Handsome Boss

Handsome Boss
Episode 42.



***


Alex merasa sangat senang atas kehamilan Agnes, Dia berencana mengadakan syukuran di Hotel Nuansa untuk Agnes.


Alex mengundang semua karyawan di perusahaan dan juga para partner bisninya.


Selain untuk syukuran kehamilan Istrinya, syukuran ini juga di adakan untuk pembukaan Resot Hotel Nuansa 2 yang sudah lounching beberapa hari yang lalu di Kota J.


Hari itu pun tiba, satu persatu tamu undangan berdatangan termasuk tamu dari Keluarga Pratama.


Dion terpana melihat Agnes yang begitu anggun dengan dress biru muda yang membalut tubuhnya. Dia terlihat sangat bahagia dari senyumannya, melihat Agnes yang begitu bahagia di sisi Alex membuat dada Dion terasa sakit.


Acara pun di mulai, seorang pembawa acara menyapa semua tamu undangan dan juga memberitahukan acara pembukaan Cabang Hotel Nuansa 2 di kota J telah di laksanakan tiga hari yang lalu.


" Dan satu lagi para hadirin, saya ingin mengucapkan selamat untuk Tuan Alex atas kehamilan Nyonya Agnes, kita Do'akan semoga Nyonya Agnes dan Calon Bayi dalam kandungannya di beri kesehatan selalu," ujar pembawa acara itu di sambut dengan riuhnya tepuk tangan para tamu yang ada di sana.


Alex sangat senang, Dia memeluk dan mengecup kening Istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


" I Love You my wife," bisik Alex di telinga Agnes, membuat para tamu makin riuh menepukan tangannya. Mereka turut bahagia atas kebagiaan yang Alex dan Agnes rasakan.


" I Love You too Suamiku tersayang," jawab Agnes tersenyum kepada Suaminya.


Ica berlari menghampiri Ibu nya tidak mau ketinggalan dari moment bahagia tersebut. Lalu Alex dan Agnes pun secara bersamaan memeluk Ica, mereka benar benar terlihat bahagia. Ica pun juga senang atas kehamilan Ibunya. Sudah lama Dia mendambakan seorang adik untuk temannya bermain.


Dion merasakan dadanya makin nyeri saat mendengar kabar itu, di tambah Ica yang tidak memandangnya sama sekali tetapi dengan Alex justru sangat sayang. Dia melangkah pergi dari keramaian dan duduk di bangku taman sendirian.


" Bodohnya Aku sudah sia siakan wanita sepertimu Agnes," gumam Dion.


Dania menatap Dion dari kejauhan, wajahnya terlihat sedih. Dania mengusap dadanya yang nyeri melihat anak satu satunya termenung seperti itu. Dia menyadari apa yang di lakukan di masa lampau memanglah sangat keterlaluan. Sebagai Orangtua tidak seharusnya Dia mengorbankan kebahagiaan anaknya demi harta. Dulu Tiara selalu memanjakannya dengan berlian dan hadiah hadiah untuknya, sehingga membuatnya buta dan menginginkan Tiara menjadi menantunya. Siapa sangka setelah menikah justru Tiara menjadi tidak menghormatinya sebagai Ibu Mertuanya.


.


.


Acara syukuran akhirnya usai, semua tamu yang hadir berpamitan dan satu persatu menyalami Alex dan Agnes.


Begitupun dengan Keluarga Pratama, mereka melangkah mendekati Alex dan Agnes.


" Selamat Tuan, terimakasih undangannya untuk Keluarga Pratama," ucap Randy sambil menyalami Alex.


" Terimakasih Pak Randy," balas Alex ramah. " Ica, salam sama Kakek dan Nenek ya," kata Alex sambil melirik Ica yang berada di sisinya.


Dion dan Keluarganya tertegun mendengar apa yang di ucapkan Alex. Dania yang sangat ingin memiliki cucu sangat senang ketika Alex meminta Ica untuk memanggilnya Nenek, Dia ingin sekali memeluk Ica. Tetapi apa yang di harapkannya tidak sesuai dengan kenyataanya.


Ica yang saat itu berada di sisi Alex justru melangkah mundur berlindung di belakang Alex.


Melihat putrinya bersikap demikian Agnes berlutut menggenggam tangan Ica lembut.


" Ica sayang, walau bagaimanapun mereka adalah Papa dan juga Kakek Nenek Ica," ucap Agnes pada putri kecilnya.


" Ica tidak suka dengan mereka semua," kata Ica sambil menunjuk Dania dan lainnya. Ica teringat saat bagaimana Dania mengusir Dirinya dan Agnes dahulu, bagaimana Dion tidak membela sama sekali saat Dirinya dan Agnes di hina oleh Dania. Setelah mengatakan hal itu, Ica berlalu berlari menuju Mili yang mengawasinya dari kejauhan.


Dion hanya menatap putrinya yang menghindar darinya dengan raut wajah yang sedih.


" Sudahlah, jangan di paksakan. Kami mengerti perasaan Ica," ucap Randy pada Agnes, setelah itu merekapun berpamitan untuk pulang.


.


.


Dion melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah Orangtuanya.


" Dion, kapan kamu akan merencanakan program kehamilan untuk Tiara?" tanya Randy memecah keheningan dalam mobil.


" Aku sudah merencanakannya, tetapi Tiara tidak pernah mau jika Aku mengajaknya melakukan pemeriksaan," jawab Dion.


" Lalu kemana Dia, kenapa tidak ikut kita ke pesta tadi?" tanya Randy lagi.


" Dia bilang ada acara dengan temannya," jawab Dion singkat.


" Haiss... benar benar tidak menghargai orang tua," ucap Randy kecewa dengan sikap menantunya itu.


Suasana pun menjadi sunyi kembali, Dania yang biasanya banyak berbicara kini hanya bungkam. Dia menyadari jika ini semua berawal dari kesalahannya yang memaksa Dion menikahi Tiara. Jika saja saat itu Dia tidak berbuat demikian, mungkin saja Dion dan Keluarganya sudah hidup bahagia.


Dion menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah orang tuanya.


" Kamu tidak mampir dulu Dion," ucap Dania setelah turun dari mobil.


" Tidak Ma, hari ini Aku sedikit lelah, Aku ingin istirahat," jawab Dion.


" Baiklah, hati hati di jalan ya Nak," ujar Dania sambil melambaikan tangannya pada Dion yang makin lama terlihat makin jauh dari pandangannya.


Randy merasa senang akhir akhir ini Dania menjadi sosok yang lebih lembut, tidak seperti biasanya yang terlihat angkuh dan ketus dalam berbicara.


Randy mendekati Dani dan merangkulnya, " Berdo'a saja semoga anak kita di beri kebahagiaan ya," ucap Randy lembut kepada Istrinya.


Dania hanya menganggukan kepalanya dengan mata yang berkaca kaca. Dia memeluk Randy menangia di dadanya. Dania yakin Dion pun merasakan sakit yang lebih darinya ketika Anaknya sendiri tidak mau mendekatinya. Alex dan Agnes sudah berbaik hati mengijinkan Dion dan Keluarganya untuk dekat dengan Ica, tetapi apa daya, Ica sendiri yang belum ingin dekat dengan Ayah kandungnya.


.


.


Agnes dan Alex mendekati Ica lalu duduk di sebelah Ica.


" Ica, Ica kok begitu sih tadi, kenapa sayang," ucap Agnes lembut pada putrinya.


" Ica tidak mau mau Ma bertemu mereka lagi, Ica tidak mau Mama di sakiti sama mereka lagi," jawab Ica polos.


Agnes dan Alex tersenyum mendengar jawaban Ica, mau bagaimanapun Ica bersikap seperti itu karena Dia sangat menyayangi Ibunya.


" Ada Papa disini, tidak ada lagi yang bisa menyakiti Ica dan Mama," ujar Alex menarik Ica ke atas pangkuannya dengan lembut.


" Tapi Pa, mereka semua orang jahat, merek semua tidak menginginkan Ica dan Mama," ucap Ica mendongakan wajahnya menatap Alex.


" Baiklah, jika Ica belum ingin Papa tidak akan memaksa," ucap Alex tersenyum pada Ica dan Agnes.


" Iya sayang, ya sudah sekarang Ica bobok dulu ya," ucap Agnes sambil mengecup kening Ica.


Agnes hanya mengiyakan kata kata Alex, tidak baik juga jika di paksakan. Ica saat itu sudah faham dengan apa yang di lakukan Keluarga Dion padanya, bukan salah Ica juga jika saat ini belum bisa menerima mereka.


Agnes dan Alex pun keluar dari kamar Ica membiarkan Ica beristirahat.


" Honey, kamu pergilah beristirahat dahulu, Aku masih ada rekan bisnis yang harus ku temui di loby," ujar Alex setelah mengantar Agnes ke kamarnya.


" Baiklah, jangan lama lama ya," ucap Agnes manja.


Alex tersenyum melihat Agnes yang makin manja saat hamil, " Iya Honeyku, tidak akan lama kok," ujar Alex mengecup bibir Istrinya lalu melangkah keluar dari kamarnya.


Alex mendekati Ronald yang sudah menunggunya di Loby bersama Klien yang di rekomendasikan untuk perusahaannya.


" Selamat malam semuanya," sapa Alex sambil menyalami Kliennya tersebut.


" Tuan Kazuo, perkenalkan ini adalah Tuan Muda Wilson, Alexandr Wilson pemilik dari Perusahan West Star beserta cabang cabangnya dan juga Resort Hotel Nuansa ini," kata Ronald memperkenalkan Alex pada Klien tersebut.


" Senang bertemu Anda Tuan Alex," kata Kazuo menyalami Alex.


" Senang bertemu Anda juga Tuan Kazuo," ucap Alex.


Setelah berbasa basi, Kazuo mengutarakan niatnya menemui Alex malam ini.


Kazuo adalah seorang pengusaha muda dari Jepang yang mengembangkan Perusahaannya di Indonesia yang bernaung di bidang Tekstil dan Elektronik. Kazuo berencana mengajukan kerja sama dengan Perusahaan WS yang sudah terkenal maju dan menanam saham hampir di seluruh Perusahaan Indonesia dengan keuntungan yang fantastis.


" Bisa saya lihat dahulu berkasnya Tuan," kata Alex.


" Baik Tuan, tunggu sebentar. Sekretaris saya sedang mengambilnya di mobil," jawab Kazuo ramah.


Tidak beberapa lama, seorang wanita datang dengan membawa berkas di tangannya dan menyerahkan berkas itu kepada Kazuo. Wanita itu tersenyum ramah saat melihat Alex.


Alex tertegun saat melihat wanita itu, wajahnya tidak asing baginya. " Tidak mungkin, ini pastilah hanya kebetulan saja," ucap Alex dalam hati.


Alex mengabaikan senyuman wanita itu, walau bagaimanapun wajah itu sudah menjadi masa lalunya, tidak ada tempat lagi di hatinya saat ini.


Alex membaca berkas itu dengan telitib lalu menyetujui kerja sama yang di ajukan Kazuo. Ini sangat menguntungkan untuknya, jika Kazuo tidak membayarkan kewajibannya bisa saja perusahannya beralih menjadi milik Alex.


" Kamu sungguh menyetujuinya Alex?" tanya Ronald setelah Kliennya pergi.


" Tentu saja, Om Ronald tahu bukan syarat syarat yang Aku berikan itu kuat dan tidak bisa di ganggu gugat, jika menginginkan saham dariku, tentu saja harus mengikuti aturanku," ujar Alex tersenyum.


" Kamu ini persis seperti Papimu Alex, Cerdik sedikit licik," ucap Ronald menepuk bahu Alex sambil tertawa.


Alex tersenyum sinis, " Terimakasih pujiannya Om Ronald yang tidak kalah liciknya denganku," canda Alex pada Ronald, mereka pun tertawa bersama. Terlihat Alex dan Ronald sudah seperti seorang Ayah dan Anak.


Setelah urusan bisnisnya selesai, Alex melangkah menyusuri lorong menuju kamarnya dimana Agnes sudah menunggu.


Saat melangkah di lorong VIP tiba tiba terlihat seorang wanita yang melangkah terburu buru menabraknya dengan keras.


" Auhhh...," teriak wanita itu terjatuh di hadapan Alex.


" Anda tidak apa apa Nona?" tanya Alex pada wanita itu.


" Ah, ya, Aku tidak apa apa," ucap wanita itu sambil mendongakan wajahnya menatap Alex.


Alex terkejut saat melihat wanita itu, Dia adalah sekretaris dari Kazuo.


" Mengapa wajahnya begitu mirip dengan Siena, Siena sudah tiada, Aku melihatnya sendiri saat Dia mnghembuskan nafas untuk terakhir kalinya, bagaimana bisa kebetulan seperti ini," gumam Alex dalam hati.


" Maaf Tuan, saya terburu buru jadi menabrak Anda seperti ini," ujar wanita itu berdiri di hadapan Alex.


" Tidak masalah, lain kali hati hati," ujar Alex lalu melangkah meninggalkan wanita itu menuju ruangan pribadinya.


Bagi Alex mau semirip apapun wanita itu dengan Siena, Baginya Siena itu sudah tiada dan hatinya sudah tidak ada perasaan apapun lagi. Meskipun dulu Dia mencintai Siena tetapi saat ini Cintanya untuk Agnes justru melebihi Siena.


Wanita itu menatap Alex yang makin jauh dari pandangannya.


" Alex, bagaimana bisa kau tidak memandangku sama sekali meskipun kini Aku sudah memiliki wajah yang mirip dengannya," gumam wanita itu.