
***
Seperti biasa Agnes sampai tempat kerja lebih awal dari karyawan yang lain, Dia lalu melangkah ke ruangan Diandra dan mengetuk pintunya.
Tok Tok Tok Tok......
" Masuk." jawab seseorang dari dalam.
Agnes melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
" Selamat Pagi Bu." salam Agnes pada Diandra.
" Pagi juga Agnes. Duduklah." jawab Diandra.
" Ehmm,,, Agnes mulai hari ini kamu pindah bagian ya. Ini beberapa pakaian untuk Kamu, kamu bisa segera ganti dan nanti Kamu ke ruangan Pak Alex untuk tanda tangan kontrak baru kamu." ucap Diandra tersenyum pada Agnes.
" pindah bagian Bu? kenapa Bu, apakah saya melakukan kesalahan?" ucap Agnes yang masih sedikit bingung.
" Tidak Agnes. Kerja kamu sangat baik. Ya sudah ini pakaian kamu dan segera ganti ya. Sebentar lagi Pak Alex datang." kata Diandra .
" Baik Bu. Terimakasih, saya permisi dulu." ucap Agnes sambil melangkah keluar dari ruangan Diandra.
Dia masih sedikit heran kenapa tiba tiba Dia di pindahkan, tapi Agnes pun tidak dapat menolaknya , ini adalah pekerjaan satu satunya yang memberinya hasil yang cukup untuk kebutuhan keluarganya. Banyak pekerjaan di luar sana, hanya saja untuk standart pendidikan Agnes tidak ada yang memberinya gaji lebih dari Hotel ini.
.
.
Agnes segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang di berikan Diandra tadi. Dia terpesona oleh dirinya sendiri saat melihat pantulan dirinya di cermin, Agnes melihat dirinya berbeda dengan biasanya, dengan pakaian ini Agnes terlihat jauh lebih cantik dan tubuhnya yang langsing tidak menampakan jika dirinya sudah memiliki seorang gadis kecil.
Agnes tersenyum melihat dirinya, tapi senyum itu mendadak hilang saat tiba tiba bayangan Dion yang mencampakannya.
Secantik apapun jika tidak ada pangkat dan jabatan semua orang akan tetap memandang rendah dirinya.
Agnes melangkahkan kakinya menuju ruangan Alex, dalam setiap langkah Dia menyapa rekan kerjanya seperti biasa yang di lakukan sehari hari, tapi kali ini sebagian rekan kerjanya menatap sinis ke arah Agnes.
" huhhh,,, ngapain lagi tuh , bisa bisanya Dia jadi Asisten Pribadi Pak Dirut. Padahal pendidikan Dia kan rendah banget." bisik salah satu rekan kerjanya. mereka saling bergunjing satu sama lain tentang Agnes.
Agnes merasa tidak nyaman dengan keadaan itu, Dia menyadari bahwa seniornya banyak yang lebih berpengalaman dan berpendidikan tinggi, tapi kenapa harus Dirinya yang mendapatkan posisi ini. Agnes masih bertanya tanya dalam hatinya, sebenarnya Dia di pindah di bagian apa, sehingga membuat banyak rekan kerjanya yang iri padanya.
Sampai depan pintu ruangan Alex , Agnes segera mengetuk pintu lalu membuka pintunya. Dilihat Alex sedang sibuk dengan laptopnya.
" Selamat Pagi Pak..." salam Agnes pada Alex.
" Ya, Selamat Pagi." jawab Alex menoleh ke arah Agnes. Alex tekejut dengan penampilan Agnes saat itu, Dia terlihat sangat cantik dengan baju kerja yang Dia berikan. Baju itu sangat pas dengan postur tubuh Agnes.
Alex menatap Agnes daru ujung kepala hingga ujung kaki Agnes. Seketika Dia mengerutkan keningnya dan tersenyum , Dia berusaha menawan tawanya saat itu.
" Duduk dan Bacalah dengan seksama ." kata Alex pada Agnes sambil menyodorkan sebuah berkas pada Agnes.
" Terimakasih." jawab Agnes sambil menerima berkas itu dan mempelajarinya.
Dia terkejut saat mengetahui posisi apa yang Di berikan untuknya.
" Asisten Pribadi Pak?" tanya Agnes dengan wajah masih tidak percaya.
" Ya,, kenapa?" Kata Alex mengalihkan pandangan dari Laptopnya dan menatap Agnes serius.
" Saya tidak bisa Pak. Saya di bagian pelayan sudah cukup Pak." jawab Agnes canggung. Tatapan Alex benar benar tajam, membuatnya bergetar tidak berani melihat wajah laki laki itu.
" Belum di Coba sudah bilang tidak bisa." Ucap Alex ketus.
" Bukan begitu Pak. Senior saya banyak sekali yang menginginkan posisi ini, mereka lebih memiliki Pendidikan yang sesuai syarat ." kata Agnes menundukan kepalanya.
" Agnes Agnes,,,, Kamu bilang sayang Ica dan Ingin membahagiakannya, tapi saat kamu di beri kesempatan untuk memperbaiki hidup kalian , kamu justru ingin menolaknya hanya karena gunjingan para Senior kamu." kata Alex ketus.
Agnes terkejut dengan kata kata Alex .
" Sejak kamu memiliki Anak, sudah sering gunjingan itu ada pada dirimu tapi kamu bisa melewatinya. Baca dengan seksama, kesempatan itu tidak akan datang untuk kedua kalinya. " ucap Alex kembali memandang Laptopnya dan sesekali melirik ke arah Agnes yang masih terdiam.
" Ya, Pak Alex benar, sejak dulu Aku sudah terbiasa dengan berbagai macam gunjingan dan hinaan orang lain terhadapku." gumam Agnes dalam hatinya.
Agnes mempelajari berkas itu, dan Dia sangat terkejut hingga membuat mulutnya terbuka, Agnes menutup mulutnya dengan tangan. Da terkejut saat mengetahui gaji yang di tawarkan juga fasilitas yang di berikan jika Dia menerima pekerjaan itu.
" Bagaimana?" tanya Alex kembali menatap Agnes serius.
" Saya,,, Saya Mau Pak." jawab Agnes gugub.
Alex tersenyum kecil , lalu memberikan pulpennya pada Agnes.
" Tanda tangan jika kamu Bersedia." kata Alex Singkat.
Agnes menandatangani berkas itu satu persatu. " mulai hari ini Aku bekerja pada Pak Alex secara pribadi, tidak menjadi pekerja dengan Hotel Nuansa lagi, jadi untuk apa Aku menghuraukan gunjingan mereka lagi." gumam Agnes dalam hatinya.
Alex tersenyum melihat Agnes dengan serius menandatangani beberapa berkas di hadapannya. Entah kenapa Dia ingin wanita ini berada di dekatnya, itulah mengapa Dia memilih Agnes sebagai Asisten pribadinya.
" Sudah Pak." kata Agnes selesai menandatangani berkas berkas itu.
Alex memeriksa berkas itu lalu mengerutkan keningnya.
" kenapa nomor ponsel tidak di cantumkan?" tanya Alex pada Agnes.
Alex terkejut dan heran dengan jawaban Agnes, Di saat anak sekolah pun memiliki ponsel, wanita sedewasa Agnes tidak berfikir untuk memilikinya. " Apakah kehidupannya sangat buruk." gumam Alex dalam hatinya.
" Baiklah, kamu ambil tas kamu dan kemari ,,, lalu kamu ikut Aku ke kantor." Perintah Alex pada Agnes.
" Baik Pak,,saya permisi." ucap Agnes sambil bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu ruangan itu.
" Oh ya Agnes,,, jangan lupa pakai Sepatumu Ok." kata Alex tersenyum menahan tawa.
Agnes menunduk menatap kakinya yang ternyata masih mengenakan sendal jepit yang biasa ia kenakan saat membersihkan toilet. Seketika wajahnya menjadi merah, Agnes tersenyum malu.
" Baik Pak,, maaf." ucap Agnes tersipu malu lalu keluar dari ruangan Alex sambil menepuk nepuk kepalanya.
Alex terkekeh melihat tingkah Agnes yang salah tingkah .
.
.
.
Agnes mengambil tas nya dan memakai sepatu yang Diandra berikan padanya lalu kembali menuju ruangan Alex. Dia sudah tidak perduli lagi dengan apa yang mereka katakan tentangnya, saat ini hanya Kebahagiaan Ica yang menjadi motifasinya.
Agnes melangkah dengan mantap untuk menghadapi pekerjaan barunya.
Agnes mengetuk pintu ruangan Alex dan membuka pintunya. Dilihat nya ada Tania di dalam yang sedang berbincang dengan Alex.
" kamu lagi...." kata Tania dengan kesal setiap melihat Agnes. Dia merasa Agnes sangat mengganngu moment momentnya saat bersama Alex.
" Sudah siap Agnes?" tanya Alex tersenyum melihat Agnes . Sepatu dan Pakaian yang Dia pilih sangat pas dengan Agnes.
" Sudah Pak." jawab Agnes masih berdiri di dekat pintu.
" Ok, kita berangkat sekarang. Sorry Tania, hari ini Aku sibuk sekali, tidak bisa menemanimu jalan jalan berkeliling." kata Alex bangkit dari duduknya.
" Alex, Dua minggu Aku di sini kamu tidak ada waktu untukku." tanya Tania heran.
" Soryy Tania." ucap Alex mempersilahkan Tania keluar dari ruangannya.Entah mengapa Alex tidak suka Tania berada di ruangan milik Alecia yang di berikan untuknya.
Tania melangkah keluar dari ruangan Alex dan dengan sengaja menabrakan bahunya pada Agnes, sehingga membuat Agnes hampir terjatuh.
Agnes tidak tahu, mengapa Tania begitu membencinya.
Alex menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Tania yang seperti itu. Dia tahu Tania ada maksud lain selama berteman dengannya hingga akhirnya Tania mengungkapkan perasaannya dan memaksa Alex untuk menidurinya saat masih kuliah.
Alex mengambil ponselnya dan menghubungi Julian.
" Julian, tunggu Aku di bawah , kita ke kantor." perintah Alex .
" Baik Pak." jawab Julian dengan cepat lalu menuju basment .
.
.
Alex melangkah memasuki lift menuju Loby di ikuti Agnes. Tatapan tatapan mata para seniornya benar benar menusuk. Alex menyadari tatapan sinis mereka terhadap Agnes, dengan sengaja Dia tiba tiba menggandeng tangan Agnes membuat orang orang itu kebakaran jenggot.
Agnes kaget dengan perlakuan Alex padanya. " Ternyata Pak Alex jahil juga ya,, Tapi Aku berterimakasih juga sih, dengan begini mereka tidak akan mengangguku ." gumam Agnes dalam hati.
Julian membuka pintu mobilnya untuk Alex dan Agnes.
Mobilpun melaju menuju Perusahaan West Star .
" Agnes, kenalkan Dia Julian. Asistenku juga." kata Alex membuka obrolan.
" Ohh... Hai Julian. saya Agnes ." sapa Agnes ramah pada Julian.
" ya Nona , salam kenal. Anda cantik sekali Nona, semoga kita bisa bekerja sama" jawab Julian tersenyum.
" terimakasih..." kata Agnes tersenyum.
Julian merasa ada hawa dingin dari belakang, ternyata Alex menatap dingin Julian dari kaca spion membuat Julian seketika bungkam lalu fokus mengemudi mobilnya.
Agnes hanya tersenyum melihatnya.
" Ini ponsel untukmu. Di dalamnya sudah ada nomorku dan nomor Julian." kata Alex sambil menyodorkan ponsel pada Agnes.
" tapi pak..." kata Agnes
" tidak ada tapi, kalo kamu tidak ada ponsel, bagaimana Aku bisa menghubungimu. Kamu itu Asisten Pribadiku." kata Alex tanpa Expresi.
" ohh,, Baik Pak. Terimakasih." kata Agnes menerima ponsel itu dengan senyuman di wajahnya.
Alex melirik Agnes yang terlihat senang menerima hadiah darinya.
Alex menatap ke arah jendela dan tersenyum.
( Terimaksih like dan Komennya Kakak😊🙏. Selamat membaca 😊 )