Gus Sayhan My Husband

Gus Sayhan My Husband
22



...~ happy reading ~...


Sebulan telah berlalu. Semenjak ke itu Zahra tidak pernah kepo tentang Suaminya. Biarkan pernikahan ini mengalir seperti air.


Dan selama satu bulan ini juga sikap Gus Sayhan terhadap Zahra itu sangat cuek dan dingin.


Kegiatan Zahra di pondok cuma berdiam diri di ndalem, ketika ia di ajak untuk pergi ke pengajian oleh mertuanya maka dia akan itu.


Seperti itu yang Zahra lakukan, Walaupun sudah terbilang cukup lama untuk mengenal lingkungan pesantren ini tapi Zahra tidak mengenal ustadz atau pun ustadzah yang mengajar disini.


Ia memang kadang berinteraksi dengan mereka tapi Zahra tidak menanyakan nama mereka. Zahra juga menjadi pribadi yang tertutup, dan terkesan takut untuk mengenal orang baru.


Satu Minggu lagi Zahra akan masuk kuliah, Zahra pernah membicarakan ini kepada suaminya, tapi respon yang ia dapat dari suaminya terkesan dingin dan itu membuat Zahra ragu untuk membahasnya kembali.


Tapi mau gimana lagi ia harus membahas ini semua, ini penting untuk dirinya dan anaknya kelak. ia akan menjadi seorang ibu dan ibu adalah guru atau madrasah pertama bagi seorang anak.


***


" Saya mau bicara" Ucap Zahra gugup dan sedikit berat.


Gus Sayhan duduk di kursi yang ada di depan komputer dan ketika mendengar Zahra bicara tadi ia melihatnya sebentar dan kembali fokus ke komputernya.


" Bicara lah" ucap Gus Sayhan dingin tanpa menatap Zahra.


Zahra yang melihat itu cuma bersikap biasa saja karena sudah biasa menghadapi sikap suaminya seperti ini.


" Seminggu lagi saya masuk kuliah" Zahra menjeda ucapannya " Saya harus balik ke rumah orang tua saya, agar saya bisa melanjutkan kuliah saya. dan saya minta izin untuk pulang ke rumah orang tua saya" Ucap Zahra.


Mendengar kalimat terakhir yang di lontarkan Zahra membuat Gus Sayhan memejamkan matanya. terdengar begitu sakit teramat dalam.


Gus Sayhan terdiam.


" Saya akan ikut bersama kamu pulang" ucap Gus Sayhan. " kita akan tinggal di apartemen yang sudah saya siapkan" tuturnya lagi, dingin.


Tak ada jawaban dari Zahra. jujur ia ingin tinggal di rumah orang tuanya saja. tapi sudah lah tak yang terpenting pendidikannya sekarang. dan tak mau berdebat.


Hening.....


" Assalamu'alaikum Ra"


" Wa- Waalaikumsalam Yu" Jawab Zahra gugup dan melirik ke arah Gus Sayhan.


" Eh bentar, ini bukan Kanya kamar kamu deh Ra "


deg


" E-emang bukan kamar aku Ra, kan aku masih di pondok, jadi kamarnya beda" Jelas Zahra gugup, dan sakalฤฑ kali melirik Gus Sayhan.


" Gak, ini bukan kamar kamu, aku pernah lihat kamar kamu di pondok, dan ini itu beda sama kamar kamu, jujur sama aku kamu lagi dimana " ujar ayu panjang lebar.


" Hehe aku lagi rumah sepupu aku" Bohong Zahra.


Entah apa yang Zahra bicara sama ayu, dan sampai sambungan telpon itu terputus. Gus Sayhan hanya menyimak dan sibuk dengan komputernya.


Jam sudah menunjukan jam sebelas dan Gus Sayhan baru selsai dengan komputernya. ia melirik sang istri dan mendekatinya.


" Bahkan pernikahan kita saja kamu sembunyikan dari orang terdekat mu" ucap Gus Sayhan kecewa.


" Saya akan menunggu, sampai kalau bisa menerima kehadiran saya di hidupmu" ucap Gus Sayhan mengelus rambut Zahra yang tertutup dengan jilbab.


Memang pernikahan mereka sudah satu bulan berjalan, tapi tidak ada perubahan sama sekali termasuk urusan tempat tidur. Gus Sayhan lebih memilih tidur di lantai dari pada tidur di atas kasur bersama sang istri.


...๐Ÿ’๐Ÿ’...


Haii๐Ÿ–ค


Happy reading guys ๐Ÿ–ค


Jangan lupa like, vote and comment:V๐Ÿ–ค


๐Ÿ’ terimakasih sudah mampir ๐Ÿค