Handsome Boss

Handsome Boss
Episode 40.



***


FLAS BACK MASA LALU JUSTIN 🖤


Justin dan Siena adalah sahabat saat mereka berada di Uneversitas.


Selama menjadi sahabat Siena diam diam Justin menaruh hati pada Siena, selama itu juga menjaga Siena, melindunginya dari apapun.


Hanya saja selama itu Siena menganggap Justin sekedar sahabat dan Kakak baginya. Itulah yang membuat Justin tidak mengungkapkan perasaannya pada Siena.


Hingga suatu hari Siena mempunyai Kekasih yaitu Alex, sejak saat itu mereka menjadi semakin jauh dan Siena membatasi diri dari sahabat sahabatnya.


Suatu hari Justin mendatangi Alex, Dia ingin memastikan apakah Alex benar benar mencintai Siena ataukah hanya mempermainkannya saja. Ternyata Alex serius pada Siena bahkan akan menikahi Siena, mengetahui hal itu akhirnya Justi mengalah dan memilih mundur mengejar Siena, hingga muaibah itu terjadi yang membuatnya kesal dengan Alex.


" Siena, nanti kita makan siang bersama bagaimana," ajak Justin.


" Ehm, maaf Justin Aku sudah ada janji dengan Alex, lain waktu pasti bisa," jawab Siena mengatupkan kedua tangannya.


" Haiss, baiklah, Kau hati hati nanti ya," ucap Justin sambil mengusap ujung kepala Siena.


Siena hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada Justin.


Siapa sangka senyuman dan lambaian tangan Siena saat itu adalah untuk yang terakhir kalinya.


Karena setelah Siena keluar dari kampus Dia tewas tertembak saat hendak menghampiri Alex.


" Kau bohong Alex, Kau berjanji akan melindunginya tetapi apa hah!" Teriak Justin melemparan satu pukulan di wajah Alex.


Alex hanya terdiam, Dia sendiripun masih terpukul dengan kepergian Siena, Dia tidak menyangka ada seseorang yang menginginkan nyawanya.


Justin merasa sangat kecewa pada Alex yangbtidak dapat melindungi Siena dengan baik.


" Seharusnya Aku tidak mempercayakan Siena padamu Alex." Kata Justin lalu meninggalkan Alex yang masih berdiri di depan kuburan Siena.


.


.


Sejenak Alex termenung mengingat kata kata Justin saat di Rumah Sakit, Dia berfikir mungkin saja itu yang membuat Justin berkata seperti itu.


Kata kata Justin terus terngiang ngiang di telinganya,


" Kamu melamun Sayang, kenapa?" Tanya Agnes lembut pada Suaminya.


" Tidak apa apa Honey," jawab Alex menarik Agnes ke pangkuannya.


Agnes tersenyum mengecup pipi Suaminya mesra.


" Honey, apakah Kau bahagia hidup bersamaku," ucap Alex pada Agnes sambil memeluk pinggang dan menyandarkan dagunya di bahu Agnes.


" Tentu saja Aku bahagaia, sangat bahagia, mengapa Kamu bertanya seperti itu Sayang?" Tanya Agnes melingkarkan tangannya di leher Alex.


" Aku takut Kau tidak bahagia karena Aku tidak bisa menjagamu dengan baik Honey, andai saja saat itu Aku menjagamu dengan baik, Kau pasti tidak akan mengalami penculikan itu," ujar Alex menatap dalam wajah Istrinya. Dia merasa sangat bersalah atas musibah yang Agnes lalui.


" Apa yang Kamu katakan, Kau sudah menjagaku dengan baik, itu hanya musibah yang kita sendiri juga tidak tahu kapan datangnya, Aku sangat mencintamu Alex, mencintaimu dalam keadan apapun," jawab Agnes.


Alex tersenyum lalu memeluk Istrinya dengan erat, Dia merasa tenang setidaknya Dia sudah berusaha menjaga Keluarganya dengan baik. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan lebih menjaga Agnes dan Keluarga kecil nya lebih baik lagi.


Alex mengecup Agnes wajah Agnes berkali kali, mereka terlihat mesra saling berbincang, saling bercanda satu sama lain.


Sebelum kembali ke Indonesia Keluarga besar Alex dan Agnes mengadakan makan malam bersama.


Semua Keluarga besar berkumpul penuh kebahagiaan di pesta kecil ini. Kini lengkap sudah Keluarga besar Agnes dan Alex, tidak ada yang menyangka jika Agnes yang dulunya di hina dan di injak injak harga dirinya ternyata seoarang putri dari Keluarga bangsawan.


.


.


Agnes melangkah menghampiri Alex lalu memeluknya dari belakang, Dia sangat mengerti perasaan Alex. Tidak mudah baginya untuk meninggalkan seorang Ayah yang sudah merawatnya sejak kecil, seorang Ayah yang selalu ada untuknya.


Alex mengusap usap punggung Agnes dengan lembut, bukan saatnya Dia untuk bersedih, di sisinya ada wanita yang harus dia bahagiakan.


Alex menggengan tangan Agnes lalu mengecupnya, Agnes tersenyum dengan terus memeluk Suami yang sangat di cintainya itu.


Setelah selesai merapikan barang barangnya Agnes dan Alex pun turun menghampiri Keluarganya yang sudah menunggu mereka di bawah.


" Bagaimana Alex, apakah semuanya sudah beres?" Tanya Yohans.


" Ya semua sudah beres dan kami tinggal berangkat saja," jawab Alex.


Alex melangkah maju mendekati Yohans lalu memeluknya dengan erat.


" Papi jaga diri baik baik, Aku akan sering sering kemari untuk mengujungi Papi," ucap Alex pada Ayahnya.


" Kamu tenang saja, Papi akan selalu baik baik saja," jawab Yohans sambil menepuk bahu Alex dengan senyuman di bibirnya.


Yohans juga memberikan pelukan hangatnya untuk Agnes, menantu yang paling di sayanginya itu.


Clara dan Yarry pun berada di sana untuk mengucapkan salam perpisahan pada Putrinya.


Clara terlihat sedih, baru saja mereka bertemu kini harus berpisah kembali.


Clara dan Yarry dengan bersamaan memeluk buah hati mereka dengan hangat, Agnes membalas pelukan orang tuanya dengan senyuman di bibirnya.


" Kalian jaga diri baik baik, Kami akan selalu menunggu kedatangan Kalian anak anaku," ucap Clara pada Alex dan Agnes.


" Baik Ma. Semuanya kami berangkat dulu ya, bye bye...," ujar Agnes sambil memasuki mobil yang sudah menunggunya sedari tadi.


Alex, Agnes, dan Ica melambaikan tangannya kepada Keluarganya. Berat rasanya jauh dari mereka semua.


Mobil melaju dengan cepat membawa Alex dan Keluarga kecilnya menuju Bandara.


Setelah lama menunggu, akhirnya Pesawat yang akan bawa merekapun datang, Alex melangkah memasuki cabin dengan terus menggandeng tangan Agnes sedangkan Ica sudah masuk terlebih dahulu bersama Mili.


Saat semua penumpang telah masuk ke Cabin, akhirnya Pesawat yang membawa Akex dan Agnes lepas landas juga meninggalkan Amerika.


.


.


.


Yohans duduk terdiam di Ruang bacanya, sesaat setelah Alex dan Keluarganya berangkat, Clara dan Yarry juga undur diri.


Rumah yang besar itu terlihat sepi dan terasa sunyi sejak mereka semua kembali ke Indonesia.


Yohans menatap sebuah bingkai foto di tangannya, Dia mengusap dengan lembut gambar yang berada di bingkai itu.


" Alecia, seandainya Kau ada di sini, pasti Aku tidak akan kesepian seperti ini, mengapa kau tega meninggalkan Aku begini Alecia," gumam Yohans.


Di tempelkannya bingkai foto itu di dadanya, terasa nyeri dan sakit. Tidak bisa di pungkiri Yohans sangat sangat merindukan mendiang Istrinya Alecia. Dengan air mata yang mengalir dengan sendirinya, tanpa terasa Yohans tertidur di sofa Ruang bacanya.


Tak di duga Alecia mendatangi Yohans dalam mimpinya, Dia tersenyum memeluk Suaminya dan mengecup kening Yohans dengan lembut.


" Tahu kah Kau Alecia, Aku ingin tetap tertidur agar Aku bisa selalu bersamamu seperti ini," ucap Yohans dalam mimpinya. Alecia hanya tersenyum lembut dan menggandeng tangan Yohans menuju taman yang indah.