Handsome Boss

Handsome Boss
Episode 54.



***


Dengan wajah penuh Amarah Jermy ( Ayah Kate ) menggebrak meja kerjanya. Dia benar benar marah mendengar putri kesayangannya telah di bawa ke kantor Polisi.


Setelah mendengar kabar itu Dia segera menghampiri Kate yang kini berada di ruang tahananan khusus kriminal wanita.


" Siapa yang berani menuntut puriku hah, apakah Dia tidak tahu jika Kate adalah anaku!" Bentak Jermy pada petugas kepolisian yang berjaga saat itu.


" Maaf Pak Wali Kota, tetapi kami hanya menjalankan perintah, dan bukti bukti menunjukan jika Nona Kate hampir saja menghilangkan nyawa seseorang." Jawab Inspektur Polisi yang menjemput Kate. Dia merasa terganggu mendengar ada keributan di depan ruang tahanan, saat menghampiri ternyata ada Jermy yang sedang marah marah dengan anak buahnya, perihal penangkapan putrinya itu.


" Itu kan hampir, dan orangnya juga tidak mati bukan. Jadi untuk apa putriku di tahan. Inspektur, cepat keluarkan putriku sekarang juga! Jika tidak Kau akan tahu akibatnya!" Kata Jermy dengan nada mengancam kepada Isnpektur itu.


" Oh ... jadi harus mati dulu ya, baru layak putri Anda untuk di tahan. Berati boleh juga ya saya buat putri Anda babak belur dan lumpuh saat ini juga, asalkan tidak mati." Kata Alex dingin yang baru saja keluar dari ruangan Isnpektur Polisi itu. Dia sedari tadi sudah berafa di sana dan sedang berbincang dengan Inspektur.


" Siapa Kau? Aku tidak ada urusan denganmu." Kata Jermy dengan sikap angkuhnya.


" Aku yang memasukan putrimu kemari," jawab Alex tenang.


" Kau. Kurangajar berani beraninya Kau." Kata Jermy hendak menghampiri Alex untuk memukulnya, tetapi para petugas kepolisian mencegahnya.


" Hais ... Anak yang arogan ternyata hasil didikan dari seorang Ayah yang seperti ini." Ucap Alex dingin menatap Jermy.


Kate yang berada di dalam ruang tahanan merasa geram mendengar Ayahnya di hina.


" Hei Kau. Masalahku dengan wanita itu tidak ada urusanmu, untuk apa Kau membelanya seperti ini. Berapa yang Kau inginkan, Ayahku bisa memberinya untukmu." Teriak Kate dari balik jerusi besi yang mengurungnya.


Alex terkekeh mendengar kata kata Kate yang sangat konyol baginya.


Jermy merasa geram dengan sikap Alex yang merendahkannya.


" Cepat sebutkan berapa maumu dan segera cabut tuntutanmu!" Kata Jermy pada Alex.


" Hais ... Aku tidak ingin uangmu. Uangmu itu bukan milikmu sepenuhnya. Jangan kira Aku tidak tahu." Jawab Alex sambuk melipat tangannya.


Jermy merasa gugub mendengar kata kata Alex. Dia tidak menyangka jika Alex mengetahui sesuatu tentang dirinya.


" Dan Kau Nona. Agnes itu Istriku, tentu saja ini menjadi urusanku. Siapa saja yang mengusik hidupku, semua akan tahu akibatnya!" Ucap Alex yang bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar bersama Inspektur Polisi untuk membahas suatu yang penting.


Kate terkejut saat mengetahui jika laki laki tampan itu adalah Suami dari Agnes. Dia mengira Agnes hanyalah seorang simpanan laki laki tua bangka atau Istri dari seorang duda tua seperti yang temannya katakan saat itu. Siapa sangka jika Suami Agnes adalah orang yang sangat tampan seperti Alex. Laki laki yang bisa menyihir setiap wanita yang melihatnya.


" Kate, bagaimana bisa Kau berurusan dengan laki laki itu hah," ucap Jermy dengan nada sedikit kesal dengan perbuatan anaknya itu.


" Aku tidak tahu Pah. Aku hanya sedikit bermain main dengan teman lamaku itu, Aku tidak tahu jika laki laki itu adalah Suaminya," jawab Kate merasa lemas.


Jermy mencoba menenagkan putrinya yang tertekan selama dalam sel tahanan.


Untuk membantu putrinya Jermy berniat menemui Alec secara pribadi, Dia merasa Alex bukanlah orang biasa. Karena jika Alex hanya orang biasa, mana mungki Dia berani memenjarakan putri seorang Wali Kota sepertinya. Bahkan Inspektur juga terlihat sangat dekat denganya.


.


.


Sabrina yang baru saja memeriksa keadaan Agnes berpesan agar Agnes banyak istrirahat untuk saat saat ini. Karena benturan yang di alaminya saat terjatuh membuat luka dalam rahimnya, sehingga kondisinya menjadi sangat rentan.


Usai dari ruangan Agnes sambrina berjalan menuju ruang prakteknya, belum sempat Dia masuk, seseorang memanggilnya dari belakang.


" Selamat Siang Dokter," sapa Tiara tersenyum tipis pada Sabrina.


" Nyonya Tiara. Ada apa Nyonya?" Ucap Sabrina saat berbalik menatap wanita yang memanggilnya.


" Maaf Dokter, bisakah kita berbicara?" Tanya Tiara pelan.


" Oh, tentu saja. Silahkan masuk," kata Sabrina mempersilahkah Tiara masuk ke ruangannya.


Tiarapun masuk dan duduk di sofa yang berada di ruangan Sabrina.


" Ada apa Nyonya?" Tanya Sabrina sambil meletakan orange jus kaleng di meja untuk Tiara dan dirinya.


" Terimakasih," ucap Tiara tersenyum tipis.


" Apa yg ingin Anda bicarakan Nyonya?" Tanya Sabrina sambil membuka kaleng minumannya, lalu meneguknya.


" Dokter, apakah bisa saya melakukan program hamil?" Tanya Tiara pelan pada Sabrina.


Sabrina terdiam sejenak, mencerna kata kata Tiara. Saat menatap Tiara Sabrina melihat wajah Tiara yang lebam juga luka di bibirnya terlihat sangat sakit.


" Apakah Suamimu kasar padamu Nyonya? Wajahmu penuh luka lebam," ucap Sabrina yang belum sempat menjawab pertanyaan Tiara.


" Ah, tidak Dokter. Suamiku sangat baik padaku. Luka ini, Aku terjatuh saat di kamar mandi," jawab Tiara berbohong.


" Jadi bagaimana Dokter, apakah bisa?" Tanya Tiara lagi pada Sabrina.


" Tentu saja bisa. Tetapi ada baiknya Anda kemari bersama Suami Anda Nyonya, agar Dia tahu dan bisa bekerja sama saat program hamil yang kalian jalankan bukan," ujar Sabrina menjelaskan. Sabrina berkata begitu karena tidak ada program hamil yang di lakukan oleh satu orang pasangan saja. Sabrina merasa heran, mengapa Tiara selalu sendirian setiap kali mengunjunginya.


Tiara terdiam sesaat, Dia bingung bagaimana menjelaskan keadaannya kepada Dion. Di tambah, teror dari laki laki bertopeng itu sangat mengganggunya. Tiara benar benar sudah buntu saat ini.


" Nyonya, Saya tidak tahu apa masalah Anda. Tetapi ada baiknya jika sebagai pasangan, Kita harus terbuka kepada Suami. Karena, dengan terbuka, jika kita ada suatu masalah, masalah itu bisa di hadapi bersama sama," ujar Sabrina lembut.


Tiara menatap Sabrina dengan mata berkaca kaca. Apa yang Sabrina katakan memanglah benar, tetapi keadaan Tiara berbeda. Jika Dia jujur pada Dion, apakah Dion masih mau mempertahankannya, dan juga Ibu Dion, sejak awal Dia sudah menganggap Tiara adalah gadis baik baik. Lalu apa yang akan terjadi jika mereka semua mengetahui bagaimana kelakuan Tiara dahulu.


" Baiklah Dokter, jika Suami saya sudah pulang bertugas, saya akan membawanya kemari," ucap Tiara tersenyum masam.


" Oh ya Nyonya, apakah saya boleh mengobati luka Anda." Ujar Sabrina menawarkan tenaganya.


" Ah, tentu Dokter. Terimakasih," ucap Tiara merasa senang.


Sabrinapun mengambil alat alat P3Knya lalu melangkah mendekati Tiara. Dia memberikan salep ke luka Tiara. Sabrina yakin, luka ini bukanlah luka terjatuh, melainkan luka pukulan. Di leher Tiara terlihat biru bekas cekikan tangan. Sabrina menjadi simpati pada Tiara, Dia berniat membantu Tiara sebisa mungkin saat ini. Karena baginya, dengan Tiara berbohong, pasti ada suatu tekanan dan ancaman yang membuatnya tidak dapat berbicara masalahnya pada orang lain.


" Jangan Anda pendam sendirian jika ada tekanan Nyonya, jika ada yang bisa ku bantu, Aku akan membantumu," ucap Sabrina sambil menempel plester di leher Tiara. Nampak jelas luka itu karena sebuah kuku yang menancap di kulitnya.


Tiara hanya tersenyum mendengar kata kata Sabrina. Dia merasa terharu dengan kebaikan yang Sabrina tujukan padanya.


Setelah Sabrina selesai mengobati Tiara, tidak beberapa lama Tiarapun berpamitan undur diri. Tiara keluar dari ruangan Sabrina dengan perasaan yang sedikit lega. Setidaknya saat keadaannya seperti ini, masih ada orang yang mempedulikannya.


Saat Tiara melangkah menyusuri lorong Rumah Sakit, Ia melihat Alex yang baru saja masuk ke sebuah ruangan perawatan. Merasa penasaran, Tiarapun melangkah menuju ruangan dimana Alex tuju tadi. Dengan sedikit mengintip dari pintu kaca, Tiara melihat Agnes yang terbaring dengan infus di tangannya. Alex dengan setia menunggunya dan melayani Istrinya. Melihat hal itu membuat Tiara merasa iri dengan kebahagiaan Agnes. Ingin rasanya Dia merasakan kebahagiaan yang seperti itu juga.


" Kamu sungguh beruntung Agnes," gumam Tiara di dalam hati dengan senyuman di bibirnya.


" Tante kenapa tidak masuk saja?" Tanya Ica membuat Tiara terkejut, yang tiba tiba berada di belakang Tiara.


" Kamu ...." Kata Tiara sambil mengingat ingat gadis kecil yang mengagetkannya itu.


" Ayo Tante masuk, Ica juga mau lihat Mama," ajak Ica sambil menarik tangan Tiara masuk ke ruangan Agnes bersamanya di ikuti Mili.


Tiara tidak dapat menolak lagi, karena Ica sudah terlanjur menariknya ke dalam.


Agnes dan Alex sama sama tertegun saat melihat Ica yang bisa bersama Tiara saat masuk ke ruangannya.


" Hai ... Agnes, Kamu sakit apa?" Tanya Tiara merasa canggung.


" Tadi Tante ini ada di depan pintu, jadi Ica ajak masuk bersama saja Ma," jawab Ica dengan polosnya.


Agnes menatap heran Tiara, Dia berfikir untuk apa Tiara berada di depan pintu ruangannya. Apa yang Dia lakukan di sana?


" Ah ya. Kebetulan tadi Aku melihat Suamimu masuk kesini, jadi Aku ..."


" Tidak masalah Tiara, Aku senang Kamu kemari," ucap Agnes tersenyum memotong kata kata Tiara. Dia tidak ingin membuat Tiara canggung saat bersamanya.


Tiara sedikit demi sedikit mulai terbiasa berbincang dengan Agnes dan juga Ica. Sesekali matanya menatap Ica lembut, setelah dekat dengannya secara langsung, ternyata Ica adalah gadis kecil yang sangat manis juga sopan terhadap orang yang lebih tua. Tiara seketika menyesali perbuatannya dulu yang pernah menyakiti hati gadis kecil di hadapannya itu, dan juga Agnes yang ternyata sangat baik padanya, meskipun di masa lampau Dia sudah menghina dan mencaci makinya.


" Wanita sebaik Kamu, sangat pantas mendapatkan ini semua Agnes. Aku berharap, kelak Akupun akan memiliki Keluarga yang bahagia bersama Dion," gumam Tiara dalam hatinya.


.


.


Setelah beberapa hari Agnes di rawat, akhirnya Agnes sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter. Dengan syarat, Agnes tidak boleh terlalu lelah. Agnes hanya bisa menuruti saran Dokter demi kebaikan dirinya dan juga calon bayi di perutnya.


Alex membuka matanya perlahan, matanya masih terasa berat karena beberapa hari ini Dia tidak tidur dengan baik.


Di liriknya Agnes yang masih tertidur pulas di sisinya. Dengan lembut dibelainya wajah cantik Agnes lalu Ia mengecup kening Agnes pelan.


Alex bangkit dari ranjangnya lalu melangkah menuju kamar mandi. Hari ini Dia menyiapkan baju kerjanya sendiri karena tidak ingin mengganggu Istirahat Agnes.


Alex melangkah turun menuju ruang makan, terlihat Ica sedang sarapan di dampingi oleh Mili.


" Pagi Papa," sapa Ica saat melihat Alex yang melangkah ke arahnya.


" Pagi sayang, habiskan sarapanmu. Papa berangkat dulu ya," ucap Alex mengecup kening Ica.


" Baik Pa. Ini untuk Papa," kata Ica sambil menyodorkan sepotong roti tumpuk yang sudah di oles dengan selai coklat kesukaan Alex.


" Ah, terimakasih sayang," ujar Alex senang putrinya membuatkannya sarapan untuknya.


" Sama sama Pa. Papa hati hati ya," ucap Ica melambaikan tangannya.


" Baik sayang. Ica juga hati hati ya," ujar Alex sambil melangkah menuju mobilnya dengan Julian yang sudah menunggunya.


Mobil Alex melaju dengan cepat menuju kantornya. di dalam mobil Alex melahab roti pemberian putrinya itu. Siapa sangka saat Agnes sedang bedrest Ica berinisiatif memperhatikan sarapannya. Alex merasa bangga dengan Ica.


Sesampainya di Kantor, Alex segera menuju ruangannya. Baru saja Alex duduk di kursi kerjanya, sekretarisnya sudah mengetuk pintu ruangannya.


Alex meminta Lisa masuk dan segera menyampaikan apa tujuannya.


" Tuan, ada seseorang yang ingin membuat janji dengan Anda siang ini," ujar Lisa.


" Siapa dan untuk urusan apa Lisa?" Tanya Alex.


" Bapak Wali Kota Jermy Smith, Tuan," ucap Lisa menjelaskan.


" Baiklah, atur pertemuan untuk nanti jam 10,00. Lewat dari jam itu, Aku tidak bisa lagi." Perintah Alex pada sekretarisnya itu.


" Baik. Ah, apakah Tuan Alex mau saya buatkan kopi?" Tawar Lisa pada Bosnya itu.


" Boleh." Jawab Alex singkat.


" Baiklah," ucap Lisa senang karena Alex menerima tawadannya.


Alex membuka buka berkas yang menupuk di atas mejanya untuk menelitinya. Pekerjaan itu sudah rapi, Dia hanya tinggal menandatanganinya saja. Alex merasa beruntung memiliki Ronald dan Julian sebagai partner kerjanya, karena di saat saat Dia tidak dapat ke kantor, merekalah yang menyelesaikan pekerjaan pekerjaan Alex.


Tidak berselang lama, Lisapun datang dengan secangkir kopi di tangannya, lalu meletakan kopi itu di meja Alex.


" Silahkan Tuan," ucap Lisa dengan make upnya yang telah di perbaiki saat di pantry.


" Terimakasih, Kau boleh keluar sekarang," perintah Alex tanpa memandang Lisa sedikitpun.


" Baik." Jawab Lisa yang langsung memutar balik keluar dari ruangan Alex.


Sudah susah payah Dia merapikan make upnya, tetapi apa yang di dapat. Jangankan tergoda, Alex memandangnyapun tidak.


.


.


Jam yang sudah di tentukan telah tiba, Jermy datang tepat waktu seperti yang telah di janjikan.


Lisa melangkah mengantar Jermy menuju ruang tamu di kantornya.


" Silahkan, Tuan Alex sebentar lagi datang." Ucap Lisa mempersilahkan Jermy.


Jermy menunggu sambil melihat lihat seisi ruangan itu. Dia tersenyum sinis saat itu, Dia berfikir Alex hanyalah seorang karyawan di perusahan West Star.


" Huh, paling paling hanya seorang Manager di sini, Aku kira orang yang luar biasa hingga mencari masalah denganku," gumam Jermy dalam hatinya.


Tidak lama Jermy menunggu, Alexpun datang dan duduk di hadapannya.


" Ada apa Bapak Wali Kota mencariku," ucap Alex membuka pembicaraan.


" Oh, jadi Kau bekerja di sini. Apa jabatanmu Anak muda? Aku bisa saja membuat Bosmu memecatmu hari ini juga karena sudah berurusan denganku." Ujar Jermy masih dengan sikap angkuhnya.


Alex terkekeh denga kata kata Jermy yang justru terlihat bodoh itu.


" Wah, sungguhkah. Bagaimana Anda melalukannya Pak Wali Kota?" Tanya Alex menyandarkan tubuhnya di sofa sambil melipat tangannya di dada.


" Tentu saja, Aku tahu siapa pemilik perusahaan ini. Jika bukan karena ijin dariku, mana bisa perusahaan ini bisa maju seperti saat ini. Dengar, kita bernegosiasi saja, cabut tuntutanmu, Aku juga akan menyelamatkanmu dari pekerjaanmu ini." Ujar Jermy tawar menawar kepada Alex.


Alex menatap tajam ke arah Jermy. Dia berfikir, bagaimana bisa orang seperti Jermy terpilih menjadi Wali Kota. Dari sifat dan perilakunya saja sudah tidak layak menjadi pemimpin suatu daerah.


" Seperti inikah cara Anda menyelesaikan masalah Pak Wali Kota? Selalu saja menggunakan kekuasaan dan uang." Ucap Alex menatap dingin ke arah Jermy.


" Ya, mau bagaimana lagi, itu yang Aku miliki dan Kamu sudah salah berurusan denganku.


" Oh begitu, baiklah. Ada sesuatu yang inginku berikan pada Anda," ucap Alex, lalu Alex memanggil Julian via ponselnya. Tidak menunggu lama Julianpun datang sengan beberapa berkas di tangannya lalu menyerahkan berkas itu kepada Alex.


" Silahkan Anda baca berkas ini!" Kata Alex meleparkan berkas itu di meja.


Dengan percaya diri, saat membaca berkas itu tiba tiba wajahnya yang garang seketika menjadi pucat pasi.


" Apa ini, dari mana Kau mendapatkan ini semua?" Tanya Jermy dengan suara bergetar.


" Tidak penting itu dari mana, yang terpenting adalah, persiapkan dirimu untuk menemani putri kesayanganmu di bui. Dan ingat satu hal, Aku dan Ayahku tidak pernah meminta bantuanmu dalam memajukan perusahaan ini, omong kosongmu berlebihan Bapak Wali Kota." Kata Alex bangkit dari duduknya hendak melangkah keluar ruangan.


" Tunggu, siapa Kau sebenarnya?" Tanya Jermy heran, mengapa orang semuda Alex bisa menyelidiki semua rahasianya.


" Alexandr Wilson, putra tunggal dari Yohanstian Wilson. Ingat itu!" Kata Alex lalu keluar dari ruangan itu. Dia tidak punya banyak waktu untuk meladeni orang seperti Jermy Smith.


Jermy seketika lemas mendengar kata kata Alex, Dia benar benar salah sudah berurusan dengan Chief Exevutive Officer dari West Star. Perusahaan terbesar milik Group Willson.