Handsome Boss

Handsome Boss
Episode 12



***


Alex melangkah menuju ruangannya bersama dengan Agnes dan Julian. Semua mata karyawan di perusahaan itu menatap kedatangan Alex dan memberinya hormat.


Agnes melirik ke arah Alex, Dia baru menyadari ternyata Alex terlihat sangat dingin , Dia tidak sembarang melempar senyumannya untuk semua orang, tapi Agnes merasa Alex sering tersenyum saat bersamanya. " Ahhhh,, sudahlah Agnes, apa yang ada du fikiranmu. ingat Alex itu Bos Besar. BOS BESAR....." gumam Agnes dalam hatinya.


Bruuukkkk...


Seketika Agnes terkejut dan menabrak punggung Alex karna Alex yang berjalan di depannya berhenti dengan tiba tiba.


" Auwww...." pekik Agnes sambil memegang hidungnya.


Alex membalikan badannya menatap Agnes yang memegang hidungnya.


" Kamu kenapa?" tanya Alex heran.


" Tidak apa apa Pak,,, hanya tidak fokus saja. Maaf.." jawab Agnes mendongak menatap Alex sekejap lalu menundukan pandangannya lagi. Mata Alex benar benar mebuat jantungnya berdegub sangat kencang, hingga Agnes tidak berani untuk menatap wajah Alex secara langsung.


Alex menunduk mendekatkan wajahnya di hadapan Agnes.


" Hidung kamu merah, lain kali hati hati." kata Alex sambil membalikan badannya lalu melangkah kembali.


Deg Deg .......


" Ihhh apaan sih, kan Dia yang tiba tiba berhenti, bukan salahku dong jika nabrak." gumam Agnes yang masih mengikuti Bosnya itu.


Julian hanya tersenyum melihatnya, Dia baru tahu ternyata Bosnya bisa jahil juga sama Asistennya.


Alex membuka ruangannya dan masuk kedalam.


" Agnes, itu meja kerja kamu ." kata Alex menunjukan meja kerja yang berada tidak jauh dari meja kerjanya.


" Baik Pak. Terimakasih." ucap Agne meletakan barang baranganya di sana.


" Julian , kau ajari Agnes cara bekerjanya. " perintah Alex.


" Baik Pak." jawab Delian yang lalu mendekati Agnes untuk mengajarinya.


Alex sesekali melirik ke arah meja Agnes.


Terlihat Julian begitu dekat dengan Agnes , sesekali mereka terkekeh dan bercanda.


Alex merasa tidak nyaman dengan pemandangan itu , Dia lalu menutup laptopnya dengan keras membuat Agnes dan Julian terkejut.


" Ada apa Pak?" tanya Julian sambil mengusap usap dadanya.


" Tidak apa apa, hanya saja tiba tiba lapar dan ingin makan." kata Alex dingin menatap tajam Julian yang begitu nempel dengan Agnes.


Julian menyadari apa yang di maksud Bosnya itu, seketika Dia bergeser menjauhkan dirinya dari Agnes .


Agnes sedikit heran dengan pemandangan ini, tapi Dia tidak mempedulikannya. Dia mengambil sesuatu dari dalam tas nya lalu menghampiri Alex.


" ini Pak, saya bawa bekal dari rumah. tapi maaf kotak makannya punya Ica " ucap Agnes sambil menyodorkan Kotak makan berisi Kue kepada Alex.


Alex mengerutkan keningnya dan menatap Agnes dengan kotak makan di tangannya.


Julian yang melihat kejadian itu hampir saja menumpahkan tawanya di hadapan mereka.


" ehmm,, maaf Pak. saya permisi sebentar." kata Julian lalu berlari keluar.


Alex menerima Kue pemberian Agnes . " Ok, Terimakasih. " kata Alex sambil tersenyum tipis.


" Kembali kasih Pak." jawab Agnes lalu kembali ke mejanya meneruskan belajar seperti yang Julian ajarkan.


Alex menatap Kotak makan bergambar Doraemon itu, Dia teringat dulu Ibunya selalu memberinya bekal untuknya saat kecil. Alex menyentuh kotak makan itu lalu melirik Agnes. Tersungging senyuman di bibirnya.


Alex bangkit dan melangkah mendekati Agnes.


" Bagaimana , sudah bisa?" tanya Alex sambil membungkukan badannya memeriksa pekerjaan Agnes.


Agnes melirik ke samping, wajah Alex terasa sangat dekat dengannya. Alex benar benar Tampan, Aroma maskulin dari Alex menyerbak memberikan Aroma yang candu , menenangkan .


Deg... Deg.... Deg.... tiba tiba jantung Agnes bedegub dengan kencangnya.


" su sudah Pak , sedikit sedikit." jawab Agnes gugub.


Alex melirik Agnes , Diapun baru menyadari jika ternyata wajahnya sangat dekat dengan Agnes. Di lihatnya wanita di sampingnya itu, wajahnya benar besih dan cantik,, terlihat jelas jika Dia tak ber mak up tebal, tapi meskipun begitu Agnes terlihat sangat cantik.


Alex kembali menatap layar Laptop Agnes, dan mengangguk anggukan kepalany.


" kamu cepat juga ya fahamnya." kata Alex memuji Agnes.


Agnes hanya tersenyum, Dia terus memegang dadanya yang terasa nyeri setiap Alex sangat dekat dengannya.


" kamu kenapa? sesak nafas ? tanya Alex cemas.


" ah, ehm... tidak tidak Pak." jawab Agnes melepas kan tangan yang sedari tadi memegang dadanya dengan malu.


Alex tersenyum tipis melihat Agnes , Tidak bisa di pungkiri moodnya menjadi baik setiap kali Agnes berada di dekatnya, Entah rasa apa ini, Alex hanya mengikuti alurnya saja, Dia berfikir mungkin karna Dia kagum dengan kekuatan hati Agnes yang sanggup menhadapi kehidupannya yang seperti ini.


.


.


.


" Icaa... Icaaa,,,, kamu di mana sayang" teriak Agnes yang terus memanggil manggil nama Ica.


Agnes kebingungan karna Ica tidak ada di setiap ruangan di rumah itu.


Braakkk....


Agnes terkejut saat pintu rumah itu di buka dengan keras oleh seseorang.


" lhohh,, Agnes kamu ngapain kesini?" tanya Ibu pemilik Kontrakan.


" Bu, Ibu lihat Ica tidak?" tanya Agnes denga terisak.


" lhoh bagaimana sih, tadi kan Ica sudah di ajak pindah sama Papa nya kan, Saya kira kamu tahu." jawab si Ibu heran.


" Papanya?" tanya Agnes heran dan panik.


" iya, orangnya tinggi,ganteng. Ihh,, kamu bisa saja ya Nes cari laki laki." goda Si Ibu pada Agnes.


Agne masih bingung dengan perkataan Si pemilik kontrakan itu,.


" ya sudah, kamu segera susulin.saja. saya mau bersih bersih , karna ada yang mau ngisi rumah ini lagi." kata Si Ibu meminta Agnes pergi.


" Papanya, tidak mungkin. Tidak mungkin Dion me jemput Ica, Dia tidak pernah menginginkan kami." gumam Agnes dalam hatinya.


Agnes melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu, Dia tidak tahu kemana Dia akan mencari Ica. Air matanya terus saja mengalir begitu derasnya.


" Nona Agnes...." panggil Julian yang tiba tiba berada di belakangnya.


" Julian,,, kenapa kamu ada di sini?" tanya Agnes sambil menghapus air matanya.


" saya kemari mau menjemput Nona, Pak Alex meminta saya menjemput Nona Agnes." jawab Julian.


" tapi Julian, Aku tidak bisa. Aku sedang mencari Anakku." kata Agnes terisak.


" Anda tidak dapat menolaknya Nona. ikutlah dulu Nona, nanti Akan saya bantu mencarinya." kata Julian .


Agnes menganggukan kepalanya lalu masuk kedalam mobil . Julian mengendarai mobil itu dengan cepat menuju dimana Alex menunggu.


Mobil Julian memasuki sebuah halaman rumah yang lumayan luas dan di lihatnya sebuah rumah yang tidak begitu besar tapi sangatlah bagus menurut Agnes.


Julian memarkirkan mobilnya di halaman rumah itu dan merekapun turun dari mobil.


Julian mengajak Agnes masuk kedalam rumah itu, Agnes melihat sekeliling rumah, dindingnya ber cat putih bersih mengkilat dengan hiasan hiasan dinding yang sangat bagus bagus. " waahh,, rumah ini bagus sekali" gumam Agnes dalam hatinya.


Agnes menaiki tangga mengikuti Julian, ada 3 kamar di lantai atas dan ruang santai dengan Layar LED yang sangat besar. Dilihatnya Ica sedang membaca sebuah buku bersama Alex dengan tawa bahagianya.


Seketika Agnes berlari ke arah Ica dan memeluknya erat erat.


" Icaaa,,, Mama cari kamu dari tadi sayang." kata Agnes menangis sambil memeluk dan menciumi Anaknya itu.


" Mama jangan nangis,,, Ica baik baik saja." kata Ica menghapus air mata Agnes .


" iya sayang, Mama sudah menangis. sekarang jawab Mama , Kamu dari mana dan dengan siapa? " tanya Agnes


Ica melirik Alex. Alex faham dengan maksud Ica lalu Dia membantu menjelaskan kepada Agnes.


" Aku yang membawa Ica . Rumah ini adalah salah satu fasilitas yang Aku berikan untuk Asisten Pribadiku." kata Alex menatap Agnes.


Agnes menatap Ica lalu memeluknya kembali dengan erat.


" Mama takut sayang saat kamu tidak ada di rumah tadi. Melihatmu baik baik saja Mama sudah lega" bisik Agnes di telinga Ica lalu mencium pipinya.


" Pak Alex, bisa kita bicara sebentar?" tanya Agnes pada Alex.


" Ya, tentu. " kata Alex sambil melangkah turun menuju ruang tamu.


" Sebentar ya sayang." pamit Agnes pada Ica lalu menyusul Alex yang sudah duduk menunggunya di Sofa.


Perlahan Agnes mendekati Alex.


" ehmmm... Pak. Maaf, apakah ini sungguhan. Anda memberikan rumah ini sebagai fasilitas pekerja? juga ada pelayan dan Supir untuk kami." tanya Agnes terbata bata masih berdiri canggung.


" Ya, sungguh. Bukankah Kau sudah membaca perjanjian di kontrak kerja saat itu." jawab Alex sambil menengguk minuman yang di berikan pelayan.


" Ya , saya sudah membacanya, hanya saja tidak menyangkan akan secepat ini." jawab Agnes canggung.


" Duduklah..." perintah Alex pada Agnes yang sedari tadi berdiri.


Agnes pun duduk di sofa berhadapan dengan Alex.


" Menjadi Asistenku bukanlah pekerjaan yang mudah Agnes , itu akan menyita tenaga dan waktumu. Aku bukanlah orang yang tidak punya hati yang membiarkanmu meninggalkan Ica sendirian di rumah saat kau sedang bekerja." kata Alex menjelaskan, Dia tidak mau Agnes tahu jika sebenrnya niatnya adalah agar Agnes selalu berada dalam pandangannya. karna rumah yang di berikan untuk Agnes masih satu kawasan dengan rumahnya. Entah mengapa Alex melakukan itu, Dia sendiripun tidak tahu.


" Terimakasih Pak. Anda begitu baik. saya akan bekerja dengan baik." ucap Agnes tersenyum.


( Terimakasih Kakak like dan komennya. 😊🙏.


Selamat membaca 😊 )