
***
Agnes membuka matanya perlahan, Dia menatap sekitar , dilihatnya Alex masih tertidur di sampingnya . Agnes teringat semalam Alex melamarnya , Agnes menatap Alex dalam dalam. " Apakah Dia serius, mungkinkah semalam Dia mabuk dan asal bicara saja.?" gumam Agnes dalam hatinya.
Perlahan Agnes menyentuh wajah Alex dengan lembut.
Alex mebuka matanya lalu menyentuh tangan Agnes yang berada di wajahnya dan mencium tangan Agnes.
" Morning Honey...." kata Alex tersenyum .
" Ya, morning too... Apakah Anda sudah sadar sekarang?" tanya Agnes memastikan .
" Aku sejak semalam sadar Sayang dan Aku benar benar ingin menikahimu ." jawab Alex memeluk pinggang Agnes.
Agnes tersenyum lalu membalas pelukan Alex.
" Syukurlah, Pak Alex, Saya kira Anda benar benar asal bicara semalam" kata Agnes.
" Sssttt.... panggil Aku dengan namaku saja, atau Kau bisa memanggilku Honey begitu. Kau akan menjadi Nyonya Alex kedepananya. Ok." kata Alex menggoda Agnes
" Baiklah,,, " jawab Agnes dengan wajah merah karna malu.
" Mandilah, lalu kita ke kantor bersama." kata Alex sambil mencium kening Agnes.
" Aku tidak ada pakaian di sini, biarkan Aku pulang dan mandi di rumah." pinta Agnes.
" tenang saja, Aku ada pakaian untukmu." kata Alex yang melangkah menuju lemari pakaiannya , mengambil satu stel pakaian kerja untuk Agnes.
" Bagaimana Bisa kamu ada pakaian wanita?" tanya Agnes heran.
" tentu saja bisa, karna yang mencarikan pakaian kerjamu dulu itu Aku." jawab Alex tersenyum sambil melihat Agnes.
" tapi Ica..."
" tenang saja, di rumahmu ada pelayan yang bertanggung jawab melayani Ica dengan Baik Honey." jawab Alex.
Agnes tertegun sesaat, Dia tidak menyangkan ternyata Alex selama ini sudah sangat perhatian dengannya, hanya saja Dia yang tidak menyadarinya.
.
.
.
Agnes melangkah turun menuju dapur berencana membuat sarapan untuk Alex .
" Nona biar saya yang melakukannya." kata seoarang pelayan pada Agnes.
" tidak apa apa, Aku sudah terbiasa melakukannya." kata Agnes pada pelayan itu.
pelayan itu tersenyum ." Baiklah Nona, biar kan saya membantu Anda." kata pelayan itu sambil mengambil beberapa bahan masakan yang Agnes butuhkan.
para pelayan di Villa Alex semua menyukai Agnes, Mereka semua sangat menghargai Agnes dan berharap Agnes dan Alex segera menikah.
Agnes menyajikan masakannya di meja makan , terlihat Alex mendekatinya dengan senyuman di bibirnya.
" hhmmmm.... aromanya nikmat sekali Honey." kata Alex memeluk pinggang Agnes dari belakang.
" duduklah, kita sarapan bersama." kata Agnes pada Alex.
Alex tidak segera duduk , Dia justru memeluk Agnes makin erat. para pelayan yang melihatnya dari kejauhan saling berbisik senang melihat Tuan mereka sudah menemukan tambatan hatinya.
" Honey, kapan Kau siap menikah? Aku ingin Kau dan Ica bisa segera tinggal di sini bersamaKu." tanya Alex.
" Apa Kau benar benar sudah yakin akan menikahiku Alex ?" jawab Agnes pelan.
" Tentu saja , Aku tidak pernah main main dengan kata kata Ku." kata Alex meyakinkan.
Agnes tersenyum. " Kapan saja Kau mau Aku bersedia." kata Agnes merangkulkan tangannya di leher Alex.
" Ok, Aku akan mempersiapkannya." kata Alex sambil mengecup kening Agnes dengan mesra.
Seketika darah Agnes terasa mengalir lebih deras, Alex membuat nya senam jantung setiap saat. " Ini bukan mimpi, ya ini bukan mimpi. Tuhan Terimakasih Kau kirimkan Alex untukku." gumam Agnes dalam hatinya, Dia sangat bersyukur dengan kehadiran Alex di dalam hidupnya.
.
.
.
Alex melangkah memasuki ruangannya bersama Agnes .
Agnes melangkah menuju meja kerjanya, menyelesaikan pekerjaanya yang sudah menumpuk di mejanya.
" Honey,,, sebentar lagi kita rapat . kamu siapkan berkas berkasnya ." pinta Alex.
" Baik." jawab Agnes segera menyiapkan materi untuk rapat hari ini.
Saat Agnes menyiapkan berkas tiba tiba Alex memeluk pinggangnya dari belakang.
" ehhmmm,, Alex, ini di kantor." ucap Agnes .
" Ya , Aku tau. Beri Aku satu ciuman agar Aku semangat." pinta Alex menggoda Agnes.
Alex tersenyum sambil menarik tangan Agnes kembali lalu mengecup bibir nya.
" I Love You Honey...." kata Alex menatap Agnes.
" Ya I Love You too..." jawab Agnes sambil tersenyum.
.
.
Selesai membereskan berkasnya Alex dan Agnes pun bersamaan memasuki ruang rapat. Para Manager di perusahaan itu sudah berkumpul menunggu kedatangan Alex.
Semua mata tertuju ke arah Alex dan Agnes, Agnes merasa ada pandangan tidak wajar yang di arahkan padanya dari seorang Manager Wanita di ruangan itu. Tapi Dia tidak menghiraukannya.
" Agnes, berikan berkasnya dan nyalakan monitor." Pinta Alex pada Agnes.
" Baik Pak. " jawab Agnes sambil mengerjakan apa yanh Alex perintahkan.
Alex memulai rapatnya dengan tenang, meskipun banyak masalah yang ada dalam perusahaannya , Dia selalu ada solusi untuk menghadapinya.
Rapat kali ini tidak begitu banyak masalah , semua masih berjalan Normal.
Rapat berjalan dengan lancar, Alex pun menggandeng tangan Agnes keluar dari ruang rapat.
Semua orang yang berada di ruang rapat merasa heran, Manager wanita yang sedari tadi menatap sinis Agnes merasa kesal dengan pemandangan itu. " Sialan,,, Wanita murahan itu benar benar sudah menggoda si Bos. " gumamnya dalam hati.
" Sarah,,, mengapa Kau menatal orang hingga seperti itu. Jaga sikapmu." kata Ronald pada bawahannya.
" ahh, tidak Pak. Baik." jawab Sarah bangkit dari kursinya lalu melangkah kembali ke ruang kerjanya. Dia masih tidak habis fikir, bagaimana bisa Alex memilih Agnes sebagai Asistennya, Dia yang sejak dulu menngajukan lamaran ke bidang itu sama sekali tidak ada peluang.
.
.
.
Ronald mengetuk pintu ruangan Alex lalu membukanya. Ronald melangkah masuk keruangan Alex.
" Kau sibuk Alex ?" tanya Ronald yang melihat Alex sedang fokus pada laptopnya.
" Tidak begitu Om. Ada apa ?" kata Alex menutup laptopnya.
Ronald duduk di sofa ruangan Alex, matanya melirik Agnes yang sibuk dengan pekerjaannya.
Alex mendekati Ronald lalu duduk di sebelahnya.
" Ada hal penting apa Om?" tanya Alex.
Ronald agak ragu menanyakan hubungan Alex dan Agnes. Dia merasa tidak senang banyak karyawan yang bergunjing tentang Agnes di lingkungan kantor. Ditambah rumor yang beredar Agnes menggunakan cara kotor untuk dapat posisi nya saat ini.
" tidak ada yang penting, Om hanya tidak senang saja banyak karyawan yang bergunjing tentang kalian." kata Ronald menyandarkan punggungnya di sofa.
Alex mengerutkan keningnya lalu melirik Agnes yang juga menatapnya saat itu.
" Om, dalam waktu dekat ini Aku akan menikahi Agnes." kata Alex tanpa basa basi.
" Apa??? Kamu serius Alex?" tanya Ronald terkejut dengan kata kata Alex.
" Ya. Aku serius." jawab Alex.
Ronald melirik Agnes yang saat itupun sedang menatap ke arahnya dah Alex. Agnes lalu menundukan kepalanya.
" Lalu , bagaimana dengan Yohans?" tanya Ronald.
" Papi tidak keberatan, Dia akan kemari saat kami menikah." jawab Alex.
" Kau sungguh sungguh bukan??" tanya Ronald sekali lagi karna masih ragu dengan keputusan Alex.
" ya Om, Aku sungguh sungguh." jawab Alex meyakinkan. Dia tidak mengerti dengan sikap Ronald.
Ronald bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Agnes.
" Agnes, Kau sungguh sungguh membuka hatimu untuk keponakanku ?" tanya Ronald pada Agnes sambil mengusap kepalanya.
" Iya Pak." jawab Agnes terus menundukan kepalanya.
Ronald tersenyum senang mendengarnya.
" Selamat Agnes, Aku ikut bahagia dengan pernikahan kalian nantinya." kata Ronald yang kembali duduk di sebelah Alex, dan menepuk nepuk bahu Alex.
Alex merasa senang , Dia mengira Ronald akan mengatakan hal yang tidak mengenakan. tapi dugaannya salah.
" Alex, kamu jaga Agnes baik baik. Kamu tahu tidak, Tantemu sangat menyayanginya." pinta Ronald pada Alex.
" Tenang saja Om. Aku akan menjaganya dengan baik." jawab Alex sambil melirik Agnes.
Agnes tersenyum ke arah Alex. Ronald dan Diandra adalah orang yang telah banyak menolongnya selama ini.
( Terimakasih like dan komennya Kakak. 😊🙏.
Selamat Membaca 😊 )