
***
Alex menggendong Ica yang tertidur di mobil lalu membawanya masuk kedalam kamar di ikuti Agnes.
Di kecupnya kening Ica yang tertidur pulas," Selamat malam Sayang, mimpi indah ya," gumam Alex. Agnes tersenyum melihatnya.
" Alex, terimakasih Kamu sudah begitu sayang pada Ica," ucap Agnes sambil mengelus kepala Ica lembut.
" Dia itu Anak kita, mana mungkin Aku tidak menyayanginya," ujar Alex merangkul pinggang Agnes dari belakang lalu dengan lembut mengecup pipi Istrinya itu.
Agnes hanya tersenyum sambil mengusap usap bahu tangan Alex yang melingkar di perutnya.
" Ya sudah, kita keluar yuk, biarkan Ica istirahat," kata Alex mengajak Agnes menggandeng tangan Agnes keluar dari kamar Ica.
" Aku mau mandi dulu ya sayang," ucap Agnes.
" Baiklah, Aku mau bertemu Papi dulu," ujar Alex melanjutkan langkahnya menuju uang baca Yohans, sedangkan Agnes menuju kamarnya.
Tok tok tok tok....
Alex mengetuk pintu ruang baca Yohans pelan.
" Masuklah," kata Yohans dari dalam.
Alex membuka pintu itu lalu masuk ke ruangan Ayahnya itu. Di lihatnya Ayahnya sedang duduk di sofa berkutat dengan berkas berkas di meja.
" Ada apa Alex?" Tanya Yohans.
" Papi kenapa belum beristirahat, ini sudah malam," ucap Alex sambil menghampiri Yohans dan duduk di sebelahnya.
" Sebentar lagi selesai, ada apa Kau mencariku Nak," tanya Yohans lembut.
" Mungkin dalam waktu dekat ini Aku akan segera kembali ke Indonesia Pap." ucap Alex.
Mendengar ucapan Alex, terlihat raut wajah Yohans yang berubah menjadi sedih.
" Pap, bukankah Papi memintaku menjalankan perusahan dan usaha Papi dan Mami di sana, lagi pula masa liburan Ica juga sudah akan berakhir," ujar Alex pelan kepada Ayahnya.
" Ya, Papi mengerti Alex," jawab Yohans dengan senyuman tipis.
" Atau Papi tinggal di Indonesia saja bersama Kami," kata Alex memberikan Ayahnya sebuah tawaran.
" Tidak Alex, jika Papi di sana siapa yang akan menjenguk Mamimu nantinya, biarkan Papi di sini saja sambil menemani Mamimu," jawab Yohans dengan pandangan yang menerawang jauh ke depan.
" Tidak kah Papi ingin menikah lagi? Aku sedih melihat Papi yang kesepian jika Aku sedang tidak berada di sini," ucap Alex menatap wajah Ayahnya yang terlihat sudah tidak muda lagi, meskipun begitu wajah Yohans masih lah telihat tampan dan menawan di usianya saat ini, wanita mana yang tidak akan tertarik pada Ayahnya itu.
" Pft..., Alex apa yang Kau bicarakan, mengapa tiba tiba Kau menanyakan hal ini," ucap Yohans tersenyum dengan kata kata Anak semata wayangnya.
" Ya, Aku hanya sedih saja melihat Papi kesepian," jawab Alex menundukan kepalanya.
" Tidak Alex, tidak ada yang bisa menggantikan Mamimu di sini," ujar Yohans sambil memegang dadanya.
Alex hanya tersenyum memahami apa yang di katakan Ayahnya.
Yohans memang sangat mencintai Istrinya Alecia, sehingga sampai saat ini pun tidak ada satupun wanita yang bisa masuk menggantikan Alecia di hatinya, itu lah yang menjadi motifasi untuk Alex untuk rumah tangganya saat ini. Dia ingin seperti Yohans yang sangat setia pada Alecia.
" Sudah lah, Kamu segera beristirahat, pekerjaan Papi sudah selesai," ucap Yohans sambil merapikan berkas berkas yang berantakan di meja.
" Baiklah, Papi segera beristirahat juga ya," ucap Alex sambil memeluk Ayahnya.
Yohans membalas pelukan Alex sambil mengusap usap punggung Anaknya.
Dia tidak menyangka Anaknya yang dulu kemana mana selalu ingin di gendong, kini sudah menjadi laki laki dewasa, bahkan tubuhnya lebih tinggi dan besar di banding dirinya.
" Alecia, Anak kita benar benar sudah besar, sepertinya tanggung jawab kita sudah selesai Sayang, tenanglah kamu di sana," gumam Yohans dalam hatinya.
.
.
Alex membuka pintu kamarnya dan masuk, terlihat Agnes yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Alex membuka kemejanya hendak menggantikannya dengan piyama, tetapi melihat Agnes yang begitu Sexy dengan handuk piyama membuat Ia mengurungkan niatnya.
" Sudah mandi Honey," ucap Alex sambil memeluk Agnes dari belakang, hidungnya mengendus rambut Agnes yang beraroma harum.
" Ehm, iya sayang, Kamu tidak mandi?" Tanya Agnes pada Suaminya.
" Tidak, tadi Aku sudah mandi, saat ini Aku lapar Honey," ucap Alex sambil mengecupi leher dan bahu Agnes. Dengan lembut Dia menggigit gigit telingan Agnes membuat Agnes kegelian.
Agnes membalikan tubuhnya menghadap Alex dan merangkulkan tangannya di leher Alex manja.
" Mau makan apa Sayang," bisik Agnes membuat bulu roma Alex berdiri, tangannya meraba perut sixpack Alex dengan lembut.
" Tentu saja ingin makan Kamu," ucap Alex lalu mengecup bibir Agnes sesaat lalu kembali meng***m bibir Agnes dengan lembut.
Agnes tersenyum dan menjinjitkan kakinya menyambar bibir Suaminya.
Pasangan muda itu saling mel***t satu sama lain dengan mesranya.
Alex manarik tali handuk piyama Agnes hingga terjatuh di lantai, tampak jelas tubuhnya yang bu**l, putih dan mu**s.
Alex menggendong Agnes menuju ranjang dan membaringkannya di sana.
" Honey, Aku sangat merindukanmu," ucap Alex menatap Istrinya lembut.
" Iya Sayang, Aku juga sangat merindukamu, Aku rindu semua tentangmu," jawab Agnes yang kembali mel***t bibir Alex dalam membuat gairah Alex makin memuncak.
" Emhh...," lengguh Agnes saat Alex mengecup dan memainkan gundukan di dadanya.
Alex tersenyum melihat Agnes yang menikmati sentuhan demi sentuhan di tubuhnya. Tidak mau menunggu lama Dia ingin menuntaskan permainannya.
Alex merasa senang di setiap permainannya bisa membuat Agnes dan dirinya merasakan kepuasan yang di inginkan.
Angin malam sepoi sepoi memasuki ruangan dimana dua sejoli yang sedang mambagi cintanya. Suara desahan demi desahan memenuhi ruangan tersebut. Entah berapa lama mereka melakukannya hanya malam sunyi yang mengetahuinya. 😝
.
.
Saat hendak berangkat ke Rumah Sakit tiba tiba Nenek White dan Clara datang mengunjungi Agnes.
" Kalian semua mau kemana?" Tanya Clara pada Agnes.
" Kami mau menjenguk orang yang sudah menyelamatkanku Ma," jawab Agnes.
" Kebetulan, Mama ingin sekali bertemu dengannya untuk mengucapkan terimakasih, bolehkah Mama ikut Agnes?" Pinta Clara.
" Tentu saja Ma, kita bisa pergi bersama sama," jawab Agnes tersenyum.
Setelah selesai bersiap siap akhirnya mereka pun bersama sama menuju Rumah Sakit untuk menemui Yarry.
Alex melangkah menuju Ruangan Yarry , sedangkan Agnes Keluarganya yang lain masih di luar membeli bingkisan untuk Yarry. Dengan perlahan Dia membuka pintu dan masuk ke ruangan Yarry.
Terlihat Yarry sedang tertidur memunggungi Alex, perlahan Alex menyentuh tubuh Yarry membuat Yarry terbangun dan membuka matanya perlahan.
" Ternyata Kalian Alex, mana putri kecil mu," ucap Yarry yang langsung menanyakan Ica.
" Dia sedang menyusul kemari bersama Omanya, bagaimana keadaanmu Yarry?" Tanya Alex.
" Aku sudah baik baik saja dan sore ini Dokter mengijinkanku pulang, terimakasih Kau sudah merawatku dengan baik Alex," ucap Yarry.
" Ini tidak ada apa apa nya di banding pengorbananmu Yarry," jawab Alex tersenyum tipis.
Saat Alex dan Yarry berbincang, akhirnya Keluarganya sudah datang dan masuk ke ruangan Yarry.
Yarry tersenyum senang saat melihat Ica yang berlari menghampirinya sambil memanggilnya Kakek. Dia serasa memiliki Keluarga dan Cucu saat ini. Agnes hanya tersenyum melihat Ica yang langsung memeluk Yarry tanpa ragu ragu, baginya Yarry sudah seperti keluarga baginya.
Clara yang menyusul masuk terperanjat saat melihat sosok laki laki yang di peluk Ica.
" Yarry," panggil Clara pelan pada laki laki itu.
Yarry terkejut saat mendengar suara wanita yang tidak asing memanggil namanya, Yarry menata wanita itu denga perasaan canggung.
" Clara...."
" Bagaimana Kau bisa di sini," ucap Yarry.
Clara melangkah mendekati Yarru dan mencengkram kuat kerah baju Yarry.
" Kemana saja Kau selama ini hah, Aku mencarimu Yarry, Aku menyusuri sungai itu tetapi Kau tidak ku temukan, saat Kau berada di sini mengapa Kau tidak menemuiku Yarry mengapa," Teriak Clara dengan air matanya. " Apakah Kau begitu membenciku sehingga Kau seperti ini padaku Yarry," ucap Clara lirih menyayat hati Yarry.
Agnes dan Alex tidak mengerti ada apa sebenarnya di antara Clara dan Yarry, merekapun merasa bingung melihat kejadian ini.
" Maafkan Aku Clara, Aku tidak bermaksud begitu, Aku tidak mungkin membencimu. Aku hanya takut untuk menemuimu," ujar Yarry menjelaskan.
Clara hanya terdiam menatap laki laki yang di cintainya itu, Clara lalu memeluk Yarry dengan erat sambil menangis tersedu sedu.
" Kau tahu, Aku sangat mengkhawatirkanmu Yarry, Kau membenciku Aku tidak peduli asalkan Kau baik baik saja Aku sudah merasa tenang," ucap Clara pada Yarry.
Yarry membalas pelukan Clara sambil mengusap usap usap bahu Clara, tidak dapat di pungkiri hanya Clara lah wanita yang di cintainya selama ini. Dia terpaknya menyakiti Clara saat itu karena keselamatan Clara terancam jika bersamanya, tetapi pada akhirnya meskipun Yarry menjauh dari Clara tetap saja musuhnya menyerang Clara dan Keluarnganya yang menyebabkan Putri mereka hilang.
" Aku tahu, tetapi Aku takut menemuimu Clara, Aku takut Kau menanyakan Anak kita, sedangkan saat itu Aku tidak dapat menyelamatkannya, Aku kehilangan Dia Clara," ujar Yarry dengan terisak.
Clara melepas pelukannya lalu mengusap wajah Yarry yang masih seperti dulu baginya. Dia sangat senang bisa bertemu dengan Yarry kembali.
Clara melangkah mendekati Agnes lalu menggandengnya menuju ranjang Yarry, Clara menarik tangan Yarry, menyentukannya pada tangan Agnes.
" Yarry, Dia lah putri kecil kita, Aku sudah menemukannya, jadi Kau tidak perlu menghindariku lagi," ucap Clara tersenyum haru.
Yarry tersentak dengan kata kata Clara, Dia tidak menyangka jika Agnes adalah putri kecilnya yang hilang saat itu. Pantas saja saat pertama nelihat Agnes Yarry merasa tidak asing dan terasa ada kasih sayang dalam dirinya untuk Agnes.
Agnespun terkejut saat mengetahui kenyataan ini.
" Maksud Mama, Tuan Yarry adalah Ayahku?" Tanya Agnes masih bingung.
" Iya Agnes, Yarry adalah Ayahmu, kamu putri kami yang hilang di sungai saat Mama dan Ayahmu di serang musuh, Ayahmu berusaha menyelamatkanmu tetapi Dia sendiripun saat itu hilang terbawa arus bersama denganmu," ujar Clara memberi penjelasan pada Agnes.
Agnes sangat terharu dengan moment pertemuan dengan orang tuanya ini.
Sudah sekian lama Dia mencari cari tentang orang tuanya tetapi tidak ada hasil sama sekali, siapa sangka pertemuannya dengan Alex bisa membawanya bertemu kembali dengan Orang Tua kandungnya.
Clara dan Yarry sama sama memeluk Agnes, suasana haru menyelimuti ruangan itu.
Alex tersenyum melirik ke arah Ica yang membalas senyumannya.
Alex merasa bahagia akhirnya Agnes bisa bertemu kembali dengan kedua Orang Tuanya yang selama ini di cari cari.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu di ketuk, setelah itu terlihat sosok Justin masuk ke ruangan Yarry di rawat.
" Hallo Paman, bagaimana keadanmu," sapa Justin pada Yarry, tanpa sengaja matanya melirik sinis ke arah Alex.
" Aku sudah baikan, bagaimana keadaan Ayahmu?" Tanya Yarry yang tangannya masih menggenggam tangan Clara dan Agnes.
" Ayah sudah lebih baik dan sedang menjalani terapi kejiwaan," jawab Justin melirik ke arah Clara dan Agnes.
Justin merasa Dia lah wanita yang Pamannya ceritakan selama ini," lalu mengapa wanita itu mirip dengan Agnes, mungkinkah mereka ini Ibu dan Anak? Ah, sudahlah, siapapun mereka Aku tidak perduli, bisa melihat Agnes saat ini Aku sudah merasa cukup senang," gumam Justin dalam hati.
" Baiklah Paman, Aku senang Kau sudah baik baik saja, jika begitu Aku pergi dulu," ucap Justin sambil menyalami semua orang yang berada di ruangan itu.
" Jika Kau tidak bisa menjaganya dengan baik, jangan salahkan Aku jika Aku yang akan menggantikanmu menjaganya," bisik Justin pada Alex. Alex hanya terdiam mengepalkan tangannya merasa geram dengan kata kata Justin.
Beberapa saat setelah kepergian Justin akhirnya mereka memutuskan untuk kembali bersamaan dengan pulangnya Yarry. Clara meminta Yarry kembali di kediamannya agar Dia bisa merawatnya dan Yarry pun tidak keberatan tentang hal itu.