
Entah apa yang membuat Agnes malas seperti ini. Pukul 08.00 Dia baru saja bangun dari tidurnya. Perutnya yang semakin besar membuatnya sedikit sulit bergerak.
Agnes terperanjat lalu bangkit dari ranjangnya.
" Ya Tuhan, bagaimana bisa Aku kesiangan seperti ini," kata Agnes pada dirinya sendiri.
Agnes melangkah keluar dari kamarnya, Dia hanya melihat para pelayan di rumahnya yang sedang membersihkan isi rumahnya.
Agnes melangkah ke dapur untuk memasak makan siang untuk Alex.
" Saya akan membantu, Nyonya," ucap pelayan yang menghampiri Agnes saat melihatnya masuk ke dapur.
" Terimakasih," kata Agnes tersenyum pada pelayannya.
Para pelayan sangat senang bekerja dengan Alex dan Agnes. Karena, meskipun mereka orang kaya, tetali mereka tidak pernah menatap rendah dan semena mena kepada para pekerjanya. Bahkan terbilang ramah terhadap para pekerjanya.
Selesai masak Agnes menata masakannya di kotak bekal dengan lapisan penahan panas, sehingga makanan akan tetap hangat saat Alex menyantapnya nanti.
Agnes bergeas menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap siap. Dia mengenakan Dress merah muda dengan tali pita di belakangnya. Perut buncitnya tidak menghilangkan kecantikannya, justru inerbeautynya makin terpancar saat moment moment kehamilannya.
Agnes melangkah menuju mobilnya, lalu meminta supir mengantarnya ke kantor Alex. Turun dari mobil Agnes langsung menuju lift, semua pekerja yang melihatnya menyapa dengan senyuman kepada Agnes.
Agnes berjalan menuju ruangan Alex, Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Alex, sejak pagi Ia tidak mlihatnya karena efek obat yang di berikan Sabrina benar benar membuat Agnes tertidur pulas semalaman, hingga Ia tidak tahu jika hari sudah siang.
Ketika hampir sampai di ruangan Alex, Agnes melihat Lisa dengan kotak makanan di tangannya masuk keruangan Alex. Agnes merasakan ada yang tidak berea denga hal itu. Dia mempercepat langkahnya menuju ruangan Alex.
****
Lisa melangkah dengan percaya diri menuju ruangan Alex. Dia sengaja membuat bekal di rumah untuk di berikannya kepada Bosnya itu.
" Permisi Tuan," kata Lisa yang masuk ke ruangan Alex tanpa di pinta.
" Ya, ada apa Lisa?" Tanya Alex.
" Saya membuat bekal dari rumah untuk Anda, semoga Anda menyukainya Tuan," jawab Lisa tersenyum.
" Baiklah, letakan saja di sana." Ucap Alex menunjuk meja di dekat sofanya.
" Segera di makan ya Tuan, ini sudah jam makan siang," ucap Lisa sambil melangkah menuju meja yang Alex maksud.
" Kamu tidak perlu repot repot Lisa, jadi tidak enak sudah merepotkanmu. PadAku sudah memasak untuk Suamiku siang ini." Ujar Agnes yang baru saja masuk ke ruangan Alex, lalu meletakan bawaannya di meja bersebelahan dengan bekal yang Lisa bawa.
Lisa merasa canggung dengan adanya Agnes yang tiba tiba datang.
" Ah, ti_ tidak masalah Nyonya, saya membawa lebih," jawab Lisa sedikit gugub.
" Baiklah, mari kita makan bersama Lisa. Karena Aku sudah memasak banyak," ucap Agnes menata bekalnya di meja.
" Tidak usah Nyonya, saya permisi dulu," ucap Lisa kembali membawa bekalnya keluar dengan cepat.
Alex hanya tersenyum melihat sikap lucu Agnes jika sedang cemburu itu.
" Honey, Kamu memasak untuku?" Tanya Alex lembut sambil melangkah menghampiri Agnes.
" Ya, maafkan Aku tadi pagi tidak membuatkanmu sarapan, kenapa Kamu tidak membangunkanku saja," kata Agnes.
" Aku ingin Kamu beristirahat Agnes, ada pelayan yang menyiapkan sarapan, Kamu tidak perlu khawatir," jawab Alex duduk di sofa. Perlahan di tariknya Agnes ke atas pangkuannya.
" Terimakasih, tetapi saat ini Aku sudah baik baik saja sayang," ucap Agnes tersenyum manja.
" Aku heran, bagaimana Istriku yang seperti kucing manis ini tiba tiba menjadi singa yang garang seperti tadi itu," goda Alex pada Agnes.
" Haihh ... apa sih Kamu ini sayang, Aku bukan singa garang. Aku ini singa yang siap menerkam," ujar Agnes tertawa sambil merangkulkan tangannya di leher Alex.
Alex hanya terkekeh dengan sikap Agnes kali ini. Agnes benar benar menunjukan sebagai Istri Alexandr Wilson yang sebenarnya.
" Selalu jaga kesehatanmu Honey, tidak perlu mengantar makan siang sendiri, Aku tidak mau kelelahan," ujar Alex sambil mengusap perut buncit Agnes. Dia terkejut saat tangannya merasakan sesuatu dari dalam perut Agnes, Dia merasa seperti ada yang mendorong telapak tangannya kecang. Alex sontak menjauhkan tangannya dari perut Agnes.
" Apa ini Honey?" Tanya Alex terkejut.
Agnes tertawa cekikikan saat melihat expresi Alex yang kebingungan.
" Itu bayi Kita sayang, Dia senang Papanya menyentuhnya, coba sini sentuh lagi," ucap Agnes menarik tangan Alex mendekat ke perutnya lalu mengusapkannya perlahan. Dan benar saja, bayi dalam perut Agnes kembali bergerak tepat dimana telapak tangan Alex berada.
" Ohh ... anak Papa ingin di usap usap ya," kata Alex berbicara di depan perut Agnes.
Agnes hanya tersenyum sambil mengusap usap lembut Alex yang sedang mengajak bayi dalam perutnya berbincang. Agnes sangat senang dengan moment ini, diamana bayinya sudah mulai bergerak dengan aktif di perutnya.
Usai makan siang bersama Alex, Agnespun kembali terlebih dahulu, karena Alex akan pulang agak terlambat hari ini.
Agnes melangkah keluar gedung kantor lalu masuk ke dalam mobilnya.
Mobil yang di tumpangi Agnes melaju dengan pelan menyusuri jalanan kota. Saat Ia melihat lihat sekitaran dari dalam mobilnya, sesaat Ia seperti melihat seseorang yang di kenalinya sedang berjalan sendirian.
Agnes meminta supirnya untuk menghentikan mobilnya Dan benar saja, setelah Ia mengamati, wanita itu adalah Tiara, Agnespun menghampiri lalu melangkah Tiara.
" Tiara," panggil Agnes saat sudah berada di belakang Tiara.
" Agnes. Kamu ada di sini? Tanya Tiara setelah melihat ternyata Agnes yang memanggilnya.
" Tidak ada apa, Aku hanya tidak sengaja melihatmu saja lalu kemari," jawab Agnes. Agnes seeketika terkejut, Dia baru sadar jika wajah Tiara banyak luka memar. Bahkan darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
" Hei Tiara ada apa dengan wajahmu? Apakah Kamu mengalami kekerasan?" Tanya Agnes dengan wajah khawatir sambil memegang wajah Tiara.
Tiara hanya terdiam, Dia tidak dapat mengatakan apapun kepada Agnes. Air matanya tiba tiba mengalir begitu saja membasahi wajahnya, membuat Agnes makin cemas.
" Ikutlah bersamaku Tiara," ajak Agnes sambil menggandeng Tiara masuk kedalam mobilnya.
Entah mengapa Tiara menuruti saja ajakan Agnes. Dia tidak tahu harus kemana saat kondisinya seperti ini. Tiara tidak mungkin kembali kerumah dengan keadaannya saat ini, Dia khawatir jika Dion akan mengintrogasinya.
Agnes mengajak Tiara kerumahnya, Dia segera mencari P3K dan meminta pelayan mengambilkan air minum untuk Tiara.
Tiara duduk di sofa ruang keluarga Agnes. Seketika tangisnya pecah, Dia menamgis terisak isak mengingat apa yang dialaminya tadi.
Tiara tidak menyangka jika laki laki bertopeng itu akan mencarinya lagi. Bahkan saat Dia berada di rumahnya saat Dion pergi ke kantor laki laki itu datang, dan kembali melakukan pelecehan terhadap Tiara. Tiara benar benar takut dengan hal itu.
Melihat Tiara yang menangis terisak isak, Agnea segera menghampirinya. Wajahnya terlihat cemas dengan keadaan Tiara yang seperti itu.
" Tenanglah Tiara. Ada apa sebenarnya," ujar Agnes memeluk Tiara sambil mengusap usah bahunya untuk menenangkannya.
Agnes mencoba menenangkan Tiara, Dia meminta Tiara meminum minumannya terlebih dahulu agaar merasa lebih tenang. Setelah melihat Tiara lebih tenang, Agnes mulai mengobati luka luka di wajah Tiara.
" Apa yang sebenarnya terjadi Tiara? Kenapa Kamu jadi seperti ini sih," ucap Agnes sambil mengobati luka Tiara.
" Aku bingung Agnes," ucap Tiara lirik.
" Kenapa?" Tanya Agnes sambil merapikan kotak P3Knya.
" Apa Kamu akan jijik padaku jika Aku menceritakannya," ujar Tiara sambil menundukan wajahnya.
Dia tidak seperti Tiara yang Agnes tahu. Ada apa sebenarnya dengan Tiara.
" Apa sih yang Kamu fikirkan Tiara, katakan saja , jika itu bisa mengurangi bebanmu," ujar Agnes menatap Tiara.
Dengan pelan Tiara menceritakan apa yang terjadi padanya. Kisahnya dari awal hingga kini laki laki bertopeng yang terus meneror dan juga melakukan pelecehan terhadapnya, dengan ancaman video itu akan di kirim ke Dion dan Keluarganya.
Agnes terdiam sesaat mendengar kisah Tiara yang membuat dadanya terasa sesak itu. Dia tidak menyangka jika Tiara akan mengalami hal mengerikan seperti ini.
" Maafkan Aku Agnes, tidak seharusnya Aku menceritakan padamu masalah ini," ucap Tiara sambil menghapus air matanya.
" Tidak masalah Tiara. Lalu mengapa Kamu tidak menceritakan semua ini kepada Dion, Tiara?" Tanya Agnes menatap tajam Tiara.
" Bagaimana mungkin Aku melakukan itu Agnes. Mungkin saja Dion akan menceraikanku setelah tahu semua ini bukan," ujar Tiara merasa bingung dengan masalahnya ini.
Agnes terdiam sesaat. Apa yang di katakan Tiara memang ada benarnya, tetapi jika masalah ini tidak di selesaikan, Ages berfikir, akan sampai kapan Tiara mengalami pelecehan ini.
" Kamu benar Tiara. Tapi, apakah Kamu tahu jika setiap langkah yang kita ambil itu akan ada resikonya. Mungkin Dion akan marah, tapi Kamu lebih tahu seperti apa Suamimu bukan. Tetapi pilihan ada pada dirimu sendiri Tiara, Kamu ingin di lecehkan terus menerus atau mengakhiri semua ini," ujar Agnes.
Tiara menyaring setiap kata kata Agnes. Dia merasa bimbang dengan apa yang akan di lakukannya.
" Sudahlah Tiara, lebih baik Kamu fikirkan matang matang rencanamu, dan segera ambil keputusan, agar Kamu tidak tersiksa lagi seperti saat ini," ujar Agnes tersenyum pada Tiara.
" Baiklah. Terimakasih Agnes, Aku sudah jahat padamu, tetapi Kamu justru begitu baik padaku Agnes," ucap Tiara memeluk Agnes. Dia sangat menyesal dengan peruatannya dahulu terhadap Agnes.
" Itu sudah masa lalu Tiara, lupakan saja," ujar Agnes tersenyum. Baginya tidak ada gunanya memiliki rasa dendam. Jika damai seperti ini di rasa sangat indah, untuk apa saling mendendam.
.
.
Jam dinding di ruangan Alex sudah menunjukan pukul 22.00. Sudah semalam itu Alex masih saja berkutat dengan pekerjaannya, Julianpun masih menyelesaikan tugasnya di ruangannya. Masih ada berkas lain yang di bawa Julian yang harus Alex periksa.
Sambil menunggu Julian, Alex menyandarkan tubuhnya di sofa dalam ruangannya sambil membaca baca berkas di tangannya. Tidak terasa hari sudah malam dan Alexpun sudah merasa lelah.
Saat Alex sedang merilekskan tubuhnya, tiba tiba pintu ruanganya terbuka. Terlihat Lisa datang dengan membawa secangkir kopi di tangannya.
" Permisi Tuan, saya buatkan Anda kopi," ucap Lisa sambil melangkah mendekati meja Alex.
" Terimakasih, letakan saja di meja," ucap Alex.
Lisa meletakam kopi yang di bawanya di meja depan Alex.
" Tuan, apakah Anda ingin dipijit?" Tanya Lisa menawarkan diri.
" Tidak perlu, sebaiknya Kamu segera pulang. Ini sudah larut malam." Perintah Alex pada sekretarisnya.
" Baik Tuan," ucapLisa dengan senyuman di bibirnya keluar dari ruangan Alex.
Alex merasa lega melihat Lisa yang sudah keluar dari ruangannya. Menurutnya Lisa adalah gadis yang pintar dan juga pekerja keras, hanya saja Alex terkadang sedikit tidak nyaman dengan perhatian perhatian yang Lisa berikan, Lisapun sering sekali membuat kesal Agnes.
Karena tubuh yang terlalu lelah, Alexpun meminum kopi yang Lisa bawakan untuk menghamgatkan tubuhnya. Dia teringat saat Agnes belum hamil, Agnes selalu menemaninya jika sedang lembur seperti saat ini. Tetapi kini Agnes sedang hamil, Dia tidak dapat terlalu lelah karena kondisi kesehatannya yang sedikit lemah. Alex seketika tersenyum Agnes muncul di fikirannya.