Gus Sayhan My Husband

Gus Sayhan My Husband
73



Setalah mengikuti kegiatan di masjid, ketiga pria itu berjalan menuju ndalem, tak henti hentinya sang Abi menjahili anaknya.


"Jangan di paksa " Ibrahim menyanyikan lirik lagu yang berjudul pilihan yang terbaik itu.


" Apanya jangan di paksa him ?" Tanya Ahmad memeng tidak tahu apa yang di maksud dari besannya ini.


" Jangan di paksa Ahmad " Tawa Ibrahim tak tertahan lagi, ia melihat wajah sang anak sangat malu dan sangat layak untuk di tertawai.


" Abiiii ... sudah lah, Sayhan pamit duluan Abi ayah , assalamualaikum " Ucap Gus Sayhan dan berjalan cepat menjauh dari sang Abi dan mertuanya, tapi lebih tempatnya menjauh dari sang Abi


Ia sangat malu di jahilin seperti itu, apa lagi ini soal pribadinya. Ahmad hanya bisa tercengang melihat sahabatnya ini tertawa bebas tanpa mau berbagi.


Mereka semua berkumpul di meja makan, Terlihat Gus Sayhan mengisi piringnya dengan beberapa lauk dan tak lupa ia mengambilkan sang istri.


Bukanya harusnya Zahra sebagai istri yang mengambilkan suaminya lauk dan sebaginya?. iya, memeng bener seperti itu, tapi mengingat istrinya sedang hamil dan perut membuncit, Gus Sayhan pun melarang istrinya melakukan seperti biasa ia lakukan.


" Sudah cukup mas " Ucap Zahra, ketika Gus Sayhan ingin menaruh lauk lagi.


" Jangan di paksa menantu itu lho" timpal Ibrahim.


" Ya nak, jangan di paksa, mungkin nanti istri mau nambah " timpal ummi siti.


" Tuh denger kata ummi mu " ucap Ibrahim menahan tawanya.


" Kamu kenapa sih mas ? aku perhatiin dari tadi kamu ketawa terus ?" ummi siti Heran melihat suaminya yang tertawa gak jelas dari tadi.


" Tahu dari selsai sholat isya suami mu gak jelas Siti " timpal Ahmad ia juga ikut tambah heran.


" Mas kamu sehat kan ?" tanya ummi siti, menaruh tangannya di kening suaminya.


" Aku sehat kok "


" Sayang mas sudah selesai" ucap Gus Sayhan di tengah perbincangan kedua orang tuannya.


Gus Sayhan hanya tersenyum kaku, ia melihat sang Abi dan berhasil membuat muka datarnya kembali.


**


Kedua pasutri itu sedang berdialog bahasa anak kecil. Ternyata dialog yang mereka lakukan tadi selsai sholat magrib itu belum selsai.


" Dede bayi " panggil Gus Sayhan, ia meniduri Tumbuhnya dan menjadikan paha sang istri menjadi bantal, menatap langit kamarnya.


" iya, Abi " Jawab Zahra, tersenyum.


" Tahu gak, Karena umma gak ngasih Abi jenguk dede bayi, Abi diejek lho sama kakek mu " Pernyataan Gus Sayhan membuat kening Zahra mengkerut.


" Emang iya ? " Tanya Zahra menatap suaminya. Gus Sayhan bangun dari tidurnya dan menatap sang istri.


" Iya sayang" Gus Sayhan merapikan rambut istrinya yang terurai begitu saja. " Kamu tahu, pas Abi bilang Jangan di paksa itu ?" Zahra menganggukkan kepalanya, " Itu Abi nyuruh mas tidak boleh memaksa kamu untuk itu "


" Maaf mas bukan begit-" Jari telunjuk Gus Sayhan mengisyaratkan untuk sang istri diam. " Mas nggak papa" Ucap Gus Sayhan.


Emang bener adanya, selama sang istri hamil, ia tak pernah meminta haknya sebagai suami. mengingat apa yang di katakan dokter, mereka tidak boleh terlalu sering berhubungan suami-istri karena saat itu kandungan Zahra saat itu sangat rentan keguguran.


Lalu kenapa ia sekarang meminta untuk melakukannya, karena usia kandungan Zahra terbilang sangat kuat tidak seperti dulu. Tapi melihat istrinya seperti masih menghawatirkan si bayi maka Gus Sayhan pun mencoba untuk memahami semua itu.


**


Terimakasih sudah mampir 🤍


Jangan lupa like vote and comments 🤍


Jangan lupa GIF 🔥


Maaf tidak sesuai bayangan kalian 🙏