Gus Sayhan My Husband

Gus Sayhan My Husband
13



...~ happy reading ~...


Sesampainya dikamar, Zahra menutup pintu kamarnya. Zahra merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya. pipinya sudah basah dengan air mata.


Zahra menatap langit langit kamarnya. Dia membayangkan apakah dia bisa menjadi seorang istri yang baik? disaat hatinya masih dalam luka seperti ini.


Jujur Zahra belum siap untuk menikah. Memang apa yang kita pikirkan kadang tak pernah sejalan dengan takdir Allah SWT. tapi Allah tahu yang terbaik untuk kita.


lama kelamaan Zahra pun terlelap di atas kasurnya. Dengan air matanya yang membasahi pipinya..


Jam tiga dini hari Zahra terbangun dari tidurnya. ia masuk ke kamar mandi dan melaksanakan sholat tahajud.


Selsai melaksanakan sholat Zahra tidak beranjak dari tempatnya ia mengangkat kedua tangannya ke atas ..


" Ya Allah ya tuhan ku, yang maha pengasih lagi maha penyayang, ku serahkan semua urusan ku kepada mu ya Robb, ya allah, jika memang ini yang engkau takdirkan di lauhul Mahfudz adalah dia yang di jodohkan dengan ku, maka dengan izin mu ya Allah hamba menerima semua jalan takdirku ini.


Rabbanaa, atinaaa fid dunyaa Hasanah, wa fil aakhirati Hasanah, wa qinaa 'adzaabannaar.


Aamiin ya rabbal Al-min..


setalah berdoa Zahra pun menjatuhkannya membaca Al-Qur'an sembari menunggu azan subuh....


****


Pagi telah tiba, burung burung berkicau dengan merdu. Angin pagi ini masih bisa ia rasa kan di tubuhnya.


Zahra memiliki pergi ke danau pagi sekali. Di danau ia bebas menceritakan keluh kesahnya. tanpa ada kata yang akan membuat Zahra kecewa lagi.


Matahari telah menyinari bumi, pagi yang sangat cerah. Sekarang sudah banyak santri yang terlihat berlalu lalang, di sekitar danau.


Zahra memutuskan untuk kembali ke ndalem. Dan dia juga sudah cukup tenang, dan sudah siap dengan kejutan selanjut.


Sesampainya di ndalem Zahra langsung masuk, dan ayah dan sang kakek sedang duduk di ruang tamu ditemani dengan secangkir kopi.


" Habis dari mana nak?" tanya kakek Zaki lembut.


" Zahra habis dari danau kek" Jawab Zahra menghindari kontak mata.


" Duduklah bersama kami di sini" ucap kakek Zaki.


" Ah tidak kek, Zahra akan membatu bunda untuk membuat sarapan pagi" tolak Zahra sopan.


" Pergilah nak" keduanya melihat pergi anak gadis mereka.


Sesampainya di dapur Zahra melihat sang bunda sibuk dengan alat masaknya. Dan sedangkan nenek Ainun menyiapkan beberapa makan di meja makan.


" Ada yang bisa di bantu?" tanya Zahra.


" Kamu disini nak, habis dari mana ?" tanya nenek Ainun.


" Ya udah sini duduk sama nenek"


Zahra menuruti kata sang nenek....


" Nak soal yang semalam itu, nenek mohon kamu mau ya menerimanya. " ucap nenek Ainun. terkesan memaksa.


" Tapi nek, bagaimana kalau dia jahat" Jawab Zahra, asal.


" Tidak nak, nenek mengenalnya dan dia juga anak dari sahabat ayah mu nak"


" Tapi ne-"


" Maunya nak" bujuk nenek Ainun.


apa semua keluarganya seperti ini. kenapa


mereka sangat egois. dan kenapa nenek bersikeras menyuruhnya menerima perjodohan ini.


Zahra menatap wajah sang nenek. ia bisa melihat mata nenek Ainun penuh dengan harapan dan ada kebahagiaan di sana juga. .


" Baiklah, Zahra akan menerima perjodohan " Jawab Zahra final. mungkin ini keputusan yang baik. dan dengan cara ini ia berbakti kepada keluarganya.


" Terimakasih nak" Nenek Ainun memeluk Zahra dengan kasih sayang.


" Ehm.... " deheman kakek Zaki mengejutkan Zahra dan nenek Ainun.


" Mas kamu ganggu momen kami saja" Ucap Nenek Ainun.


" Masak sih aku ganggu "


" Sangat menggangu malah"


" Sudahlah Ainun, sekarang kita sarapan dulu, nak panggil ayah mu, untuk sarapan. " .


" Baik kek"


...🍒🍒...


Haii🖤


Happy reading guys 🖤


Jangan lupa like, vote and comment:V🖤


🍒 terimakasih sudah mampir 🤍