
***
Kate yang masih berada di penjara terus meninta agar Ayahnya segera membebaskanya, Dia sangat membenci tempat ini. Dia merasa seluruh tubuhnya gatal dan jerawat satu persatu tumbuh di wajahnya. Selama Kate berada di dalam sel tahanan, Matt belum pernah sekalipun mengunjunginya, itu membuatnya makin kesal.
Jermy Ayah Kate sedang menyusun sebuah rencana, Dia sangat khawatir jika bukti bukti yang berada di tangan Alex jatuh ke tangan pihak berwajib. Alex tidak mungkin mencabut tuntutannya, karena apa yang di lakukan Kate memanglah sangat berbahaya, tetapi Jermy juga merasa tidak terima jika putri kesayangannya berada di balik jeruji besi saat ini.
Jermy melangkah memasuki gedung perusahaan Alex untuk menemui Alex dan melakukan negoisasi kembali dengannya. Apapun akan Dia lakukan asal Alex melepaskan putrinya dan menjaga rahasia Jermy yang berada di tangan Alex.
Jermy menghampiri bagian informasi di kantor Alex hendak meminta bertemu dengan Alex, tetapi bagian iformasi memberitahukan jika saat ini Alex sedang tidak berada di kantornya.
" Bagaiamana bisa seorang Bos besar tidak berada di kantornya." Ujar Jermy kesal pada wanita yang menafi Customer Service di kantor Alex.
" Maaf Pak, tetapi Tuan Alex memang tidak berada di kantor saat ini," ucap wanita itu ramah pada Jermy.
" Jangan bohong Kamu ya. Alex pasti sengaja tidak ingin menemuiku kan." Kata Jermy yang memaksa masuk ingin bertemu Alex.
"Maaf Pak, Saya tidak berbohong. Tolong harap mengerti," kata Customer Service itu sambil memegang lengan Jermy yang memaksa masuk.
Ronald yang mendengar kegaduhan di luar ruangannya segera keluar menghampiri suber kegaduhan itu.
" Ada apa ini?" Tanya Ronald dengan suara lantang.
" Ma_ maaf Pak Ronald, Bapak ini memaksa masuk ingin bertemu Tuan Alex." ucap Customer Service itu pada Ronald.
Ronald menatap laki laki gemuk yang sedang berkacak pinggang di hadapannya itu. Dia tahu siapa laki laki itu. Ronald merasa heran, ada urusan apa Wali Kota itu ingin bertemu Alex.
" Ada perlu apa Anda mencari CEO di perusahaan ini." Tanya Ronald dengan tatapan tajam kepada Jermy.
" Bukan urusanmu, Aku ingin bertemu dengannya sekarang juga." Jawab Jermy ketus.
Ronald melangkah mendekati Jermy, tatapannya dingin menatap laki laki setengah baya itu. Ronal merasa malas menanggapi ocehan si tua bangka itu, Dia memalingkan pandangannya lalu melangkah menjauh dari Jermy.
" Usir Dia dari sini!" Perintah Ronald pada beberapa penjaga yang menghampirinya karena mendengar sebuah keributan di gedung Perusahaan.
Penjaga itu dengan cepat mematuhi perintah Ronald, mereka segera menyeret Jermy keluar dari gedung West Star.
" Kurang ajar kalian ya. Tidak tahu siapa Aku hah." Bentak Jermy pada para penjaga yang menyerernya keluar
Para penjaga tidak menghiraukan kata kata Jermy, mereka tetap melaksanakan perintah Ronald untuk mengusir Jermy yang sudah membuat keributan di Kantor Alex.
Dengan kesal dan umpata Jermy naik ke mobilnya lalu pergi dari gedung perusahaan Alex.
" Dasar orang orang bre***ek. Berani beraninya mereka memperlakukanku seperti ini. Ini semua gara gara Alex si anak ingusan itu. Lihat saja, Aku akan membuat kalian semua menderita." Umpat Jermy dengan kesal.
.
.
Setelah Dua minggu berada di Rumah Sakit, hari ini bayi Agnes dan Alex sudah di ijinkan untuk kembali ke rumah mereka. Alex dan Agnes sangat bahagia akan kelahiran putra mereka.
Alex dan Agnes sepakat memberi nama Sean Wilson pada putra kecil mereka. Nama itu Alex berikan sebagai tanda terimakasih Agnes dan Alex kepada Sang Pencipta karena sudah memberi kesempatan untuk mereka lebih lama menjalani kehidupan ini.
Karena kondisi Agnes yang belum pulih sepenuhnya, Clara yang saat itu mengunjungi Agnes di rumahnya, dengan senang hati membantu Ages dalam menjaga Sean. Untuk sementara waktu, Agnes berniat mengurus bayi Sean sendiri, belum ingin memakai jasa pengasuh. Tetapi sebagai orang tua Clara menyarankan agar Agnes memiliki pengasuh khusus Sean, agar Agnes tidak terlalu lelah nantinya. Di tambah dengan kesibukan Agnes nantinya yang harus menjalani kemoteraphi untuk proses penyembuhan penyakitnya.
Clara mengusap kepala putrinya lembut, Dia merasa sedih jika Agnes memiliki penyakit yang sama dengan Ayahnya. Dia tidak menyangka jika penyakit itu justru menurun pada Agnes dan Ica.
Clara menghampiri Sean lalu mengusap pipinya mungil Sean dengan lembut.
" Uhh ... lucunya cucu Oma," ucap Clara gemas saat melihat Sean yang masih tertidur pulas di Box bayi, begitupun dengan Yarry, Dia sangat senang bisa berkumpul dengan Clara, Agnes, dan cucunya setelah sekian lama Ia menjalani kehidupan yang sunyi tanpa mereka semua.
" Mama belum tidur?" Tanya Alex pada Clara. Matanya terlihat sayu tanda lelah melanda dirinya.
" Belum. Kamu beristirahatlah Alex, biar Mama jaga Sean malam ini," ucap Clara.
" Tetapi, Sean sedang tertidur pulas saat ini, Mama tidur saja dulu," kata Alex.
" Ya, Kamu tenang saja. Mama akan tidur di sini bersama Sean, Kamu segera ke kamarmu saja. Bukankah besok Kamu harus ke kantor," ucap Clara memaksa Alex untuk pergi tidur. Dia tidak tega melihat Alex yang sangat kelelahan beberapa hari ini.
" Baiklah, terimakasih Ma," ujar Alex tersenyum tipis, lalu melangkah menuju kamarnya untuk beristirahat.
Alex membaringkah tubuhnya di ranjang, di peluknya Agnes yang sedang berbaring di sisinya.
Alex merasakan sesak di dadanya saat itu. Di balik kebahagiannya atas kelahiran Sean, di sisi lain Alex merasa sangat sedih. Karena Agnes, Istri tercintanya harus melawan penyakit yang mematikan sekarang.
Alex memeluk erat Agnes, membenamkan wajahnya di tengkuk Agnes, Dia tidak sanggup jika harus kehilangan Agnes. Sebisa mungkin, Alex akan berusaha untuk memberikan Dokter terbaik untuk kesembuhan Agnes.
Merasakan Suaminya yang sedang gelisah, Agnes membalikan tubuhnya menghadap ke arah Alex. Agnes tersenyum sambil mengusap wajah tampan Suaminya itu.
" Kenapa Sayang, Kamu terlihat gelisah," tanya Agnes lembut.
" Tidak apa apa Honey," jawab Alex tersenyum lembut pada Agnes.
" Alex, yakinlah jika Aku bisa sembuh. Aku mohon, jangan terlalu cemas akan keadaanku, okey," kata Agnes berusaha baik baik saja di depan Alex. Inilah alasannya Dia selalu menyembunyikan penyakitnya. Jika Alex tahu, pastilah Alex akan sangat khawatir pada Agnes. Dan itulah yang tidak Agnes inginkan, Agnes tidak ingin Alex bersedih karenanya.
" Ya, Aku yakin Kamu akan sembuh Honey, berjanjilah Kamu akan menjalani pengobatan dengan baik," ucap Alex dengan nada tersendat. Dia tidak dapat menutupi kesedihannya. Alex memeluk Agnes, Dia membenamkan wajah Agnes di dadanya yang bidang itu, dengan lembut Alex mengecup kening Agnes. Dia sangat mencintai Istrinya, Alex sungguh belum bisa merasa tenang jika Agnes belum benar benar sembuh dari penyakitnya.
Alex terus memeluk Agnes lembut, memberikan kenyamanan untuk Agnes, hingga akhirnya mereka berdua tertidur pulas.
Oekk ... oek ....
Terdengar dari kamar Sean, Sean menangis dengan kerasnya. Agnes dengan tertatih menghampiri kamar Sean hendak melihatnya. Saat Agnes masuk, terlihat Clara yang sedang menggendong Sean dengan sebotol susu di tangannya. Terlihat Sean tidak mau meminum susu yang di berikan Clara.
" Sean kenapa Ma?" Tanya Agnes sambil melangkah mendekati Clara.
" Tidak tahu sayang, tiba tiba tidak mau menyusu," ucap Clara sedikit khawatir.
Agnes menggantikan Clara untuk menggendong Sean, dengan sedikit menggoyangkan tubuhnya, Agnes berusaha menenangkan Sean dari tangisnya.
Agnes membuka kancing piyamanya, mencoba memberikan ASI untuk Sean, karena sejak Sean lahir, Agnes belum di beri kesempatan untuk memberikan ASInya secara langsung pada Sean. Setelah merasakan ASI dari Ibunya, seketika tangisn Sean berhenti lalu meminumnya dengan tenang hingga akhirnya tertidur dengan pulasnya. Agnes dan Clara hanya tersenyum dengan tingkah Sean yang menggemaskan itu.
Karena Sean lebih menyukai meminum ASI secara langsung, malam itu Agnes membawa Sean ke kamarnya, agar sewaktu waktu Sean ingin menyusu, Agnes bisa segera memberikannya.
Saat pagi tiba Alex terkejut karena saat memeluk Agnes dari belakang,tangannya menyentuh wajah Sean yang sedang menyusu pada Ibunya.
" Honey, Sean di sini," kata Alex kembali memeluk Agnes dari belakang, sambil memainkan wajah mungil Sean.
" Iya Sayang, Sean lebih suka menyusu secara langsung," ucap Agnes tersenyum pada Alex.
Alex hanya tersenyum sambil mengusap usap wajah Agnes lalu juga wajah Sean secara bergantian. Dia sangat senang, baginya lengkap sudah keluarga ini, dengan Dua orang anak yang mengisi rumah tangganya.