Handsome Boss

Handsome Boss
Episode 34.



***


Justin membuka pintu ruang kerja Ayahnya lalu melangkah masuk di ikuti Agnes. Dia sedikit penasaran apa yang akan di lakukan Ayahnya pada Agnes nanti, mengingat Ayahnya bukanlah orang yang lembut.


" Ada apa Ayah meminta pengawal membawa Agnes kemari?" Tanya Justin.


" Oh, jadi namanya Agnes," ucap Ayah Justin sambil menghisap cerutu di tangannya.


" Aku ingin berbicara padanya, Kau bisa keluar Justin."


" Tapi...."


" Tidak ada tapi." Ucap Ayah Justin dengan tegas.


" Baiklah Ayah," kata Justin menuruti perintah Ayahnya keluar dari ruang kerja Ayahnya.


Agnes hanya terdiam dan menundukan kepalanya, entah mengapa Dia tidak berani menatap Ayah Justin.


Ayah Justin menatap Agnes dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia merasa tidak asing dengan Agnes hanya saja Dia tidak tahu di mana pernah berjumpa.


" Jadi namamu Agnes?" Tanya Ayah Justin.


" Benar, Tuan," jawab Agnes.


Ayah Justin mendekati Agnes, Dia menyibak rambut Agnes yang menutupi lehernya, seketika Agnes melangkah mundur dan merasa sedikit takut.


" Kau tidak memiliki tato naga di leher, kau bukan anggota mereka," ucap Ayah Justin pelan, " Bagaimana bisa kau bersama mereka saat kecelakaan itu?"


" Saya adalah korban penculikan Tuan, saya tidak mengenal mereka," jawab Agnes sedikit menatap ke arah laki laki setengah baya itu.


" Kau di culik, ada masalah apa kau dengan mereka," tanya Ayah Justin.


" Saya tidak tahu apa alasan mereka, saya merasa tidak pernah menyinggung siapapun," jawab Agnes.


Ayah Justin melangkah menuju sofa lalu duduk sambil menghisap cerutunya dalam.


Di tatapnya Agnes dengan tatapan dingin, " Siapa wanita ini sebenarnya, mengapa Dragon Gold menginginkannya," gumam Ayah Justin dalam hati.


" Tuan, saya ingin pulang, saya rindu keluarga saya," ucap Agnes dengan nada memohon pada Ayah Justin.


" Tsk, pulang, Agnes Agnes, kamu ini benar benar naif, mengapa kamu beranggapan bahwa Aku akan melepasmu," ucap Ayah Justin tersenyum sinis.


" Maksud Tuan apa, mengapa Anda tidak mengembalikan saya pada keluarga saya?" Tanya Agnes bingung.


Ayah Justin bangkit dari duduknya lalu melangkah menghampiri Agnes, Dia mencengkram dagu Agnes dan menatapnya dalam dalam, tatapan mata itu benar benar dingin, " Jika Wiliam saja menginginkanmu, itu menandakan Kau bukanlah orang biasa, lalu bagaima bisa Aku mengembalikanmu tanpa mendapat keuntungan sedikitpun." Jawab Ayah Justin sembari melepas cengkramannya.


Seketika tubuh Agnes bergetar, Dia tidak menyangka akan terjebak di situasi seperti ini. Dia bersyukur telah di selamatkan dari kecelakaan maut itu, tetapi kini Dia kembali menjadi tawanan di tempat ini.


Saat itu juga kaki Agnes terasa lemas, mata nya tiba tiba gelap . Entah apa yang terjadi selanjutnya Dia tidak mengingatnya lagi.


" Cepat bawa Dia ke kamarnya." Perintah Ayah Justin pada para pelayan.


Justin yang melihat kejadian itu berlari menghampiri Agnes lalu menggantikan pelayan untuk menggendongnya ke kamar.


Setelah memastikan Agnes baik baik saja dan juga mendapat perawatan, Justin segera menghampiri Ayahnya di ruang kerja.


" Ayah apa yang terjadi?" Tanya Justin.


" Tidak ada hal penting yang terjadi, Dia hanya pingsan," jawab Ayah Justin sambil membolak balikkan berkas di tangannya.


" Ayah, sebaiknya kita membebaskan Dia, Dia tidak ada masalah dengan kita bukan," ucap Justin pada Ayahnya.


" Mengapa kau menjadi sangat lembut, apakah kau sudah jatuh cinta pada wanita itu," kata Ayah Justin sambil menatapnya dingin.


" Buka begitu Ayah, tapi...."


" Cukup, sebaiknya kau ke kantor, ada rapat penting hari ini." Perintah Ayah Justin.


" Baiklah." Jawab Justin melangkah keluar dari ruang kerja Ayahnya. Dia tahu tanggung jawabnya sangat besar di perusahaan Ayahnya itu.


Baru saja Justin pergi Pamannya datang dan memberikan sebuah map hasil penyelidikannya pada Ayah Justin, "Jordan , ini hasil dari penyelidikan yang Kau minta."


Ayah Justin menerima map itu lalu membacanya dengan seksama, terlihat senyuman liciknya saat Ia mengetahui isi dari map itu.


" Ini sangat menarik," gumamnya.


" Cepat kau hubungi Keluarga Wilson, katakan Aku ingin bertemu dengannya," ucap Jordan pada salah satu Bodyguardnya via ponsel.


" Baik Tuan," jawab Bodyguard itu menjalankan perintah Jordan.


" Buat apa Kau mencari masalah dengan Keluarga Wilson Jordan, itu tidak ada gunanya," Ucap Yarry pada Adiknya itu.


" Kau tidak akan mengerti Yarry, Aku kehilangan anaku gadisku karena siapa," Kata Jordan dengan tatapan menerawang jauh, mengingat sebuah kenangan yang menyakitkan saat Ia kehilangan Putrinya.


" Aku mengerti, itu semua sudah masa lalu, dan itu pun bukan kesalahan Alex," ujar Yarry mencoba memberi pengertian.


Jordan hanya terdiam lalu pergi begitu saja meninggalkan Yarry di Ruang kerjanya. Dia tidak dapat menerima dengan apa yang telah terjadi pada Jane begitu saja.


KISAH JANE🖤


Jane berlari memasuki kamarnya sambil menangis tersedu sedu.


Jordan yang melihat putrinya menangis lalu menghampirinya.


" Jane Kau kenapa menangis sayang," tanya Jordan lembut.


" Ayah, mengapa Dia tidak bisa mencintaiku, apakah Aku ini seoarang gadis yang buruk," jawab Jane sambil memeluk Ayahnya dengan isak tangis.


" Tidak sayang, Kau adalah putriku yang paling cantik, siapa yang berani menolak putri kesayangku ini," tanya Jordan.


" Jika memang benar, kenapa Alex selalu menolakku, kenapa Dia tidak bisa mencintaiku Ayah, Dia justru memilih Siena gadis kampungan itu, Dia jahat Ayah, Alex benar benar jahat. Aku tidak mau tahu, Aku harus me dapatkan Alex Ayah," Ungkap Jane sambil memukul mukul dada Ayahnya. Dia sangat kesal karena Alex selalu menolaknya berkali kali .


" Iya iya Jane, Ayah akan berusaha membantumu," ucap Jordan sambil menenangkan putrinya.


" Jane, Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu seperti itu, cinta tidak dapat di paksakan," kata Justin yang berdiri di depan pintu kamar adiknya itu.


" Tidak, Aku Jane bukan Kamu yang menerima begitu saja penolakan." Bentak Jane pada Kakaknya.


" Justin sebaiknya Kamu keluar, jangan memperkeruh suasana Adikmu," ucap Jordan pada Justin.


Justinpun pergi, Dia benar benar tidak sependapat denga jalan fikiran Adiknya yang terlalu berambisi dengan apapun yang Dia inginkan.


Jordan sangat menyayangi Jane, setelah kematian Istrinya Dia selalu berusaha melimpahkan kasih sayangnya pada Jane yang terbiasa manja saat Istrinya masih hidup. Hanya saja Jordan terlalu memanjakan Jane sehingga Jane menjadi pribadi yang egois dan selalu memandang rendah pada setiap orang yang kehidupannya menengah kebawah.


Demi Jane Jordan mendatangi Perusahaan Keluarga Wilson untuk merencanakan sebuah Kerja sama pada perusahaan Group Wilson.


Tetapi apa yang di dapat, Alex menolak mentah mentah tawaran menggiurkan itu.


" Tuan Jordan, bagaimana bisa kau menukar putrimu dengan sebidang tanah, walau ini sangat menguntungkan buatku , tetapi maaf Aku tidak.bisa menerimanya," ucap Alex ramah sembari menyodorkan sebuah berkas yang Jordan berikan.


" Alex, Jane begitu mencintaimu, ku harap Kau mau menikahinya, Aku ingin Dia bahagia bersamamu, apapun yang Kau inginkan Aku bisa berikan." Jordan memohon.


" Maaf Tuan, Aku tidak bisa!" Jawab Alex lalu melangkah keluar meninggalkan Jordan di ruangannya.


Jordan meremas berkas itu dengan hati kesal, " Apa kurangnya Jane, Dia gadis yang cantik , mengapa Alex menolak menikahinya." Gumam Jordan dalam hati.


Jordan pun kembali dengan tangan kosong, Dia tidak dapat memberikan apa yang di inginkan putrinya.


" Ayah, bagaimana, apakah Ayah sudah menemui Alex," tanya Jane dengan riangnya.


" Jane, maaf Ayah...."


" Jane, Kau putriku yang sangat cantik, Aku yakin Kau bisa mendapatkan laki laki yang lebih baik dari Alex , laku laki yang mencintaimu sayang," kata Jordan lembut.


" Tidak, Aku benci Ayah," ujar Jane sambil menangis, Dia berlari memasuki kamarnya dan menutup pintunya dengan keras.


Jordan hanya terdiam, Dia menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memijit mijit keningnya.


" Ayah sudah lah, Jane pasti akan mengerti," ucap Justin menghampiri Ayahnya sambil memberikannya minuman kaleng pada Ayahnya.


" Ya, semoga saja begitu," jawab Jordan menerima minuman Justin.


Sudah beberapa jam Jane tidak keluar dari kamarnya, Dia terus mengurung diri di kamar.


Merasa khawatir Jordan mencoba menemui Jane.


Jordan mengetuk pintu kamar Jane pelan.


" Jane, sudah waktunya makan malam sayang," panggil Jordan.


Sekian lama Jordan memanggil putrinya tidaka ada sepatah katapun yang terdengar dari dalam kamar Jane, Jordan mencoba membuka pintu kamar Jane dengan paksa.


" Jane." Teriak Jordan sambil berlari masuk ke kamar Jane.


Jordan berteriak histeris saat melihat putrinya yang tergantung di dalam kamaranya, Dia segera menopang tubuh Jane sambil berteriak memanggil pertolongan.


Jane segera di larikan ke Rumah Sakit, para Dokter mencoba melakukan tindakan untuk menyelamatkan nyawanya, tetapi apalah daya, jantung Jane sudah tidak berdetak beberapa jam yang lalu. Jordan syok dengan kepergian putri satu satu nya itu, Dia bertekad akan membalaskan dendamnya kepada Alex atas kematian Jane.


Sejak saat itu Jordan berusaha dengan cara apapun Dia akan menjatuhkan Keluarga Wilson.


Jordan mencoba menghancurkan Alex melalui kekasihnya Siena. Siena adalah salah satu teman satu Universitas dengan Jane, hanya saja keluarga Siena tidaklah semapan Jane, Siena hanya Putri dari salah satu pekerja di Perusahaan Wilson.


Malam ini Alex berencana ingin melamar Siena, Dia sudah menyiapkan tempat yang sangat romantis untuk memberikan kejutan pada kekasihnya itu.


Alex duduk di dalam mobilnya sembari menunggu Siena keluar dari gedung kampusnya.


Setelah beberapa lama menunggu, tersungging senyuman di bibir Alex saat melihat Siena dari kejauhan yang sedang melangkah menuju mobilnya.


" Akhirnya keluar juga," gumam Alex membuka pintu mobilnya.


Terlihat Siena tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada Alex, belum sempat menghampiri Alex, tiba tiba Siena roboh dan tersungkur di jalan.


Alex segera berlari menghampiri Siena yang sudah berlumuran darah di tubuhnya.


" Siena, Siena," panggil Alex .


Tanpa berfikir panjang Alex membawa Siena ke Rumah Sakit. Dia benar benar khawatir dengan Siena saat itu. Siena mengalami luka tembak di dada kirinya, Dokter berusaha dengan keras untuk menyelamatkan nyawanya .


" Siena, kau harus baik baik saja," gumam Alex sedih.


Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya Dokter yang mengani Siena keluar juga.


" Dokter bagaiman keadaan Siena Dok?" Tanya Alex panik.


" Maaf Tuan, Kami sudah berusaha menyelamatkan Nona Siena, tetapi peluru itu menembus terlalu dalam di jantungnya."


" Apa maksud anda Dokter?"


" Nona Siena telah tiada Tuan," jawab Dokter itu dengan raut wajah sedih.


Alex tidak tahu apa yang harus di katakannya, Dia terdiam seribu bahasa saat Dokter menyampaikan kematian Siena.


Alex melangkah masuk ke Ruang Oprasi, di lihatnya gadis yang akan di nikahinya itu terbujur kaku di meja Oprasi. Dia sangat terpukul saat itu, di belainya wajah cantik Siena dengan lembut.


" Kenapa kamu pergi begitu cepat Siena," ucap Alex lirih.


Sejak kematian Siena, Alex menjadi pribadi yang dingin dan juga pendiam.


Banyak gadis gadis yang mendekatinya tetapi belum ada satupun yang bisa menarik hatinya. Hingga suatu hari Ayahnya memindahkan Alex ke Indonesia guna meneruskan usaha usaha Yohans dan Alecia di sana.


Siapa sangka saat di Indonesia Alex justru menemukan kehidupannya yang baru, Dia mendapatkan wanita yang bisa mengisi kekosongannya selama ini. Alex mendapatkan kebahagiannya kembali saat bersama Agnes.


.


.


Kini Jordan berhasil menemukan kelemahan Alex, dengan Agnes di tangannya, Jordan bisa membalaskan dendamnya pada Alex atas kematian putrinya Jane.


Yarry tidak sependapat dengan keputusan Adiknya itu, Dia tahu semua ini salah dan Jordan sudah salah fahan dengan masalah kematian Jane.


Yarry melangkah menuju kamar tawanan Jordan , tidak bisa di pungkiri entah mengapa Dia begitu penasaran dengan tawanan adiknya itu.


Terlihat ruangan tawanan itu di jaga ketat oleh dua orang Bodyguard bertubuh kekar yang di utus Jordan.


" Ada apa Tuan?" Tanya salah satu penjaga pada Yarry.


" Aku ingin menemui tawanan itu, kalian tetap berjaga di luar." Perintah Yarry.


" Baik Tuan." Jawab salah satu penjaga.


Yarry membuka pintu ruangan lalu melangkah masuk ke ruangan tersebut. Di lihatnya seorang gadis yang duduk di atas tepi tempat tidur, terlihat wajahnya yang sangat sedih, matanya sembab karena terlalu sering menangis.


Agnes terkejut saat melihat laki laki setengah baya memasuki kamarnya, Dia mengira Jordan yang menemuinya, tetapi saat melihat wajah laki laki itu Dia baru sadar ternyata itu bukanlah Jordan. Laki laki itu terlihat berbeda dengan Jordan, wajahnya terlihat lebih lembut dan tenang.


Yarry terus menatap Agnes saat itu, hanya satu nama yang Dia ingat saat melihat Agnes, yaitu Clara.


Ya, saat melihat Agnes hampir saja Dia menyebut nama itu di bibirnya.


Yarry melangkah mendekati Agnes, makin dekat Ia dengan Agnes ada perasaan aneh dalam dirinya.


" Mengapa Dia itu begitu mirip dengan Clara," gumam Yarry dalam hatinya.


" Siapa namamu Nona?" Tanya Yarry yang duduk di hadapan Agnes denga tenang.


" Agnes." Jawab Agnes singkat.


" Mengapa kau bisa sampai di sini?" Tanya Yarry lagi.


Agnes melirik ke arah


Yarry , terlihat wajahnya yang tenang menatap Agnes dengan lembut.


" Aku hanya korban kecelakaan, tetapi mengapa kalian tidak mengembalikan Aku pada keluargaku, Aku tidak kenal kalian semua, mengapa kalian memenjarakan Aku di sini," jawab Agnes dengan mata berkaca kaca.


" Kamu memang tidak mengenal Jordan, tetapi Suamimu sangat mengenalnya," ucap Yarry.


" Apa, kau tau dimana suamiku, tolong Tuan , Aku ingin berbicara padanya," ujar Agnes saat mendengar orang itu mengenal Alex.


" Tentu saja Kau bisa menemuinya kelak, tetapi bukan saat ini." Jawab Yarry.


" Sungguh," ucap Agnes dengan penuh harap.


" Ya, Aku pastikan Kau akan bertemu dengannya, tetapi jika kau tidak pernah menghabiskan makananmu bagaimana kau akan menemuinya nanti," jawab Yarry sambil melirik makanan yang masih utuh tak tersentuh sedikitpun.


Agnes hanya terdiam, beberapa hari ini Dia memang tidak menyentuh makanan yang di berikan Maria. Wajahnya terlihat pucat , tubuhnya pun menjadi semakin kurus.


" Agnes, jika kau ingin pergi dari sini setidaknya kau harus mempunyai tenaga untuk berlari, jika kau tidak makan dari mana kau akan mendapatkan tenaga itu." Ujar Yarry bangkit lalu melangkah keluar dari ruangan Agnes.


Agnes menatap kepergian Yarry dengan penuh tanya di kepalanya.


" Apa maksud orang itu, mungkinkah Dia akan membantuku pergi dari sini," gumam Agnes dalam hati.