Handsome Boss

Handsome Boss
Episode 53.



Agnes hari terlihat sangat sibuk. Sejak wabah virus itu hilang dari Kotanya, kini Hotel Nuansa kembali ramai pengunjung dan juga kalangan kalangan Konglomerat dan Artis ternama, satu persatu mulai memesan tempat untuk mereka menyelenggarakan pesta pernikahan, pesta ulang tahun, dan lain sebagainya.


Saat Agnea sedang sibuk mengurus berkas berkas di hadapannya, terdengar seseorang mengetuk pintu ruangannya.


Tok tok tok ....


Agnes menatap ke arah pintu, terlihat Diandra masuk dan melangkah menghampirinya.


" Ada apa Tante?" Tanya Agnes pada Diandra yang duduk di hadapannya.


" Kamu terlihat sibuk Agnes," kata Diandra tersenyum.


" Ya, begitulah. Resort Kita sudah mulai ramai saat ini Tante," jawab Agnes tersenyum memperlihatkan giginya yang putih dan rapi itu.


" Kamu sedang hamil 5 bulan saat ini Agnes, jangan terlalu memaksakan diri, jangan sampai Kamu kelelahan," ujar Diandra mengingatkan.


" Baiklah Tante," ucap Agnes merasa senang banyak orang memperhatikannya saat sedang hamil begini.


Saat sedang asyik berbincang dengan Diandra, tiba tiba seorang salah satu karyawannya mengetuk pintu ruangannya untuk mencari Agnes.


" Ada apa?" Tanya Agnes pada karyawannya itu.


" Maaf Bu, ada yang pelanggan yang mencari Anda," kata karawan itu menyampaikan.


" Baiklah, sampaikan padanya tunggu sebentar, Aku akan segera kesana," perintah Agnes pada karyawannya.


" Agnes, biar Aku saja yang mengatasi masalah ini, sebaiknya Kamu di sini saja," kata Diandra pada Agnes.


" Baiklah Tante, terimakasih. Jika ada apa apa hubungi saja Aku," ucap Agnes pada Diandra.


Diandra bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar dari ruangan Agnes.


Dengam cepat Diandra menuju ke sebuah ruangan dimana pelanggannya sedang menunggu.


" Selamat sore," sapa Diandra pada tamu hotel yang sedang duduk menunggunya, terlihat jelas jika salah satu dari mereka sedang dalam keadaan kesal.


" Oh ya, selamat sore," jawab salah seorang dari tamu itu.


" Ah, ya. Saya Diandra, Direktur dari Hotel ini. Apa yang bisa saya bantu Tuan, apakah Anda berdua merasa tidak puas dengan pelayanan Kami?" Tanya Diandra pada kedua pelanggannya.


" Sudah tentu tidak puas, pelayanmu itu benar benar ceroboh. Bisa bisanya menumpahkan jus di gaunku, gaunku ini mahal dan juga Dia sudah membuat ponsel mahalku terjatuh dan rusak, tau tidak." Bentak Kate pada karyawan hotel yang berdiri di ruangan itu dengan wajah yang tertunduk.


Diandra melirik ke arah karyawannya, dan memintanya duduk di sebelahnya. Diandra mencoba mengatasi masalah ini dengan meminta maaf kepada Kate dan Matt selaku tamu di Hotel Nuansa. Tetapi permintaan maaf dari Diandra tidak di indahkan oleh Kate, Kate terus saja marah marah dan memaki karyawannya itu.


" Kami sungguh minta maaf Nona, karyawan saya tidak sengaja, dan dari pengakuan karyawan saya, justru andalah yang menabraknya. Jadi mohon di maafkan, Kami akan memberikan fasilitas tambahan selama Anda berada di sini Nyonya," ujar Diandra pada Kate yang sangat keras kepala.


" Kamu fikir Aku ini orang miskin apa, yang tidak bisa membayar fasilitas hotel di sini, Kamu menghina saya ya!" Bentak Kate pada Diandra.


Diandra benar benar merasa kesal saat itu. Karena, dalam masalah ini sebenarnya Kate lah yang bersalah. Dia berjalan terburu buru hingga meanabrak si karyawan, tetapi Dia justru menuntut agar karyawan itu di berhentikan. Diandra tidak habis fikir ada konglomerat yang sesombong itu.


" Kate, sudahlah. Ini bukan masalah besar, sebaiknya kita kembali," ajak Susan pada sahabatnya itu.


" Tidak Susan, setidaknya mereka mengganti rugi padaku atau memecat karyawan itu, barulah Aku lega," ujar Kate.


Mendengar keributan di ruang tamu Hotel, Agnes segera melangkah kesana untuk melihat apa yang terjadi.


" Ada apa ini?" Tanya Agnes masuk ke ruangan tersebut. Semua mata seketika tertuju padanya.


Agnespun melangkah menghampiri Diandra, dan menanyakan apa yang terjadi. Diandra menceritakan semuanya dan juga menunjukan hasil CCTV yang menangkap kejadian itu.


Saat Agnes berdiskusi dengan Diandra, Kate terus memperhatikannya. Wajah Agnes terasa tidak asing baginya.


" Maaf Nona, sebaiknya Anda mengakhiri masalah ini, karena dari hasil yang di tunjukan, Andalah yang menabrak karyawan saya, dan Anda tidak ada hak menuntut apapun dari Kami, karena ini bukan kesalahan Kami," ujar Agnes menatap wanita yang keras kepala itu.


" Apa Kau bilang, berani beraninya menyalahkan Aku! Kau tidah tahu siapa Aku hah." Kata Kate dengan wajah marah.


" Siapapun Anda saya tidak peduli, saya hanya tau mana yang benar dan mana yang salah." Ucap Agnes sambil mengajak karyawannya melangkah keluar dari ruangan itu.


" Aku akan menuntut Hotel ini. Camkan itu!" Ancam Kate pada Agnes.


" Silahkan saja Nona. Jika begitu, bukankah itu akan mempermalukan diri anda sendiri." Jawab Agnes tersenyum lalu keluar dari ruangan itu bersama Diandra dan karyawannya.


Karyawan itu membungkuk mengucapkan terimakasih kepada Agnes. Agnes hanya mengangguk lalu melangkah menuju loby Hotel. Dia bermaksud menunggu Alex di sana, karena Alex akan menjemputnya.


Agnes duduk di sofa loby sambil menerima panggilan dari Alex. Para pekerjanya menyuguhkan minuman dan cemilan untuknya tanpa di minta.


Saat sedang asyik berbincang via ponsel bersama Alex, seseorang datang mendekatinya.


" Tidak salah lagi, Kamu Agnes kan." Kata Kate yang sedari tadi merasa mengenali Agnes saat bertemu dengannya tadi.


" Ya, ada apa ya?" Tanya Agnes menatap Kate yang berdiri sambil menyilangkan tangannya.


" Hah, benarkan. Kamu itu Agnes, siswi yang hamil di luar nikah itu." Ejek Kate pada Agnes. Dia tidak menyangka jika seorang gagal seperti Agnes bisa memiliki Hotel berbintang lima seperti saat ini.


" Oh, Kamu pelanggan yang tadi ya. Tidak Aku sangka jika Kamu mengenalku, Nona," jawab Agnes tenang. Saat melihat dengan jelas, Agnes baru sadar jika wanita di hadapannya itu adalah Kate, teman satu sekolahnya dahulu. Dia seorang idola saat itu di sekolahnya. Entah apa yang membuat Dia begitu membenci Agnes, Agnespun tidak begitu mengerti.


" Hah, siapa yang tidak tahu seorang Agnes yang di keluarkan dari Sekolah karena sedang hamil, memalukan." Ucap Kate ketus. Dia berniat mempermalukan Agnes dengang mengungkap siapa Agnes di masa lalu.


" Sudah cukupkah Kamu berbicara? Jika sudah, silahkan pergi, saya sedang sibuk! Ucap Agnes yang bangkit dari duduknya hendak melangkah keluar dari loby.


" Hei, hamil anak siapa lagi Kau Agnes, setauku Dion tidak menikahimu bukan, jangan jangan Kau jadi sinpanan tua bangka ya, hahahaha," ejek Kate yang menatap perut buncit Agnes.


Agnes menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Kate, dengan tenang Ia melangkah mendekati Kate, dan satu tamparan melayang di wajah Kate.


Plakkk ....


" Jaga mulutmu Nona. Kau tidak berhak berkata apapun tentangku!" Ucap Agnes geram.


" Beraninya Kau menamparku wanita murahan!" Kata Kate hendak melayangkan tamparan ke wajah Agnes, tetapi Dia tidak dapat melakukannya, karena tangannya ditangkis oleh Agnes.


" Kenapa tidak?" Ucap Agnes melepar tangan Kate lalu melangkah keluar dari loby menuju mobil Alex yang sudah menunggunya.


Belum sempat Agnes menghampiri Alex, tiba tiba Kate mendorongnya dari belakang hingga Agnes jatuh tersungkur.


" Dasar wanita murahan, berani beraninya Kau melawanku!" Kata Kate dengan wajah sadisnya.


Alex yang melihat kejadian itu segera berlari menghampiri Agnes yang meringis kesakitan. Alex segera membawa Agnes naik ke mobilnya.


" Hei, buat apa Kau menolong wanita murahan itu, biarkan saja dia mati," teriak Kate ada Alex.


Alex tidak ada waktu untuk meladeni ocehan Kate, yang terpenting saat ini adalah Agnes. Dia harus segera membawa Agnes ke Rumah Sakit. Mobil Alexpun melanju dengan cepat menuju Rumah Sakit. Dia sangat cemas akan kondisi Agnes dan calon bayinya.


" Sabrina, bagaimana Istriku?" Tanya Alex cemas.


" Syukurlah Kau segera membawanya kemari Alex, saat ini Istri dan bayinya baik baik saja, tetapi usahakan Agnes istirahat total untuk beberapa hari, okey," pesan Sabrina pada Alex.


" Baiklah, terimakasih Sabrina," ucap Alex lalu melangkah masuk ke ruangan dimana Agnes dirawat.


Agnes menggenggam tangan Agnes yang belum sadarkan diri. Tangannya dingin, wajahnya terlihat agak pucat. Hal ini benar benar membuat Alex khawatir.


Alex menghubungi Julian via ponselnya.


📱 " Bagaimana Julian?" Tanya Alex.


📱 " Sudah teratasi Tuan, saya sudah mengirim data datanya di email Anda," jawab Julian dari ponselnya.


📱 " Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu." Perintah Alex pada Julian.


" Honey, Kau harus baik baik saja, okey," ucap Alex sambil mengusap usap ujung kepala Agnes dengan lembut.


.


.


Di sisi lain, saat Agnes terbaring lemah di Rumah Sakit, Kate justru sedang bersenang senang dengan teman temannya di rumah. Mereka mengadakan pesta reonian di rumah Kate.


" Hei, Kau tahu tidak dengan Agnes," tanya Kate pada teman temannya.


" Agnes, Agnes siapa?" Tanya salah seorang teman Kate.


" Teman seangkatan Kita yang hamil itu lhoh," jawab Kate.


" Oh ya, Aku tahu. Agnes yang cantik itu kan. Memangnya kenapa Kate?" Tanya teman Kate yang lainnya.


" Dia sekarang jadi simpanan Sugar Dady lhoh, dan sedang hamil lagi Dia sekarang," kata Kate bercerita pada teman temannya.


" Iyuuhhh ... ****** sekali Dia," ucap teman Kate merendahkan.


" Ya, Kau benar. Dia kini jadi pemilik Resort Nuansa. Tidak masuk akal bukan, seorang miskin seperti Agnes bisa menjadi Bos," ujar Kate penuh rasa iri kepada Agnes.


" Bukankah pemilik Hotel itu adalah Tuan Yohanstian Wilson." Kata salah seorang teman Kate.


" Bagaimana Kau tahu?" Tanya Kate pada temannya itu.


" Ya tentu saja Aku tahu. Ayahku pernah bekerja di sana dulu. Setahuku Tuan Yohans adalah seorang duda yang tampan dan mapan. Haihhh ... beruntung sekali Agnes," ucap teman Kate sambil membayangkan jika Ia yang berada di posisi Agnes. Dia pasti akan merasa sangat bahagia dan bergelimang harta.


Kate terdiam, Dia tidak menyangka jika nasib Agnes akan beruntung seperti itu. Setelah di campakan Dion, Agnes justru mendapatkan duda yang kaya raya seperti Yohans. Itulah yang Kate fikirkan. Kate tidak mengetahui jika suami Agnes bukanlah Yohans, melainkan Alex, putra semata wayang Yohans dan Alecia. Tidak banyak yang mengetahui hal itu, karena sejak Ibunya meninggal Alex tinggal di Amerika hingga dewasa.


Saat Kate dan teman temannya sedang asyik berbincang, tiba tiba terdengar seseorang membanting pintu. Kate berpamitan pada teman temannya lalu menghampiri seseorang yang masuk ke dalam kamarnya itu.


" Matt, Kau baru pulang sayang," ucap Kate menghampiri Matt yang merebahkan tubuhnya di ranjang.


" Ya," jawab Matt singkat sambil memejamkan matanya, bahkan Dia tidak melepas jacket hodie dan sepatunya terlebih dahulu.


" Kau dari mana saja Matt beberapa hari ini," tanya Kate pelan pada tunangannya itu.


" Bukan urusanmu, pergilah! Aku mau istirahat." Ucap Matt ketus.


" Tapi Matt...."


Belum sempat Kate melanjutkan kata katanya, salah seorang pelayan di rumahhnya memanggilnya, dan memberitahukan bahwa ada seseorang yang mencarinya. Dan orang itu sedang menunggu di ruamg tamu saat ini.


Kate segera melangkah menuju ruang tamu, Dia melihat beberapa orang yang mengenakan jacket kulit hitam sedang duduk menunggu kedatangan tuan rumah.


" Selamat malam ... ada apa ya Bapak bapak mencari saya?" Tanya Kate pada orang orang yang mencarinya itu.


" Anda Nona Kate?" Tanya salah seorang dari tamunya dengan suara berat.


" Iya, betul. Ada apa ya Pak?" Kate bertanya kembali.


" Silahkan Anda ikut Kami ke kantor Polisi sekarang," kata orang itu dengan dua orang pengawal yang sudah memegangi Kate.


" Tu_ tunggu! Ada apa ini. Saya tidak melakukan apapun Pak." Ucap Kate panik.


" Sebaiknya Anda menurut, silahkan Nona jelaskan di kantor Polisi." Kata Orang itu lalu membawa Kate masuk ke mobil Polisi tersebut.


Teman teman Kate yang melihat kejadian itu hanya terpaku dengan penangkapan Kate. Ada sebagian dari mereka juatru saling bergunjing membicarakan keburukan Kate selama ini. Susan sahabat Kate satu satunya berlari menuju kamar Kate, Dia mengetuknya dengan keras.


Tok tok tok ....


" Matt ... Matt ... buka Matt." Panggil Susan dengan cemas.


Matt melangkah dengan malas menuju pintu kamarnya, lalu membuka pintu itu.


Ceklek ....


" Ada apa manis," ucap Matt dengan menyentuh dagu Susan, setelah melihat Susan yang berada di depan pintu.


" Singkirkan tanganmu itu Matt! Kate di bawa ke kantor Polisi Matt, cepat Kau tolong Dia." Kata Susan dengan panik.


" Sudahlah, biarkan saja. Biarkan Dia satu malam di sana, agar Aku bisa bersenang senang denganmu Susan," goda Matt pada sahabat tunangannya itu. Dengan tangan nakalnya membelai belai rambut panjang Susan.


" Gila Kau Matt." Ucap Susan menepis tangan Matt lalu melangkah pergi dari hadapan Matt.


Matt hanya tersenyum lalu menutup kembali pintu kamarnya. Dia melangkah menuju ranjang besar itu lalu merebahkan tubuhnya.


" Kate di bawa Polisi? Berulah apa Dia sampai di tangkap Polisi, siapa yang berani melaporkannya pada Polisi, cari mati saja hah ..." gumam Matt dalam hati.


Matt kembali memejamkan matanya. Dia tidak begitu memperdulikan jika Kate berada di kantor Polisi saat ini. Dia justru merasa sedikit lega jika Kate tidak bersamanya saat ini, karena itu akan mempermuda baginya untuk menemui Tiara.


Matt akan membuat hidup Tiara menderita. Gara gara hubungan gelapnya dengan Ayahnya membuat Ibunya meninggal dunia.


.


.


Agnes perlahan membuka matanya, tubuhnya terasa lemas. Agnes merasakan tangannya terus digenggam oleh seseorang, saat Ia melirik ke samping, ternyata ada Alex yang sedang tertidur pulas sambil menggenggam tangannya. Agnes mengusap lembut kepala Alex, dan membuat Alex terbangun dari tidurnya.


" Agnes, Kau sudah sadar sayang," ucap Alex senang saat melihat Agnes terbangun.


" Iya sayang, Aku baik baik saja," jawab Agnes.


" Honey, please. Jaga dirimu baik baik, jangan berurusan dengan orang orang seperti itu, Aku sangat khawatir denganmu," kata Alex memohon sambil menggenggam tangan Agnes erat. Terlihat dengan jelas jika Ia sangat mengkhawatirkan Istrinya.


" Iya sayang, maaf. Sebenarnya Aku tidak pernah ada masalah dengannya, entah apa yang membuatnya begitu membenciku," ucap Agnes menatap Alex dengan tatapan sendu.


" Sudahlah Honey, jangan fikirkan hal itu. Aku sudah mengatasinya, dan Dia ternyata putri dari Wali Kota di sini," kata Alex.


" Ya begitulah, apa tidak apa apa Kamu mengatasi ini Alex? Aku khawatir denganmu, Dia anak Wali Kota bukan," ucap Agnes cemas.


" Tidak apa apa Honey, Kamu tenanglah," ucap Alex mengecup kening Istrinya.


Agnes hanya tersenyum, Dia memeluk Alex manja.


" Haiss ... Kalian ini sungguh membuat iri ya," kata Sabrina yang tiba tiba sudah berada di ruangan Agnes.


Alex dan Agnes hanya terkekeh saat kemesraanya kepergok oleh Sabrina, yang kini menjadi Dokter pribadai Agnes dan Keluarganya.


Sabrina hanya tersenyum melihat pasangan Suami Istri yang merona wajahnya karena kehadirannya itu.


" Baiklah Honey, Aku akan pergi sebentar, nanti Aku akan kembali secepatnya Okey," kata Alex kembali mengecup kening Agnes lembut.


" Baiklah, hati hati ya sayang," ucap Agnes sambil membelai wajah Suaminya itu.


" Sudah sudah, pergi cepat. Aku tidak bisa melihat kemesraan Kalian terus terusan, Aku ingin memeriksa Istrimu Tuan Besar," ucap Sabrina yang mendekati ranjang Agnes.


Alex hanya tersenyum lalu melangkah keluar dari ruang perawatan Agnes, Dia berjalan menuju Basement Rumah Sakit dimana mobilnya terparkir. Alex berencana pulang ke rumahnya untuk membersihkan badan, tetapi saat perjalanan pulang Julian menghubunginya, memberitahu jika Alex tidak mencabut tuntutannya terhadap Kate, Ayah Kate akan menuntut balik kepada Alex dengan alasan pencemaran nama baik. Alex hanya tersenyum menanggapi hal itu, seperti ini kah pemikiran orang orang tinggi, dengan mengandalkan jabatan dan uangnya Dia bisa membenarkan sesuatu yang sebenarnya salah. Kate hampir saja menghilangkan nyawa seseorang, tetapi dengan kekuasaan justru Ayahnya membela hal yang tidak manusiawi itu.


Alex memerintahkan pada Julian agar tetap meneruskan kasus ini, dan meminta pada Pengacaranya untuk mengatasi Ayah dan Anak yang keras kepala dan gila akan kekuasaan itu.


" Setelah Kau bertemu denganku, kekuasaanmu itu tidak ada apa apa nya Pak Wali Kota," gumam Alex dalam hati dengan senyuman yang tersungging di bibirnya. Prinsip Alex hanya satu, jika Ia benar apapun yang terjadi Dia akan tetap maju menembus rintangan yang ada. Karena baginya kebenaran itulah yang paling mahal nilainya, bukan kekuasaan.