
Setelah sampai di Rumah Sakit, Alex turun dari mobilnya. Dia berlari menuju ruang persalinan yang Sabrina infokan kepadanya.
Alex membuka pintu ruangan itu, di lihatnya Agnes sedang terbaring di ranjang pasien dengan wajahnya yang pucat, Agnes terus meringis kesakitan saat itu.
" Honey," kata Alex sambil berlari mendekati Agnes. Di genggamnya tangan Agnes yang sedang merasakan kesakitan yang mendalam. Mata Agnes terus menatap Alex tanpa Ia berkata apapun dari bibirnya.
Sabrina yang saat itu masih berada di rangan Agnes, berusaha menyuntikan obat pereda sakit Agar rasa sakit Agnes sedikit berkurang. Setalah beberapa saat, Agnespun tertidur. Tangannya terus menggenggam erat tangan Alex.
" Bagaimana Sabrina, apakah Agnes benar benar akan melahirkan?" Tanya Alex dengan wajah cemas. Dia sangat khawatir melihat kondisi Agnes.
" Ya, begitulah. Tetapi, Agnes tidak dapat melahirkan dengan normal, Dia harus melakukan oprasi." Jawab Sabrina.
" Ya, lakukan saja Sabrina. Bukankah oprasi sudah biasa dilakukan dalam proses persalinan," kata Alex sambil mengusap usap kepala Agnes yang sedang tertidur.
" Bukan itu masalahnya Alex, tapi ..." ucap Sabrina ragu.
" Tapi apa Sabrina? Apa masalahnya?" Tanya Alex penasaran.
" Ini tidak semudah itu Alex, Dia harus melahirkan prematur di selah selah sakitnya." Ujar Sabrina khawatir pada keadaan Agnes.
" Sakit? Apa maksudmu Sabrina? Setauku Agnes sehat sehat saja selama ini," kata Alex bingung dengan apa yang dikatakan Sabrina.
" Alex, Agnes mengidap kanker darah. Penyakit itu terdeteksi saat usia kandungan Agnes masih empat bulan. Aku sudah menyarankan untuk mengakhiri kehamilannya, tetapi Dia bersikeras mempertahankannya. Agnes tahu jika ini beresiko untuk nyawanya, tetapi Dia bilang, hanya ini yang bisa Dia berikan untuk membahagiakanmu Alex. Dan, seharusnya saat ini bukan jadwal Agnes untuk melahirkan, tetapi bayi itu harus di lahirkan Alex, karena darah Agnes sedikit demi sedikit sudah meracuni janinnya," kata Sabrina tersendat.
" Apa? Kanker darah? Kenapa Kau tidak memberitahuku Sabrina." Ucap Alex terkejut dengan kata kata Sabrina.
" Agnes tidak memperbolehkanku mengatakannya padamu. Dia tidak ingin Kau khawatir padanya Alex. Lagi pula, Agnes berencana melakukan kemoteraphi setelah melahirkan. Tetapi, semua tidak sesuai dengan rencananya," ucap Sabrina menjelaskan.
Mendengar penjelasan Sabrina seketika membuat Alex lemas. Betapa besar cinta Agnes untuknya hingga hendak memgorbankan nyawanya agar bisa memberi Alex keturuna. Dada Alex terasa sesak saat itu.
" Alex, ini surat persetujuan oprasi. Kamu tentukan, jika ada kemungkinan terburuk, siapa yang akan diselamatkan, Ibu atau bayinya," kata Sabrina menyodorkan sebuah formulir kepada Alex.
Alex menerima formulir itu dan membacanya dengan teliti. Saat itu Alex merasa sangat Dilema. Dia harus memilih jika ada kemungkinan terburuk di proses persalinan Agnes kali ini.
" Selamatkan Istriku Sabrina. Apapun yang terjadi, selamatkan Dia." Pinta Alex setelah menandatangani formulir itu dan menyerahkannya kepada Sabrina.
" Alex, apakah Kau yakin? Kau tahu, kedepan Agnes akan sulit mendapatkan keturunan lagi." Kata Sabrina.
" Tidak masalah Sabrina. Aku hanya ingin Istriku," ucap Alex lirih. Keputusan ini sangat berat baginya, Alex sangat mencintai Agnes. Dia ingin Agnes selamat, tetapi jika saja Agnes tahu Alex tidak memilih bayinya, bisa saja Agnes menjadi kecewa kepadanya.
" Baiklah. Teruslah berdo'a Alex. Kami akan memberikan yang terbaik untuk Agnes." Ujar Sabrina lalu melangkah mempersiapkan oprasi untuk Agnes.
Alex terus menggenggam tangan Agnes, matanya terlihat berkaca kaca memandang Istrinya yang tertidur di Bed pasien.
" Bertahanlah Honey, Kamu pasti bisa melewati semua ini," gumam Alex dalam hati sambil mengusap kepala Agnes lembut.
Setelah mempersiapkan alat alatnya, Sabrina meminta para perawat membawa Agnes ke ruang oprasi. Meskipun ini sangat sulit, Sabrina dan Dokter yang lain akan berusaha sekuat tenaga untuk keselamatan Agnes dan bayinya.
Lampu merah di atas pintu ruang oprasi sudah menyala, tanda oprasi sedang berjalan. Alex meninggu dengan cemas, Dia sangat khawatir dengan keadaan Agnes dan bayinya.
Alex mencoba menghubungi Ayah dan Mertuanya untuk memberitahukan keadaan Agnes. Mereka semua mendo'akan untuk keselamatan Agnes dan bayinya, semua keluarga sangat khawatir.
Alex duduk terdiam di sebuah bangku di depan ruang oprasi, sudah Dua jam Ia menunggu, lampu dia atas pintu ruang oprasi itu tidak kunjung menghijau. Alex makin cemas dan terlihat sangat khawatir.
Saat Alex sedang menunggu proses oprasi Agnes, Alex mendengar perawat mengantarkan seseorang yang melangkah ke arahnya.
" Silahkan menunggu di sini Tuan, Nyonya Agnes sedang menjalani oprasi." Kata perawat itu pada laki laki yang di antarnya.
" Baik suster, terimakasih." Ucap Justin yang melirik ke arah Alex.
Justin melangkah mendekati Alex lalu duduk di sebelahnya.
Alex merasa heran ada orang yang tiba tiba duduk di sisinya, Alexpun melirik ke arah laki laki di sebelahnya itu.
" Justi," ucap Alex saat melihat jelas wajah laki laki di sebelahnya itu.
" Kali ini Kamu kembali membahayakan wanitamu Alex," ucap Justin menyandarkan tubuhnya.
" Apa maksudmu?" Tanya Alex sediktt kesal.
" Aku yang membawanya kemari, kemana saja Kamu? Kamu benar benar tidak becus menjaga orang yang Kamu cintai Alex," ujar Justin melirik ke arah Alex dingin.
Alex malas menanggapi Justin kali ini. Dia hanya diam, tidak ingin menjawab yang Justin katakan padanya. Saat ini fikirannya sangat kalut, hatinya sedang cemas dan khawatir pada Agnes,Dia tidak ingin membuat keributan di saat Agnes menjalani oprasi.
Selama beberapa jam menunggu, lampu oprasipun padam. Alex terkejut saat itu, Dia benar benar khawatir.
" Ya Tuhan, apa yang yerjadi pada Anak dan Istriku. Tolong selamatkan mereka. Aku mohon," ucap Alex dalam hatinya. Alex menutup wajahnya dengan kedua tangannya, air matanya mengalir begitu saja melewati wajahnya. Alex bangkit dari duduknya menghampiri pintu ruang oprasi, Dia menunggu di sana jika saja ada Dokter yang keluar.
Justin melirik Alex, wajah Alex terlihat sangat sedih. Dia sendiripun merasa sangat khawatir dengan keadaan Agnes. Jauh jauh Ia datang dari Amerika hanya untuk melihat Agnes, tetapi apa yang di dapat? Justin justru bertemu dengan Agnes saat keadaannya tidak baik.
Ceklek ....
Pintu ruang oprasipun terbuka, dan Sabrina muncul denga wajah sayunya. Alex segera menghampiri Sabrina.
" Bagaimana Sabrina?" Tanya Alex cemas, Dia takut terjadi sesuatu pada Agnes.
Belum sempat Sabrina mengatakan maksudnya tiba tiba seorang perawat yang berada di dalam ruang oprasi berlari menghampirinya.
" Dokter, nadi pasien berdenyut," kata perawat itu memberitahukan.
Mendengar itu, Sabrina segera berlari di ikuti Alex menuju dimana Agnes terbaring.
" Alex, sebaiknya Kamu keluar dulu," kata Sabrina.
" Tidak Sabrina. Aku mohon," pinta Alex memohon papa Sabrina.
" Baiklah. Tapi, apapun yang terjadi, jangan ganggu pekerjaan Kami!" Tegas Sabrina pada Alex.
" Baik Sabrina , Aku berjanji." Kata Alex meyakinkan Sabrina dan Dokter yang lain.
Sabrina segera melakukan tindakan kepada Agnes, dengan sekuat tenaga Ia mengerahkan kemampuannya demi menyelamatkan nyawa Agnes. Setelah beberapa lama Sabrina melakukan tindakan kepada Agnes, secara perlahan lahan denyut jantung Agnes mulai kembali stabil. Sabrina merasa lega dengan keadaan Agnes sekarang. Sabrina menatap ke arah Alex dengan senyuman di bibirnya, terlihat Alex yang berada di sisi Agnes terus menggenggam tangan Agnes sambil membisikan kata kata yang indah untuk menyemangati Agnes di bawah alam sadarnya.
" Alex, syukurlah. Denyut jantung Agnes sudah mulai stabil," ucap Sabrina menghirup nafas lega, begitupun dengan Dokter lain yang menangani Agnes. Mereka semua merasa lega.
Yang terjadi pada Agnes kali ini adalah sebah mukjizat. Mereka semua sudah memastikan jika Agnes beberapa jam yang lalu sudah dinyatakan meninggal dunia, tetapi karena mukjizat Sang Maha Kuasa, kini jantung Agnes kembali berdetak.
Mengetahui Agnes sudah melewati masa kritisnya, seketika Alex bersimpuh, mengucapkan rasa syukur atas mukjizat yang telah Tuhan berikan untuk Istri tercintanya.
Para Dokter dan benerapa perawat yang menangani Agnes sangat terharu dengan semua ini, Sabrina hanya bisa menangis bahagia atas keberhasilannya dalam menyelamartkan Agnes.
Alex bangkit dan berkali kali mengecup kening Agnes lembut.
" Selamat Honey, Aku yakin Kamu bisa melewati ini semua. Aku tahu Kamu adalah wanita yang kuat sayang," bisik Alex bahagia di telinga Agnes.
Alex melirik ke sebuah tabung inkubator di ruangan itu, terlihat bayi mungil yang masih tertidur dengan pulasnya di dalam tabung itu.
" Sabrina, apakah itu bayiku?" Tanya Alex pada Sabrina.
" Benar Alex, Dia adalah bayi kecilmu. Kami berhasil menyelamatkannya sebelum racun itu menjalar di tubuhnya," jawab Sabrina.
Alexpun melangkah mendekati tabung itu, di lihatnya bayi mungil itu tersenyum dalam tidurnya. Dia adalah bayi laki laki yang sangat tampan. Alex tersenyum bahagia saat melihat bayinya, ingin rasanya Ia memegang bayi kecilnya itu, tetapi Dokter menyarankan agar bayinya di inkubator hingga kondisinya benar benar stabil.
Karena Dokter ingin melanjutkan pekerjaannya menyelesaikan tindakan kepada Agnes, Sabrina meminta Alex keluar terlebih dahulu, dan bisa menemui Agnes kembali setelah Agnes di bawa ke ruang perawatan.
Alex menuruti perintah Sabrina, lalu keluar dari ruang oprasi dengan wajah yang lebih baik, rasa cemas dan khawatir yang tadi Dia rasakan kini sedikit berkurang setelah mengetahui jika Agnes dan Anaknya sudah terselamatkan.
" Bagaimana keadaan Agnes dan bayinya?" Tanya Justin saat melihat Alex keluar dari ruang oprasi.
" Semuanya baik baik saja," jawab Alex sambil melangkah menuju bangku yang berada di depan ruang oprasi.
" Syukurlah," ucap Justin merasa lega.
" Kenapa Kamu mengkhawatirkan Istriku?" Tanya Alex dengan nada sedikit ketus.
" Aku hanya mengkhawatirkan adik sepupuku. Apa Kamu lupa jika Yarry adalah Pamanku? Agnes memang Istrimu, tapi Dia juga adiku, bukan. Jadi wajar saja jika Aku mengkhawatirkannya," jawab Justin duduk di samping Alex.
Alex hanya diam mendengar jawaban Justin. Justin memang tidak salah jika menyebut Agnes adalah adik sepupunya, karena kenyataannya memanglah demikian.
Alex tidak ingin memusingkan hali itu. Yang jelas, saat ini Dia merasa lega dan sangat bahagia.
" Kamu tenanglah, Aku sudah memberitahu Om Yarry dan Tante Clara. Mungkin lusa mereka akan berangkat kemari." Kata Justin pada Alex.
" Terimakasih Justin." Ucap Alex dengan senyuman tipis di bibirnya.
.
.
Dion merasa jenuh, selama berhari hari Dia tidak dapat meninggalkan Tiara karena kondisi Tiara yang belum stabil. Dokter masih memberikan suntikan penenang agar Tiara bisa tertidur normal. Jika tidak di berikan obat itu, Tiara akan terus meminta Dion untuk terus berada di sisinya. Hingga saat ini Tiara belum mengetahui tentang kehamilannya, jika Tiara tahu dirinya hamil, Dia pasti akan histeris seperti sebelumnya. Dion juga belum memberutahu kedua Orang Tuanya tentang keadaan Tiara, Dia belum bisa mengatakan keadaan Tiara kepada mereka, sebelum masalah Matt terselesaikan. Dion masih ingin mengetahui tentang Tiara dari laki laki itu
Saat Tiara sedang tidur, Dionpun melangkah keluar dari ruangan dimana Tiara dirawat. Dion melangkah menuju Kantin yang berada di Rumah Sakit untuk mengisi perutnya.
Dion duduk dengan rokok di tangannya, Dia hanya memainkan pinselnya sambil menunggu pesanannya datang. Saat Dion menatap di sekitar Kantin, tanpa sengaja pandangan matanya menangkap seseorang yang Ia kenal. Dia melihat Ica dan pengasuhnya Mili sedang memesan makanan, untuk di antarkan ke ruangan Agnes di rawat.
Dionpun bangkit dari duduknya, lalu melangkah menghampiri Ica.
" Ica," panggil Dion yang sudah berada di dekat Ica.
Ica menolehkan pandangannya menatap Dion yang sudah berada di sampingnya.
" Oh, Papa Dion." Kata Ica saat tahu yang menyapanya adalah Dion, Ayah kandungnya.
" Ica sedang apa di sini? Siapa yang sakit?" Tanya Dion pada Putrinya.
" Sedang pesan makanan, dan tidak ada yang sakit, Ica hanya melihat Adik kecil Ica dan Mama." Jawab Ica.
" Ya sudah ya Pa, Ica mau ke kamar Mama dulu. Da da ..." ucap Ica lalu berlalu dari hadapan Dion.
Dion seketika memegang dadanya, entah mengapa dadanya terasa sakit saat Agnes melahirkan bayinya dengan Alex. Ada rasa tidak rela di hatinya yang paling dalam. Di tambah, kini Tiara yang juga sedang hamil, tetapi kehamilannya tidak membuatnya bahagia sama sekali, karena Tiara hamil dengan laki laki lain. Lengkap sudah kini penderitaan Dion saat ini. Kekayaan yang Ia miliki tidak dapat membuatnya bahagia. Kini Dion baru menyadari, jika kebahagiannya hanyalah bersama Agnes dan Ica. Dion menyesal, mengapa dulu Dia tidak bisa menolak kemauan Ibunya. Kini semunya sudah terlambat dan sia sia. Tidak ada ruang lagi untuknya di hati Agnes untuknya.