
***
" Nyonya Tiara, silahkan masuk," panggil seorang perawat setelah melihat daftar antrean.
Tiara melangkah masuk ke ruangan Dokter Kandungan untuk melakukan pemeriksaan setelah sekian lama menunggu.
" Selamat Siang Dok," sapa Tiara pada Dokter yang menangani kondisinya.
" Selamat Siang Nyonya, silahkan Anda berbaring sebentar ya, " kata Dokter itu mempersilahkan.
Tiara menuruti perintah Dokter itu untuk berbaring dan membuka sebagian dari pakaiannya.
Mendengar keluhah yang Tiara katakan padanya, Sabrina akhirnya melakukan USG transvaginal pada Tiara. Sabrina mengambil alat alatnya, lalu memasukkan probe berukuran selebar dua jari melalui va***a. Dokter akan menyarankan USG internal untuk memeriksa kondisi organ daerah panggul, seperti rahim dan indung telur.
" Apakah Anda menikah di usia dini, Nyonya," tanya Dokter itu mengerutkan keningnya.
" Tidak, Dokter," jawab Tiara.
" Baiklah, silahkan duduk Nyonya," pinta Dokter Sabrina kepada Tiara.
Tiara duduk di hadapan Dokter wanita itu dengan wajah yang cemas.
" Bagaimana Dok hasilnya?" Tanya Tiara tidak tenang.
" Nyonya, saya harap Anda bisa menerima hasil ini dengan lapang dada," jawab Dokter Sabrina, Dia adalah salah satu Dokter Kandungam terbaik di Rumah Sakit.
" Maksud Dokter apa?" Tanya Tiara bingung dengan kata kata Dokter Sabrina.
" Anda pernah melakukan ab**si di usia dini bukan," kata Dokter Sabrina menatap tajam Tiara.
" Ti_ tidak, Dokter," jawab Tiara terbata bata.
" Anda tidak perlu malu ataupun takut untuk mengakuinya Nyonya, ini semua demi Anda sendiri." Ucap Dokter Sabrina dengan nada mengintrogasi.
Tiara hanya menundukan kepalanya, malu untuk mengakui perbuatannya di masa masa Sekolahnya dahulu.
" Nyonya, rahim Anda rusak, dan ini berefek pada sulitnya Anda memiliki keturunan, bahkan tidak hanya sulit, tetapi ini membuat Anda tidak dapat memiliki keturunan lagi," ucap Dokter Sabrina lembut memegang tangan Tiara.
" Apa, Dok?" Ucap Tiara terkejut dengan kata kata Dokter Sabrina. Perlahan air matanya mengalir membasahi wajahnya, tidak menyangka jika kenakalannya di masa lampau berakibat separah ini.
" Ya, dari hasil USG yang saya lakukan, terlihat rahim Anda mengalami kerobekan yang sangat fatal akibat dari ab**si yang Anda lakukan." Kata Sabrina memberikan hasil pemeriksaannya tadi pada Tiara.
Tiara mengamati hasil USG yang Sabrina berikan, seketika air matanya mengalir dengan derasnya. Ia tidak dapat lagi membendung kesedihannya.
Sabrina menarik beberapa lembar tisue lalu memberikannya pada Tiara.
Sabrina merasa iba melihat Tiara yang terpukul dengan hasil pemeriksaannya.
Memiliki keturunan adalah impian setiap wanita, bahkan wanita itu akan terlihat sempurna jika bisa memberikan bayi mungil untuk Suaminya. Tetapi sayang, Tiara menyia nyiakan kesempatan itu, hingga akhirnya kini tidak dapat memilikinya lagi.
" Baik Dokter, terimakasih. Saya permisi dulu, Dok," ujar Tiara berpamitan pada sang Dokter.
" Silahkan Nyonya," jawab Dokter Sabrina.
Tiarapun melangkah keluar dari ruangan dimana Ia melakukan pemeriksaan, Dia melangkah dengan perasaan yang kalut dan rasa putus asa yang mendalam pada dirinya.
Brak....
Tiara terkejut saat melangakh Ia menabrak seseorang hingga barang barang bawaannya terjatuh.
" Ah, maaf. Aku tidak sengaja," kata Tiara berlutut membantu wanita itu memunguti barang barangnya. Tiara tersentak saat melihat siapa wanita yang berada di hadapannya itu.
" Agnes," panggil Tiara pelan pada wanita itu.
Agnes menatap wanita di hadapannya, Dia tersentak tidak menyangka akan bertemu wanita yang sudah berkali kali menghinanya itu.
" Ah, Tiara. Senang bertemu denganmu. Kamu kenapa di sini?" Tanya Agnes berbasa basi sambil berdiri usai membereskan barang bawaannya yang berjatuhan.
" Ya, Aku ada keperluan di sini. Maaf Aku tidak sengaja tadi," kata Tiara sambil memberikan barang Agnes yang di pungutnya.
" Tidak masalah," ucap Agnes menerima barang yang di pungut Tiara.
" Baiklah, Aku duluan ya Agnes. Bye," ucap Tiara melangkah pergi meninggalkan Agnes.
" Okey, bye," jawab Agnes menatap Tiara yang melangkah makin menjauh dari pandangannya.
Agnes merasa senang melihat perubahan Tiara yang jauh lebih baik.
Agnes tersenyum lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan Dokter Kandungannya untuk melakukan pemeriksaan rutin.
Agnes lansung memasuki ruangan Sabrina karena sudah membuat janji jauh jauh hari sebelum datang ke Rumah Sakit.
" Hai Sabrina," sapa Agnes pada Dokter cantik itu.
" Hai, Aku kira Kamu tidak jadi datang Agnes," jawab Sabrina dengan senyuman di bibirnya.
" Tadi sedikit macet di jalan, jadi Aku agak terlambat hari ini," ucap Agnes yang langsung membaringkan tubuhnya di ranjang pemeriksaan dan melakukan Ultrasonography ( USG ).
Sabrina menatap dengan serius layar di hadapannya.
" Wah, bayi Kamu sangat sehat dan aktif Agnes," ucap Sabrina usai melakukan pemeriksaan pada Agnes.
" Sungguh? Syukurlah, Aku sempat khawatir dengan keadaan bayiku, karena akhir akhir ini Aku banyak mengalami hal hal yang tidak menyenangkan," ujar Agnes pada Sabrina.
" Ya, tetapi Kau adalah wanita yang kuat Anges, makanya janinmu baik baik saja dan selalu sehat." Kata Sabrina tersenyum sambil menulis resep obat yang akan Ia berikan untuk Agnes.
" Aku tidak sekuat itu Sabrina," ucap Agnes lirih tersenyum tipis.
" Jika Kamu tidak kuat, tidak mungkin Kamu bertahan hingga saat ini bukan," kata Sabrina menatap Agnes. Dia ingat betul bagaimana Agnes berjuang dalam merawat Anaknya sendirian, saat melahirkan pun Sabrinalah yang membantu proses persalinan Agnes saat itu.
" Terimakasih Sabrina, Kamu banyak membantuku hingga saat ini," ucap Agnes tersenyum.
" Sama sama Agnes. Kamu sudah bahagia saat ini, buang jauh jauh fikiran masa lalu yang menyakitkanmu itu, tidak ada gunanya." Kata Sabrina menyerahkan lembaran resep obat yang harus Agnes tebus.
" Baiklah Sabrina, jika begitu Aku permisi dulu. Terimakasih," ucap Agnes menerima kertas itu lalu bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan Sabrina.
Sabrina menatap kepergian Agnes dengan senyuman di bibirnya. Dia meras senang menangani pasien seperti Agnes. Banyak wanita yang hamil di luar nikah dan mereka memutuskan untuk melenyapkan bayi bayi mereka. Tidakkah mereka berfikir jika bayi yang ada di perut mereka itu tidak bersalah apapun. Seketika Sabrina termenung sembari mengusap perutnya.
" Kenapa tidak di lahirkan saja bayi bayi itu dan berikan padaku, Aku pasti akan menyayangi mereka sepenuh hati," gumam Sabrina pelan.
Setelah menebus obat obatnya Agnes segera melangkah menuju mobilnya.
Tiara yang ternyata belum pergi dari gedung Rumah Sakit itu, Dia bersembunyi di balik dinding, melihat Agnes baru saja keluar dari ruangan yang sama dengannya tadi.
" Kamu begitu beruntung Agnes. Dan kini Aku sadar jika Kamu adalah wanita sejati yang mempertahankan kehamilanmu meskipun Dion tidak bertanggung jawab. Tidak seperti Aku yang justru membuangnya begitu saja," gumam Tiara dalam hati dengan wajah yang sedih.
Tiara memarkirkan mobil yang di kendarainya di halaman rumah.
Dengan perasaan yang sedih Dia melangkah kedalam rumahnya lalu menyandarkan tubuhnya di sofa empuk di ruang keluarga.
" Bi ... tolong ambilkan air minum!" Teriak Tiara pada pelayannya yang berada di dapur.
" Ini minumnya, Kamu dari mana saja Tiara?" Tanya Dania pada Tiara sambil duduk di sebelahnya.
Tiara terkejut saat melihat Ibu Mertuanya berada di rumahnya. Dia tidak tahu jika Dania akan berkunjung hari ini, jika saja Dia tahu, Dia tidak akan pergi kemana mana hari ini.
" Ma_Mama, Mama sudah lama di sini?" Kata Tiara yang tidak menjawab pertanyaan Ibu Mertunya.
" Sudah sejak tadi. Kamu dari mana saja Tiara?" Tanya Dania untuk kedua kalinya.
" Da_ dari Rumah Sakit, Ma," jawab Tiara yang seketika menutup mulutnya.
" Rumah Sakit? Apa Kamu terluka Tiara?" Ucap Dania cemas.
" Tidak, Ma. Aku hanya menjenguk temanku yang sedang sakit saja," jawab Tiara berbohong pada Dania.
" Sudah sampai sana, kenapa Kamu tidak memeriksakan tentang kandungan Tiara? Apa Mama temani Kamu yuk," ajak Dania pada Tiara.
" Emh, lain waktu saja, Ma. Aku sangat lelah hari ini," jawab Tiara menolak ajakan Ibu Mertuanya lalu bangkit melangkah menuju kamarnya. Dia tidak ingin Dania memaksanya ke Rumah Sakit untuk memintanya melakukan program hamil lagi.
Dania hanya terdiam menatap Tiara yang pergi meninggalkannya sendiri.
Dania menatap setiap sudur rumah Dion, rumah ini begitu sepi tanpa seorang anak yang tertawa ceria di sini.
" Andai saja ada Ica di sini, pasti rumah ini akan terasa hangat," gumam Dania dalam hati sambil mengusap air matanya yang mengalir di pipinya.
Tiara hanya menatap Dania dari balik pintu kamarnya yang Ia buka sedikit. Dia tahu jika Dania sangat menginginkan cucu dari rahimnya, tetapi mau bagaimana lagi, semua itu tidak mungkin.
" Apakah sunguh sungguh tidak mungkin? Jika Aku melakukan pengobata apakah rahimku bisa pulih kembali?" Gumam Tiara dalam hatinya. Tiara tersentak mengapa tidak terfikitkan olehnya untuk melakukan pengobatan. Tiara berencana akan menemui Dokter Kandungan kembali jika ada waktu, siapa tahu rahimnya bisa pulih setelah Ia melakukan pengobatan.