
...~ ***happy reading ~...
Semoga hari kalian penuh warna 🤍🕊️***
Sesampainya di apartemen, tidak ada yang membuka suara, baik Zahra dan Gus Sayhan. mereka masuk dengan hening, hanya ada suara pintu terbuka saja.
Gus Sayhan langsung menuju kamar tanpa berniat berbicara bersama sang istri. Zahra memilih untuk duduk di ruang tengah untuk menenangkan dirinya.
Tak lama kemudian, terdengar suara bel dari luar. Zahra yang masih di posisi di ruang tengah pun, langsung membuka pintu, masih dengan pakaian dan cadar ňya tadi.
" Maaf, cari siapa ?" tanya Zahra karena tidak mengenal laki laki yang ada di depannya ini.
" Saya, Faisal, teman Gus Sayhan, ngajar di pondok. Gus Sayhan nya ada ?" kata pria itu memperkenal dirinya.
" oo sebentar saya panggil kan dulu. " Zahra menutup pintu dan membiarkan ustadz Faisal di luar. bukan apa, tapi di apartemen ini tidak ada orang asing yang boleh masuk kecuali keluarga saja.
Sesampainya di kamar Zahra melihat suaminya sudah berganti pakaian dan rapi. " Mas, di depan ada orang, nama nya Faisal " Ucap Zahra kepada suaminya.
" Terimakasih " Setalah mengatakan itu Gus Sayhan pergi tanpa sepatah kata pun.
Zahra hanya bisa pasrah, melihat perubahan suaminya. Tapi mau Gimana? Mau minta maaf tapi sang suami sudah meninggal kan kamar ini. Ya, jalan satu satunya itu, menunggu sang suami kembali lagi.
Tapi Sudah satu jam berlalu, suaminya tak kunjung kembali. Akhirnya Zahra pun memutuskan untuk menyusul suaminya itu.
Tidak ada orang di ruang tengah, kemana pergi nya suaminya ?. Apa segitu marahnya kamu mas ? kami pergi tanpa berpamitan.
***
klek
Pintu kamar terbuka, Gus Sayhan lah yang membuka pintu kamar. Zahra yang mendengar itu pun menengok ke arah suaminya.
Zahra hanya diam di tempat. ia tahu kalau dirinya yang salah saat ini. tapi suaminya juga salah disini, suaminya telah melewatkan waktu sholat berjamaah mereka, rutinitas mereka.
Zahra ingin marah, tapi dia juga salah disini. dia hanya bisa diam dan sembari menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.
Pintu kamar mandi terbuka, Gus Sayhan keluar dari kamar mandi, dan Zahra langsung mengalihkan wajahnya kerena Gus Sayhan hanya memakai handuk saja.
Hening...
Gus Sayhan telah rapi dengan pakaian tidurnya, dan Setelah itu, ia membaringkan tubuhnya di ranjang. Mereka di kelelahan. Batin Zahra.
Zahra menutup buku nya, merapikan, dan menaruh bukunya pada tempatnya. setelah itu Zahra naik ke atas ranjang.
Ia tak langsung membaringkan tubuhnya, ia melirik ke arah suaminya. " Mas Sayhan sudah makan ?" tanya Zahra perhatian.
Tapi ditunggu tunggu tidak ada jawaban dari Gus Sayhan, padahal suara Zahra sangat jelas.
" Mas Capek ya? Biar aku pijit ya ?" Baru saja Zahra ingin menyentuh kali nya, namun segera ia interupsi.
" Nggak usah!!" Sentak nya dengan nada yang sedikit tinggi dari bicaranya seperti biasa.
Zahra yang mendapat bentakan pun tidak bisa meredakan emosi nya lagi. " Kamu kenapa sih mas? Ok. aku yang salah disini, tapi aku punya alasan untuk semua itu. " Tanya Zahra, dengan nada tinggi.
" Tapi aku mohon mas jangan diami aku Kanya gini, tolong beri tahu aku harus apa? biar kamu tidak marah. " air mata itu keluar tanpa izin.
" Kenapa kamu diam saja mas? Jawab aku " teriak Zahra.
" Turunkan nada suara mu!! "
****