
" Sayang ayok, Kenapa malah bengong?" Ucap Gus Sayhan, melihat istrinya yang terus menatap ke arah depan dengan tatapan kosong.
" Eh iya, ayok" Zahra bangun dari tempat duduknya dan menerima uluran tangan suaminya.
Dengan senang hati Gus Sayhan menggandeng tangan istrinya, dan mereka mulai melangkahkan kakinya untuk keliling pesantren.
Pagi hari memang waktu yang sangat cocok berkeliling, udara yang masih segar membuat siapa saja sangat nyaman untuk menghirupnya.
" Mas, kenapa di sini sangat banyak tumbuhan hijau?" Tanya Zahra. Banyak sekali pepohonan yang sangat rindang yang mengelilingi pesantren ini, dan akan membuat siapa saja akan merasa nyaman berada disini.
" Karena Abi ingin semua santri di sini nyaman, Seperti mas ke kamu, mas sangat nyaman berada di dekatmu "
" Aiiiss Suamiku yang satu ini ya "
Gus Sayhan menghentikan langkahnya dan moleh melihat istrinya " Memangnya ada berapa suami mu sayang ?"
" Ha? maksudnya?"
" Ya tadi kan kamu bilang, suamiku ya satu ini, artinya kamu punya Suami lain kan "
" Astaga, hanya kamu seorang yang menjadi suamiku, dan tak akan terganti sampai kapanpun"
" Bener kah ?"
" Iya, kecuali " Zahra menggantung ucapnya dan membuat sang suami manatap sang istri intensif.
" Kecuali?" Tanya Gus Sayhan.
" Kalau mas mengkhianati cinta kita, mungkin aku tak kan bisa memaafkan itu semua, Karena sulit bagi ku menyembuhkan ulak yang tergores karena kehilangan kepercayaan"
" Sayang, kenapa kamu berbicara seperti itu?, Percayalah mas tidak akan pernah mengkhianati cinta kita"
" Aku hanya menghawatirkan itu aja mas, Jangan serius itu, Aku percaya pada mu mas " Jawab Zahra tersenyum ke arah Gus Sayhan.
Mereka terus melangkah kakinya, dan Banyak para santri yang berlalu Lang, mereka menundukkan kepalanya untuk Kedua anak dan menantu pemilik pesantren ini sebagai bentuk tanda hormat mereka.
***
" Zahra sama Sayhan mana ?" Tanya ummi siti, Karena tidak melihat anak dan menantu nya ikut bergabung di meja makan untuk sarapan.
" Ya, tidak biasanya Zahra belum keluar jam segini " Heran Maryam.
" Sudahlah, mungkin mereka Masi ada urusan " Timpal Ibrahim.
" iya bener, kayak kalian gak pernah merasakan itu "
" Mas!!" Teriak dua wanita itu yang melihat suami mereka tertawa tanpa beban.
Sedangkan di luar terlihat Gus Sayhan dan Zahra baru memasuki halaman ndalem. Mereka langsung mengayunkan kakinya menuju ke ruang makan.
" Assalamualaikum warahmatullahi " Ucap keduanya.
" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh " Jawab keempat paruh baya itu.
" Lho nak, kalsın dari mana ?" Tanya Maryam, melihat penampilan anak dan menantu.
" Tadi Zahra sama mas Sayhan habis jalan-jalan pagi bunda, dan beli ini " Jawab Zahra memperlihatkan keresek berisi jajanan pasar itu.
" Oowalah tak kira masih dikamar" Timpal Ibrahim dengan tawa geli.
" Kamu ininya, udah tua him, perbanyak istighfar"
" ayok nak duduk, jangan dengerin apa yang mereka bilang " kata ummi siti.
Zahra dan Gus sayhan pun mulai memakan sarapannya, Gus Sayhan tak banyak bicara, karena ia tak mau kejadian kemarin malam terjadi lagi.
" Mas minta tolong ambilin nasi goreng itu " Gus Sayhan pun dengan senang hati mengambil apa yang istrinya minta.
" ini sayang "
" Terimakasih mas "
Gus Sayhan sama sekali tidak risih memanggil istrinya dengan sebutan sayang di depan orang tuanya dan mertuanya. Begitu pun dengan kedua orang tuanya dan mertunya, mereka sangat senang melihat anak mereka bisa saling menerima satu sama lain.
Ya, walaupun di awal pernikahan mereka tidak seindah sekarang.
***
Terimakasih sudah mampir 🤍
Jangan lupa like vote and comments 🤍
Maaf jika tidak sesuai bayangan kalian 🙏