Handsome Boss

Handsome Boss
Episode 56.



***


Setelah beberapa lama Alex menunggu Julian, Julian belum juga datang ke ruangannya. Alex berniat menghampiri Julian keruangannya, tetapi tiba tiba tubuhnya terasa lemas dan panas. Entah apa yang terjadi Alex mulai melepas jas dan juga kancing kancing bajunya, Dia merasakan hawa panas di seluruh tubuhnya.


Alex mengambil ponselnya mencoba menghubungu Julian, tetapi Julian tidak kunjung mengangkat panggilannya. Alex merasa kesal dan mencoba menghamipiri Julian dengan kondisinya yang kurang baik.


Alex melangkah menuju pintu ruangannya, saat Ia hendak membukanya, tiba tiba pintu itu terbuka dan seseorang masuk ke ruangan Alex.


" Hah ... kebetulan Lisa, tolong panggilkan Julian di ruangannya, dan panggilkan Dokter sekarang juga." Perintah Alex pada Lisa dengan nafas terengah engah. Rasanya ingin melangkah satu meter saja sangat sulit. Kakinya lemas bagai tidak bertulang.


Lisa tersenyum lalu menutup rapat rapat ruangan Alex. Dia melangkah mendekati Alex yang rubuh lalu memapahnya ke sofa.


" Terimakasih Lisa. Cepat panggilkan Dokter." Perintah Alex pada sekretarisnya itu.


" Baik Bos," ucap Lisa. Tetapi apa yang Lisa lakukan tidak sesuai dengan perintah Alex padanya. Lisa justru membuka satu persatu kancing kemejanya dengan senyuman di bibirnya.


" Apa yang Kau lakukan Lisa. Cepat panggil Julian!" Teriak Alex dengan nafas yang tersengal sengal bagaikan habis berlari ratusan meter dalam waktu beberapa menit saja. Ada apa ini? Alex benar bemar tidak mengerti dengan keadaannya saat ini.


" Bos, bagaimana jika saya yang mengobati Anda. Karena saat ini, bukan seorang Dokter yang Anda butuhkan," ujar Lisa mendekatkan tubuhnya pada Alex yang bersandar di sofa.


" Apa maksudmu Lisa? Kamu sengaja ...." Belum sempat Alex mengatakan sesuatu, sesaat fokusnya buyar karena jari jemari Lisa menyentuh dadanya dengan lembut.


Alex merasa bingung dengan yang Lisa lakukan. Diapun merasakan sesuatu yang tidak wajar pada dirinya. Dengan tubuhnya yang lemas ini, mendadak libidonya justru meningkat. Alex mencoba menahan hasratnya itu, hingga keringat dingin bercucuran di seluruh tubuhnya.


" Tuan, Anda tahu jika selama ini Aku sangat mengagumimu bukan, tetapi Anda selalu mengabaikanku, Aku sangat sedih. Jadi Aku terpaksa melakukan ini," ucap Lisa manja sambil mengecup leher Alex.


" Jadi hanya dengan cara ini lah Aku bisa memilikimu Bos," ujar Lisa duduk di pangkuan Alex dan terus memainkan tubuh Alex sesuka hatinya, Dia menari nari di pangkuan Alex membuat Alex mencoba memggoda kekukuhan Alex yang tidak melihatnya itu.


" Si***n. Pergi!" Teriak Alex mendorong Lisa sekuat tenaga hingga Lisa terjatuh, kepalanya mengeluarkan darah karena saat di dorong Alex kepala Lisa membentur meja yang berada tepat di depan Alex duduk.


Saat itu juga pintu ruangan Alex terbuka, melihat ada yang tidak beres di ruangan Bosnya, Julian berlari masuk menghampiri Alex.


" Tuan Alex, ada apa ini. Apa Anda baik baik saja," kata Julian panik melihat Lisa yang meringis kesakitan dengan pakaian yang terbuka dan Alex yang duduk lemas di sofa, wajahnya terlihat pucat saat itu.


" Kemana saja Kau Julian! Cepat papah Aku ke kamar mandi, dan bawa wanita si***n itu keluar dari sini," Ujar Alex kesal, aura wajahnya penuh kebencian saat menatap Lisa.


Julian segera membawa Alex ke kamar mandi ruang pribadinya, Dia duduk di bawah shower dengan pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Shower yang mengeluarkan rintikan rintikan air itu membasahinya dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Alex duduk lemas di rintikan rintikan air yang dingin itu hingga panas yang Ia rasakan berkurang.


" Benar benar kurangajar wanita si***n itu, hampir saja Aku kehilangan kendali. Bre****k." Gumam Alex dengan kesal. Dia benci wanita seperti itu, benar benar benci.


Alex tidak habis fikir jika Lisa akan melakukan hal rendahan seperti itu. Saat ini tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan sekretaris itu, Alex akan benar benar memecatnya. Kerena, apa yang di lakukan Lisa sudah sangat kelewatan.


Usai memapah Alex ke kamar mandi, Julian memanggil Scurity untuk membawa Lisa keluar dari ruangan Alex untuk di bawa ke bagian keamanan. Julian benar benar jijik melihat sosok Lisa. Dari awal Dia sudah menduga jika Lisa bukanlah gadis polos yang sepert orang lain lihat.


Jika saja tadi Dia tidak melihat ponselnya, mungkin saja Lisa sudah melakukan rencananya dengan lancar. Rasa kantuk yang sangat itu, membuat Julian ketiduran hingga tidak tahu jika Alex menghubunginya berkali kali. Ketika terbangun, Dia segera berlari ke ruangan Alex.


" Haihh ... bisa bisa bonus bulananku di potong nih," dengus Julian sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal itu.


Malam itu benar benar malam yang paling menyebalkan bagi Alex. Dia merasa muak dengan wanita wanita yang berkelakuan binal seperti itu. Dia menghargai seorang wanita, karena Dia sendiripun lahir dari rahim seorang wanita, keturunan keturunannyapun akan lahir dari seorang wanita. Bagaimana bisa yang benar benar seorang wanita justru tidak dapat menghargai dirinya sendiri. Alex tidak habis fikir akan hal itu.


Mobil Alex melaju dengan cepat menuju rumahnya, jalan jalan Kota terlihat sudah sangat sepi malam ini, membuat Alex semakin cepat melajukan mobilnya hingga akhirnya Ia sampai di gerbang yang membentemgi rumah besarnya itu. Seorang scurity segera membukakan gerbang itu saat melihat mobil Tuannya datang.


Setelah sampai garasi, Alex turun lalu melangkah menuju dalam rumahnya. Terlihat sebagian pelayannya ada yang masih terjaga malam itu. Entah apa yang sedang mereka lakukan, Alex tidak memperdulikannya. Alex tidak begitu mengekang kegiatan pribadi para pelayannya. Asalkan tidak menyalahi aturan dan tidak mengganggu, Alex masih membiarkannya saja. Mereka juga manusia yang butuh hiburan dalam hidupnya.


Setelah sampai depan kamarnya, dengan perlahan Alex membuka pintu kamarnya, lalu melangkah masuk dengan hati hati, Dia tidak mau mengganggu tidur Agnes. Dia menatap Agnes yang terlihat nyenyak dalam tidurnya.


Direbahkanlah tubuhnya lalu dengan erat Alex memeluk Agnes dari belakang, Alex merasa bersalah dengan apa yang di alaminya di kantor. Alex merasa risih tubuhnya di sentuh wanita lain, Alex benar benar merasa kesal dan marah dengan kejadian itu. Alex membelai lembut rambtr Agnes, di kecupnya rambut Agnes yang harum. Aroma tubuh Agnes sangat menenangkan dirinya hingga akhirnya Alex terlelap dalam tidurnya. Tempat yang paling nyaman baginya adalah di rumah, bersama Istri yang sangat Ia cintai yaitu Agnes.


.


.


Udara malam yang dingin begitu menusuk tulang. Tiara duduk sendirian di sebuah taman, menatap langit malam yang terlihat tidak berbintang. Dia berpamitan kepada Dion, jika Ia sedang bersama temannya untuk beberapa hari.


Tiara merasa bingung, apa yang akan Dia katakan kepada Dion jika melihat kondisinya yang seperti sekarang. Tiara tidak tahu harus kemana, Dia sudah tidak memiliki keluarga saat ini, hanya Dion dan orang tuanya lah yang Tiara miliki saat ini. Tetapi apakah Tiara juga akan kehilangan mereka jika mereka mengetahui kenyataan ini.


Tiara menundukan wajahnya, saat ini hanya linangan air matalah yang bisa membuatnya tenang.


Saat Tiara sedang merenung sendirian, tiba tiba terdengar suara langkah kaki seseorang yang mendekatinya.


Orang itu berlutut di hadapan Tiara lalu memberikan sebuah saputangan kepada Tiara. Tiara mendongakan wajahnya, menatap laki laki asing di depannya itu.


" Siapa Kamu?" Tanya Tiara pada laki laki itu.


Tidak menjawab pertanyaan Tiara, laki laki itu justru duduk di sebelah Tiara, laki laki itu memang tidak terlihat jahat, tetapi Tiara hanya merasa was was dengannya. Tiara merasa belum pernah bertemu dengan laki laki itu sebelumnya.


Dia kembali memberikan saputangannya kepada Tiara. Tiara menerima sapu tangan itu dan menggenggam saputangan itu.


" Pakai saja! Tenang, Aku tidak akan mencelakaimu Nona," kata laki laki itu.


Tiara hanyan terdiam, tidak menghiraukan apa yang di katakan laki laki itu. Fikirannya sangat kalut saat itu, tidak ada ruang untuk memikirkan hal yang lain.


Tiara bangkit dari duduknya, tetapi karena seharian perutnya tidak terisi, tubuhnya menjadi lemas dan tiba tiba semuanya menjadi gela, akhirnya pingsan di hadapan laki laki asing itu.


Tidak berfikir panjang, laki laki itu pun segera menolong Tiara lalu membawanya ke rumah sakit.


Sabrina yang saat itu sedang berjaga, segera membantu melakukan pemeriksaan terhadap Tiara. Tiara terlihat pucat dan sangat kurus badannya. Entah apa yang terjadi pada Tiara sebenarnya, Sabrina tidak dapat mengambil kesimpulan, karena pada dasarnya Tiara sangat tertutup dengan masalah masalahnya.


" Jadi Anda suami dari Nyonya Tiara?" Tanya Sabrina pada laki laki yang membawa Tiara ke Rumah sakit.


" Maaf, Saya bukan Suaminya. Saya hanya menolongnya saja, dan ini ponsel nona itu. Siapa tau pihak Rumah Sakit ingin menghubunginya." Ucap laki laki itu sambil memberika ponsel Tiara yang terjatuh kepada Sabrina.


" Baiklah Tuan, terimakasih atas bantuan Anda. Untuk mengisi data, siapa nama Anda?" Tanya Sabrina.


" Saya Justin," jawab laki laki itu singkat.


" Ya, sudah cukup. Sekali lagi terimakasih, Kami akan menghubungi keluarganya." Kata Sabrina.


" Baiklah, saya permisi," ucap Justin keluar dari ruangan Sabrina.


Setelah menghubungi pihak keluarga dari Tiara, Sabrinapun melangkah menuju ruangan dimana Tiara di rawat. Tidak berselang lama Dion datang lalu masuk ke ruangan Tiara dan bertemu dengan Sabrina. Tiara masih tergeletak di ranjangnya, Dia belum sadarkan diri sejak di bawa ke Rumah Sakit.