
***
Alex mengendarai mobilnya dengan cepat menuju kediamannya. Seharian ini fikirannya kalut dan masih saja kesal dengan sikap Agnes. Harapannya sia sia, bukan saja tidak meminta maaf, tetapi Agnes juga mengabaikannya seharian ini.
Alex merasa tidak ada salah pada Agnes, justru Dia lah yang dibuat kesal oleh Agnes hari ini, tetapi mengapa justru Agnes yang mediamkannya.
" Haiss ... apa-apaan ini, mengapa selalu saja Aku yang mengalah. Tak apalah, demi kebahagiaanku dan Agnes, lain kali ... Aku akan memintanya tidak berbicara seperti itu lagi," gumam Alex sambil memarkirkan mobilnya di garasi. Ia memilih mengalah, daripada terus-terusan diam kepada Agnes.
Alex melangkahkan kaki memasuki rumahnya. Hari sudah sangat larut, rumahnyanpun sudah terasa sepi karena sebagian penghuninya telah pergi beristirahat.
Perlahan Alex membuka kamar Sean, terlihat Sean sedanh tiertidur pulas di dalam box bayinya.
Saat Alex sedang mengamati putra kecionya, tiba tiba Nina masuk kedalam kamar Sean, Dia terkejut saat melihat Alex yang berdiri di sebelah box bayi Sean.
" Anda siapa?" Tanya Nina yang baru kali ini melihat Alex.
Alex membalikan wajahnya menatap sosok Nina yang asing baginya.
" Kau sendiri siapa? Mengapa kau berada di kamar putraku?" Tanya Alex pada Nina tegas.
" Oh, jadi Anda Ayah dari tuan muda Sean? Ma- maaf tuan saya tidak tahu. Saya baru hari ini bekerja di sini sebagai pengasuh," ujar Nina canggung.
" Tidak apa-apa, jaga dengan baik putraku ini. Jangan sampai Kau lengah." Kata Alex pada Nina sambil melangkah keluar dari kamar Sean.
" Baik, tuan." Jawab Nina sambil membungkuk.
Setelah Alex keluar dari kamar Sean, Alex segera melangkah menuju kamarnya. Perlahan dibukanya pintu kamar itu, karena Ia mengira Agnes sudah tidur dan tidak ingin mengganggu tidurnya.
Saat pintu terbuka, dugaan Alex salah. Ternyata Agnes belumlah tidur malam itu.
Agnes masih duduk bersandar di kepala ranjangnya dengan sebuah buku Novel di tangannya.
" Honey, Kau belum tidur sayang?" Tanya Alex sambil mendekati Agnes.
" Belum." Jawab Agnes singkat.
Alex duduk ditepi ranjang sambil menatap Istrinya dalam-dalam. Sikap acuh Agnes membuatnya bingung dan serba salah.
" Honey, ada apa sebenarnya denganmu?" Tanya Alex lembut.
" Aku tidak apa-apa Alex. Memangnya kenapa?" Ucap Agnes sambil membalik halaman Novelnya.
" Agnes, aku mohon jangan seperti ini. Apa salahku padamu!" Ucap Alex dengan suara berat. Entah apa yang dilakukannya sehingga Agnes begitu dingin padanya.
Agnes menutup Novelnya, menatap Alex dalam-dalam. Dia merasa sedih dengan apa yang dilihatnya saat di kantor Alex tadi, di tambah sikap Alex saat ini yang terlihat berbeda. Alex terlihat marah dan sangat kesal padanya.
" Alex ... Aku tahu jika Aku bersalah padamu. Kata kataku memanglah tidak pantas untuk Aku ucapkan padamu, dan Aku minta maaf. Tapi, bukan begini caramu membalasku, Alex!" Kata Agnes dengan mata berkaca-kaca.
" Membalas? Apa maksudmu Agnes?" Tanya Alex bingung.
" Wanita mana yang Kau peluk, sehingga meninggalkan noda lipstik di bajumu ini, hah ...." Ujar Agnes kesal sambil menujuk kemeja Alex yang ada bekas lipstik seorang wanita.
Alex menatap kemejanya itu. Alex teringat saat Dia menolong Tina yang hampir terjatuh dan Ia menangkapnya. Alex tidak menyangka, saat wajah Tina terjerembab di dadanya akan meninggalkan noda lipstik pada kemejanya itu.
" Honey ... kamu salah faham, sayang," jelas Alex pada Agnes tentang noda lipstik di kemejanya.
" Salah faham apa? Aku melihatnya sendiri, Alex." Ucap Agnes menundukan wajahnya dengan air mata yang berlinang.
" Jadi, kamu kekantor tadi?" Tanya Alex lembut.
" Ya," jawab Agnes mengalihkan pandangannya.
Alex tersenyum seketika. Dia merasa lega, ternyata Ages tidak mengabaikannya hari ini. Dia sudah menghampirinya di kantor, tetapi justru Agnes melihat hal yang tidak diinginkan, juga sesuatu yang membuatnya salah faham.
" Honey ... Aku tidak memeluk wanita manapun. Yang kau lihat tadi bukanlah seperti yang kau fikirkan, sayang," ujar Alex.
" Lalu?" Tanya Agnes singkat.
" Wanita yang kamu lihat itu adalah Tina, Dia sekretaris baru di kantorku. Aku tidak memeluknya, hanya menolongnya saat Ia hendak terjatuh saja saat itu, Honey," jelas Alex pada Agnes. Dia tidak ingin kesalah fahaman ini berlarut hingga membuatnya bertengkar dengan Istrinya.
Agnes terdiam saat itu, jika memang benar yang Alex katakan. Dia akan sangat malu karena sudah cemburu buta terhadap Suaminya itu. Seharusnya, saat itu Agnea menghampiri Alex saja, agar tidak ada kesalah fahaman seperti ini. Bukanya berlari!
" Maafkan aku Alex, aku sudah salah sangka padamu ... aku fikir, kamu mulai bosan padaku," ucap Agnes menundukan kepalanya.
" Sstt ... apa yang kau katakan Honey, aku tidak akan bosan padamu, sampai kapanpun, tidak akan pernah. Okey," ucap Alex mengangkat wajah Agnes dan menatap matanya dalam dalam.
Agnes membalas tatapan mata Alex dengan lembut, " Maafkan aku, sayang," ucap Agnes sambil mengecup pipi Alex lalu memeluk Suaminya itu dengan erat. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan Alex. Dia sangat mencintai Suaminya itu.
Alex membalas pelukan Agnes, Dia merasa lega karena semua telah seleai. Tidak ada lagi kesalah fahaman antara dirinya dengan Agnes lagi. Baru sehari saja Agnes mengabaikannya, Alex sudah merasa gelisan dan tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja. Bagaimana jika masalah ini berlarut? Haihhhh ... pasti sangat merepotkan bukan.
**
Beberapa bulan berlalu, Baby Sean kini sudah tumbuh besar dengan cepat. Dengan bantuan Nina yang menjaga Sean dengan baik, Agnes bisa menjalani kemotherapi dengan baik sesuai jadwalnya. Tetapi, penyakit itu bukanlah penyakit yang mudah untuk di sembuhkan. Efek dari Therapi Radiasi itu membuat Agnes terlihat makin kurus, dan sedikit demi sedikit membuat rambut indahnya mengalami kerontokan.
Agnes memandang tubuhnya di depan cermin kamarnya, tubuhnya tidak seindah dulu.
" Apa ... apa aku bisa membahagiakan Alex dengan keadaanku yang seperti ini?" Tanya Agnes pada dirinya sendiri. Dia merasa sedih dengan keadaannya saat ini.
Terkadang Agnes merasa putus asa dengan semua ini tetapi Ica dan Sean masih membutuhkannya. Dia harus semangat sembuh, melawan penyakitnya itu.
Agnes semangat menjalani pengobatan ini demi orang-orang yang disayanginya. Apapun hasilnya nanti, Agnes hanya bisa pasrah kepada Sang Maha Kuasa. Dia hanya bisa berusaha dan terus berusaha saja.
" Nina, aku akan pergi sebentar. Kamu jaga Sean baik-baik ya." Perintah Agnes pada Nina.
" Baik, Nyonya," jawab Nina tersenyum ramah pada Agnes.
Agnes mengecup wajah Sean berkali-kali, berat rasanya selalu meninggalkan putra kecilnya itu.
Agnespun memasuki mobilnya, lalu melajukannya menuju Rumah Sakit.
Hari ini adalah jadwal Agnes melakukan Therapi, Dia harus rutin menjalaninTherapi itu, agar sel-sel kanker di tubuhnya tidak berkembang. Rasanya begitu menyakitkan bagi Agnes, tetapi-- mau tidak mau-- Agnes harus menjalaninya. Semua rasa sakit itu di tahannya, agar Agnes bisa sembuh dan kembali ke kehidupan yang normal bersama keluarga kecilnya.
Setalah sampai di Rumah Sakit, Agne segera menuju ruangan, dimana Dia akan melakukan Therapi.
Agnes mengetuk pintu itu perlahan, lalu membukanya setelah seseorang yang berada di dalam ruangan itu memintanya untuk masuk.
" Selamat siang, Dokter," sapa Agnes pada seorang Dokter yang sedang menyiapkan alat-alat untuk Therapi dirinya.
" Selamat siang, Agnes. Kemarilah ..." pinta Dokter itu pada Agnes.
Agnes menuruti perintah Doktet itu. Dia membaringkan tubuhnya di sebuah ranjang, dan ranjang itu terdorong secara otomatis memasuki sebuah tabung besar yang menelan tubuhnya. Satu persatu sinar itu menyala menyoroti tubuh Agnes. Meskipun itu hanya sebuah sinar, tapi bagi Agnes itu adalah sebuah sayatan-sayatan yang menyakitkan di tubuhnya. Kepalanya terasa sakit-- perutnya terasa mual--, itulah yang di rasakan Agnes setiap kali menjalani Therapi yang menyiksa ini.