
***
Agnes perlahan membuka matanya. Terasa Alex masih memeluk dirinya pagi ini. Agnes tersenyum sambil mengusap wajah Alex yang masih tertidur dengan pulasnya. Wajahnya yang sedang tidur sangatlah polos, bagai bayi yang masih suci.
" Kau terlihat lelah, sayang," ucap Agnes pelan sambil memandang wajah Alex lembut.
Melihat Alex yang masih terlelap, Agnes tidak ingin membangunkannya. Dia tahu semalam Alex lembur hingga larut. Perlahan di kecupnya kening Alex dengan lembut, lalu Dia bangkit dari tempat tidurnya, untuk membersihkan diri lalu pergi ke Rumah Sakit untuk melakukan cek up.
Sebenarnya Ages ingin Alex pergi bersamanya hari ini, tetapi melihatnya yang begitu kelelahan, membuat Agnes tidak tega membangunkannya.
Sebelum pergi, Agnes masih sempat membuatkan sarapan untuk Alex. Setelah mengantar Ica ke Sekolahnya, mobil Agnes segera meluncur menuju Rumah Sakit. Dia sudah ada janji dengan Sabrina pagi itu.
Sesampainya di Rumah Sakit, Agnes lalu turun dan melangkah menuju ruangan Sabrina. Rumah Sakit terlihat masih agak sepi, mungkin karena hari ini masih pagi.
Saat sampai di depan ruangan Sabrina, Agnes lalu mengetuk pintunya.
Tok tok tok ....
Seorang perawat membuka pintunya dan meminta Agnes masuk dengan ramah.
" Silahkan Nyonya. Dokter Sabrina sudah menunggu Anda," kata Perawat itu tersenyum ramah kepada Agnes, lalu Dia meninggalkan ruangan Sabrina untuk melakukan tugas yang lain.
Agnes melangkah masuk ke ruangan Sabrina lalu duduk di depan Dokter cantik yang terlihat sedang sibuk itu.
" Pagi Sabrina," sapa Agnes.
" Pagi Agnes, mana Suamimu?" Tanya Sabrina setelah melihat Agnes yang datang sendirian.
" Aku sendiri Sabrina," jawab Agnes tersenyum.
" Haih ... sudah berapa kali Aku bilang, bawalah Suamimu jika ingin cek up Agnes. Usia kandunganmu saat ini seharusnya tidak di perbolehkan keluar rumah tanpa di dampingi," ujar Sabrina sambil melangkah menuju Bed pasien.
" Aku masih bisa sendiri Sabrina , Kamu tidak perlu khawatir," jawab Agnes tertawa kecil.
" Okey lah ... kemarilah, Kita lihat perkembangam bayimu Agnes." Kata Sabrina meminta Agnes berbaring di Bed pasien lalu mengeluarkan Tensimeternya.
Setelah melakukan cek tensi darah, sabrina segera melakukan USG pada janin Agnes. Agnes tersenyum saat melihat dengan jelas di monitor bayi Agnes yang lucu itu. Akan lebih senang jika Alex bersamanya saat ini. Tetapi, akhir akhir ini Alex memang telrlihat sibuk, Dia harus memulihkan perusahaannya setelah masalah wabah saat itu usai. Agnes tidak ingin merepotkan Suaminya untuk hal kecil seperti ini.
" Okey, bayimu sangat sehat, posisinyapun sudah pas. Kamu hanya tinggal menunggu hari saja, Agnes." Kata Sabrina sambil membersihkan gel di perut Agnes.
Agnes tersenyum sambil merapikan pakaiannya, lalu turun dari ranjang pasien.
" Agnes, selanjutnya jika Kau kemari, Alex harus ikut. Dia juga perlu tahu perkembangan anaknya bukan," ucap Sabrina sambil menulis resep vitamin untuk Agnes.
" Baiklah Sabrina," jawab Agnes.
Setelah melakukan pemeriksaan, Agnes pun segera berpamitan untuk pulang pada Sabrina.
Agnes keluar dari ruangan Sabrina, lalu melangkah menuju arah keluar gedung Rumah Sakit.
Saat melewati sebuah lorong ruang penginapan, Agnes melihat Dion yang keluar dari salah satu ruang perawatan itu. Agnes menundukan pandangannya agar tidak harus menyapa Dion. Meskipun kini Agnes sudah bahagia bersama Alex, tetap saja luka yang Dion tancapkan padanya tidak akan hilang begitu mudahnya.
" Agnes," panggil Dion saat melihat Agnes yang melewatinya.
Karena Dion menyapanya, terpaksa Agnes menghentikan langkahnya.
" Ya." Jawab Agnes singkat sambil menoleh ke arah Dion.
" Kamu sakit kah?" Tanya Dion melangkah mendekati Agnes.
" Tidak, Aku hanya cek up kandunganku saja," jawab Agnes.
" Ya sudah, Aku permisi dulu ya." Kata Agnes sambil membalikan badannya hendak melangkah pergi. Belum sempat Agnes melangkah, Dion tiba tiba menarik tangannya.
" Agnes, tunggu," panggil Dion pada Agnes.
" Ada apa lagi Dion," ucap Agnes yang melepas genggaman tangan Dion.
" Agnes, maafkan segala kesalahanku, Aku mohon. Aku tidak ada maksud untuk mencampakanmu saat itu Agnea." Kata Dion menatap wajah cantik Agnes. Dadanya selalu bergetar setiap kali Ia berhadapan dengan Agnes. Ingin rasanya Dion memeluk Agnes, Dia sangat merindukan sosok Agnes yang selama ini mengisi hatinya.
" Sudahlah Dion, tidak ada gunanya juga Kamu meminta maaf sekarang. Saat ini Aku dan Ica sudah bahagia, Aku permisi dulu." Jawab Agnes melangkah pergi dari hadapan Dion. Rasa sakit yang Agnes rasakan tidak akan hilang dengan sebuah permintaan maaf dari Dion. Jadi menurutnya, memaafkan atau tidak, itu tidak akan merubah apa yang sudah terjadi.
Dion mencoba mengejar Agnes, tetapi langkahnya terhenti, terdengar suara gaduh di dalam ruangan Tiara. Dionpun mengurungkan niatnya, lalu melangkah menuju ruangan Tiara dirawat.
Saat Dion masuk ke ruanga itu, terlihat ada Dua orang Perawat di ruangan Tiara, dan salah satunya berlari menghampiri Dion.
" Tuan, syukurlah Anda kemari," ucap Perawat itu panik.
" Ada apa Suster," tanya Dion.
" Cepat tenangkan Istri Anda Tuan. Dia berusaha bunuh diri, saya akan panggil Dokter Sabrina." Kata Perawat itu lalu berlari keluar dari ruangan Tiara untuk mencari Sabrina.
Dion seketika panik lalu berlari menuju balkon ruangan Tiara. Dan benar saja, Dion melihat Tiara yang berdiri di ujung balkon dengan wajah sedihnya.
" Tiara. Apa yang Kamu lakukan di sana. Cepat kemari. Itu berbahaya." Teriak Dion memanggil Tiara agar pergi dari tempatnya berdiri.
" Tidak Dion. Aku pantas untuk mati. Aku tidak pantas untuk hidup, Dion," ujar Tiara berlinangan air mata. Dia sangat terpukul saat Dion mengabaikannya, bahkan terliat tidak peduli meskipun sudah mengetahui keburukan Tiara. Bagi Tiara, Dia lebih tenang jika Dion marah dan memakinya. Tetapi tidak demikian dengan Dion. Dion sama sekali tidak marah, Dia justru hanya terdiam dan mengabaikan Tiara.
" Tiara, apa yang Kamu katakan. Ayolah, kemarilah," ucap Dion mengulurkan tangannya pada Tiara.
" Tiara, Aku terdiam bukan karena Aku membencimu. Aku hanya tidak ingin membahas masalah ini, karena Aku tahu kamu akan sedih jika Aku menanyakannya," jelas Dion mencoba menenangkan Tiara.
Tiara terdiam mendengar kata kata Dion. Apakah yang di katakan Dion itu sungguh sungguh atau tidak, Tiara pun tidak tahu. Tetapi Tiara merasa kata kata itu membuat hatinya senang, setidaknya Dion mencoba untuk menjaga perasaannya dalam kondisinya yang seperti ini.
" Sungguh?" Tanya Tiara memastikan.
" Iya Tiara, Aku sungguh sungguh. Kemarilah," ucap Dion mengulurkan tangannya kepada Tiara.
Tiara meraih tangan Dion lalu jatuh ke dalam pelukan Suaminya itu. Dionpun melangkah sambil menggendong Tiara lalu membaringkannya di Bed Pasien.
" Jangan tinggalkan Aku, Dion," pinta Tiara sambil memegang kuat lengan Dion.
" Tidak Tiara, Aku tidak akan meninggalkanmu, okey," kata Dion mengecup kening Tiara, Dia berusaha meyakinkan Tiara agar Tiara tidak melakukan hal yang berbahaya lagi.
Sabrina yang dengan terburu buru saat mendengar Tiara hendak bunuh diri akhirnya merasa lega. Saat Dia sampai di ruangan Tiara, Tiara sudah berhasil di gendong Dion menuju ranjangnya.
Sabrina melangkah mendekati ranjang Tiara, lalu memeriksa keadaan Tiara. Melihat psikologisnya yang tidak stabik, Sabrina menyuntikkan Antipsikotik pada Tiara agar membuatnya lebih tenang. Tidak beberapa lama, Tiarapu tidur dengan pulasnya. Wajahnya yang cantik terlihat pucat. Dion merasa lega, akhirnya Tiara sudah mulai tenang dan tidur.
" Tuan, Nyonya Tiara saat ini sedang mengalami gangguang kejiwaan. Sebaikanya Anda lebih memperhatikannya," ujar Sabrina memberitahuka keadaan Tiara kepada Dion.
" Baik, Dokter," jawab Dion.
" Dan satu hal lagi. Selamat, akhirnya Nyonya Tiara hamil tanpa kalian melakukan program hamil Tuan," ucap Sabrina tersenyum.
" Apa! Hamil." Seketika Dion tersentak dengan kabar yang Ia terima.
" Benar Tuan, setelah Nyonya Tiara mengalami masalah pada rahimnya, akhirnya bisa hamil juga. Ini sungguh sebuah keajaiban Tuan. Selamat ya Tuan Dion, saya permisi dulu," kata Sabrina lalu melangkah keluar dari ruangan Tiara.
Dion hanya terdiam, tidak tahu apa yang harus di katakannya. Dion menyandarkan tubuhnya di sofa ruangan Tiara. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Seketika matanya berkaca kaca membasahi bola matanya.
" Apa ini? Tuhan, ini kah yang namanya Karma. Inikah Karmaku sudah menyia nyiakan Agnes dan Ica dahulu." Gumam Dion dalam hatinya. Tanpa terasa air mata yang mengalir semakin deras tanpa di pinta. Dia benar benar meratapi nasibnya. Tetapi apa mau di kata, semuanya sudah terjadi. Dion hanya bisa terus mencoba melangkah maju, terus mempertahankan rumah tangganya bersama Tiara, Dion tahu anak yang di kandung Tiara bukanlah anaknya, tetapi anak dari Matt.
Dion melangkah mendekati Tiara, di usapnya ujung kepala Tiara dengan lembut.
" Tiara, apapun yang terjadi padamu, Aku sudah berjanji akan mencoba menerimamu dan memlerlakukanmu dengan baik. Tetapi, jangan paksa Aku untuk mencintaimu, karena Aku hanya mencintai Agnes. Agnes tidak akan tergantikan oleh siapapun," gumam Dion dalam hatinya.
.
.
Agnes melangkah menuju mobilnya, terlihat supirnya tidak berada di dalam mobil, Agnes berfikir mungkin supirnya sedang pergi membeli sesuatu. Saat hendak memasuki mobilnya tiba tiba perutnya terasa sakit dan membuatnya tidak dapat berdiri.
" Auh ... sakit sekali, mungkinkah bayi ini akan lahir? Bukankah prediksi Sabrina masih beberapa minggu lagi," gumam Agnes sambil berusaha berdiri.
Agnes berusaha meminta tolong, tetapi saat itu di basement tidak ada seorangpun berada di sana.
" Nyonya, apakah Anda tidak apa apa?" Tanya seseorang yang menghampiri Agnes setelah Ia memarkan mobilnya.
" Hah ... tolong, tolong bawa saya ke Unit Gawat Darurat," pinta Agnes sambil terus menunduk memegang perutnya. Dia menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan untuk merilexkan dirinya sendiri.
Laki laki itu dengan cepat membawa Agnes menuju UGD . Laki laki itu terkejut saat melihat wanita yang di tolongnya itu.
" Agnes," kata Justin dalam hati. Dia senang bisa bertemu dengan Agnes lagi setelah sekian lama mereka tidak berjumpa. Sejak awal Justin bertemu Agnes, Dia memang sudah tertarik pada Agnes.
Setelah Agnes di bawa masuk ke ruangUnit Gawat Darurat. Justin segera melakukan pendataan pasien.
Sabrina yang mendapat panggilan darurat dari ruang UGD segera berlari menuju ruangan tersebut.
Saat masuk ke ruangan itu Sabrina terkejut, karena pasien yang berada di hadapannya itu adalah Agnes. Sabrina segera melakukan tindakan untuk menolong Agnes. Sabrina memprediksi jika bayi Agnes akan lahir sebelum masanya. Sabrina terlihat cemas saat itu, Dia tahu riwayat kesehatan Agnes. Agnes bukanlah wanita yang benar benar sehat seperti yang orang lain lihat. Bahkan Alex sendiripun tidak tahu bagaimana kesehatan Agnes akhir akhir ini. Agnes meminta pada Sabrina agar tidak memberitahukan kepada Alex masalah kesehatannya ini. Agnes tidak ingin Alex khawatir padanya.
.
.
Alex menatap Lisa tajam, Dia sudah muak melihat wanita di hadapannya itu. Gara gara menahan emosi pada Lisa, terpaksa Alex mengabaikan Agnes pagi ini. Dia tidak ingin Agnes menjadi sasaran amarahnya. Karena, Alex memang merasa emosinya tidak stabil setelah kejadian malam itu. Alex akan merasa lega jika Dia sudah bisa melempar Lisa keluar dari Perusahaannya.
" Ini surat pemecatanmu, jangan pernah lagi muncul di sini!" Kata Alex.
" Tidak Tuan, jangan pecat saya, saya mohon," pinta Lisa memohon pada Alex.
Alex mengabaikan permohonan Lisa dan meminta Scurity membawanya pergi keluar dari ruangannya. Lisa yang tidak terima dengan keputusan Alex terus berteriak teriak, membuat pekerja yang lain menatap ke arahnya.
Setelah mengeluarkan Lisa dari Perusahannya, kini Alex metasa lega. Karena, untuk saat ini Dia tidak akan bertemu dengan wanita wanita seperti Lisa lagi.
Untuk menebus kesalahannya telah sengaja mengabaikan Agnes tadi pagi, Alex berencana membawa Agnes makan siang bersama di luar.
Saat Alex hendak mengambil ponselnya, ponsel tersebut menyala terlebih dahulu menandakan adanya panggilan masuk. Belum sempat Alex membuka mulutnya, seorang wanita yang menghubunginya terdengar berbicara dengan nada yang sangat panik.
📱" Alex, ke Rumah Sakit sekarang juga, cepat!" Kata Sabrina dari sambungan ponselnya.
📱 " Ada apa Sabrina?" Tanya Alex belum memgerti.
📱 " Nanti ku jelaskan, Istrimu membutuhkanmu, cepat kemari Alex!" Kata Sabrina cepat lalu menutup sambungan ponselnya karena seorang perawat memanggilnya. Kondisi Agnes tidak lah baik kali ini.
Setelah mendapat kabar dari Sabrina, Alex dengan cepat melangkah meninggalkan Perusahaannya. Dia menyerahkan tugas Rapat Dewan Direksi kepada Ronald.
Alex sangat menyesal sudah mengabaikan Agnes dan memilih pura pura tidur saat Agnes bangun pagi ini.