
Hari berganti hari, tapi kabar ayu seperti ditelan bumi. tak ada kabar dan tak ada no yang bisa Zahra hubungi, Ayu yang kerapkali membagikan kegiatan sehari harinya di media sosial pun hilang begitu saja.
Zahra mencoba untuk mengunjungi rumah Ayu sebelum ia ikut ke rumah suaminya, Tapi apa yang dia dapatkan, hanya sebuah pintu yang terkunci rapt dan beberapa lembar dedaunan yang sepertinya tak pernah di sapu. Dengan perasaan sedih Zahra pergi meninggalkan kediaman sahabatnya ini.
Hari demi hari ia jalani tanpa kabar dari sahabat, tapi Zahra bisa menyampingkan itu dengan adanya sang mertua dan beberapa pegurus ndalem.
Pertama kali Zahra datang kesini, ia tak mengenal siapa siapa, tapi lihat sekarang ia terlihat sangat akrab dengan beberapa pengurus ndalem, seperti saat ini ia me ngajak pengurus ndalem untuk menemaninya untuk keliling pesantren
Kaki Zahra terhenti di bawah pohon mangga, melihat buah mangga itu terlihat sangat lah menggoda sampai sampai air liurnya keluar.
" Boleh minta tolong gak ?" tanya Zahra melihat ke arah dua santri di sampingnya ini.
"Iya, Ning "
" Ambilin mangga dong, kita bikin rujak nanti di ndalem. " Ajak Zahra, kedua santri itu pun mengangguk setuju.
Mereka mulai mengambil Mangga dengan kayu, tapi karena buah mangga nya tinggi membuat mereka kesusahan untuk mengambil nya. Tapi mereka tak menyerah begitu saja, mereka terus mencoba tanpa kata menyerah.
" Sayang " Panggil Gus Sayhan dari belakang istrinya yang sedang memberikan semangat pada dua santri itu.
" Mas, kebetulan kamu disini, aku minta tolong ambilin mangga dong " Ucap Zahra penuh harapan.
" Tapi sayang, pohon mangga nya tinggi, Mas gak bisa manjat " Tolak Gus Sayhan halus agar istrinya tak tersinggung.
" Giliran manjat yang lain bisa, di nikmati lagi " Sendiri Zahra.
" astagfirullah, kenapa mulut istriku ini, berakhlak sekali "
" Sayang " tegur Gus Sayhan. bisa bisanya istrinya mengucapkan itu tanpa beban sama sekali.
" Apa, emang bener kan, udah gitu di nikmati lagi " timpal Zahra dengan ke cemberut di bibirnya.
Gus Sayhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, untuk saja dua santri itu cukup jauh dari tempat mereka jadi mereka tidak mendengar apa yang di bicarakan pasutri ini.
Hai Gus, santri mu tak mendengar tapi para reader bisa membaca Kata hati mu....
" Mas!!!!" Kesal Zahra yang melihat ke arah suaminya yang sedang melihat dua santri yang masih berusaha mengambil mangga itu.
" Eh iya, ada apa sayang " Jawab Gus Sayhan langsung melihat ke arah istrinya. Melihat mood istrinya yang sedang tidak baik, Gus Sayhan pun berusaha berpikir keras.
" Sayang, mas gak bisa manjat, tapi tenang saja mas akan minta tolong sama tukang kebun dulu, siapa tahu di antara mereka ada yang bisa manjat "
" Terserah yang penting mangga itu bisa aku jadikan rujak " kekeh Zahra.
Sikap Zahra yang kekanakan ini bisa Gus Sayhan maklum, karena banyak sekali wawasan seputar wanita hamil yang di jelaskan oleh mertuanya, ummi dan dokter.
" Maaf Ning, kita cuma bisa petik satu aja, Karena pohon nya terlalu tinggi. " ucap salah satu dari mereka dan menundukkan kepalanya karena ada Gus Sayhan.
" Tak apa, yang penting kata bisa bikin rujak " Jawab Zahra. Gus Sayhan memperhatikan raut wajah sang istri pun jadi tak tega.
" Kembali lah ke ndalem, nanti mas minta tolong sama tukang kebun untuk ambilkan mangga nya, nanti mas bawakan mangga ke ndalem "
" Tapi aku mau lihat dia memetiknya juga "
" huuu"
Keinginan ibu hamil adalah tahta tertinggi dari Chef Renata.
***
...Gak ada yang mau vote kah?...
...Terimakasih sudah mampir 🤍...