
Seperti biasa habis magrib rutinitas kedua pasutri ini adalah membaca Alquran dengan berhadap hadapan. Dulu sebelum mereka masih tinggal di apartemen mereka selalu sholat berjamaah.
Tapi sekarang berbeda, Zahra harus menunggu suaminya pulang dari masjid dulu baru mereka bisa melakukan rutinitas mereka. Tapi semua itu tidak masalah, toh mereka masih bisa melakukan rutinitas mereka.
Surah Maryam dan surat Yusuf selalu mereka lantunkan setiap selesai sholat Magrib dan beberapa surah lainnya.
Selesai membaca membaca Al-Qur'an seperti biasa kedua pasutri itu akan membagi waktu untuk bercerita atau sejenisnya.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh anak Abi" ucap Gus Sayhan mencium perut istrinya yang tertutup kain mukenah.
" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh Abi ku sayang" Jawab Zahra menirukan suara bayi.
" bagaimana hari ini sayang, anak Abi bahagia kan, gak rewel. "
" gak rewel Abi, tapi umma tadi nangis lho di taman, sama aunty syakila"
" kalau boleh tahu umma nangis karena apa sayang "
" Tadi umma itu nangis karena ingat aunty ayu, Abi tahu gak aku juga kangen lho sama aunty ayu"
" Oo itu masalahnya, baiklah Abi akan menghibur kalian berdua "
" Emang Abi mau apa ?
Seperti mereka enggan untuk mengakhiri dialog dengan bahasa bayi, kedua pasutri itu terus melanjutkan dialog mereka.
" Bagaimana kalau Abi berkunjung ke Dede bayi " Ucapan Gus Sayhan langsung mendapatkan pukulan diri sang istri.
" kamu ini mas, Jangan Ngadi-ngadi deh " ucap Zahra.
" Kenapa sayang, kan gak ada salahnya "
" Tapi mas, kan tadi kita lagi ngomong sama bayi kita, gak boleh ngomong gitu "
" Kan yang ngomong itu kamu sayang, jadi gak ada salahnya dong "
" tetep saja salah, udah sana sholat isya, udah azan tuh, aku mau wudhu dulu "
" Tapi boleh ya sayang"
" Masss!!! sholat sana "
" Lihat nanti"
Zahra tak habis pikir, suaminya ingin menghiburnya dengan cara berkunjung ke anaknya.
Sedangkan di masjid pesantren terlihat ramai, dan banyak santri yang berkumpul di sana. Karena selesai sholat isya biasanya akan ada siraman qolbu.
" Kenapa nak ?" Tanya Ibrahim melihat anaknya.
" Gak ada Abi "Jawab Gus Sayhan dengan cepat.
" Kamu gak ada masalah kan dengan menantu ku ?"
" Astagfirullah Abi, Jauh-jauh ya Allah "
" Terus kalau gak ada masalah, kenapa muka mu murung seperti itu?"
" Itu bi.... anuk ... hehe " Gus Sayhan tak bisa menjawab pertanyaan sang Abi, bohong dosa, dan kalau memberitahukan sebenernya malu banget.
" Dasar anak muda ini, kamu ini aneh nak, oo Abi tahu " Kata Ibrahim yang baru saja mengingat sesuatu, ia tersenyum miring seperti mengejek sang anak.
" Kenapa wajah Abi seperti itu? " ucap Gus Sayhan sedikit geli melihat perubahan wajah sang Abi.
" Dasar anak muda" Ibrahim mendekat ke anaknya dan membisikkan sesuatu. dan itu membuat mata Gus Sayhan terbuka lebar.
" Abii!!" ucap Gus Sayhan langsung menjauh dari sang Abi, bisa-bisanya sang Abi membisikkan sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh dirinya.
Ibrahim ingin tertawa terbahak bahak melihat wajah anaknya, tapi mengingat ia sedang berada di masjid, jadi tawanya di pending dulu.
Ahmad yang berada di samping sahabat dari tadi hanya diam dan heran, ia ingin bertanya, apa yang sebenernya terjadi di antara menantunya dan sahabatnya ini, tapi sayang pembawa acara sudah mulai acara.
**
Terimakasih sudah mampir 🤍
Jangan lupa like vote and comments 🤍
Jangan lupa gift 🤍