduk termenung , hidup ini serasa tidak adil untuknya dan Ica. " haiisss sudahlah , tidak ada gunanya meratapi nasib ini, lebih baik Aku membuat makanan untuk Ica , Dia pasti lapar saat pulang sekolah nanti" gumam Agnes dalam hatinya sambil bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju dapur.


Tak berselang lama masakan pu jadi dan Ica telah pulang dari sekolahnya. Dia terkejut dan senang saat melihat Ibunya berada di rumah saat itu.


" Mama....." ucap Ica sambil memeluk Agnes.


Agnes membalas pelukan Ica sambik tersenyum.


" iya sayang, Ayo Ica ganti baju dulu lalu makan ya." ucap Agnes sambil melepas tas Ica.


" iya Ma,,, Mama libur ya. Asiiikkk...." tanya Ica polos.


" Iya sayang,,,, Mama ambil cuti . Capek ." jawab Agnes tersenyum sambil melangkah ke dapur menyiapkan makanan untuk Ica .


Agnes merasa bingung , tadi Dia melihat ada lowongan pekerjaan di Club malam , sebagai pelayan. " kesana tidak ya,,, tapi jika hanya menjadi pelayan bukankah tidak masalah , cobalah nanti kesana, Aku harus bekerja !!! " gumam Agnes dalam hati.


.


.


" Ma, nanti Ica mau belajar bersama Ratna di rumahnya, tadi Mama Ratna minta Ica saja yang kesana karna Ratna sedang tidak enak badan." ucap Ica sambil menikmati makanannya.


" iya sayang, nanti Mama antar ya." jawab Agnes.


Ica menganggukan kepalanya dan lanjut menghabiskan makanannya.


Selesai makan, merekapun berkemas.


" Ica nanti Mama pulang agak malam, kamu pulang sendiri ya nanti." pesan Agnes pada Anaknya.


" Iya Ma. " jawab Ica.


Agnes mengayuh sepedanya mengantar Ica, lalu Dia pergi melamar pekerjaan . Pikirannya kalut, antara takut dan butuh. Bekerja di Dunia malam pastilah tidak baik mata orang lain, tapi tidak ada pilihan lain, hanya itu yang sesuai dengan standart pendidikannya dan gaji yang cukup besar.


.


.


.


.


Alex keluar dari kantornya melangkah menuju mobilnya, di sana Julian sudah menunggu di dalam.


" Ayo jalan Julian." perintah Alex pada Julian.


" Baik Pak, kita Mau kemana?" tanya Julian sambil melajukan mobilnya dengan santai.


" Kembali ke apartemen saja" jawab Alex sambil mengendurkan kancing lengan kemejanya.


Drrttt...... Drrrtttt..... tiba tiba ponsel Alex berbunyi. Dilhatnya ternyata Diandra yang menghubunginya.


" Hallo Tante Diandra, ada apa? " tanya Alex


" Alex,,, bisakah kamu kemari?" kata Diandra dari ponselnya.


" Baiklah , Tunggu sebentar ya Tante." ucap Alec sambil memutus sambungan ponselnya.


" Julian, kita ke Hotel Nuansa." perintah Alex pada Julian.


" Baik Pak," jawab Julian segera melajukan mobilnya dengan cepat.


Tidak menunggu lama Alex pun sampai , Dia melangkah menuju ruangangannya. Sepanjang jalan karyawan wanita memandangnya , membuat Alex merasa risih dengan tatapan tatapan mereka,,, tatapan itu seolah olah ingin memakannya.


Alex membuka pintu ruangannya, Dilihatnya Diandra sudah menunggunya di dalam.


" Ada apa Tante?" tanya Alex .


" Alex, apakah kamu memecat Agnes?" tanya Diandra pelan.


Diandra menundukan wajahnya sedih, tidak menyangka jika Agnes akan mengundurkan diri, Diandra tahu Agnes sangat butuh pekerjaan itu.


" memangnya ada apa Tante?" tanya Alex yang melihat expresi Diandra seperti itu.


" Dia Tante yang bawa kemari untuk bekerja Alex,,, bagaimana bisa Agnes mengundurkan diri sedangkan Dia sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan Dia dan Anaknya." jawab Diandra menyesali keputusan Agnes.


" Tante Diandra sudah tahu Agnes sudah menikah?? bagaimana bisa Tante menerimanya dengan data yang Dia pakai agar bisa bekerja di sini?" tanya Alex terheran.


Diandra menatap Alex lembut, baginya laki laki di hadapannya itu sudah seperti Anaknya sendiri.


" Agnes itu belum menikah Alex. Dulu Om dan Tante bertemu dengannya bersama anaknya saat masa masa yang sangat sulit, Anaknya sakit tapi tidak ada satupun Rumah Sakit yang mau menerimanya di karenakan keterbatasan biaya. Dia menggendong Anaknya keluar dari Rumah Sakit dengan sedih, Om dan Tante terketuk untuk menolongnya." Cerita Diandra.


" Kemana Ayah Anak itu, dan orang tuanya juga bagaimana rela putrinya di terlantarkan seperti itu, mereka bisa saja kan menuntut laki laki yang menghamili putrinya agar bertanggung jawab bukan?" ucap Alex masih tidak habis fikir dengan nasib wanita itu.


Dindra berdiri sambil menatap Alex lembut,,,


" Agnes tidak seberuntung kamu Alex, kamu memiliki orang tua yang sangat menyayangimu, bahkan Papimu sangat mencintaimu. Agnes sejak bayi di buang orang tuanya dan di rawat di panti Asuhan. Bagaimana mau menuntut, saat mengetahui Agnes hamil justru mereka mengusirnya dari panti. " kata Diandra menjelaskan.


Alex terkejut dan menatap Diandra,,, Dia benar benar sudah salah sangka dan menyulitkan kehidupan seorang Ibu yang berjuang sendirian untuk Anaknya.


" Alex,, Tante harap Kamu mau memberi kesempatan Agnes bekerja di sini lagi, Dia orang yang baik dan jujur. Fikirkan dulu saja, Tante masih ada urusan . " Ucap Diandra tersenyum pada Alex lalu keluar dari ruangan Alex. Dia tahu Alex bukanlah orang bisa di paksa.


Alex hanya terdiam, tadinya meskipun salah sangkapun Dua tidak ingin memikirkannya , tapi ketika mengetahui perjalanan hidup yang di alami Agnes Dia merasa sedikit bersalah.


Alex mrlihat berkas Agnes , lalu Dia melangkah keluar dari ruangannya menuju Basment Hotel.


Alex masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya menuju alamat yang di berkas Agnes.


Sambil melihat sekitar Dia terus melajukan mobilnya, Dia baru sadar ternyata alamat itu lumayan cukup jauh jaraknya dengan Hotel Nuansa. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana bisa Agnes setiap hari mengayuh sepedenya dengan jarak sejauh ini.


Mobil Alex pun berhenti di pinggir jalan utama, ternyata mobilnya tidak dapat masuk , sehingga Dia harus turun dan berjalan kaki menuju alamat itu, Alex berdiri di depan rumah yang sangat sederhana, bangunanya sudah kusam dan lantainya sudah banyak yang retak retak.


Alex mencoba mendekati rumah itu lalu mengetuknya.


Pintu pun terbuka, terlihat sosok gadis kecil yang cantik mennyembulkan kepalanya dari balik pintu sambil menatap Alex.


" Hallo..." sapa Alex tersenyum pada gadis itu.


Ica menatap Alex dari ujung kaki hingga ujung kepala, membuatnya mendongak tinggi saat ingin melihat wajah Alex, lalu tersenyum .


" Dik, ini benar rumah Agnes ?" tanya Alex pada Ica.


" iya Om, betul. tapi Mama sedang pergi Om." jawab Ica


" kamu Ica ya?" tanya Alex yang sedari tadi berdiri di depan pintu rumah Agnes.


" iya Om... Mari Om masuk dulu, mungkin Mana sebentar lagi pulang" jawab Ica yang melebarkan pintunya. Mendengar Alex memanggil namanya Dia langsung meminta Alex masuk, Dia berfikir Alex adalah teman Mamanya, selama ini tidak pernah ada teman mamanya yang pernah berkunjung kerumahnya.


Alex pun masuk dan duduk di sofa ruangan itu, Dia melihat sekitar ruangan itu , Dia mengerutkan keningnya , ruangan itu begitu kecil, hanya tiga sekatan saja, ruang tamu yang menjadi satu dengab ruang keluarga, kamar dan belakang sendiri dapur dan kamar mandi.


" Om teman nya Mama Ica ya ?" tanya Ica yang duduk di samping Alex sambil mendongakan wajahnya.


Alex tersenyum melihat kepolosan Ica,,


" iya, Om ini teman Mama kamu. " jawab Alex sambil mengusap rambut Ica.


" Ica seneng Mama punya teman" ucap nya sambil nyengir menunjukun gigi putihnya yang rapi.


Alex hanya tersenyum mendengar ucapan Ica, Dia melihat jam di tangannya sudah menunjukan pukul 8:30 malam, Alex melirik Ica yang sudah memejamkan matanya bersandar di bahunya, lalu Alex menurunkan kepala Ica agar bersandar di pangkuannya, entah apa yang terjadi tiba tiba tangannya dengan lembut mengusap usap kepala Ica yang ada di pangkuannya. Dia ingin pergi, tapi tidak tega meninggalkan anak sekecil itu sendirian.


BRAAKKKKK..... tiba tiba pintu terbuka dengan kerasnya membuat Alex terkejut, Ica pun terbangun sesaat lalu matanya terpejam kembali.


Alex menengok ke arah pintu, di lihatnya Agnes masuk dengan wajah merah , ada bekas air mata membasahi wajahnya , bajunyapun terlihat seperti di robek paksa.


Agnes terkejut saat melihat Alex yang ada di rumahnya, dan lebih terkejut lagi saat melihat Ica yang tertidur di pangkuan Alex.


Agnes sangat malu Alex melihatnya dalam keadaan seperti ini, Dia langsung lari kekamarnya dan menutupnya rapatยฒ. Alex heran melihatnya, tapi Dia hanya diam .


[ Terimaksih Like dan Komennya Kakak๐Ÿ˜Š๐Ÿ™. Selamat Membaca ๐Ÿ˜Š ]