Gus Sayhan My Husband

Gus Sayhan My Husband
21



...~ happy reading ~...


Cahaya matahari menembus ke dalam kamar bernuansa putih itu. matahari pagi menyinari dunia.


Zahra duduk di pinggir kasur dengan tatapan kosong dan mata yang sedikit bengkak.


Gus Sayhan terlihat sudah rapi dengan pakaiannya mengajar pagi ini. Ia mengambil kitab dan buku di atas meja. Tanpa melirik ke arah istrinya, ia keluar kamar Tampa mengeluarkan sepatah kata pun. Berpamitan pada istrinya saja tidak.


Zahra yang melihat sang suami keluar tanpa berpamitan, Air mata keluar tanpa izin. air mata itu kembali tumpah, Zahra menundukkan pandangannya dan menutup matanya.


" Kehadiran ku tidak di anggap di hidupnya, Aku sadari diri, aku tidak pantas untuk bersanding dengannya."


Entah berapa lama Zahra menangis, air matanya yang membasahi pipinya pun sudah mulai kering.


Suara deringan ponsel terdengar jelas ditelinga Zahra. Tertulis nama " bunda ". Zahra langsung mengangkat sambungan telpon.


" Assalamualaikum bunda"


📞 " Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh"


" Bunda apa kabar?"


📞 " Alhamdulillah baik nak, kamu lagi sakit nak, suaramu terdengar sedang flu "


Zahra terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan sang bunda.


" iya Bun, Zahra sedikit flu cuaca di sini berbeda Bun, Zahra masih beradaptasi dengan cuaca disini. "


📞 " Oo gitu nak, kamu baik-baik disana ya nak turun kata suamimu. bunda tutup dulunya nak, ada tamu


nanti kita lanjut lagi."


" Iya bunda, assalamualaikum "


📞 " waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh "


Sambungan telpon terputus. Zahra mengingat senyum keluarganya ketika di hari pernikahannya kemarin. Ada rasa bahagia mengingat senyum mereka.


****


Jam menunjukkan jam makan siang. Zahra sudah selsai menghidangkan makan siang bersama mertuanya.


Tak lama kyai Ibrahim pun datang ke meja makan. Zahra melihat ke arah belakang sang mertua mencari keberadaan sang suami.


" Sayhan mana mas, kalian tumben gak balik bersama ?" Tanya ummi


" Katanya masih ada urusan di pondok" ucap Abi


" Ya sudah kita makan aja dulu, nanti Sayhan menyusul" ucap ummi


" Ummi boleh gak kalau Zahra membawakan Gus Sayhan makan siang ke pondok?" ujar Zahra.


" Boleh nak, tapi kamu makan dulunya " suruh ummi.


" Nanti Zahra makan siang sama Gus Sayhan aja ummi "


" Tapi nak ka-"


" Nggak papa nak, maklum saja Siti, seperti kamu gak ingat kita dulu "


" Mas!!! "


Zahra tersenyum melihat ke dekatan mertuanya ini, Mengingatkan kepada kedua orang tuanya. Selesai menyiapkan bekal untuk suaminya Zahra langsung berpamitan kepada mertuanya.


" Ummi Zahra berangkat dulu ya" Pamit Zahra


" Iya nak, nanti kamu tanya aja di mana ruangan suami mu ya nak"


" Iya ummi, berangkat dulu, assalamualaikum"


" waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, hati hati nak"


Setelah mengalami tangan mertuanya Zahra pun mulai melangkahkan kakinya menuju pondok.


Setelah bertanya di beberapa santri akhirnya Zahra sampai di ruangan Gus Sayhan.


Sebelum Zahra mengetuk pintu terdengar suara tawa dari dalam ruangan itu. Suara laki laki dan perempuan.


Zahra menurunkan tangannya yang tadinya terangkat ingin mengetuk pintu tapi di urungkan.


Suara laki laki itu jelas milik Gus Sayhan tapi entah siapa pemilik Suara perempuan itu. Zahra mengurungkan niatnya untuk memberikan makan siang ini secara langsung.


Walaupun pernikahan ini Zahra lakukan dengan terpaksa tapi ia menerima dengan lapang dada. Memeng bener adanya kalau dirinya tidak mencintai suaminya. tapi ia tidak akan membenarkan perselingkuhan di dalam pernikahan nya.


Zahra menjauh dari ruangan itu. Suara tawa suaminya yang gak pernah ia dengar setelah menikah, dan untuk pertama kalinya ia mendengar tawa suaminya bersama wanita lain bukan dengan dirinya.


...🍒🍒...


Haii🖤


Happy reading guys 🖤


Jangan lupa like, vote and comment:V🖤


🍒 terimakasih sudah mampir 🤍