Handsome Boss

Handsome Boss
Episode 61. Salah Faham.



Sejak Sean lahir, Agnes menjadi sedikit lebih sibuk di rumah dari pada biasanya.


Agnespun mulai jarang ke Hotel Nuansa untuk bekerja, Diandra yang memaklumi keadaan Agnes dengan senang hati membantu pekerjaan Agnes.


Setelah Sean kembali tertidur, Agnes segera mempersiapkan pakaian Alex dan juga seragam Sekolah Ica, Agnes juga membuat sarapan untuk Suami dan Anaknya. Dia berusaha menjadi seorang Istri dan juga Ibu yang baik, meskipun sebenarnya Dia sendiripun kewalahan.


Seusai mandi, Alex terkejut melihat pakaiannya sudah tersedia di atas ranjang. Dia sebenarnya ingin sekali membantu Agnes dengan mempersiapkan kebutuhannya sendiri, Dia tahu Agnes lelah dan repot akhir akhir ini, tetapi Agnes terus melakukannya sendiri, membuat Alex merasa seolah olah tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Agnes.


Alex melangkah menuju meja makan, di sana telihat Ages yang sedang menyajikan masakannya. Wajahnya terlihat sangat lelah.


" Biarkan Aku membantumu Honey," ucap Alex sambil membantu Agnes membawakan mangkuk berisikan masakan Agnes dari dapur.


" Tidak perlu sayang, nanti pakaianmu bisa kotor," jawab Agnes mengambil mangkuk itu dari tangan Alex.


" Honey, tidak harus kamu melakukan ini sendiri. Kita punya banyak pelayan Bukan." Kata Alex pada Agnes.


" Tidak Alex, Aku sudah terbiasa melakukannya sendiri, Kamu tidak akan mengerti, karena kamu tidak pernah hidup sulit bukan, " ucap Agnes begitu saja.


Alex seketika tersentak mendengar apa yang di ucapkan Istrinya itu.


" Apa maksudmu Honey? Ah, ya sudahlah. Aku berangkat dulu," kata Alex sambil berlalu dari hadapan Agnes.


" Alex Kamu tidak sarapan dulu," panggil Agnes saat melihat Alex pergi begitu saja.


Alex hanya terdiam tetep melanjutkan langkahnya menuju mobil.


Agnes merasa sedih dengan sikap Alex. Clara yang melihat kejadian itu segera menghampiri Agnes.


" Sayang, tidak seharusnya kamu berkata demikian kepada Alex," ujar Clara pada Agnes.


" Maksud Mama?" Tanya Agnes bingung.


" Kamu bilang jika Alex tidak pernah merasakan hiduo yang sulit saat Ia akan membantu meringankan bebanmu. Agnes, Dia itu sayang padamu, Dia tidak ada maksud menyinggungmu," ujar Clara menjelaskan.


Agnes terdiam sesaat, Dia baru sadar jika kata katanya menyakiti hati Alex. Agnespun tidak tahu, mengapa Ia mengucapkan hal itu, Dia merasa akhir akhir ini menjadi sensitif dan mudah kesal.


" Ya Tuhan. Aku tidak sengaja mengatakan hal itu Ma," ucap Agnes menyesal atas sikapnya itu. Dia sungguh tidak ada maksud untuk menyakiti hati Alex.


" Ya sudahlah, Mama mengerti. Mungkin ini adalah efek Baby Blues. Segera temui Alex, dan jelaskan kesalah fahaman ini padanya." Perintah Clara pada Agnes. Dia tidak ingin kesalah fahaman ini berlarut.


Agnes segera menuruti kata kata Ibunya untuk menemui Alex. Agnes terlihat sedih, Dia benar benar tidak bermaksud menyakiti hati Alex. Dia hanya ingin melayani Suaminya dengan baik dan tidak ingin merepotkannya. Agnes tahu jika pekerjaan Alex di kantor sudah membuatnya begitu lelah.


Setelah menyimpan ASI dalam frezer, Agnes segera melangkah bersiap siap untuk ke kantor Alex. Kali ini Dia harus meminta maaf pada Suaminya, karena apa yang di katakannya pagi ini memang tidaklah baik.


.


.


Alex terlihat sibuk dengan laptopnya, sebisa mungkin Ia berusaha fokus pada pekerjaannya, tetapi jika mengingat apa yang di katakan Agnes pagi tadi, Dia merasa kesal dan membuat fokusnya hilang.


Alex benar benar kecewa dengan apa yang di katakan Agnes. Dia tidak menyangka jika Agnes akan mengatakan hal yang menyakitkan hatinya itu. Alex memang terlahir dari keluarga yang kaya raya. Tetapi, Dia bukanlah tipe laki laki pemalas dan angkuh seperti kebanyakan orang yang sederajat dengannya, dan Agnespun mengetahui hal itu.


Alex mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, Dia tidak dapat menutupi rasa kesalnya, bahkan jika ada satu kesalahah kecil yang pegawainya lakukan, Alex akan marah seolah olah itu adalah masalah yang besar.


Alex kembali keruangannya, Dia berdiam diri di sana. Alex mencoba menahan emosinya, Dia tidak ingin melampiaskan amarahnya kepada pada pegawainya.


Alex menyamdarkan tubuhnya di sebuah sofa empuk yang berada di ruangannya, saat Alex sedang terdiam dalam lamunannya, terdengan pintu ruangannya di ketuk seseorang.


Tok ... tok ... tok ....


" Masuk." Kata Alex meminta orang itu masuk.


Pintu ruangan Alexpun terbuka, seorang wanita cantik masuk ke ruangan Alex dengan senyuman di bibirnya.


" Permisi Tuan," kata wanita itu yang ternyata adalah Tina, sekretaris baru Alex. Tina baru dua hari bekerja di perusahaan Alex menggantikan Lisa.


" Ada apa Tina?" Tanya Alex pada sekretarisnya itu.


" Begini Tuan, siang ini klien ingin menandatangani kontrak kerja samanya sambil Lunc bersama Anda. Apakah Anda bersedia Tuan?" Tanya Tina tersenyum ramah pada Bosnya.


Alex terdiam sesaat, sebenarnya hari ini Dia sedang malas menemui para kliennya. Tetapi untuk melupakan kekesalannya Dia butuh keluar mencari udara segar, akhirnya Alex memutuskan menyetujui pertemuan dengan kliennya itu,


" Baiklah. Setelah ini kita segera menemui klien, kamu ikut bersamaku Tina," kata Alex pada Tina.


" Baik Tuan, saya tunggu Anda di luar. Saya permisi Tuan," ucap Tina sopan pada Alex lalu melangkah keluar dari ruangan Alex.


Setelah Tina keluar dari ruangannya, Alex segera mempersiapkan diri untuk menemui kliennya. Meskipun moodnya sedang tidak baik, tetapi Alex berusaha bekerja secara profesinal. Di samping itu, Alex berfikir jika dengan keluar Dia bisa mengurangi rasa kesalnya sesaat dan akan meminta maaf pada Agnes karena sudah mengabaikannya tadi pagi.


Alex melangkah keluar dari ruangannya, dengan santai Ia berjalan menuju ruangan Tina yang berada di sebelah ruangannya.


Saat hendak mengetuk pintu ruangan Tina, Alex terkejut tiba tiba pintu ruangan itu terbuka. Tina yang terburu buru saat itu, hak sepatu yang Tina kenakan tiba tiba patah dan dengan tidak sengaja menubruk Alex hingga tubuhnya terhambur di dada Alex, karena hendak terjatuh, Tina pun berusaha menahan tubuhnya dengan cara berpegangan pada lengan Alex.


" Ma _ maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap Tina terbata bata sambil melepaskan pegangannya tangannya pada lengan Alex dengan cepat.


" Baik Tuan," jawab Tina dengan senyuman di bibirnya. Dadanya berdebar sangat kencang saat Alex menahannya tadi. Wajah Alex yang tampan, terlihat makin tampan saat di lihatnya dari dekat.


Alex berjalan menuju mobilnya di ikuti Tina. Di mobil sudah ada Julian yang menunggunya sedari tadi.


Setelah Alex masuk ke mobilnya, Julian segera melajukan mobilnya dengan cepat menuju tempat dimana klien Alex meminta bertemu.


.


.


Mobil yang membawa Agnes Akhirnya berhenti di depan gedung kantor Alex. Dengan senang Ia bergegas turun dari mobilnya untuk menemui Alex dengan bekal yang sengaja Agnes siapkan sebagai bawaan permintaan maafnya pada Alex.


Pintu lift terbuka, Agnes segera melangkah keluar dari lift yang mengantarnya menuju lantai ruangan Alex.


Saat Agnes hendak menuju ruangan Alex, Dia sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya.


Agnes merapatkan tubuhnya di sebuah dinding yang, dari kejauhan Agnes melihat Alex yang sedang memeluk seoarang wanita, dari expresi wajahnya, Alex tidak merasa keberatan dengan wanita di pelukannya itu, bahkan Alex dengan tenang menahan pinggang wanita itu. Wanita itu dengan erat memegang lengang Alex dengan senyuman di bibirnya.


Dada Agnes seketika terasa sesak dan nyeri, hatinya sangat sakit melihat hal itu.


Agnes mengurungkan niatnya untuk menemui Alex, Dia memilih berbalik keluar dari kantor Alex.


Selama perjalanannya kerumah, air mata Agnes terus saja mengalir membasahi wajahnya.


Agnes kini tahu mengapa Alex tiba tiba berubah, ternyata ada wanita lain yang mengalihkan perhatiannya.


**


Sesampai di rumah, Agnes berlari menuju kamarnya lalu mengunci pintu kamar itu rapat rapat. Dia hanya ingin sendirian saat ini.


Clara yang melihat keadaan Agnes segera menghampiri putrinya yang mengurung diri di kamarnya.


Tok tok tok ....


Perlahan Clara mengetuk pintu kamar Agnes. " Agnes, apa kamu baik baik saja, Nak? tanya Clara khawatir.


" Aku baik baik saja, Ma." jawab Agnes dari dalam kamarnya.


" Baiklah. Nanti segera turun dan makan ya," ucap Clara lembut.


" Baik, Ma." jawab Agnes singkat.


Clara merasa ada yang tidak beres dengan putrinya itu, sebagai seorang Ibu Clara merasa sangat khawatir dengan keadaan Agnes. Tetapi, jika ini tentang Alex, Clara tidak bisa berkomentar apapun karena baginya ini semua adalah sebuah komitmen yang harus mereka jalani.


Agnes berdiri di depan cermin besar di kamarnya, di pandangnya wajah sayunya yang sembab karena terus menangis. Bayang bayang Alex dan wanita itu terus muncul di kepala Agnes. Wanita itu sangat cantik, sehingga membuat Agnes merasa jika dirinya tidak ada apa apanya di banding dengan wanita itu.


" Mungkin saja Alex sudah merasa bosan denganku. Ya, wajar saja, saat bertemu dulu pun, Aku bukanlah wanita yang sempurna." gumam Agnes pada dirinya sendiri sambil mengusap wajahnya di depan cermin besar itu.


Setelah beberapa saat berada dalam kamarnya, Agnes merasa bersalah pada Sean. Sejak Ia pulang tadi, Dia belum sempat melihat putra kecilnya itu.


Agnes bangkit dari ranjangnya lalu melangkah menuju wastafel untuk mencuci wajahnya. Dia tidak mau ada orang yang tahu tentang masalahnya, apalagi jika itu adalah masalah rumah tangganya.


Setelah selesai mencuci wajahnya Agnes segera keluar dari kamarnya, tujuan utamanya adalah ke kamar Sean.


Dengan perlahan Agnes membuka pintu kamar Sean, Agnes terkejut melihat seseorang yang tidak di kenalinya sedang menggendong Sean.


" Siapa kamu?" tanya Agnes sambil mengambil Sean dari gendongan wanita itu pelan.


" Selamat siang Nyonya. Saya Nina, pengasuh Tuan Sean," sapa wanita itu ramah pada Agnes.


" Pengasuh?" kata Agnes masih bingung karena Dia tidak merasa merekrut seorang pengasuh untuk Sean.


" Iya Agnes, Mama yang merekrut Nina. Kamu tenang saja, Nina adalah pengasuh yang bisa di andalkan dan terpercaya." ucap Clara yang tiba tiba masuk kekamar Sean.


" Tapi, Ma. Aku ingin merawat Sean sendiri," kata Agnes pelan.


" Agnes, jika kamu merawat Sean sendiri kamu akan repot. Kamu jadi tidak ada waktu untuk yang lainnya, dan juga bagaimana kamu menjalani kemotherapi jika Sean terus menempel padamu." kata Clara memberi penjelasan.


Agnes terdiam sesaat. Agnes berfikir, mungkinkah Ia bisa sembuh dari penyakitnya ini. Di tambah, dengan apa yang di lihatnya saat di kantor Alex tadi membuatnya tidak semangat melakukan kemotherapi lagi. Agnes merasa semua itu tidak ada gunanya jika Suaminya saja sudah merasa bosan padanya.


" Agnes, Mama dan Papa akan kembali lusa. Mama hanya ingin meringankan bebanmu, okey," ujar Clara tersenyum lembut pada putri semata wayangnya itu.


" Baiklah Ma, terimakasih jika begitu." ucap Agnes tersenyum.


**


Selama pertemuannya dengan Klien hingga kembali ke kantornya, Alex terus melihat ponselnya. Tidak seperti biasanya, hari ini Agnes sama sekali tidak menghubunginya. Jangankan meminta maaf, menyakan kabar Alexpun tidak sama sekali.


Alex memutar mutar penanya, Dia merasa cemas dan kesal dengan Agnes. Entah apa salahnya hingga Agnes seharian ini mengacuhkannya.