Handsome Boss

Handsome Boss
Episode 33.



***


Yohans segera menuju Rumah sakit setelah menerima panggilan dari pihak Rumah sakit mengenai tes DNA yang Ia ajukan.


" Silahkan masuk, Tuan," ujar seorang perawat.


Yohans memasuki Ruang Dokter lalu duduk di hadapan Dokter yang melakukan tes DNA tersebut.


" Bagaimana hasilnya, Dok?" Tanya Yohans sedikit cemas.


" Silahkan anda baca Tuan, ini adalah hasil yang sangat akurat." kata Dokter tersebut sambil memberikan Yohans sebuah amplop putih besar .


Perlahan Yohans membuka amplop tersebut lalu membacanya dengan teliti. Alangkah terkejutnya Yohans saat membaca hasil tes DNA itu.


" Ini sungguh akurat?" Tanya Yohans memastikan.


" Betul Tuan, saya menjaminnya ." Jawab Dokter itu dengan yakin.


" Baik Dok, terimakasih , saya permisi ," ucap Yohans sambil menyalami Dokter tersebut lalu keluar melangkah menuju mobilnya.


" Segera ke kediaman Keluarga White," perintah Yohans pada sopir pribadinya.


" Baik Tuan," ucap sang sopir.


Mobil Yohans melaju dengan sangat cepat menuju kediaman Keluarga White. Dia sudah tidak sabar untuk memberikan informasi yang Ia dapatkan mengenai Agnes.


Yohans segera turun dan melangkah memasuki Mansion Nyonya White setelah mobilnya berhenti tepat di halaman Mansions. Seorang pelayan mengantar Alex untuk menemui Majikannya, dari kejauhan Terlihat Nyonya White sedang berbincang dengan Clara di Ruang Keluarga.


" Selamat Siang Nyonya," sapa Alex pada Nyonya White.


" Oh, Yohans, kemarilah duduk bersamaku, ada apa Yohans," jawab Nyonya White ramah .


" Maaf mengganggu Nyonya, saya hanya mengantar ini," ucap Yohans sambil memberikan sebuah amplop kepada Nyonya White.


Nyonya White menerima amplop itu lalu membukanya, matanya berkaca kaca saat membaca isi dari amplop tersebut.


" Ada apa Ma, apa itu?" tanya klara lembut pada Ibunya.


" Clara akhirnya kita menemukan anakmu yang hilang, Nak," ucap Nyonya White dengan isak tangisnya.


Spontan Clara merebut lembaran itu dari gengnggaman Nyonya White, Dia sangat terkejut saat membaca isi dari lembaran hasil tes DNA tersebut.


" Agnes?" Ucap Clara sambil memegang dadanya yang terasa sesak.


" Benar Clara, Agnes adalah anak kandungmu, Nenek White sudah mengetahuinya dari gelang yang di pakai Agnes, tetapi Beliau belum yakin, jadi Beliau memintaku melakukan penyelidikan ini untuk memastikannya terlebih dahulu." Ungkap Yohans menjelaskan.


Nyonya White dan Clarapun saling berpelukan, mereka sangat senang mengetahui semua ini. Putrinya yang selama ini hilang ternyata pernah ada di hadapan mereka. Tetapi di balik kebahagiannya masih ada kesedihan yang mendalam , karena hingga saat ini Ages belum juga di temukan keberadaannya.


.


.


Usai mnidurkan Ica di ranjang dengan perlahan Alex melangkah keluar lalu menutup pintunya.


Saat hendak memasuki kamarnya Alex melihat Yohans melangkah menuju arahnya.


" Papi belum tidur?" Tanya Alex pada Yohans.


" Belum, Alex ada yang ingin Papi katakan padamu," kata Yohans.


" Ada apa, Pap?"


" Kita bicara di ruang baca ," ajak Yohans pada Alex sambil melangkah menuju ke ruang baca di ikuti oleh Alex.


Yohans memasuki ruang baca dan menutup pintunya rapat.


" Kemarilah," ucap Yohans sambil menepuk sofa di sebelahnya.


Alex menghampiri Ayahnya, " Ada apa Pap?" tanya Alex penasaran.


" Papi ingin meberitahukan padamu, ini tentang Agnes," ucap Yohans .


" Agnes. Agnes kenapa Pap. Papi tahu dimana Agnes?" Tanya Alex cemas.


" Tidak. bukan begitu, ini tentang orang tua Agnes." kata Yohans menjelaskan.


" Ohh, maaf Pap, aku terlalu khawatir dengan Agnes , aku ...."


" Tidak apa apa, Papi tahu perasaanmu Alex," ucap Yohans sambil memgusap bahu Alex untuk menenangkannya.


" Begini Alex, setelah Papi melakukan tes DNA antara Agnes dengan Clara, ternyata hasilnya positif, Clara adalah ibu kandung Agnes," Yohan menerangkan.


" Apa, bagaimana bisa," ucap Alex merasa tidak percaya.


Alex mengusap wajahnya yang terlihat sedih dan lelah, tubuhnya pun terlihat lebih kurus karena pola makan yang tidak teratur akhir akhir ini, " Seandainya saja Agnes ada di sini, dia pasti bahagia mengetahui orang tuanya masih hidup," ucap Alex lirih.


" Aku tahu kau sedih Alex, tapi kau harus jaga kesehatanmu agar kau bisa terus mencari Agnes," ujar Yohans sambil mengusap usap bahu anak semata wayangnya itu dengan lembut.


" Terimakasih Pap, kau selalu mendukungku dalam segala hal." Ucap Alex memeluk Ayahnya menangis tersedu sedu, Dia sudah tidak dapat membendung lagi kesedihannya.


Yohans hanya bisa memeluk dan menenangkan anaknya, Dia benar benar mengerti bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat di cintainya.


" Beristirahatlah, kau sudah terlihat lelah Alex, yakinlah kita akan menemukannya, Papi akan terus membantumu ," ucap Yohans dengan lembut.


" Baik Pap, terimakasih, selamat malam," jawab Alex sambil melangkah keluar.


Alex memasuki kamarnya lalu merebahkan tubuhnya , matanya menerawang jauh di langit langit kamarnya, terlihat bayang bayang wajah Agnes yang sedang tersenyum di hadapannya. Seketika dadanya sesak, betapa Alex sangat merindukan Istrinya. Hari harinya terasa sunyi tanpa ada Agnes di sisinya.


Alex memejamkan matanya, melemaskan otot otot tubuhnya yang kaku, tidak perlu menunggu lama Alex sudah tertidur dengan pulasnya. Alex benar benar tidak dapat menahan kantuknya, Dia sudah beberapa hari tidak dapat tidur dengan baik.


Dia berharap Agnes berada di sisinya saat Ia membuka matanya esok.


Lama tertidur dalam mimpi mimpi indah bersama Agnes membuat Alex enggan membuka matanya. Dia ingin selamanya berada dalam mimpi ini asalkan bisa selalu bersama Istrinya.


Dalam keadaan yang setengah sadar Dia merasakan sentuhan lembut di wajahnya, makin lama sentuhan itu makin bergerilya di setiap bagian bagian sensitif tubuhnya. Alex menyadari ini bukanlah sebuah mimpi, dengan cepat Ia menyamar tangan itu dan menggenggamnya dengan erat membuat sang pemilik kesakitan.


" Auhh...."


Terdengar suara seorang wanita merintih membuat Alex seketika membuka matanya. Dia merasa marah dengan apa yang di lihatnya.


" Beraninya kau Monica,Apa yang kau lakukan di kamarku!" Teriak Alex.


Dia melihat Monica dengan kancing baju yang sudah terbuka sebagian.


" Ma_maaf Tuan, saya hanya mengantar susu untuk Anda," ucap Monika ketakutan melihat raut wajah Alex yang marah.


"Mengantar susu apa perlu membuka pakaianmu seperti itu." ucap Alex sambil menyilangkan tangannya.


Monica membuka seluruh pakaiannya lalu belari memeluk Alex dengan erat.


" Tuan muda, saya tahu anda menginginkannya, saat ini tidak ada Nyonya, biarkan saya membantu anda Tuan," ujar Monica mencoba merayu Alex.


" Wanita menjijikan!"


Alex dengan kasar menyeret Monica keluar dari kamarnya dengan tubuhnya tanpa di balut sehelai benangpun. Dengan kasar Alex melempar tubuh Monica di halaman Mansionnya, seluruh penghuni Mansion menyaksikan kejadian itu sambil saling berbisik satu sama lain.


Ibu Monica yang mengetahui hal itu pun berlari menghampiri putrinya dengan selimut untuk menutupi tubuh Monica yang saat ini menjadi pemandangan bagi para penontonnya.


" Ampun Tuan, ampuni anak saya Tuan," ucap Ibu Monica meminta belas kasihan.


" Tidak ibu, aku tidak bersalah, Tuan Muda hendak memperkosaku, aku berteriak dan karena malu dia memerlakukan aku seperti ini," ujar Monica dengan isak tangisnya yang palsu.


" Tutup mulutmu Monica,cukup," ujar Ibu Monica menahan malu.


" Pergi !" Teriak Alex kesal dengan wanita yang tidak tahu malu itu.


" Ada apa Alex?" Tanya Yohans yang menghampiri Alex setelah mendengar keributan di Masionnya.


" Usir wanita kurang ajar ini. Jika Aku masih melihatnya di sini ku bunuh dia sekarang juga." Bentak Alex menodongkan senjata tepat di kepala Monica.


" Jangan Tuan, saya akan membawanya pergi." Ibu Monica segera membawa anaknya pergi ke kamarnya untuk merapikan barang barangnya. Dia sangat malu dengan sikap anaknya itu, bahkan sering dia mendengar para pelayan menggunjingkan dirinya karena kelukan Monica yang keterlaluan.


" Monica, apa yang kau lakukan, puas kau sekarang, kita sudah tidak ada pekerjaan lagi, bagaimana kita bisa melunasi hutang hutang kita Monica," kata Ibu Monica sambil menamgis tersedu sedu, Dia sangat kesal dengan tingkah anaknya yang di luar batas itu.


Monica hanya terdiam, Dia benar benar tidak perduli dengan apa yang dikatakan Ibunya. Di fikirannya hanya ada Alex, Alex dan Alex saja.


" Suatu saat nanti aku pasti akan mendapatkanmu Alex," gumam Monica dalam hatinya. Dia sangat terobsesi pada Alex sejak kecil hingga saat ini.


Monica dan Ibunya pun akhirnya angkat kaki dari Mansion Yohans.


" Tuan, kami permisi," pamit Ibu Monica pada Yohans.


" Pergilah." Kata Yohans.


Alex menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memegang kepalanya yang hampir meledak itu, ingin rasanya Dia menembak mati Monica saat itu juga.


" Alex, jaga emosimu, jangan sampai kau menghilangkan nyawa seseorang lagi," ucap Yohans perlahan.


" Aku mengerti Pap, tetapi pelayan itu benar benar keterlaluan." ucap Alex lalu Dia kemabali masuk ke kamarnya dan menutup pintunya denga kencang, membuat semua orang yang mendengarnya merasa takut untuk mendekatinya termasuk Ica.


Ica menangis tersedu sedu dalam pelukan Mili, Dia sangat takut dengan Alex yang biasanya lembut kini menjadi kasar.


Mili hanya bisa menenangkan Ica dan memberinya pengertian tentang apa yang di alami Alex saat ini, Dia berharap Ica tidak akan menjauhi Alex karena kejadian ini.