
***
Yarry mendekati Agnes lalu duduk di sebelahnya. Agnes hanya terdiam saat Yarry mendekatinya.
" Agnes, ada sesuatu untukmu," ucap Yarry mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku Jacketnya.
Mata Agnes terbelalak saat melihat benda yang di bawa Yarry.
" Dari mama kau mendapatkan itu," tanya Agnes dengan lembut. Dia sangat senang benda itu di temukan.
" Dari Suamimu," jawab Yarry.
Agnes memakai cincin pernikahannya itu sambil tersenyum memandangnya.
" Apa, kau bertemu dengan Suamiku, bagaimana keadaanya?" Tanya Agnes cemas.
Yarry tersenyum melihat raut wajah sambil mengusap kepala Agnes.
" Kau tenang saja, Dia baik baik saja dan lusa akan menjeputmu," jawab Yarry lembut. Dia tidak tahu mengapa begitu sayang pada Agnes, entah karena wajahnya yang mirip dengan Clara atau karena apa Yarry pun tidak mengerti.
" Sungguh, tetapi apakah Tuan Jordan akan melepaskanku begitu saja," ucap Agnes dengan wajah serius.
" Tentu saja tidak, tetapi Aku akan membantumu," ujar Yarry.
" Sebenarnya apa salahku sehingga Tuan Jordan menahanku," tanya Agnes penasaran.
" Sebernarnya Kau tidak mempunyai kesalahan apapun padanya. Perlu Kau tahu, Jordan sebenarnya bukanlah orang jahat, Dia adalah seorang Ayah yang baik dan lembut, tetapi karena dahulu terlalu banyak orang yang membully Kami, di tambah dengan kematian Jane putri kesayangannya membuat Dia menjadi kejam dan menjadi seseorang yang psikopat, Dia tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Jane." Ujar Yarry menceritakan tentang Adiknya.
" Kasihan," gumam Agnes.
" Tidak perlu Kau mengasihaninya, karena orang seperti Dia bisa membunuhmu kapan saja." Ucap Yarry pada Agnes.
" Terimakasih," ucap Agnes tersenyum pada Yarry.
" Sama sama Agnes, Aku hanya ingin Adikku menjadi orang yang baik kembali meskipun masa lalu itu sangat menyakitkan." Ujar Yarry.
Agnes merasa lega saat itu, Dia yakin sebentar lagi Dia akan bertemu dengan orang orang tersayangnya.
" Aku tidak akan melupakan kebaikanmu," ucap Agnes dengan senyuman di wajah cantiknya.
Yarry hanya tersenyum sambil mengusap kepala Agnes dengan lembut. Entah mengapa Yarry merasa lega dan senang ketika melihat Agnes tersenyum.
Justin yang mendengar rencana Yarry segera keluar dari persembunyiannya.
" Apa rencana Paman?" Tanya Justin yang tiba tiba muncul.
" Justin, bukankah Kau sudah pergi." Ucap Yarry terkejut ternyata Justin mendengar rencananya membantu Agnes lepas dari tangan Jordan.
" Ya, Aku sedari tadi di sini dan Aku tahu semua rencana Paman." Ucap Justin dengan wajah kecewa.
" Justin, Aku tahu Kau kecewa padaku, tetapi ini semua demi kebaikan Ayahmu, mau sampai kapan Kau akan bertahan dengan keadaan Ayahmu yang seperti ini," ujan Yarry memberi pengertian pada Justin.
Sejenak Justin berfikir bahwa apa yang di katakan Pamannya ada benarnya.
Jordan sudah terlalu berlebihan dalam menyalurkan dendamnya. Sudah banyak orang yang di habisinya tanpa alasan dan kesalahan yang jelas. Dia tidak ingin Ayahnya yang dahulu lembut menjadi pembunuh berdarah dingin.
" Baiklah Paman, Aku akan mendukungmu, tetapi dengan syarat, sedikitpun Ayah jangan sampai terluka," pinta Justin pada Pamannya sambil melirik ke arah Agnes.
" Tentu saja, mana mungkin Aku melukai Adiku sendiri Justin." ujar Yarry pada Justin.
Justin mendekati Agnes dengan tatapannya yang lembut.
" Setelah kau pergi dari sini, Aku harap Kau tidak membenci Aku dan Ayahku Agnes." Ucap Justin pada Agnes.
" Tentu saja tidak Justin, Kamu sangat baik padaku," jawab Agnes dengan senyuman tipis.
Justin hanya tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan Agnes dan Yarry.
Dia merasa sedikit kecewa dengan kehidupannya, siapa sangka apa yang Justin inginkan selalu saja Alex yang memenangkannya.
.
.
.
" Jordan, ada perlu apa Kau memintaku kemari?" Tanya Alex berdiri menatap Jordan.
" Haiss, Kau masih angkuh sama seperti dulu Alex," ucap Jordan tersenyum sinis.
" Sudahlah, Aku tidak suka basa basi, apa yang Kau inginkan sebenarnya Jordan." Jawab Alex.
" Baiklah jika itu kemauanmu, Aku ingin kau melenyapkan Group Edward, dengar dengar kau sudah berhasil melenyapkan Dragon Gold." Ucap Jordan sambil menengguk anggurnya.
" Kenapa kau sangat yakin Aku akan menuruti mau mu." Ujar Alex ketus.
Alex tidak mungkin melenyapkan Group Edward, Harry Edward adalah salah satu sahabat Yohans, juga tangan kanan Yohans yang selama ini banyak melindungi Yohans dalam keadaan apapun. Alex yakin dendam Jordan tidaklah beralasan kepada Edward, Dia selalu menyangkut pautkan masalah pribadinya ke bisnis. Selalu itu yang menjadi alasan Dia melenyapkan pesaing bisnisnya.
" Hah, apa kau bisa menolak."
" Pengawal, bawa Dia kemari," perintah Jordan pada salah satu penjaganya.
Tidak beberapa lama pengawal itu pun muncul sembari membawa tawanan mereka seorang wanita yang Alex kenali.
" Agnes," panggil Alex.
Alex melangkah hendak mendekati Agnes, tetapi langkahnya terhenti seketika saat laki laki yang membawa Agnes menodongkan senjata api tepat di pelipis Agnes.
" Alex...." Pekik Agnes.
" Kenapa, apa kau merindukan Istri cantikmu ini Alex," ujar Jordan dengan senyuman sinisnya sambil menyentuh wajah Agnes.
" Jangan sakiti Dia Jordan!" Teriak Alex.
" Aku tidak akan menyakitinya jika Kau mau menuruti kemauanku, jika Kau tidak mau, Aku akan membuat nasibnya sama seperti Siena." Ancam Jordan menatap dingin ke arah Alex.
" Sudah cukup Jordan, Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti siapapun lagi karena ke egoisanmu." Ujar Yarry yang tiba tiba muncul di belakang Jordan sambil menodongkan senjata api di kepala Jordan.
" Turunkan senjatamu!" Perintah Yarry pada pengawal Jordan.
Pengawal itupun menuruti perintah Yarry menurunkan senjatanya. Dengan cepat Agnes berlari menghampiri Suaminya dan memeluknya dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya.
" Jangan menangis, semua akan baik baik saja," ucap Alex menenangkan Agnes sambil memeluknya.
" Yarry, apa yang kau lakukan, pengkhianat Kau." Teriak Jordan.
" Jordan, kematian Jane tidak ada kaitannya denganya, kau tahu itu bukan." Ujar Yarry.
" Alex, bawa Istrimu pergi dari sini!" Perintah Yarry.
Alex menggandeng tangan Agnes segera membawanya keluar dari Mansion Jordan.
Tidak tinggal diam, Jordan menyikut lambung Yarry lalu memukulnya bertubi tubi, terjadilah pertarungan sengit antara kedua kakak beradik itu.
Melihat Alex yang semakin menjauh dari pandangannya, Jordan dengan cepat mengejarnya di ikuti Yarry.
Jordan mengarahkan senjata apinya ke arah Alex.
Dor, dor, dor....
Terdengar suara tembakan di belakangnya, Alex dan Agnes menatap ke belakang, mereka melihat Yarry tersungkur bersimbah darah karena melindungi Agnes dan Alex dari serangan Jordan.
" Tidak." Teriak Agnes berlari menghampiri Yarry di ikuti Alex.
" Tuan, bertahanlah," ucap Agnes berlinang air mata.
Alex segera menggendong Yarry menuju mobilnya lalu membawa Yarry menuju Rumah Sakit.
Yarry mengeluarkan banyak darah saat itu, Dia sangat khawatir dengan nyawa Yarry.
Jordan yang melihat Adiknya berlumuran darah karenanya merasakan lemas di seluruh tubuhnya, Dia tidak menyangka Yarry akan mengorbankan dirinya untuk orang orang yang tidak di kenalinya itu. Jordan menangis tersedu sedu , tetapi sesaat kemudian Dia tertawa sekeras kerasnya.
" Mengapa Yarry, mengapa kau berkhianat juga," teriak Jordan dengan tangisnya.
Justin yang sudah mengetahui rencana Pamannya hanya menyetujui saja renana itu, Dia tahu ini untuk kebaikan Ayahnya juga, tetapi Dia tidak menyangka jika Pamannya akan mengorbankan nyawanya sendiri untuk Agnes.
Melihat keadaan Ayahnya, Justin segera membawa Jordan ke Rumah Sakit. Jordan butuh psikiater untuk mengobati penyakit hatinya itu. Justin ingin Ayahnya seperti dulu, menjadi seorang Ayah yang lembut dan penyayang.