Handsome Boss

Handsome Boss
Episode 50.



***


Tiara menyandarkan tubuhnya di dinding kamarnya, tak terasa air matanya mengalir saat Ia mengenang masa lalunya yang benar benar buruk itu. Dia menyesal sudah melakukan hal hal bodoh di masa lalunya.


" Kamu kenapa Tiara?" Tanya Dion.


Saat Tiara melamun, Dia tidak menyadari jika Dion sudah duduk di tepi ranjang dan sedang menatapnya. Tiara merasa canggung saat itu.


" Di ... Dion, kapan Kamu pulangnya?" Ucap Tiara yang bertanya balik kepada Dion.


" Sudah dari tadi, Kamu kenapa," ucap Dion lembut bangkit dan mengusap air mata Tiara.


Tiara terkejut dengan sikap Dion hari ini, tidak biasanya Dia begitu lembut padanya.


" Tidak apa apa, Aku hanya rindu pada Orang tuaku," jawab Tiara mendongakan wajahnya menatap Dion.


Dion hanya tersenyum lalu memeluk Tiara sambil mengusap usap bahu Istrinya itu.


" Besok Aku akan mengantarmu mengunjumgi makam Orang tuamu ya," ucap Dion berusaha menenangkan Tiara.


Tiara sangat nyaman berada dalam pelukan Dion. Kali ini pelukannya terasa lain, lebih hangat dan tulus. Tiara senang jika akhirnya Dion bisa menerimanya saat ini, tetapi ancaman ancama masa lalunya hingga kini masih saja menghantuinya. Tiara tidak berani mengatakan semua itu kepada Dion. Dia takut Dion akan meninggalkannya jika mengetahui masa lalu Tiara yang sangat kelam itu.


.


.


Agnes dan Ica sedang berkeliling Mall siang itu, Agnes membawa Ica jalan jalan setelah Ia menjemputnya dari Sekolah, berulang kali Ica merengek ingin jalan jalan bersama, tetapi Alex belum punya waktu luang untuk menemani mereka.


" Mama, Ica mau es krim," ucap Ica menunju ke arah gerai es krim di Mall.


" Ehm, baiklah. Ayo kita kesana," jawab Agnes tersenyum menuruti kemauan putrinya.


Agnes pun memesan Dua porsi es krim untuk Ica dan dirinya. Saat sedang memesan, tidak sengaja Agnes melihat Dania yang duduk sendirian di sebuah cafe sebelah Ia memesan es krim.Wajahnya terlihat sangat sedih, entah apa yang sedang di fikirkannya. Agnes merasa kasihan melihatnya.


" Ica, tuh ada Nenek di sana, sepertinya Nenek sedang sedih. Ica mau menghibur tidak?" Tanya Agnes lembut pada Putrinya.


Ica berfikir sesaat, Dia takut jika Dania akan melakukan hal yang sama seperti dahulu kepada Dia dan Ibunya.


" Bukankah Nenek tidak menyukai Ica, Ma," ucap Ica pelan.


Agnes terdiam sesaat lalu berlutut di hadapan Ica.


" Mama tahu Nenek sangat keterlaluan saat itu Ica, tetapi Mama yakin Nenek sudah menyesali perbuatannya sayang," ucap Agnes sambil mengusap rambut Ica.


" Baiklah, Aku akan menemui Nenek Ma," ucap Ica.


" Anak baik. Pergilan, nanti Mama menyusul," kata Agnes tersenyum pada Ica.


Ica tersenyum lalu perlahan melangkah menghampiri Dania.


" Hallo Nenek," sapa Ica pada Dania yang duduk sendirian saat itu.


Dania menolehkan pandangannya lalu tersentak saat melihat Ica yang menghampirinya dan memamggilnya dengan sebutan Nenek dari mulut mungilnya itu.


" Ahh ... Ica, Kamu dengan siapa sayang," ucap Dania senang melihat Ica. Wajahnya yang tanya murung terliat cerah kembali.


" Sama Mama, Nek," jawab Ica menunjuk Agnes yang sedang menunggu es krim pesanannya.


" Oh, ya. Duduklah di sini dengan Nenek sayang," kata Dania yang meminta Ica duduk di sebelahnya.


Agnes melangkah menuju meja dimana Ica dan Dania duduk dan berbincang. Dania terlihat senang, sesekali Ia tersenyum sambil mengusap kepala Ica yang juga tersenyum padanya.


" Nah, ini Dia es krimnya sudah datang," ucap Agnes membawa tiga cup es krim untuk mereka nikmati bersama.


" Terimakasih Agnes," ucap Dania tersenyum lembut pada Agnes.


" Sama sama Tante," jawab Agnes membalas senyuman Dania. Dia merasa senang melihat perubahan pada Dania. Dania tidak seperti dulu lagi, Dia kini lebih lembun dan lebih ramah dengan orang orang sekitarnya.


" Bagaimana kabarmu Agnes?" Tanya Dania.


" Sangat Baik Tante," jawab Agnes tersenyum sambil menikmati es krimnya.


" Syukurlah, Aku senang melihatmu baik baik saja Agnes," ucap Dania tersenyum.


" Terimakasih Tante. Tante sendiri bagaimana kabarnya?" Tanya Agnes.


" Ya ... Aku juga baik baik saja Agnes," jawab Dania tersenyum tipis lalu menengok ke arah Ica yang asyik dengan es krimnya.


Dania tersenyum melihat Ica yang sangat manis, Dia cantik seperti Agnes, sedangkan senyumannya mirip sekali dengan Dion.


" Ica suka makan apa?" tanya Dania pada Ica.


" Emhh ... Ica suka makan Ayam goreng, Nasi goreng buatan Mama, Nek," jawab Ica dengan polosnya.


" Oh, jika Ica main kerumah Nenek, Nenek boleh kan masak makanan kesukaan Ica," ucap Dania mengusap ujung kepala Ica.


" Iya Nek, boleh," jawab Ica tersenyum.


Agnes dan Dania meluangkan waktu untuk berjalan bersama sama dengan Ica berekeliling Mall. Saking asyiknya mereka tidak terasa hari telah Sore.


Agnes dan Dania bersama sama melangkah keluar dari gedung perbelanjaan itu, dari kejauhan terlihat seseorang yang berjalan menghampiri mereka.


" Honey, Kamu sudah selesai jalan jalannya," sapa Alex yang bermaksud menjemput Agnes dan Ica.


" Sudah Sayang. Oh ya, tadi kebetulan Aku bertemu dengan Tante Dania di sini," ucap Agnes pada Alex.


" Sungguh kebetulan Nyonya. Senang bertemu Anda di sini Nyonya," sapa Alex pada Dania.


" Ah ya Tuan, kebetulan sekali. Saya juga tidak menyangka akan bertemu Ica dan Agnes di sini," jawab Dania yang masih merasa canggung dengan Alex.


" Nyonya jangan sungkan. Panggil saja Saya Alex, Kita ini Keluarga, Anda adalah Nenek dari Anak saya," kata Alex tersenyum sambil merangkul Agnes.


" Ah, sungguh? Terimakasih Tuan ... eh Alex. Kalian sudah menganggap kami sebagai Keluarga," ucap Dania tersenyum senang. Dia tidak menyangka di balik dinginnya Alex, ternyata Alex adalah orang yang sangat baik.


Agnes tersenyum sambil menatap wajah Suaminya, Dia sangat bangga memiliki Suami yang baik dan juga tampan seperti Alex.


Agnes dan Icapun masuk kedalam mobil Alex sambil melambaikan tangannya kepada Dania.


" Sampai berjumpa lagi Nek," kata Ica seraya melambaikan tangannya dari kaca jendela mobilnya.


Dania hanya tersenyum membalas lambaian tangan Agnes dan Keluarga kecilnya itu.


.


.


Alex melajukan mobilnya dengan santai menuju rumahnya.


Terlihat Ica sudah tertidur di kursi bagian belakang, Ica sangat lelah seharian bermain bersama Ibu dan juga Neneknya.


Alex memasuki halaman rumahnya lalu memarkirkan mobilnya.


Dengan perlahan Alex mengangkat Ica ke atas gendongannya lalu melangkah untuk menidurkannya di kamar.


" Haiss ... Kamu kelelahan ya sayang," gumam Alex mengusap kepala Ica lalu keluar dari kamar Ica.


Alex berdiri di bawah shower, rintik rintik air membasahinya dari ujung kepala hingga ujung kakinya.


Usai membersihkah tubuhnya Alex membalutkan handuk putih di pinggangnya lalu keluar dengan handuk kecil untuk mengusap kepalanya agar rambutnya kering, terlihat piyamanya sudah tergeletak di tepi ranjang, Alex hanya tersenyum. Dia merasa sangat beruntung memiliki Agnes sebagai Istrinya, Agnes sangat perhatian dan memperlakukannya dengan sangat baik.


" Sudah selesai mandinya Sayang," ucap Agnes yang baru saja masuk ke kamarnya.


" Ya. Kamu bawa apa Honey?" Tanya Alex yang duduk di tepi ranjang sambil mengusap usap kepalanya.


" Ini susu hangat dan cemilan. Aku banyak makan akhir akhir ini," kata Agnes tersenyum malu lalu meletakan nampannya di meja.


Agnes melangkah mendekati Alex lalu menggantikannya mengeringkan rambut Alex.


Alex tersenyum sambil mendongakan wajahnya menatap wajah cantik Istrinya.


" Terimakakasih Honeyku," ucap Alex sambil merangkulkan tangannya di perut Agnes.


Agnes hanya tersenyum sambil mengusap usap kepala Alex dengan handuk di tangannya.


" Kamu terlihat lelah Alex," ucap Agnes sambil memijit bahu Alex.


" Ya, Perusahaan sedang mengalami kesulitan bahan produksi Honey, dan juga pesanan pesanan Buyer yang sudah siap kirim terpaksa harus ditunda pengirimannya, huhh..." jawab Alex menyandarkan kepalanya di dada Agnes.


" Bagaimana bisa?" Tanya Agnes. Perusahaan Alex tidak pernah mengalami kesulitan dalam pemasokan bahan produksi selama ini.


" Ya, Akupun tidak begitu mengerti Agnes. Ada suatu wabah di Negara penyuplai bahan produksi kita, dan kini lambat laun wabah itu sudah masuk di kota ini. Yah ... semoga saja wabah ini segera menghilang," kata Alex pelan.


" Ya ... semoga segera hilang ya Sayang," ucap Agnes sambil mengusap usap kepala Alex yang bersandar di dadanya.


" Kamu jaga selalu kesehatanmu dan calon anak kita, Honey," kata Alex mengingatkan Istrinya.


" Iya Suamiku sayang, Kamu juga ya," jawab Agnes tersenyum memeluk Alex dari belakang.


.


.


Pagi itu Alex berangkat ke kantornya lebih awal bersama Julian. Terlihat dari raut wajahnya, Alex sangat mengalami bebam fikiran yang berat. Bagaimana tidak, Dia harus menggaji ribuan pekerja di setiap cabang perusahaannya, tetapi produksi tidak berjalan lancar seperti hari hari sebelumnya.


Alex melangkah menuju ruangannya di ikuti Julian. Wajahnya dingin, tidak ada satupun karyawannya yang berani menatap Bosnya saat itu.


" Julian, Bawa ini ke WS cabang Dua!" Perintah Alex memberikan sebuah map pada Julian.


" Baik, Tuan," jawab Julian lale melangkah berbalik menuju mobilnya.


Alex membuka pintu ruangannya, terlihat Ronald sudah berada di dalam ruangan sedang menunggunya.


" Kau sudah datang, Alex," kata Ronald saat melihat Alex.


" Ya, ada apa Om pagi pagi sudah menungguku?" Tanya Alex sambil melangkah menuju meja kerjanya dan duduk.


" Ada kabar buruk Alex," ucap Ronald dengan wajah sedikit cemas.


" Ada apa Om?" Tanya Alex.


" Supliyer tidak dapat mengirin bahan ke Perusahaan, semua jalur sudah di blokir, entah sampai kapan," ujar Ronald.


" Huh ... bagaimana bisa begini," ucap Alex pelan sambil memijit mijit keningnya.


" Saat ini stok bahan masih cukuplah untuk produksi, tetapi kita pun sama saja Alex. Kita tida bisa mengirim produk ke Luar Negeri, karena Negara yang sudah terserang dampak wabah itu terpaksa mengurangi aktifitas Export Import, " jelas Ronald.


" Ya, Aku mengerti. Om Ronald ada solusi apa untuk masalah ini?" Tanya Alex.


" Ini terlalu sulit Alex, mau tidak mau kita harus mengurangi jumlah pekerja Alex. Kita harus melakukan PHK masal." Kata Ronald berat.


Alex terdiam sesaat, Dia berfikir keras bagaimana agar masalah di perusahaannya ini bisa teratasi.


Sebenarnya Dia merasa iba pada para pekerjanya, karena walau bagaimanapun mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan Keluarganya. Tetapi Alex pun tidak dapat berbuat apa apa, karena ini adalah sebuah musibah.


" Lisa, minta semua bagian Direksi semua cabang untuk rapat satu jam lagi, cabang luar Kota, bisa mengikuti rapat secara Live video." Perintah Alex pada Sekretarisnya lewat telefon.


Ronald menatap Alex tajam, Dia tahu Alex mengalami kesulitan saat ini. Tetapi kesulitan ini harus Ia hadapi sendiri dahulu, karena Yohans yang berada di Luar Negeri pun sedang mengalami kesulitan yang sama, bahkan wabah virus itu sudah memasuki Negara di mana Yohans tinggal, dan sudah memakan banyak korban jiwa.


" Kita rapat sebentar lagi," kata Alex pada Ronald.


" Apa keputusanmu, Alex?" Tanya Ronald.


" Nanti akan Ku jelaskan di rapat, Om." Jawab Alex singkat.


" Baiklah jika begitu," ucap Ronald bangkit dari duduknya, lalu melangkah menuju pintu ruangan Alex.


" Alex, Aku yakin Kamu pasti bisa menghadapi ini semua," ucap Ronald, lalu melangkah keluar dari ruangan Alex.


Alex hanya tersenyum tipis lalu memijit mijit keningnya kembali. Saat itu seketika Dia teringat Ayahnya, lalu dengan cepat Alex mengambil ponselnya untuk menghubungi Ayahnya yang jauh di sana.


📱 " Hallo Alex, ada apa?" Jawab Yohans saat mengetahui Alex menghubunginya.


📱 " Tidak apa apa Pap. Bagaimana keadaan Papi di sana?" Tanya Alex dengan nada sedikit cemas.


📱 Tenang saja Alex, Papi baik baik saja. Kamu bagaimana, apakah ada masalah di perusahaanmu Alex," kata Yohans lembit pada Putra semata wayangnya.


📱 " Ya ... sedikit Pap, Papi tidak perlu khawatir," ucap Alex tidak ingin Yohans terlalu lelah memikirkan Perusahaannya.


📱 " Syukurlah Alex, Kamu dan Keluargamu harus selalu jaga kesehatan Alex, karena wabah ini bukan hanya di Negara tetangga, tetapi sudah mendunia," ujar Yohans mengatkan.


📱" Baiklah Pap. Aku lega mengetahui Papi baik baik saja, Aku hanya khawatir," kata Alex.


📱" Papi mengerti Alex, Kamu tenang saja. Papi akan selalu baik baik saja. Kalau begitu, lanjutkan pekerjaanmu Alex," kata Yohans.


📱 " Baiklah Papi, Papi hati hati di sana, selalu hubungi Alex jika terjadi apapun di sana," ucap Alex.


📱 " Tentu Alex. Ya sudah, salam untuk Agnes dan Ica, bye Alex," ucap Yohans mengakhiri pembicaraannya.


Alex mematikan ponselnya lalu meletakannya di saku jasnya kembali. Dia merasa tenang mengetahui keadaan Ayahnya yang baik baik saja.


Waktu yang di tentukan untuk rapat telah tiba. Alex dan sekretarisnya Lisa melangkah menuju ruang rapat.


Saat memasuki ruangang tersebut, terlihat semua karyawan yang mengikuti rapat telah berada di tempatnya masing masing. Ini adalah rapat besar besaran yang Alex lakukan, dan di gelar secara terbuka bersama ribuan karyawannya di semua cabang, semua karyawan bagian manapun berkumpul untuk menyaksikan rapat dari pemilik Perusahaan dimana mereka bekerja lewat layar yang di pasang di bagian masing masing. Alex dengan tenang melangkahkan kakinya menuju kursinya lalu duduk di hadapan semua karyawannya.


" Selamat Pagi semuanya," sapa Alex kepada seluruh peserta rapat.


" Selamat pagi, Tuan," jawab mereka serentak.


" Kalian pasti bertanya tanya mengapa Saya mengumpulkan kalian secara mendadak seperti ini bukan?


Saya sudah membaca bagaimana keadaan Perusahaan ini dalam satu bulan ini, dan ini bukanlah kesalahan kalian semua, ini adalah sebuah musibah dimana tidak ada seorangpun yang menginginkannya bukan," kata Alex pada para Karyawannya.


Tidak ada satupun yang berani menatap wajah Alex saat itu, mereka menyadari akan musibah ini, dan kemungkinan terburuk pasti akan terjadi.


" Jadi, keputusan Saya adalah. Perusahaan ini akan mengistirahatkan sebagian karyawan dahulu, dan akan memanggilnya kembali bekerja saat situasi sudah membaik dan stabil. Saya tahu ini sangat berat untuk kalian, tetapi perusahaan juga tidak dapat menggaji puluhan ribu karyawan tanpa adanya pemasukan, jadi harap mengerti. Salah satu kebijakan Perusahaan untuk mengurangi beban hidup kalian, gaji akan di berikan hingga dua bulan setelah kalian beristirahat di rumah. Apakah ada yang ingin di tanyakan?" Tanya Alex sambil menatap beberapa karyawannya yang berada di dalam ruang rapat.


Semua yang berada di sana hanya terdiam, mereka tidak berani berkata apapun, karena ini merupakan keputusan terbaik yang sudah di tentukan oleh CEO Perusahaan West Star.


" Baiklah, jika tida ada yang ditanyakan, rapat ini di tutup, dan silahkan kembali ke bagian masing masing," ucap Alex mempersilahkan karyawannya keluar terlebih dahulu.