
Alex duduk terdiam di ruang rapat, Dia sebenarnya tidak ingin melakukan hal itu pada pekerjanya , tetapi tidak ada pilihan lain.
Ronald yang masih berada di ruangan rapat tersebut bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri Alex.
" Jangan cemas Alex, Kau sudah melakukan yang terbaik," ujar Ronald sambil menepuk bahu Alex.
" Ya, terimakasih, Om," jawab Alex.
" Kamu terlihat lelah, sebaiknya Kau beristirahat Alex. Masalah perusahaan serahkan padaku," kata Ronald merasa kasihan melihat Alex yang terlihat tertekan. Bukan masalah Ia tidak mampu untuk membayar ribuan pekerjanya, Dia hanya kasihan pada para pekerjanya, jika mereka tidak bekerja, bagaimana mereka bisa mencukupi kebutuhan selanjutnya. Itu lah yang menjadi beban fikiran Alex saat ini. Dia merasa sudah menciptakan ribuan orang kehilangan pekerjaan mereka di kotanya saat ini. Tetapi, ini hanya sementara. Setelah kondisi membaik, Alex akan memperkerjakan mereka kembali.
" Ya, Om benar, Aku memang butuh istirahat. Aku akan kembali keruanganku. Jika ada apa apa, segera panggil saja Aku," ujar Alex sambil bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar menuju ruangannya.
Alex merebahkan tubuhnya di ranjang besar yang berada di balik ruang kerjanya. Alex merogoh sakunya lalu mengambil ponsel yang berada di dalamnya, di tekannya sebuah nomor yang ingin Ia hubungi saat itu.
Tuuutttt ... tuuttt ....
π± " Halo Alex," terdengar suara Agnes saat panggilan itu tersambung.
π± " Honey, Kau sedang apa, apakah Kamu sibuk hari ini?" Tanya Alex lembut pada Istrinya itu.
π± " Aku sedang di kantor dan tidak sibuk, ada apa Sayangku ...?" Tanya Agnes.
π± " Tidak ada apa apa, Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu, Honey," ucap Alex.
π± " Apa itu, Alex?" Tanya Agnes penasaran.
π±" Aku mencintaimu, Honey," kata Alex sedikit terkekeh karena berhasil menggoda Agnes dan membuatnyq penasaran.
π± " Ah ... Alex, Kau membuatku khawatir. Aku juga mencintaimu Suamiku sayang," jawab Agnes dengan senyuman di bibirnya.
Alex tersenyum mendengar suara Agnes yang manja di ponselnya. Entah kenapa bisa mendengar suaranya saja, Alex merasa sedikit lega di dadanya, seolah olah beban fikirannya bisa sedikit berkurang.
π± " Baiklah Honey, lanjutkan pekerjaanmu, sampai jumpa di rumah nanti, okey," ujar Alex mengakhiri panggilannya.
Belum sempat Agnes menjawab Alex sudah terlebih dahulu mematikan ponselnya. Agnes merasa khawatir dengan keadaan Suaminya, Dia berniat pergi ke kantor Alex untuk menemuinya.
Agnes segera bersiap untuk pergi ke kantor Alex, Dia meminta Diandra untuk menyelesaikan manyelesaikan pekerjaannya.
Agnes bergegas masuk kedalam mobil bagian kursi belakang, lalu mobil itupun melaju dengan cepat menuju kantor Alex.
Agnes menatap ke arah jendela mobilnya, terlihat suasana kota tidak seperti biasanya. Kota terlihat lebih sepi dan jarang ada kendaraan yang lewat di jalan raya itu.
Mobil yang membawa Agnes akhirnya sampai, Agnes turun lalu melangkah menaiki litf menuju ruangan Alex. Dia menatap beberapa pekerja di kantor Alex terlihat lesu dan ada sebagian yang menangis. Entah apa yang terjadi, Agnes belum mengetahuinya. Sejak hamil Agnes jarang menemui Alex di kantornya.
Sampai depan pintu ruangan Alex, dengan perlahan Agnes membuka pintu ruangan Alex, tetapi Alex tidak di temukan di meja kerjanya. Agnes melangkah masuk ke ruang pribadi Alex yang berada di belakang ruang kerjanya, terlihat Alex masih dengan jas kerjanya tertidur pulas di atas ranjang ruang istirahat tersebut.
Dengan perlahan Agnes mendekati Suaminya yang nampak lelah, dalam keadaan tidurpun Alex masih mengerutkan keningnya, tanda jika masalah di perusahaan ini benar benar membuatnya penat. Agnes mengecup lembut Suaminya itu lalu melangkah menuju ruang kerja Alex. Dia tidak ingin mengganggu Alex yang sedang tertidur pulas.
Saat sedang menata meja kerja Alex , tiba tiba pintu ruangan itu terbuka, Agnes melihat sekretaris Alex masuk ke ruangan tersebut dengan secangkir kopi di tangannya. Lisa terkejut saat melihat siapa yang berada di ruangan Bosnya itu.
" Nyo_ Nyonya Agnes," ucap Lisa canggung.
Agnes menatap Lisa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Penampilan Lisa terlihat sangat sexy, kemejanya terlalu ketat, bahkan belahan dadanya terlihat sangat menonjol, roknya pun terlihat sangat tinggi sehingga pahanya yang putih itu akan menggoda setiap laki laki yang melihatnya.
" Ada apa Lisa?" Tanya Agnes tanpa expresi pada sekretaris Alex.
" Ehm ... Saya hanya mengantar kopi buat Tuan Alex, Nyonya," jawab Lisa canggung.
" Alex sedang istrirahat, sebaiknya bawa kembali kopi itu," kata Agnes.
" Baik, Nyonya," ujar Lisa hendak melangkah keluar dari ruangan Alex.
" Tunggu Lisa!" Panggil Agnes.
" Ada apa, Nyonya?" Tanya Lisa.
" Jika Kamu tidak punya pakaian dewasa Kamu bilang sama Saya, tidak sepatutnya Kamu memakai pakaian anak SD untuk ke kantor bukan!" Kata Agnes ketus pada wanita di hadapannya itu.
Seketika dada Lisa nyeri mendengar kata kata Agnes.
" Tidak perlu Nyonya, terimakasih," jawab Lisa lalu melangkah keluar dari ruangan Alex dengan wajah kesal.
Lisa melangkah menuju pantry kantornya, lalu meletakan cangkir itu dengan kasar di meja pantry. Beberapa karyawan yang terkejut dengan suara cangkir itu hanya melirik ke arah Lisa lalu pergi meninggalkannya.
Lisa merasa kesal karena saat Dia ingin mencoba memberikan sedikit perhatian pada Bosnya, ternyata Agnes berada di ruangannya.
" Kenapa sih wanita itu harus kesini," gumam Lisa kesal.
Lisa merasa dunia tidaklah adil baginya. Dirinya yang begitu sempurna tidak dapat memiliki sosok laki laki yang di idam idamkan seperti Alex.
.
.
Agnes melangkah masuk ke ruang istirahat Alex, di tatapnya wajah Suaminya yang terlihat lelah itu. Dengan lembut Agnes mengusap wajah Alex yang masih tertidur pulas, Dia terkadang masih merasa minder berdiri di sebelah Suaminya, di mata orang Alex adalah sosok laki laki yang sempurna, Agnespun memaklumi jika banyak wanita di luaran sana yang berusaha menggodanya, tetapi Agnes percaya jika Alex bukanlah tipe laki laki yang mudah untuk di goda.
Dalam tidurnya Alex merasakan tangan halus membelai wajahnya, dengan mata yang masih berat Alex membuka matanya. Samar samar terlihat wajah cantik Agnes di hadapannya sedang tersenyum lembut padanya. Alex menggosok gosok matanya karena belum yakin dengan apa yang di lihatnya.
" Honey, Kamu di sini?" Tanya Alex sedikit terkejut.
" Ehem ... kenapa? Kaget ya," ucap Agnes lalu memgecup pipi Suaminya itu.
Alex merasa senang ada Agnes di sisinya saat ini, Dia lalu menarik Agnes kedalam pelukannya.
" Temani Aku tidur di sini, Honey," ucap Alex sambil mengecup kening Istrinya.
" Kenapa tidak beristirahat di rumah saja, Sayang," ujar Agnes sambil mendongakan wajahnya.
" Tidak, Aku hanya butuh sedikit waktu untuk beristirahat saja, lagi pula tidak ada yang berani masuk kemari selain Kamu, Honey," jawab Alex kembali memejamkan matanya.
" Haiss ... Kamu tidak tau kan jika Lisa tadi masuk keruanganmu? Jika saja Aku tidak di sini, mungkin Dia sudah menghampirimu kemari," ujar Agnes dengan memanyunkan bibirnya.
Alex sontak membuka matanya, Dia benar benar tidak menyaka jika Lisa akan lancang seperti itu.
" Lisa? Sekretarisku itu?" Tanya Alex heran.
" He'em ... dan Aku tidak mengira jika Dia ke kantor dengan pakaian yang seperti itu," ucap Agnes lembut sambil membelai wajah Alex.
" Sudahlah Honey, Aku hanya mencintaimu saja, tidak ada yang lain," ucap Alex terus memeluk Agnes dengan senyuman di bibirnya.
Dia merasa Agnes adalah obat untuk segala kegelisahan hatinya. Tadi setelah rapat Alex merasa pening dan kalut dalam hatinya, tapi saat ini setelah Agnes di sampingnya Ia merasa lega.
Agnes hanya tersenyum sambil membenamkan wajahnya di dada Alex. Aroma tubuhnya benar benar haru dan menenangkan, di peluknya erat erat Suaminya itu, seakan akan tidak rela untuk melepaskannya.
Alex mengangkat dagu Agnes dan mendekatkan wajahnya, perlahan Ia kecup bibir mungil Agnes dengan lembut.
" Terimakasih Honey, Kamu kesini saat Aku benar benar butuh Kamu," ucap Alex menatap wajah cantik Istrinya.
Agnes tersenyum lalu merangkulkan tangannya di leher Alex.
" Aku khawatir padamu. Kamu tahu, jika Kamu sedih dan gundah, Aku bisa merasakannya Alex. Jadi, jangan tanggung beban itu sendirian, Kita sama sama hadapi semua ini ya," kata Agnes lembut pada Suaminya.
Alex kembali mel***t bibir Agnes dalam dan hangat, semakin lama bibir Alex turun ke leher membuat Agnes menggelinjang.
" Emhhh ... Alex, jangan di sini, okey," bisik Agnes dengan nafas tersengal.
Alex tidak mengindahkan kata kata Agnes, Dia melepas jasn dan dasinya, di kendurkannya kancing kancing kemejanya dengan terus menc***bui Istrinya.
Agnes perlahan mendorong tubuh Alex yang menindihnya. " Alex sudah, nanti jika ada yang masuk bagaimana sayang," ujar Agnes manja.
" Tidak akan Honey, please," ucap Alex memohon pada Agnes.
" Okey, sayang," ucap Agnes tersenyum sambil merangkulkan tangannya di leher Alex dan mengecup dada Suaminya yang bidang itu.
Alex tersenyum lalu melanjutkan permainannya hingga akhir. β€β€β€
.
.
Alex menatap wajah Istrinya yang tertidur pulas di sebelahnya, wajahnya cantik meskipun tanpa mak up yang menutupi wajahnya. Debelainya wajah Agnes dengan lembut.
" Terimakasih Istriku sayang, Aku sangat mencintaimu," bisik Alex lalu mengecup kening Agnes lembut.
Alex bangkit dari ranjangnya lalu melangkah menuju kamar mandi di ruangan tersebut untuk membersihkan diri. Usai mandi Alex segera mengenakan pakaiannya dan kembali bersandar di sebelah Istrinya sambil membelai belai rambut indah Agnes.
Drrttt.... Drrrtttt....
Terlihat ponsel Alex bergetar di atas meja, Ia pun bangkit dan menerima panggilan di ponselnya itu.
" Ada apa Julian?" Tanya Alex.
" Maaf Tuan, ada berkas yang harus saya berikan kepada Anda," kata Julian yang sedari tadi mengetuk ruangan Alex tetapi tidak ada jawaban, sehingga membuatnya tidak berani masuk ke ruangan Alex.
" Masuklah," kata Alex sambil melangkah menuju meja kerjanya.
Julian membuka pintu ruangan Alex lalu masuk ke ruangan tersebut, terlihat Alex sedang duduk sambil memeriksa berkas berkas yang ada di hadapannya.
" Tuan, ada hal genting di Cabang 2." Kata Julian dengan wajah cemas sambil menyodorkan berkas yang Ia bawa kepada Alex.
Alex menerima berkas itu lalu membacanya dengan teliti. Di berkas itu tertulis ratusan pekerja tergenletak tidak berdaya saat bekerja , kemungkinan di karenakan wabah yang saat ini menjadi momok di Kota tersebut.
" Bagaimana? Bukankah kita sudah mengantisipasi sebaik mungkin untuk pencegahan wabah itu Julian." Kata Alex merasa heran dan bingung dengan apa yang terjadi di perusahaannya.
" Benar Tuan. Kasus ini sedang di selidiki saat ini, dan hasil pemeriksaan para pekerja itu juga belum di turunkan. Jadi, itu karena virus atau yang lain kita belum tahu." Ujar Julian menjelaskan.
" Baiklah. Kau akan lebih sibuk akhir akhir ini Julian," ucap Alex sambil menandatangani berkas yang di berikan Julian.
" Tidak masalah Tuan," jawab Julian.
Alex hanya tersenyum tipis, Dia bersyukur memiliki Asisten dan juga pekerja pekerja yang setia kepadanya. Meskipun keadaan saat ini sedang mencekam, tetapi mereka senantiasa datang membantu mengatasi masalah masalah perusahaan dan juga pekerjaannya.
Alex menyerahkan sebuah cek benilai fantastis kepada Julian.
" Cabang 2 Aku percayakan padamu Julian. Berikan fasilitas kesehatan yang layak untuk para pekerja West Star." Perintah Alex pada Julian.
Julian terkejut saat menerima cek yang Alex berikan. Alex tidak main main dalam menjalankan Amanah dari Ayahnya.
" Baik Tuan," ucap Julian tersenyum senang.
" Pergilah," kata Alex.
Julian bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju pintu ruangan Alex, saat hendak membuka pintu ternyata pintu itu terbuka terlebih dahulu dan terlihat sosok Lisa sekretaris Alex yang melangkah masuk ke ruangan Alex. Julian hanya melirik ke arah sekretaris genit itu lalu keluar dari ruangan Alex.
" Tuan, ada berkas yang harus Anda tanda tangani," ucap Lisa menyodorkan sebuah berkas kepada Alex.
Alex menerima berkas itu lalu menandatanganinya setelah membacanya dengan teliti. Setelah selesai, Alex menyodorkan berkas itu kembali kepada Lisa.
" Terimakasih Tuan." Ucap Lisa sambil melangkah berbalik.
" Tunggu Lisa!" Kata Alex.
Lisa membalikan badannya kembali, " Ya, ada apa Tuan?" Tanya Lisa pada Bosnya.
" Lain kali, sebelum masuk ke ruangan ini, ketuk pintu dahulu. Itu sudah peraturan." Kata Alex dengan wajah datar.
" Baik Tuan," ucap Lisa menundukan kepalanya.
" Dan satu hal lagi. Jaga sikapmu jika masih ingin bekerja di sini!" Kata Alex menegaskan.
Lisa tersentak, " Ba ... baik Tuan, saya permisi," jawab Lisa lalu melangkah keluar dari ruangan Alex.
Dengan terburu buru Lisa berjalan menuju toilet, lalu dengan kasar Ia menutup pintunya.
" Gila, Alex tuh buta ya. Masa sama wanita secantik Aku ini sama sekali tidak tertarik," gumam Lisa yang duduk di atas closet. Dia merasa kesal dengan apa yang di katakan Alex, bahkan Alex mengancam akan memecatnya jika Ia berulah.
" Semua ini gara gara wanita breng**k itu, pasti Dia sudah mengadu pada Tuan Alex. Huhh ...." Gumam Lisa menyilangkan kedua tangannya di dada. Wajahnya sangat kesal dan menahan amarah saat itu. Baginya Agnes tidak layak mendapatkan sosok laki laki prefect seperti Alex. Dari penampilannya saja terlihat biasa, menurutnya Dirinyalah yang seharusnya berada di sisi Alex. Sejak awal menjadi sekretaris Alex, Lisa sudah tertarik ada Alex, hingga akhirnya Agnes datang menggantikannya. Saat mereka menikah akhirnya Lisa bisa kembali ke posisinya sebagai sekretaris Alex. Dan itu membuatnya kesal, lalu selalu berusaha mencari perhatian Alex, meskipun tidak menjadi Istrinya, Lisa beranggapan dengan menjadi kekasihnya saja itu sudah cukup baginya.
Lisa menatap foto Alex yang berada di tanganya, Ia tersenyum sambil menciumi foto itu. Lisa benar benar tergila gila dengan Alex.Β Dia beraba tubuhnya sendiri, Ia membayangkan seolah olah Alex yang melakukannya.
" Aku pasti bisa mendapatkanmu Alex, pasti bisa."