Handsome Boss

Handsome Boss
Epusode 37.



Alex merangkul Agnes terlihat sangat cemas saat menunggu Yarry yang sedang menjalain oprasi. Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Alex sangat sedih melihat keadaan Agnes saat ini, Dia sangat terpukul dengan keadaan Agnes.


" Jangan khawatir Honey, Dia pasti baik baik saja," ucap Alex sambil mengusap usap kepala Agnes yang bersadar di dadanya.


Agnes mendongakan wajah dan menatap Suaminya yang sangat di rindukan itu, Dia sangat bahagia akhirnya dapat bertemu dengan orang yang sangat di cintainya.


" Aku sangat merindukanmu," ujar Agnes manja tiba tiba sambil memeluk erat Alex.


Alex tersenyum melihat Agnes yang manja kepada dirinya, wajar saja sudah berbulan bulan Dia jauh dari Alex, berbulan bulan pula bersama dengan orang orang asing dan tempat yang asing.


" Aku juga merindukanmu Honey, tenanglah semua sudah baik baik saja," ujar Alex mengecup kening Agnes lembut.


Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Dokter yang menangani Yarry telah keluar.


Dokter itu telihat khawatir, Dia membuka maskernya sambil menghembuskan nafas panjang.


" Bagaimana Dokter keadaannya?" Tanya Alex khawatir. Meskipun Dia tidak mengenal Yarry, tetapi Yarry lah yang melindunginya dari peluru yang Jordan lepaskan sehingga Dia dan Agnes selamat.


" Pasien dalam keadaan kritis saat ini, Dia banyak mengeluarkan darah dan harus melakukan transfusi darah, sedangkan golongan darah yang di butuhkan sedang kosong dan agak sulit di dapatkan Tuan," ujar Dokter yang menangani Yarry.


" Memangnya apa golongan darahnya Dok." Tanya Alex.


" AB+ Tuan, tetapi stok darah itu sedang kosong dan sedikit sulit di dapatkan," ucap Dokter yang menangani Yarry.


" AB+ ," ucap Agnes.


" Benar Nyonya, Golongan darah Tuan Yarry adalah AB+," jawab Dokter itu meyakinkan.


Agnes terdiam sejenak, ini benar benar kebetulan, siapa sangka Agnes pun mempunyai golongan darah yang sama dengan Yarry.


" Dokter, golongan darahku AB+, Aku bisa mendonorkannya untuk nya bukan," kata Agnes senang.


" Bisa Nyonya." Jawab Dokter itu cepat.


" Tapi Agnes, kondisi tubuhmu...," ucap Alex cemas.


" Aku baik baik saja Alex, kamu jangan khawatir," ucap Agnes pada Alex.


" Baiklah jika kamu memaksa Honey," ujar Alex tidak dapat melarang niat baik Istrinya.


" Jika begitu, silahkan ikut dengan saya Nyonya, saya akan memeriksa kondisi Anda terlebih dahulu," kata Dokter itu pada Agnes.


Setelah mendapat izin dari Suaminya, Agnes melangkah mengikuti Dokter untuk memberikan transfusi darah untuk Yarry.


Agnes berbaring di sebuah ranjang, sedangkan para perawat memasang alat alat di pergelangan dan lengan tangannya, entah mengapa air mata Agnes tiba tiba mengalir dengan sendirinya saat melihat kondisi Yarry di ranjang yang bersebelahan dengannya.


" Tuan, Kau harus bertahan, Aku yakin kau bisa melewati ini semua, jika Kau tidak bertahan, bagaimana caraku berterimakasih padamu," gumam Agnes dalam hati memohon agar Yarry selamat.


Saat Agnes berada di dalam ruangan bersama Yarry, di luar Alex memberitahukan pada Yohans tentang apa yang terjadi dan memberikan kabar gembira jika Dia sudah bertemu dengan Agnes. Yohans sangat senang mendengar kabar dari Alex lalu Diapun menghubungi Keluarga White agar mereka tidak khawatir akan keadaan Agnes.


Clara dan Nenek White sangat senang mendengar kabar itu , Clara sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Agnes, putri kecilnya yang puluhan tahun hilang dari pelukannya.


.


.


Setelah mendapatkan transfusi darah, akhirnya Yarry dapat melewati masa kritisnya, meskipun belum mendapatkan kesadarannya setidaknya kondisi kesehatan Yarry sudah lebih baik dari sebelumnya.


Setelah memastikan kondisi Yarry membaik akhirnya Alex dan Agnes kembali, Dia yakin Ica akan sangat terkejut melihat Mamanya telah kembali.


Agnes sendiripun sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Ica dan yang lainnya, Dia sangat merindukan Keluarganya setelah melewati masa masa sulit saat peristiwa penculikan itu.


Alex menggandeng tangan Agnes melangkah memasuki Mansionnya. Agnes melihat semua keluarga sudah menunggu kedatangannya, bahkan Nenek White dan Clara juga berada di sana untuk menyambut kedatangannya, itu semua membuat Agnes terharu dan tersenyum bahagia.


" Mama...," panggil Ica sambil berlari kedalam pelukan Ibunya.


" Ica sayang, Mama kangen Nak," ucap Agnes berlutut membalas pelukan Ica.


" Ica juga kangen sama Mama, Mama janji jangan menghilang lagi ya Ma," ujar Ica dengan isak tangisnya.


" Iya sayang," jawab Agnes melegakan hati Ica tersenyum sambil melirik ke arah Suaminya yang membalas senyumannya.


Dengan perlahan Clara mendekati Agnes, " Agnes," panggil Clara pelan.


" Nyonya Clara, terimakasih...." Belum sempat Agnes melanjutka kata katanya tiba tiba Clara memeluknya dengan tangis yang tersedu sedu.


" Nyonya Anda kenapa," tanya Agnes pelan membalas pelukan Clara sambil mengusap usah bahu Clara lembut.


" Ada apa ini Alex," tanya Agnes pada Suaminya yang sedari tadi berdiri di sebelahnya.


" Clara tenanglah," ucap Nenek White menghampiri Clara, Nenek White menggenggam tangannya dengan erat mencoba menenangkan Clara.


" Agnes, sebenarnya Nyonya Clara adalah Ibu kandungmu yang selama ini kamu cari, bukankah kamu selalu bilang padaku ingin mengetahui siapa dan dimana Orang Tuamu," ucap Alex sambil mengusap pipi Agnes dengan lembut.


Agnes terkejut mendengar perkataan Alex, Dia tidak pernah menyangka jika Clara adalah Ibu kandungnya.


" Tidak mungkin Alex, bagaimana bisa, itu tidak masuk akal," ujar Agnes masih tidak percaya dengan kenyataan ini.


" Agnes, Suamimu tidak berbohong, Clara adalah Ibu kandungmu dan kami sudah melakukan tes DNA terhadap Kamu dan Clara Nak," ujar Yohans menjelaskan.


Agnes terdiam sejenak, Dia masih bingung dengan apa yang di dengarnya, ada perasaan senang di hatinya karena kini Dia sudah mengetahui siapa Orang Tua nya, tetapi ada juga perasaan kecewa yang mendalam karena kehidupan yang di jalaninya selama ini begitu kelam tanpa kehadiran orang tuanya.


" Alex, Aku sangat lelah, Aku ingin istirahat," ucap Agnes lirih.


" Baiklah Honey, Kamu sebaiknya beristirahat dahulu," kata Alex pada istrinya dengan lembut.


Agnes melangkah menuju kamarnya, wajahnya masih terlihat bingung dengan semua ini.


" Mengapa semua begitu tiba tiba, mengapa perasaan ini justru terasa sakit saat Aku mengetahui siapa Orang Tuaku, ada apa denganku sebenarnya," gumam Agnes dalam hati.


" Agnes." Panggil Clara.


Agnes menghentikan langkahnya tanpa memalingkan wajahnya kebelakang.


" Mama tahu kamu kecewa pada Mama Nak, Mama sudah berusaha mencarimu Agnes," ujar Clara memberi penjelasan pada Agnes.


Agnes hanya terdiam lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar dan menutup pintunya rapat rapat tanpa mempedulikan penjelasan Clara.


Clara terlihat sedih melihat sikap Agnes yang seperti itu.


" Nyonya, saya mengerti perasaan Anda, tetapi sebaiknya kita biarkan Agnes beristirahat dahulu, kita semua tahu bukan jika Dia baru saja melewati masa masa yang sulit," ucap Alex iba melihat Clara. Dia tahu Agnes masih syok dengan kenyataan ini.


" Kamu benar Alex, Aku yang terburu buru, itu semua karena Aku sangat merindukannya, Aku tidak pernah berniat mencampakannya," jelas Clara dengan isak tangisnya.


" Kami semua mengerti Clara, tidak ada salahnya kita biarkan Agnes tenang dahulu, beri Dia waktu untuk memahami keadaan ini," ujar Yohans pada Clara.


" Benar Clara, Kamu bersabarlah," kata Nenek White sambil mengusap usap bahu putrinya itu.


Clara hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti, Clarapun memaklumi jika Agnes tidak bisa langsung menerimanya, karena mereka terpisahkan sudah 26 tahun, wajar saja jika Agnes merasa kecewa.


" Oma jangan sedih, Ica sayang kok sama Oma," Ucap Ica yang akhirnya melegakan hati Clara dan membuatnya tersenyum.


" Terimakasih Ica, cucu kesayangan Oma," ucap Clara sambil memeluk Ica.


Ica terlihat senang saat bersama Clara, bahkan selama Agnes menghilang Ica lebih sering menginap di Rumah Keluarga White.


Selagi Keluarganya berbincang Alex yang merasakan lelah pun berpamitan untuk beristirahat. Alex membuka pintu kamarnya dan masuk ke ruangan itu, terlihat Agnes yang masih melamun di tepi ranjangnya.


" Honey, kenapa kamu melamun," tanya Alex sambil melangkah mendekati Agnes dan duduk di sampingnya.


" Aku tidak tahu harus bagaimana," ucap Agnes menyandarkan kepalanya di dada Alex.


" Aku tahu kamu tidak percaya Honey, tetapi inilah kenyataannya, sebuah kenyataan yang tidak bisa di rubah," jawab Alex sambil mengecup ujung kepala Agnes dan membelainya dengan lembut.


Agnes hanya terdiam, Dia hanya bingung mengapa Ibunya tinggal di Amerika, sedangkan Dia sejak kecil berada di Indonesia. Sesuatu kebetulan yang tidak masuk akal baginya.


" Bagaimana bisa Alex, Aku tidak menyangka jika Ibuku adalah Nyonya Clara, kau tahu kehidupanku dulu seperti apa bukan, siapa sangka Orang Tuaku adalah orang yang kaya raya, tanpa mereka tahu Aku kelaparan sendirian Alex," ucap Agnes mengingat masa lalunya.


" Honey, Aku tahu Kamu kecewa dengan Orang Tua mu, tetapi kita tidak tahu bukan apa yang terjadi sebenarnya pada Nyonya Clara saat itu," ujar Alex.


Agnes hanya terdiam memandang Suaminya.


" Ya sudah, sebaiknya kamu mandi agar tubuhmu segar lalu beristirahatlah Honey," ucap Alex sambil mencubit hidung Agnes yang mancung.


Agnes tersenyum manja sambil merangkulkan tangannya di leher Alex.


" Aku bahagia, akhirnya bisa bertemu denganmu lagi Alex, saat itu Aku benar benar takut jikalau sampai tidak bisa bertemu denganmu lagi," ucap Agnes .


" Sstt..., jangan berbicara seperti itu, Honey, jangan pernah pergi jauh jauh dariku lagi, Aku tidak bisa jika harus tanpamu," ujar Alex menempelkan hidungnya di hidung Agnes.


Mereka berduapun tersenyum bersama dan saling berpelukan, melepas rasa rindu yang selama ini mereka pendam.