
Seusai melakukan Therapi, Agne menuju Sekolah Ica untuk menjemputnya. Setelah Sean lahir, Agnes mengurangi aktivitas kerjanya, kini Dia lebih mengutamakan waktunya untuk Suami dan Anak-anaknya. Jika senggang seperti ini, Agnes akan menjemput Ica sendiri di Sekolahnya. Ica sediri juga makin senang jiga Agnes yang menjemputnya.
Sambil menunggu Ica keluar, Agnes duduk di dalam mobilnya dengan santai. Kepalanya masih terasa sedikit pusing, efek dari Therapi Radiasi yang di jalaninya tadi.
Tidak begitu lama, Icapun keluar dari kelasnya, mencari seseorang yang menjemputnya.
" Ica ..." panggil Agnes sambil melangkah menghampiri gadis kecilnya itu.
" Mama ..." ucap Ica senang saat melihat Agnes yang menjemputnya.
" Hallo Ica sayang," ucap Agnes sambil memeluk putri kecilnya itu.
Saat melangkah keluar dari gerbang Sekolah Ica, seseorang memanggil namanya dan Agnes merasa, suara itu tidaklah asing baginya.
" Agnes," panggil orang itu.
Agnes menolehkan wajahnya menatap sumber suara itu, " Dion, kamu ada perlu apa di sini?" tanya Agnes pada laki laki yang memanggilnya itu.
" Tidak ada perlu apa-apa Agnes, aku hanya kebetulan lewat dan melihatmu," jawab Dion tersenyum.
" Ohh ... ya sudah, jika begitu kami permisi dulu ya," ucap Agnes menggandeng tangan Ica. Belum sempat Agnes melangkah, Dion menarik tangannya, membuat Agnes terhenti saat itu juga.
" Agnes, tunggu," ucap Dion lembut sambil menggenggam pergelangan tangan Agnes.
" Ada apa? Tolong lepaskan tanganmu itu, Dion." kata Agnes melirik tangan Dion yang terus menggenggam pergelangan tangannta itu.
" Ah ... ya, maaf Agnes," ucap Dion terbata. " Ada yang ingin ku bicarakan padamu ... sebentar saja, Agnes." pinta Dion pada Agnes.
" Baiklah, bicaralah." kata Agnes sambil menatap Dion. Tatapan Agnes yang tajam ke arah Dion, membuat hati Dion bergetar dan ingin sekali memeluk wanita yang sangat di cintainya itu.
" Aku ingin minta persetujuan darimu-- untuk-- membawa Ica kerumah. Mama, sangat merindukannya," ucap Dion meminta izin pada Agnes.
Agnes terdiam sesaat sambil melirik Ica. Ica dan Agnes saling bertatapan mata saat itu, dari sorot mata Ica, terlihat Ica merasa senang jika bertemu dengan Neneknya.
Agnespun belutut di hadapan putri kecilnya itu, " Bagaimana Ica, apakah-- Ica mau?" tanya Agnes pada Ica.
" Iya, Ma. Ica mau, Ica juga kangen sama Nenek," jawab Ica tersenyum.
Agnes tersenyum lalu kembali berdiri dan menatap Dion.
" Baiklah, tapi-- nanti sore kamu harus sudah membawanya kembali kerumah ya," ucap Agnes pada Dion.
" Baiklah, kamu tidak perlu khawatir, Agnes." jawab Dion tersenyum senang.
Dion menggandeng tangan Ica untuk masuk kedalam mobilnya, Dia merasa senang, karena-- meskipun Dia dan Agnes tidak bersama, tetapi Dia masih bisa dengan leluasa bertemu dengan putri kecilnya. Buah cintanya bersama Agnes di masa lalu.
Dengan senang Dion melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan, Ica banyak bercerita tentang teman-temannya, juga tentang kehidupannya di rumah. Dion hanya bisa tersenyum mendengar setiap kata yang Ica lontarkan, Dia bersyukur banyak orang yang menyayangi putrinya, bahkan Alex menyayangi Ica sudah seperti putri kandungnya sendiri.
**
Mobil yang di tumpangi Dion dan Icapun akhirnya sampi di depan halaman rumah Dion.
Dion membukakan pintu untuk putrinya lalu menggandengnya masuk ke rumahnya.
Tiara yang mendengar Dion kedatangan Dion-- segera menghampiri Dion.
" Dion, untuk apa kamu membawanya kemari?" Tanya Tiara keheranan sambil mengusap-usap perutnya yang mulai membesar.
" Tidak masalah bukan? Ica adalah putriku, Tiara." Jawab Dion yang merasa tidak senang dengan sikap Tiara.
" Tapi ...."
Belum sempat Tiara melanjutkan kata katanya, Dania datang menghampiri mereka, dengan wajah yang begitu senang melihat Dion membawa Ica kerumah.
" Hallo ... Ica sayang ...," sapa Dania sambil memeluk cucunya itu dengan wajah yang sumringah.
" Hallo Nenek ... iya, Ica juga kangen sama Nenek," ucap Ica membalas pelukan Dania dengan senyuman di bibirnya. Ini adalah pertama kalinya Ica main kerumah Ayah kandungnya.
" Baik, Nek." Kata Ica menuruti keinginan Neneknya.
Ica merasa sedikit canggung berada di rumah Dion. Lirikan mata Tiara seolah-olah mengatakan, jika tidak seharusnya Ica datang di rumah ini.
" Dion, Aku sedang hamil. Kenapa kau bawa Ica kemari?" Tanya Tiara merasa tidak nyaman dengan adanya Ica di rumah Dion.
" Tiara, Ica itu anaku. Tidak masalah jika Dia ada di sini bukan, dan itu juga tidak ada sangkut pautnya dengan kehamilanmu. Apa yang salah?" Jawab Dion sambil meangkah menyusul Ica dan Ibunya, Dion merasa sedikit kesal dengan Istrinya. Tidak seharusnya Tiara bersikap demikian kepada Ica, walau bagaimanapun Ica adalah anak kandungnya. Seharusnya Tiara bersyukur, hingga saat ini Dion tidak pernah bertanya, anak siapa yang berada dalam kandungannya itu.
**
Karena Sean tidak rewel dan stok ASI sudah banyak Ia persiapkan, Agnes berencana menyusul Alex ke kantornya. Apalagi, saat ini adalah jam-jam dimana Alex sudah tidak sibuk dan sebentar lagi pulang.
Sesampai di gedung kantor Alex, Agnes segera turun lalu melangkah menuju ruangan Alex. Sebagian pekerja yang sudah lama tidak melihat Agnes, dengan ramah mereka menyapa Agnes.
Saat hendak membuka pintu ruangan Alex, terdengar sesorang mencegahnya dari belakang.
" Maaf Nona. Bos sedang sibuk, apakah Anda sudah membuat janji?" Ucap Tina menghentikan gerakan Agnes.
" Apa? Okey, masuklah dan bilang pada Bos mu jika aku-- Agnes, ingin bertemu!" Kata Agnes pada Tina yang tidak tahu dengan siapa Dia berbicara.
" Ah, maaf Nona, jika ingin bertemu Bos, Anda harus mendaftar dahulu di bagian informasi," kata Tina menjelaskan.
Agnes hanya tersenyum lalu membuka pintu ruangan Alex dan masuk. Tina yang khawatir segera mengikuti Agnes dan menjelaskan kepada Alex jika Ia sudah berusaha melarang Agnes masuk.
" Nona, tunggu!" Panggil Tina yang ikut masuk keruangan Alex.
Alex yang sedang berkutat dengan laptopnya seketika tersenyum melihat Agnes datang menemuinya.
" Maaf Tuan, saya sudah berusaha menahan Nona ini masuk, tetapi Dia terus saja masuk," jelas Tina pada Alex yang melangkah di belakang Agnes.
Alex sempat merasa heran sambil melirik Agnes yang berada di sampingnya, terlihat Agnes terkekeh geli saat melihat Tina yang kebingungan dan takut jika Alex akan memarahinya, karena sudah membiarkan orang lain masuk ke ruangannya.
" Lain kali, tidak perlu kamu larang wanita ini masuk ruanganku, Tina." Ucap Alex.
" Lhoh ... kenapa, Tuan?" Tanya Tina heran.
" Dia ini Istriku," jawab Alex sambil merangkul pinggang Agnes yang berdiri di sampingnya.
" Ya ampun ... maaf Nyonya, saya tidak tahu," ucap Tina merasa tidak enak sambil membungkukan badannya.
" Tidak masalah, Tina. Aku memaklumi, kamu sudah bekerja dengan baik hari ini." Ujar Agnes tersenyum sambil melirik Suaminya.
" Terimakasih, Nyonya. Saya permisi," ucap Tina ramah lalu keluar dari ruangan Alex.
"Oh, jadi itu Istrinya Bos, untung saja Dia baik hati, kalo saja Dia jahat, bisa-bisa Aku langsung di pecat tadi, hehehe...." Gumam Tina dalam hati.
Alex menarik Agnes hingga terjatuh di atas pangkuannya, di kecupnya pipi Agnes dengan lembut.
" Ada apa, Honey? Kenapa kamu datang kemari, hmmm...?" tanya Alex.
" Tidak apa-apa, Aku hanya ingin kemari saja," jawab Agnes medongakan wajahnya, menatap laki-laki tampan di hadapannya itu.
Alex hanya tersenyum. Dia merasa senang, karena setelah beberapa lama Agnes sibuk dengan Sean, kini Agnes sudah mulai mau menemuinya di kantor.
" Dia itu Tina, sekretarisku yang baru." ucap Alex menggoda Agnes.
" Iya-- iya ... Aku tidak akan cemburu lagi sayangku ..." kata Agnes bergelayut manja pada Alex.
Alex terkekeh melihat sikap Agnes yang masih saja sangat manja itu, tetapi inilah yang Alex sukai dari Agnes.
" Hanya kamu yang Aku cintai, Honey." ucap Alex sambil menempelkan hidung mancungnya di hidung Agnes.
" Ehem ... hanya kamu juga yang Aku cintai, Suamiku sayang," balas Agnes mengecup bibir Suaminya dengan lembut.
Alex tersenyum mendengarnya, lalu membalas kecupan Agnes dengan ciuman yang hangat dan lembut.