
***
Dion merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi pada Tiara. Tidak biasanya Tiara menginap di tempat rekannya hingga berhari hari. Apa mungkin Tiara sengaja menjauhinya, Dion merasa sangat khawatir dengan Istrinya itu. Meskipun saat ini Dia belum dapat mencintai Tiara, tetapi Dion sudah berjanji akan bersikap baik dan lembut pada Tiara.
Segala pertanyaan pertanyaan itu terus berputar putar di kepala Dion. Seketika lamunan Dion buyar karena suara ponselnya.
Dion segera mengangkat sambungan ponselnya. Dion terkejut karena panggilan itu ternyata dari Rumah Sakit. Pihak Rumah Sakit memberitahunya jika Tiara saat ini sedang berada di sana dalam keadaam tidak sadarkan diri.
Mendengar berita itu, Dion segera berlari ke mobilnya lalu melajukannya dengan cepat menuju Rumah Sakit dimana Tiara berada. Dia sangat cemas dan khawatir dengan keadaan Tiara.
Sesampainya di Rumah Sakit, Dion segera menuju ruangan dimana Tiara di rawat. Dionpun masuk ke ruangan itu, dilihatnya Dokter sedang memeriksa keadaan Tiara malam itu.
" Dokter, bagaimana keadaan Istri saya?" Tanya Dion dengan wajah cemas.
" Dia baik baik saja, hanya saja NyonyanTiara mengalami tekanan batin yang sangat mendalam, hingga berpengaruh pada psikologisnya.
Dion tersentak mendengar apa yang di katakan oleh Sabrina. Dia tidak jika Tiara mengalami tekanan batin hingga seperti ini.
" Bagaimana bisa Dokter," ucap Dion belum bisa percaya dengan apa yang di dengarnya itu.
Melihat Dion yang tidak tahu apa apa tentang keadaan Tiara, Sabrina mengajak Dion ke ruangannya untuk membicarakan masalah Tiara.
Setelah sampai di ruangan Sabrina, Dionpun di persilahkan duduk di sofa ruangan Sabrina, Dia penasaran dengan apa yang akan Sabrina sampaikan.
" Tuan, apakah ada yang terlalu kasar pada Istri Anda sehingga Dia menjadi seperti ini?" Tanya Sabrina pada Dion.
" Maksud Dokter apa? Tidak ada yang kasar pada Tiara, " kata Dion bingung.
" Begini Tuan Dion, beberapa bulan ini Nyonya Tiara sering mengungi saya untuk melakukan pemeriksaan. Dan pada hari itu saat akan konsultasi mengenai program hamil, kondisinya tidak baik, karena terdapat luka lebam dan luka luka terbuka di tubuhnya. Dan apa yang saya lihat sekarang, Nyonya Tiara di bawa ke Rumah Sakit ini dengan luka yang jauh lebih parah dari sebelumnya. Sebenarnya ada apakah ini Tuan, saya merasa iba melihat Nyonya Tiara.
Dion terdiam, Dia merasa penasaran dari mana Tiara mendapatkan luka luka itu dan juga tekanan dari siapa yang membuatnya menjadi seperti ini. Dia sebagai Suami selama ini tidak pernah sekalipun Ia memukul Tiara.
" Saya benar benar tidah tahu. Bagaimana bisa Tiara mendapat tekanan seperti ini," kata Dion pelan sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
" Baiklah Tuan, maafkan saya jika sudah berprasangka buruk. Semoga Anda bisa membantu Nyonya Tiara melewati masalah Ini Tuan," ucap Sabrina pada Dion.
" Saya akan mencari tahu Dokter, saya juga merasa penasaran apa yang terjadi sesungguhnya.
" Baik Tuan, semoga Anda segera menemukan titik terang. Dan ini, ponsel Nyonya Tiara yang saya gunakan untuk menghubungi Anda." Kata Sabrina sambil menyerahkan ponsel Tiara kepada Dion.
Dion menerima ponsel itu, lalu berpamitan undur kepada Sabrina. Dion melangkah melewati lorong lorong Rumah Sakit memuju ruangan Tiara. Tidak bisa bisa di pungkiri, Dion sangat khawatir dengan keadaan Tiara. Walau bagaimanapun Tiara adalah Istrinya.
Dion duduk di sebuah sofa besar yang berada di dalam ruangan Tiara. Dia berniat menjaga Tiara selama berada di Rumah Sakit. Saat ini, jam di tangannya menunjukan pukul 3 dini hari, Dion merasa lelah dan berencana untuk tidur sebentar. Saat hendak memejamkan matanya, tiba tiba ponsel Tiara bergetar, menandakan sebuah chat masuk. Karena penasaran Dion mencoba membaca chat itu.
📩 " Temui Aku sekarang! Jika tidak, Aku akan memperlakukanmu lebih kasar dari semalam." Ketik si pengirim chat.
Dion mencoba membalas pesan itu, Dia penasaran denga si pengirim pesan kepada Istrinya itu.
📩 " Tidak mau." Balas Dion mancing si pengirim pesan.
📩 " Berani Kau menolakku, lihat saja. Aku akan mengirim video itu kepada Suamimu." Tulis orang itu dengan nada mengancam.
Dion terdiam sesaat. Dia mencoba menscrol ke atas pesan dari nomor itu, dan benar saja. Semua pesan yang Ia kirim pada Tiara adalah pesan pesan ancaman dan teror yang terus menerus di lakukan oleh nomor tersebut. Dion tidak mengetahui jika selama ini Tiara selalu menemui seseorang itu.
Dion terus mengscrol chat itu, lalu Dion melihat ada sebuah pesan video yang di kirim oleh seseorang itu.
Dion mencoba membuka video itu, matanya terbelalak ketika melihat video tersebut. Bagaimana tidak, di video itu Dion melihat Istrinya sedang bercumbu denga laki laki lain. Mereka berdua terlihat saling menikmati permainan itu. Dion merasa marah dan kesal akan hal itu, tetapi dari video itu, nampak dengan jelas jika Tiara melakukannya sebelum Ia mengenalnya. Terlihat dari wajah dan tubuh Tiara yang berbeda dengan saat ini. Tapi Dion tetap saja merasa kesal akan hal itu, Dia tidak menyangka jika wanita pilihan Ibunya justru seperti ini masa lalunya.
Dion kembali membalas pesan itu. Mengaku sebagai Tiara, Dia menyetujui untuk menemui seseorang itu, dengan waktu dan tempat yang sudah ditentukan.
Dengan menahan sesak di dadanya Dion meletakan ponsel Tiara di meja. Dion berdiri di sisi ranjang Tiara, ditatapnya wanita itu lama. Dion berfikir, mungkin seseorang itulah yang membuat Tiara menjadi seperti ini.
" Jadi ini alasanmu tidak kembali ke rumah beberapa hari ini, Tiara," gumam Dion di depan Tiara yang masih belum sadarkan diri.
Dengan membawa beberapa orang bersamanya, Dion segera pergi menemui orang yang sudah menganiaya Istrinya. Dia sudah merencanakan sebuah kejutan untuk orang itu.
.
.
Matt memasuki kamar yang sudah di pesannya untuk melewati hari ini bersama Tiara.
" Huhh ... dasar perempuan bodoh, mau maunya masuk ke lingkaran hitam yang ku buat," gumam Matt tersenyum licik. Dia membayangkan, sudah berapa banyak keuntungannya dalam memanfaatkan Tiara selama ini. Kali ini Dia berencana akan meminta lebih banyak lagi dari hari hari yang lalu.
Matt melangkah ke kamar mandi ruangan itu, di lilitkannya handuk putih di pinggangnya. Di duduk di tepi ranjang sambil menikmati Wine di tangannya.
Tok tok tok ....
Matt segera melangkah menuju pintu setelah mendengar pintu kamarnya di ketuk seseorang. Dia yakin jika itu adalah Tiara. Tanpa fikir panjang Matt segera membuka pintu kamarnya.
Saat pintu itu di buka, alangkah terkejutnya Matt saat itu. Seseorang dengan cepat mencekik leher dan medorongnya masuk. Beberapa orang yang di belakangnya dengan cepat menutup pintu dan mengunci kamar Matt.
" Si_ siapa Kalian." Kata Matt merasa kepalanya sangat pusing akibat cekikan orang itu begitu kuat, hingga membuatnya sulit bernafas.
Dion melepas cekikannya sambil melempar Matt ke dinding kamarnya.
" Apa yang Kau lakukan pada Tiara, hah...." Ucap Dion sambil memukul wajah Matt.
" Oh, Aku ingat siapa Kau. Kau Suami dari wanita ****** itu bukan," ujar Matt tersenyum sinis dengan darah yang mengalir dari ujung bibirnya.
Mendengar kata Matt, Dion makin naik pitam lalu kembali menghujani wajah Matt dengan pukulan pukulan keras. Matt yang sudah terpojok, sama sekali tidak dapat membalas pukulan Dion. Dion tidak memberinya ruang untuk membalas sedikitpun.
" Okey, okey ... Aku memang sudah melakukan hal yang kejam pada Istrimu. Tetapi perlu Kau tahu, yang di lakukan Istrimu jauh lebih kejam. Kau tahu itu tidak!" Teriak Matt menyilankan tangan di depan wajahnya menutupi wajahnya. Dia sudah tidak tahan dengan pukulan pukulan Dion. Dion bisa membuatnya mati saat ini juga jika Matt tidak menghentikannya.
" Apa maksudmu." Kata Dion.
" Kau Suaminya, tetapi Kau tidak tahu bagaimana kehidupan Istrimu dahulu," ucap Matt sambil mengusap darah yang mengalir dari pelipis dan bibirnya.
" Kau ingin mati sekarang!" Bentak Dion kesal dengan kata Matt yang bertele tele.
" Tidak ... sudah, sudah cukup. Jangan pukul lagi, Aku mohon," pinta Matt kembali menutup wajahnya.
" Aku dendam pada Istrimu. Dia sudah membunuh Ibuku." Kata Matt pada Dion.
" Jangan bohong Kau! Tiara tidak mungkin membunuh orang." Bentak Dion.
" Benar, Tiara memang tidak secara langsung membunuh Ibuku. Tetapi denga Dia menjadi simpanan Ayahku selama bertahun tahun, yang akhirnya membuat Ibuku sakit sakitan dan akhirnya meninggal dunia, begitulah cara Tiara membunuhnya. Dan apa Kau tahu Tuan. Saat Ibuku meninggal, Tiara sedang bercumbu saat itu, Ayahku bahkan lebih memilih tidur bersama Tiara dari pada datang ke pemakaman Ibuku. Aku benci pada Tiara, sangat benci. Aku ingin membuatnya hancur, seperti Dia menghancurkan hati Ibuku saat itu." Ujar Matt menundukan wajahnya. Telihat Matt tidak berbohong saat itu, ada raut kesedihan di wajahnya.
Dion menghentikan pukulannya pada Matt, dan meminta teman temannya membawa Matt ke kantor polisi. Dia benar benar tidak habis fikir dengan apa yang di lakukan Tiara.
Dion melajukan mobilnya pelan menuju Rumah Sakit. Badannya terasa sangat lelah, semalan Dia tidak tidur sama sekali membuat kepalanya terasa pusing.
Dion memarkirkan mobilnya di Basement Rumah Sakit lalu melangkah menuju ruangan Tiara.
Saat Dion masuk ke ruangan Tiara, terlihat Tiara sedang melihat ponselnya. Dionpun masuk tanpas sepatah katapun dari mulutnya. Tiara menatap Dion yang terlihat dingin kepadanya.
" Ja_ jadi Kamu sudah tahu, Dion," ucap Tiara gugub dan takit jika Dion akan memakinya habis habisan.
" Ya. Dan, Aku sangat kecewa padamu, Tiara." Jawab Dion lalu melangkah menuju sofa diruangan Tiara. Dia merbahkan tubuhnya di sofa, menutup matanya dengan lengannya. Dia tidak memperdulikan Tiara ada di dalam satu ruangan dengannya . Dion hanya butuh istirahat saat ini.
Tiara terdiam tidak dapat berkata kata lagi di hadapan Dion. Dia tahu Dion pasti marah denga hal itu. Apa yang di katakan Agnes benar. Semua yang di lakukan pasti akan ada resikonya. Dan inilah salah satu resiko yang harus Tiara rasakan dalam hidupnya.