Handsome Boss

Handsome Boss
Episode 49.



Dania merasa sangat sedih dengan sikap Tiara yang acuh, Tiara tidak seperti dahulu lagi, Dia sudah berubah. Dulu Dania sangat dekat dengan Tiara, Tiara selalu mengajaknya jalan jalan, memberinya berbagai macam hadiah. Mungkin saja saat itu Tiara baik padanya karena ingin mendekati Dion, putranya satu satunya dan juga pewaris tunggal Perusahaan Pratama.


" Ah, sudahlah. Semuanya sudah terjadi, mungkin Tiara lelah hari ini. Lebih baik Aku pergi saja, tidak mengganggunya dulu," gumam Dania di dalam hatinya.


Daniapun mengambil tasnya lalu melangkah keluar dari rumah Dion.


Tiara menatap Ibu Mertuanya yang pergi dari balik jendela kamarnya, sebenarnya Dia tidak tega memperlakukan Dania seperti itu, hanya saja Dia tidak ingin membahas masalah momongan terlebih dahulu. Tiara sendiripun saat ini merasa terpukul dengan hasil tes yang Ia lakukan tadi. Tiara menyandarkan tubuhnya di dinding kamarnya, seketika Ia menangis sejadi jadinya, jiwanya serasa hancur saat itu. Dia merenung, seketika memori memori yang telah lama di kuburnya kini muncul kembali berputar putar di kepalanya.


Flash Back Tiara 🖤


Pagi itu Tiara melangkah dengan terburu buru menuju ruang Dosennya.


" Tok tok tok ...." Tiara mengetuk pintu ruangan Dosen.


" Masuk," jawab seseorang dari dalam, lalu Tiarapun masuk ke ruangan tersebut.


" Selamat Pagi, Pak," sapa Tiara pada Dosennya itu.


" Pagi Tiara, kemarilah," pinta Dosen itu padanya.


Tiarapun menurutinya lalu melangkah mendekat ke arah Dosennya, tetapi Dosennya menarik tangan Tiara hinggan jatuh dalam pangkuanya dan merangkulkan tangannya di pinggang langsing Tiara. Tangan nakalnya dengan sengaja meraba pa*****a Tiara perlahan.


" Emmm ... Pak, jangan ini di Kampus," kata Tiara berusaha melepaskan peluka Dosennya itu.


" Kamu tidak inginkah lulus dengan nilai sempurna," bisik Dosen itu di telinga Tiara.


" Tentu saja ingin, Pak," jawab Tiara cepat.


" Jika begitu, menurutlah. Okey," bisik Dosen itu di telinga Tiara sambil mengigit gigitnya pelan.


Tiara menganggukan kepalanya menuruti kemauan Martin yang berperan penting dalam nilai kelulusannya nanti.


Martin menurunkan lengan mini dress yang Tiara kenakan hingga tubuh Tiara yang indah itu pun terlihat jelas bagian atasnya.


" Kamu benar benar cantik Tiara, Aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu, Tiara," ucap Martin sambil mengusap usap punggung Tiara yang halus lalu mengecupnya lembut.


Martin adalah salah satu Dosen dan juga pemilik dari Universitas dimana Tiara mengenyam pendidikan tinggi. Sejak awal Tiara masuk Kampus, Martin sudah tertarik pada gadis muda berparas cantik itu. Dengan rayuannya yang akan memberi nilai sempurna pada setiap ujian membuat Tiara jatuh ke dalam pelukan laki laki yang seumuran dengan Ayahnya itu. Tiara tidak mau mengecewakan Keluarganya yang selalu menuntutnya menjadi sosok yang membanggakan bagi Orang Tuanya.


Martin menjadikan Tiara sebagai wanita simpanannya selama ini.


Saat itu hujan sangat deras, Tiara berdiri di depan gedung Kampusnya, hujan yang mengguyur kotanya itu tidak kunjung reda sedari pagi saat Ia berangkat hingga sore hari saat kelasnya sudah selesai. Tiara sesekali melihat jam di tangannya, terlihat menunjukan pukul 17.00.


" Supirku kemana ya, kok belum datang juga," gumam Tiara dalam hati dengan wajah kesal, sesekali Ia menatap ke arah gerbang kampusnya, tetapi seseorang yang Ia tunggu tunggu tidak kunjung datang.


Tiarapun lalu mengambil ponselnya dari dalam tas, untuk menghubungi supirnya. Belum sempat Tiara memencet tombol panggilan, ponsel Tiara sudah berdering terlebih dahulu.


" Hallo , Pa," jawab Tiara dari sambungan ponselnya.


" Tiara, hari ini Pak Kardi tidak bisa jemput, Kamu sebaiknya naik taxi dulu saja ya. Papa sedang sibuk hari ini," kata Ayah Tiara yang masih berada di kantornya.


" Tapi Pa ...."


Tut tut tut ....


Belum sempat Tiara menjawab, tiba tiba sambungan telefonnya sudah terputus lebih dulu.


Tiara mendengus kesal saat itu, terlihat Dia memanyunkan bibirnya karena kesal harus pulang dengan taxi hari ini.


" Hei, Tiara," panggil seseorang pada Tiara menghentikan langkahnya.


Tiara menolehkan pandangannya,terlihat seseorang yang Ia kenali melangkah mendekat ke arahnya.


" Ravi," kata Tiara saat seseorang itu berada di hadapannya.


" Kamu belum pulang? Ini sudah sore lhoh," tanya Ravi.


" Ini lagi mau pulang Vi," jawab Tiara pada teman satu kelasnya itu.


" Oh ya, Aku sama teman teman yang lain nanti mau ke sebuah Pesta, Kamu mau ikut?" Tanya Ravi lagi.


" Ke Pesta. Acara apa?" Ucap Tiara menatap Ravi.


" Kate membuat party atas hari Pertunangan dengan kekasihnya Mat, dan Kamu juga dapat undangan lhoh," kata Ravi melirik Tiara sambil menyodoran undangan.


Tiara menerima undangan itu lalu terdiam sesaat berfikir bagaimana caranya agar Dia bisa datang ke acara Kate.


" Baiklah, Aku akan ikut," ucap Tiara tersenyum.


" Ah, Baiklah, Ayo Aku antar Kamu pulang kita searah bukan," kata Ravi tersenyum manis pada Tiara.


Deg ....


Tiara merasakan dadanya nyeri saat melihat senyuman Ravi padanya.


Tiara mengikuti langkah Ravi menuju mobilnya di parkiran, lalu merekapun masuk ke dalam mobil. Ravipun melajukan mobilnya dengan santai menyusiri derasnya hujan sore itu.


" Tiara, kenapa Kamu tidak pulang bersama kawan kawanmu tadi?" Tanya Ravi.


" Tidak, Aku kira tadi supirmu jemput,ternyata tidak." Jawab Tiara.


" Owh ...." Ucap Davi tersenyum sambil melirik Tiara.


" Kamu sendiri kenapa tidak bersama Sandra?" Tanya Tiara.


" Tidak, Sandra sedang ada acara dengan Keluarganya," jawab Ravi.


Tiara hanya menganggukan kepalanya mencoba memahami saja dengan apa yang Ravi katakan.


Mobil yang Ravi kendaraipun masuk di halaman rumah Tiara. Dia terkejut melihat betapa besarnya halaman rumah Tiara, bangunan di hadapannya itu bak istana. Sangat besar dan megah.


Tiara pun turun setelah Ravi menghentikan mobilnya.


" Terimakasih, apakah Kamu ingin mampir?" Tawar Tiara pada Ravi.


" Ah, tidak Tiara terimakasih. Nanti Aku akan menjemputmu," jawab Ravi tersenyum.


" Baiklah, bye," ucap Tiara melambaikan tangannya lalu melangkah ke dalam rumahnya.


Ravi hanya tersenyum lalu melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Tiara yang amat besar itu. Terlihat sebuah senyuman licik di bibirnya, Dia tidak menyangka jika Tiara adalah seorang purti dari Keluarga yang kaya raya seperti itu.


" Ini sangat menarik," gumam Ravi dengan senyuman liciknya.


.


.


Tiara terlihat cantik malam itu, Dia mengenakan Dress tanpa lengan warna merah maroon di atas lutut dengan renda renda transparan di bawahnya, terlihat kaki indahnya yang jenjang putih dan halus, juga rambutnya yang hitam berkilau di gerainya membuat orang terkagum kagum dengan kecantikan dan keindahan bentuk tubuhnya itu.


Tiara dan Ravipun turun dari mobilnya lalu melangkah menuju ruang pesta yang di adakan oleh Kate teman satu kampusnya.


Tiara tersentak saat Ravi menggaandeng tangannya. Ravi tersenyum sambil melirik Tiara yang wajahnya terlihat merah merona.


" Hai, selamat ya untuk Pertunangan Kalian," ucap Ravi menyalami Kate dan Matt.


Begitupun Tiara, Dia juga mengucapkan selamat untuk pasangan itu.


" Selamat ya Kate," ucap Tiara.


Kate berterimakasih dengan senyuman tipis di bibirnya. Terlihat jelas jika Dia kurang menyukai Tiara.


" Heiii ... siapakah gadis cantik yang bersamamu ini," kata Matt sambil menepuk bahu Ravi.


" Ah ya, Dia adalah Tiara, pasanganku malam ini," ucap Ravi memperkenalkan Tiara pada Matt.


" Wow, hebat Kamu, sudah ada Sandra masih punya Tiara,"canda Matt pada Ravi.


Keduanya hanya tertawa saling meledek satu sama lain, Tiara hanya tesenyum tidak mengambil hati dengan apa yang Matt dan Ravi candakan, Dia lalu melangkah menuju meja dimana berbagai makanan dan minuman yang telah di sajikan untuk para tamu undangan. Tiara banyak menjumpai teman teman satu kampusnya saat itu, tetapi tidak ada satupun yang mendekati dirinya. Rumor tentang hubungannya dengan Dosen Martin sudah tidak asing di telinga para Mahasiswa di Universitasnya. Hanya saja mereka tidak ambil pusing dengan masalah itu, karena itu hanya omongan saja tidak ada bukti yang nyata. Hanya saja mereka merasa malas mendekati Tiara karena sikapnya yang terlalu angkuh bagi mereka.


Tiara tidak memperdulikan ocehan para temannya itu, baginya dengan Dia memiliki Martin itu sudah cukup, itu sudah bisa membuat Dia lulus dengan nilai terbaik nantinya.


Saat sedang asyik menikmati makanannya tiba tiba Mat datang menghampirinya.


" Hei Tiara, kenapa Kamu sendirian saja, mana Ravi?" Tanya Matt sambil menyodorkan minuman yang di bawanya kepada Tiara.


" Bukankah tadi ia bersamamu," jawab Tiara menerima minuman yang Matt berika.


" Memang, tapi baru saja Dia pergi, Aku kira Dia menghampirimu," ucap Matt menengguk minumannya.


" Oh ... mungkin Dia sedang berkeliling," ujar Tiara menatap sekeliling ruangan pesta itu mencari sosok Ravi.


Saat berkeliling mencari Ravi seketika Tiara merasa kepalanya sangat pusing. Kaki dan tubuhnya tiba tiba terasa lemas seperti tidak bertulang. Entah apa yang terjadi Tiara terjatuh dan tidak sadarkan diri saat itu.


Terdengar suara kerumunan orang yan panik, hanya saja Dia sama sekali tidak bisa membuka matanya.


.


.


Setelah acaranya selesai Matt melangkah memasuki sebuah ruangan di sebuah hotel dimana Ia melaksanakan pesta pertunangannya dengan Kate.


" Kamu yakin Dia orangnya?" Tanya Matt pada laki laki yang berada di ruangan itu.


" Ya, Aku yakin." Jawab laki laki itu singkat.


Matt melangkah mendekati Tiara yang berbaring tidak berdaya di atas ranjang besar itu.


Dengan perlahan Matt merangkak di atas tubuh Tiara mencengkram wajah yang cantik itu dengan aura kebencian di matanya.


" Jadi Kau wanita yang sudah membuat Ibuku sakit sakitan selama ini." Gumam Matt dengan geram di depan wajah Tiara.


Dengan kasar Matt merobek pakaian Tiara hingga terlihat dengan jelas bagaimana tubuh Tiara.


Matt tersenyuk sinis melihat indahnya tubuh Tiara yang saat itu tidak ada selembar benangpun yang menutupinya.


" Pantas saja Ayahku tergila gila padamu. Ternyata Kau memang sangatlah indah. Tapi ingat, keindahan ini yang akan menghancurkanmu wanita ******," bisik Matt pada Tiara yang saat itu mencoba membuka matanya.


Pandangan Tiara sangat kabur saat itu, Dia merasa seseorang sedang melakukan sesuatu pada tubuhnya. Tiara berusaha menyingkirkan tubuh laki laki yang menindihnya, tetapi tenaganya tak cukup kuat untuk melawannya, entah mengapa tenaganya hilang, dan seluruh tubuhnya terasa lemas.


" Emh ... ahh ..." desah Tiara yang saat itu menikmati permainan Matt di bawah alam sadarnya.


" Dasar wanita Bre****k, bisa bisa nya Kau membuatku makin bergairah," bisik Matt di telingan Tiara.


Entah berapa lama laki laki itu bermain main dengan tubunnya Tiara benar benar tidak kuasa melawannya.


.


" Bereskan Dia," ucap Matt sambil mengancingkan kemejanya. Dia tersenyum puas bisa menikmati indahnya Tiara yang kini sedang tergeletak lemas di ranjang. Tubuh putihnya penuh dengan tanda merah yang di tinggalkan Matt untuknya.


Laki laki selain Matt yang sedari tadi berada di dalam ruangan itupun perlahan mendekati Tiara.


Perlahan Ia mengusap wajah cantik Tiara yang tidak berdaya itu.


" Siapa Kau," tanya Tiara lemas, matanya tidak dapat melihat denga jelas siapa laki laki yang berada di hadapannya itu.


" Kau tidak perlu tahu siapa Aku, yang jelas ini terjadi akibat dari ulahmu sendiri, cantik," bisik laki laki itu menindih Tiara.


" Tidak, jangan. Tolong jangan lakukan itu lagi, jangan...." Pinta Tiara pada laki laki itu denga lirih, tetapi permintaannya tidak di pedulikan sama sekali. Laki laki itu tidak ingin menyia nyiakan kesempatan untuk menikmati tubuh Tiara denga cuma cuma.


Tiara benar benar tidak menyangka jika malam ini Dia akan mengalami hal yang sangat menyakitkan ini. Dia di tiduri dua laki laki yang wajahnya pun Dia tidak tahu. Yang Ia ingat, laki laki itu semua memakai topeng di matanya.


.


.


Akhirnya Tiara membuka matanya setelah benerapa lama Ia tertidur, Dia menatap sekeliling ruangan, Dia baru sadar jika hari sudah siang, terlihat dari cahaya matahari yang sangat terik di balik jendela ruangan itu.


Ketika kesadarannya penuh Tiara terperanjat saat menyadari Ia sedang tidak berada di kamarnya. Dia bertanya tanya dimanakah ini sebenarnya. Dia makin terkejut saat membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Tubuhnya yang tak berpakaian penuh dengan tanda merah dari leher hingga lututnya.


" A_ ada apa ini, kenapa keadaanku seperti ini," gumam Tiara bertanya tanya dalam hatinya.


Tiara mencoba mengingat ingat apa yang terjadi padanya malam itu, yang Ia ingat saat itu Ia sedang berada di pesta pertunangan Kate dan Matt. Dia ingat jika ada laki laki yang menemanya bermain malam itu, hanya saja Dia tidak mengenali wajah mereka.


" Siapa ya laki laki itu? Ah , sudahlah, lebih baik Aku mandi," ucap Tiara mencoba untuk tidak memperdulikan yang terjadi.


Setelah mandi Tiara segera mengenakan pakaian yang sudah di siapkan untuknya lalu melangkah keluar dari ruangan tempatnya bermalam. Dia baru sadar jika Dia masih berada di tempat yang sama dimana Ia mendatangi pesta semalam. Dia berfikir, mungkin yang tidur bersamanya malam itu adalah salah satu dari tamu undangan dalam pesta.


.


.


Satu bulan setelah kejadian itu Tiara merasa tubuhnya sangat tidak enak. Akhir akhir ini Ia lebih sering sakit dan sering merasa mual.


Tiara melangkah menuju Cafetaria di kampusnya untuk mengisi perutnya yang tiba tiba lapar setelah Ia mual mual di toilet pagi tadi.


Ravi yang juga kebetulan sedang mengambil makanan melihat Tiara duduk sendirian di Cafetaria segera menghampi Tiara dengan nampan di tanganny


" Hei Tiara," sapa Ravi duduk di berhadapan dengan Tiara.


" Ah, hai Ravi." Jawab Tiara singkat. Wajahnya yang cantik terlihat pucat saat itu.


" Apa Kamu sedang sakit Tiara?" Tanya Ravi.


" Entahlah, Aku hanya merasa tidak enak badan saja," jawab Tiara menatap laki laki di hadapannya itu. Dia merasa senang, karena Ravi adalah satu satunya Mahasiswa yang mau berteman dengannya.


" Jika tidak enak badan sebaiknya Kamu pulang saja Tiara, Aku akan mengantarmu," kata Ravi pada Tiara.


Tiara tersenyum menganggukan kepalanya, tanda menyetujui dengan saran yang Ravi berikan.


Siang itu udara terasa sangat panas, Tiara dengan setengah berlari mengikuti Ravi menuju mobil. Setelah masuk kedalam mobi Tiara merasakan nafasnya tiba tiba sesak, Ravi yang panik segera memberikan air mineral untuk Tiara.


" Tiara, Kamu kenapa? Kita ke Rumah Sakit ya." Ucap Ravi khawatir.


" Tidak, tidak perlu. Tolong antarkan Aku pulang saja, Ravi," kata Tiara yang terlihat lemas.


" Baiklah," kata Ravi segera melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah Tiara.


Mobil Ravi pun memasuki halaman rumah Tiara yang besar itu. Dengan perlahan Ravi membangunkan Tiara yang tertidur di mobilnya. Ravi mengusap wajah cantik Tiara dengan lembut.


Tiara terbangun, Ia terperanjat saat melihat Ravi yang berada di hadapannya, wajahnya sangat dekat dengan wajah Tiara saat itu. Entah apa yang Ravi fikirkan tiba tiba Ia mendekatkan wajahnya pada Tiara, di kecupnya dengan lembut wanita di hadapannya itu.


" Ra_ Ravi, apa yang Kamu lakukan," ucap Tiara terkejut dengan sikap Ravi padanya hari ini. Dia mendorong dada Ravi menjauh darinya.


Bukan sebuah jawaban yang Tiara dapatkan dari Ravi, Ravi justru kembali mengecup bibir Tiara dalam dalam. Tiara merasa heran dan mencoba mendorong Ravi, tetapi tenaga laki laki itu jauh lebih besar darinya. Tiara hanya bisa pasrah menikmati permainan Ravi pada bibirnya. Tiara merangkulkan tangannya di leher Ravi membuatnya merasakan sangat dalam permainan itu. Tidak bisa di pungkiri jika selama ini Tiara sangat mendambakan Ravi, tetapi Dia terpaksa memendam perasaannya karena selain Ravi sudah memiliki kekasih, Dia juga tidak ingin hubungannya dengan Martin terganggu karena Dia memilik kekasih nantinya. Harapannya saat ini hanya ingin Lulus Universitas dengan nilai sempurna.


Perlahan Ravi melepas kul***nnya, di tatapnya dalam dalam wanita di hadapannya itu.


" Kenapa Kamu melakukan ini," ucap Tiara lirih.


" Karena Aku menyukaimu Tiara," jawab Ravi lembut.


" Apa maksudmu? Kau sudah bersama Sandra, Ravi." Kata Tiara heran.


" Tidak, sebenarnya Aku dan Sandra tidak ada hubungan apa apa, Kami hanya dekat saja. Dan wanita yang Aku sukain itu adalah Kamu, Tiara," ujar Ravi memegang wajah Tiara dan tersenyum manis.


Deg ....


Melihat sikap manis Ravi, seketika dada Tiara berdegub dengan kencangnya. Dia serasa bagai mimpi ketika mendengar Ravi menyatakan perasaannya kepada Tiara.


Tiara tidak dapat berkata kata saat itu, mulutnya seolah terkunci, antara senang dan bingung rasa itu berputar putar menjadi satu di kepalanya.


" Sudah, tidak perlu Kamu jawab sekarang. Sebaiknya Kamu istirahat, Tiara," ucap Ravi tersenyum lembut.


" Ah, baiklah. Terimakasih Ravi, bye," kata Tiara sambil keluar dari mobil Ravi.


" Bye," jawab Ravi lalu melajukan mobilnya meninggalkan Tiara.


Tiara seketika meraba bibirnya, Dia masih merasakan hangatnya cumbuan Ravi padanya tadi, mengingat hal itu membiat jantungnya makin berdetak dengan kencang.


" Beginikah rasanya jika berciu***n dengan seseorang yang kita sukai," gumam Tiara tersenyum senyum sendiri sambil melangkan masuk ke rumahnya.


.


.


Makin hari Tiara dan Ravi makin terlihat dekat, tetapi makin hari tubuh Tiarapun terasa makin lemah. Dia tdak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.


Tiara makin tidak nyaman dengan keadaannya yang terkadang merasa mual saat Ia mencium bau bau yang biasanya tidak masalah untuknya.


Saat itu Ia dan Ravi sedang dinner di suatu restoran, tetapi tiba tiba Ia merasa mual saat menyuapkan makanan kemulutnya, lalu Ia segera berpamitan ke Toilet.


" Nona apakah Kau baik baik saja?" Tanya seorang wanita setengah baya sambil memberikan sebuah tisue untuk Tiara.


" Ah, ya. Terimakasih Nyonya," jawab Tiara mencoba tersenyum.


" Kau pasti sedang hamil Anak pertama bukan? Ah, rasanya memamg tidak nyaman, tapi lama lama Kau akan terbiasa Nona," ucap wanita itu yang membuat Tiara seolah tersambar petir saat itu.


Setelah mengucapkan kalimat itu wanita itupun pergi dengan senyuman manis di bibirnya.


" Ha ... hamil? Tidak mungkin, bagaimana Aku bisa hamil," ucap Tiara lirih. Dadanya terasa sesak saat itu.


Saat Ia sedang kalut dengan fikirannya tiba tiba ponselnya bergetar memberi notifikasi sebuah chat yang masuk.


Tiara segera membuka ponselnya dan betapa kagetnya Dia saat melihat sebuah pesan Video yang memperlihatkan dirinya sedang bercumbu dengan seorang laki laki bertopeng yang malam itu.


Terlihat Ia sangat menikmati dan bergairah bersama laki laki itu. Tiara seketika menutup mulutnya menahan isak tangisnya agr tidak terdengar oleh orang lain.


" Mungkinkah Aku benar benar hamil? Jika benar, ini pasti anak baj****n itu," ucap Tiara dalam hatinya dengan isak tangis.


Ponsel Tiara kembali bergetar, Tiara segera membuka chat dari nomor yang sama dengan si pengirim video.


📱 " Segera transfer $1.000.000 ke rekening 32565xxxxx jika tidak ingin video itu menyebar di Universitas!" Ancam orang itu.


Tiara tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Dia tidak ingin orang orang melihat video tersebut. Tiara terpaksa menuruti kemauan si pereror itu dengan mentransfer sejumlah uang yang di inginkannya.


Tiara segera mecuci wajahnya lalu kembali menuju mejanya, terlihat Ravi menunggunya dengan cemas.


" Apa Kau baik baik saja?" Tanya Ravi lembut.


" Tidak Ravi, Aku tidak enak badan. Apa Kamu bisa mengantarku pulang," ucap Tiara menatap Ravi.


" Tentu saja sayang, Aku akan mengantarmu kemana Kamu mau," ucap Ravi membuat Tiara sedikit lega. Dia merasa masih memiliki seseorang yang menyayanginya dan bisa membuatnya melupakan masalah masalahnya sejenak.


.


.


Pagi itu Tiara segera melangkah menuju ruangan Martin karena seseorang memberi tahunya jika Dosen Martin mencarinya.


Dengan perlahan Tiara membuka pintu ruangan Martin lalu melangkah masuk mendekati Martin yang sedang duduk di Sofa ruangannya.


Dengan manja Tiara duduk di pangkuan Martin dan merangkulkan kedua tangannya di leher laki laki itu.


Tetapi bukan sebuah kasih sayang seperti biasanya yang Ia dapatkan, melainkan sebuah tamparan keras Martin yang melayang di pipinya.


" Wanita bre****k Kamu Tiara!" Bentak Martin sambil menjambak rambut panjang Tiara.


Tiara terkejut dengan apa yang di lakukan Martin padanya, tidak pernah Dia bersikap seperti itu kepada Tiara sebelumnya.


" Ada apa ini, apa salahku," ucap Tiara lirih menahan sakit.


Dengan kasar Martin melepaskan cengkramannya dan sekali lagi menampar wajah Tiara hingga darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


" Berani beraninya Kau selingkuh di belakangku Tiara!" Bentak Martin sambil melempar ponselnya ke wajah Tiara.


Tiara terkejut melihat sebuah Video yang sedang di putar di ponsel Martin. Itu adalah Video adegannya dengan laki laki yang bertopeng malam itu.


" Tidak Pak Martin, Aku benar benar tidak sadar saat itu, Aku tidak tahu apa yang terjadi malam itu. Tolong percayalah," ucap Tiara mencoba menjelaskan.


" Kamu sangat menikmatinya masih bisa bilang tidak sadar. Dasar wanita ******, mulai detik ini Aku kamu pergi dari Universitas ini dan jangan kembali lagi!" Ujar Martin dengan tatapan penuh amarah ke arah Tiara.


" Tidak Pak. Tolong jangan keluarkan Aku dari Universitas ini, bukankah Kamu berjanji akan membantuku lulus dengan nilai terbaik, Aku sudah menuruti semua kemauanmu, tolong jangan lakukan itu Pak Martin," ucap Tiara memohon.


" Pergi!" Teriak Martin sambil mendorong Tiara keluar dari ruangannya.


Para Mahasiswa yang melihatnya merasa jijik melihat Tiara, mereka menganggap Tiara gagal merayu Martin hingga Ia di usir dari ruangannya.


Tiara melangkah sambil sesekali menghapus air matanya. Apa yang harus Ia katakan pada Orang Tuanya jika mereka tahu Dia sudah di keluarkan dari Universitas.


Saat melewati sebuah lorong kampusnya, Tiara melihat Ravi dan Sandra sedang berbincang. Mereka terlihat sangat dekat, bahkan sangat mesra.


" Sayang, sampai kapan Kita berpura pura begini, Aku sangat merindukanmu," ucap Sandra manja sambil merangkulkan tanganya di leher Ravi.


" Sabarlah, tunggu hingga Aku menghabiskan uangnya, baru Kita bisa bersama lagi sayang, dengan video yang kumiliki, Aku bisa meminta uang berapapun yang Aku inginkan pada wanita bodoh itu," jawab Ravi tersenyum licik mengecup bibir Sandra.


Tiara terkejut dengan apa yang telah di dengarnya. Dia tidak menyangka, Ravi yang telihat sangat baik padanya ternyata wajah aslinya seperti iblis, Ravi mendekatinya hanya untuk memanfaatkannya saja.


Tiara melangkah mendekati mereka dengan wajah yang penuh dengan kekecewaan, Dia melayangkan tangannya kewajah Ravi.


" Jahat Kamu Ravi," kata Tiara sambil memukul dada Ravi. Dia sangat kecewa dengan perbuatan laki laki yang di cintainya itu.


Ravi dengan kasar mendorong Tiara hingga tubuhnya terkena dinding lorong tersebut.


" Auhh...." Desis Tiara merasakan sakit di tubuhnya.


" Menjauh dariku wanita murahan!" Bentak Ravi menatap sinis Tiara.


" Ravi, kenapa Kamu berbuat seperti ini padaku. Apa salahku hah?" Teriak Tiara penuh air mata di wajahya.


Sandra yang mendengar ucapan Tiara tersenyum sinis lalu berlutut di hadapan Tiara.


" Wanita kotor sepertimu pantas mendapatkan ini semua Tiara. Dan salahmu adalah, bermain main denga pemilik Universitas ini." Ucap Sandra mencengkram wajah Tiara yang penuh luka lebam.


" Siapa sebenarnya kalian, apa masalah kalian padaku," ucap Tiara lirih menatap Ravi.


Melihat Tiara yang menatap Ravi, Sandra menampar wajah Tiara dengan keras.


" Berhenti menatap kekasihku!" Bentak Sandra.


" Aku tidak tahu apa kesalahaku pada Kalian, Aku mohon jangan sebarkan video itu pada orang lain," ucap Tiara menunduk putus asa. Dia tidak menyangka Ravi tega melakukan ini padanya. Dia mengira selama ini Ravi tulus padanya, tetapi kenyataannya berbeda dengan apa yang di fikirkan.


" Itu tergantung bagaimana sikapmu," jawab Ravi singkat lalu menggandeng Sandra untuk pergi bersamanya meninggalkan Tiara sendiri di lorong itu.


Tiara terpuruk sendirian menangis sejadi jadinya meratapi nasibnya. Hancur sudah harapannya kini, apa yang harus Ia katakan pada Orang tuanya nanti setelah bertemu mereka.


Tiara melangkah dengan gontai memasuki rumahnya, terlihat rumah itu sangat sepi tanda jika Orang Tuanya belum kembali dari kantor. Tiara segera melangkah menuju kamarnya lalu membersihkan tubuhnya di bawah rintik rintik air hangat dari shower.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Tiara membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tubujnya terasa sakit dan perih. Pandangannya menerawang jauh ke atas, Dia benar benar tidak tahu apa yang harus Ia lakukan saat ini.


Tok tok tok.... Terdengar suara pintu kamarnya di ketuk seseorang.


" Siapa?" Tanya Tiara dari dalam.


" Nona Tiara, ada beberapa Polisi yang mencari Anda," kata pelayan di rumah Tiara.


Tiara terdiam sejenak lalu keluar menemui Polisi yang mencarinya itu.


" Ada apa ya Pak mencari saya?" Tanya Tiara sambil duduk di sofa ruang tamunya.


" Maaf Nona, apakah benar ini indentitas Orang tua Anda," kata salah satu Polisi mnyodorkan sebuah kartu identitas kepada Tiara.


Tiara menerimanya lalu melihat kartu identitas itu, dan benar saja. Itu adalah kartu identitaa milik Ayah dan Ibunya.


" Iya betul. Ada apa ya, Pak?" Tanya Tiara dengan wajah sedikit cemas.


Polisi itu saling bertatapan dan salah satu dari mereka berkata jika Orang tua Tiara mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang, mobil mereka di tabrak oleh sebuah Kontainer yang mengalami rem blong. Dan kedua Orang tua Tiara meninggal saat itu juga dalam kecelakaan.


Mendengar apa yang di informasikan oleh polisi itu, seketika pandangan Tiara menjadi kabur dan tiba tiba Ia terjatuh pingsan, para Polisi dan pelayan di rumah Tiara segera membawa Tiara ke Rumah Sakit.


Saat Tiara sadar, seorang Dokter yang menangainya berkata jika Tiara saat ini sedang hamil 1,5 bulan. Tiara sangat syok mendengar apa yang di katakan Dokter itu, Tiara benar benar terpuruk saat itu, disaat Ia sendiri dalam masalah yang besar, Orang tuanya justru meninggal dalam kecelakaan maut itu. Tiara menangis sejadi jadinya di ruangan tempat Ia di rawat.


Saat itulah Ia pertama kali bertemu dengan Dania.


Dania adalah salah satu sahabat Ibu Tiara. Dia berniat menjenguk Tiara saat itu, tetapi melihat Tiara yang sangat terpukul Dania merasa iba dan ingin merawat Tiara hingga Dia benar benar pulih. Karena Keluarga Pratama sangat baik padanya, Tiara meminta agar mereka membantunya dalam mengelola perusahaan milik Ayah Tiara. Dan Randy pun bersedia membantu Tiara untuk mengelola Perusahaan itu.


Sejak saat itulah Tiara berambisi untuk mendapatkan hati Dania agar bisa menjadi menantunya. Dia memberikan apa saja yang Dania sukai, Dia juga melakukan ab***i agar bisa menikah dengan putra Dani satu satunya yaitu Dion.


Sejak awal Tiara melihat Dion, Dia sudah tertarik padanya. Selain tampan, Dion juga merupakan ahli waris satu satunya dari Keluarga Pratama. Tiara yakin, jika Ia bisa menikah dengan Dion, Dia tidak akan hidup susah kedepannya. Perusahaan Ayahnya belum ada apa apanya jika di bandingkan dengan Perusahaan milik Keluarga Pratama.