Galmoners

Galmoners
Part 9



First Campus.


Cinta datang karena terbiasa., terbiasa dengan kebersamaan yang ada



Hujan yang mengguyur kota Bandung membuat beberapa orang berlarian memasuki kampus. Sama halnya dengan Galmoners. Keempat gadis cantik itu datang bersamaan menggunakan mobil Fanisa. Dan kini, mereka sedang berlarian menuju lobby kampus mereka.


"Ya ampun Fresa! Kenapa harus hujan-hujanan?!" Keempat gadis cantik tersebut menghentikan langkah mereka dan berbalik melihat siapa orang yang pagi-pagi marah-marah.


"Suka-suka gue lah!" Balas Fresa ketus.


"Emang suka-suka lu! By the way, kok gak ada matahari ya?"


"Gibran jomblo jadi bego ya! Namanya hujan ya mataharinya ngumpet." Balas Fresa ketus.


"Mataharinya gak ngumpet, tapi pindah ke kamu." Balas Gibran sambil menatap kedua manik mata Fresa.


Mahda dan yang lain meninggalkan kedua orang tersebut. Mereka yakin Gibran butuh privasi sekarang, terbukti saat Gibran mengkode mereka untuk pergi.


"Fre jangan jadi angkot ya?" Pertanyaan Gibran membuat Fresa menaikkan alisnya.


"Maksudnya?" Balas Fresa bingung. Angkot? Dia kan manusia? Gibran aneh aja!


"Ngetem sembarangan terus tiba-tiba pergi." Tutur Gibran membuat Fresa terdiam. Karena dia sendiri tidak tahu rencana takdir apa.


"Gue kaga ngerti lu ngomong apa. Udah ah gue mau ke kelas." Balas Fresa meninggalkan Gibran.


Melihat Fresa menjauh darinya, Gibran tersenyum bahagia. Karena Gibran tahu gengsi Fresa itu besar. Jadi mau tidak mau harus melakukan apapun untuk membuat Fresa hanya melihat untuknya.


Sama halnya dengan Gibran, Fresa menahan dirinya untuk tidak berteriak atau berekspresi yang membuatnya malu. Karena kelakuan Gibran membuat dirinya..


Brakkk...


Fresa terjatuh akibat tabrakan dari seseorang. Ia melihat siapa yang menabrak semua itu dengan senyuman sinis.


"Kalau jalan pakai mata! Kalau gak, pakai kacamata biar lu sadar kalau lu salah jalan!" Ucap Fresa ketus. Ia berdiri memandang kakak tingkatnya dengan penuh kebencian.


"Gue? Salah jalan? Gak mungkin! Karena jalan yang gue ambil udah benar, menghancurkan persahabatan kalian dan membuat seorang Mahda Adijaya menjadi gadis bodoh." Balasnya.


"Mungkin saat ini anda menang. Next time? Gue yang bakal bikin lu sadar apa itu menghancurkan!" Balasan dari Fresa membuat sosok cantik yang berdiri di depannya menatap geram. Baru saja ia ingin melakukan tindakan buruk, Mahda datang.


"Wah ada kak Cheryl. Ada apa?" Pertanyaan Mahda membuat Cheryl tersenyum misterius.


"Ini Da, gue kan mau ke kelas lu ngasih tau tentang Alex. Eh sahabat lu malah marah-marah dan ancam gu--"


"Bohong Da! Ni mulut mercon emang minta gue sembelih." Potong Fresa. Ia tidak tahu apa yang cabe ini rencanakan yang pasti hal buruk.


"Fre, gue tahu lu gak suka gue balikan sama Alex. Tapi jangan gini caranya, Alex dan Cheryl tuh saudara. Dan kalian semua juga tahu itu. Gue gak mau kita marahan, jadi you know what I mean." Balas Mahda serius. Bahkan saking seriusnya, Mahda membuat Fresa kecewa tanpa Mahda sadari.


Fresa tersenyum tipis. "Akan ada saatnya lu tahu mana yang baik dan mana yang buruk." Fresa meninggalkan Mahda yang terdiam di tempatnya. Sedangkan Cheryl tersenyum bahagia melihat keretakan persahabatan mereka.


"Maafin Fresa ya kak, kadang dia suka gitu." Ucap Mahda dan di balas dengan anggukan.


Kedua gadis cantik itu memutuskan untuk memisahkan diri setelah berbincang penting. Entah apa yang Cheryl ucapkan, yang pasti akan merubah suatu hal nantinya.



Pagi yang mulai cerah membuat anak-anak Sastra Indonesia semester lima atau tepatnya kelas A416 berlari memenuhi lapangan. Guna menjalankan suatu tugas negara. Yaitu membuat sebuah drama singkat.


"Ingat Fre! Lu Anemia. Jangan sampai lu ikut-ikutan kita dan berakhir lu di bawa ke Jerman lagi." Ancam Fanisa.


Ya, alasan lain kenapa Fresa tidak ikut camping saat itu, karena keluarganya yang overprotektif tersebut meminta ia melakukan prosedur rumah sakit seperti pemeriksaan biasa, tles darah dan ronsen full body. Entah alasannya apa, yang pasti Fresa sangat kesal dengan keluarganya.


"Mereka aja yang sensitif." Balas Fresa ketus.


"Mereka bukan sensitif, tapi mereka tidak mau menjadi orang terakhir yang tahu lu sakit. Sama kaya bonyok kemarin, pas pulang gue di suruh banyak istirahat. Padahal gue sendiri gak mau. Ya untung aja ada Fan--"


"Sejak kapan lu dekat sama Fano?!" Ucapan Fresa membuat keduanya menjadi perhatian teman sekelas mereka. Karena Fresa typical orang yang masa bodo, jadi dia menghiraukan tatapan teman-temannya yang kepo.


"Deket sama Fano? Gak ah biasa aja. Orang tuh ya dia cuma ngajak gue jalan ke Dusun Bambu. Udah. Apanya yang deket." Balas Fanisa membuat Fresa menelan ludahnya susah payah.


"Lu kenapa deh Ca. Aneh!" Tambah Fanisa saat melihat wajah Fresa seperti maling yang tertangkap basah.


"Hah? Gak. Tapi lu gak liat ac--"


"Liat Ca!" Potong Fanisa membuat Fresa panik seketika.


"Liat apa?" Balas Fresa lirih.


"Liat kalau si Fano ganteng juga. Tapi gue belum cinta mungkin besok?" Pertanyaan Fanisa membuat Fresa melengos pergi. Entah kenapa Fresa menjadi panik jika seseorang membahas Dusun Bambu. Karena ia tidak mau rahasianya terbongkar saat ini.


"Fre lu ada apa si sama Dusun Bambu? Tingkah lak--"


"Fresa!! Fanisa!! Sini kalian, kenapa masih di sana? Orang-orang udah nungguin juga!" Omel Reno. Dosen mata kuliah kali ini, bahkan dosen ini masih terbilang muda. Bahasa yang di gunakan Reno juga bahasa anak muda. Makanya banyak cewek-cewek Starlight jatuh hati padanya, tapi tidak dengan Fanisa dan Fresa. Keduanya anti yang namanya jatuh cinta sama guru, nanti kaya cerita di wattpad lagi, kan berabe.


"Bagus kalian sudah gabung, kamu Fresa duduk di pinggir lapangan. Karena keluarga kamu meminta seperti itu. Dan kamu Fanisa! Jangan kebanyakan bengong! Saya tahu saya tampan jadi biasa aja." Ucap Reno membuat Fanisa mendengus kesal. Selain sok muda, Reno juga kurang ajar alias mesum. Lihat saja tatapan pria itu pada Fanisa.


"Fresa kamu kenapa? Ada yang lucu?" Pertanyaan Reno membuat Fresa geleng kepala. Bagaimana tidak? Guru berusia 25 tahun itu tengah menatap sahabatnya lapar! Sudah di pastikan guru tersebut kurang belaian seperti yang sahabatnya ucapkan tadi.


"Gak pak tadi saya lagi latihan ketawa." Balas Fresa ketus.


Bisik-bisik tentang dirinya tertawa mulai terdengar di telinga Fresa membuat gadis cantik itu mendengus. Semua karena Fanisa! Ingatkan dia untuk memarahinya nanti.


Disaat Fresa sedang duduk manis di pinggir lapangan, seseorang duduk di sampingnya. Siapa lagi jika bukan Gibran Pahlevi. Pria itu tidak pernah absen jika masalah pelajaran Fresa. Bukan karena terobsesi. Tapi memang jadwal itu sudah melekat dalam diri Gibran.


"Tumben makhluk es mau ikut." Ucap Gibran membuat Fresa menengok ke arah mereka.


"Kenapa? Masalah?!" Balas Fano ketus.


"Masalah lah! Kar--"


"Lu berdua berisik!" Omelan Fresa membuat Fano maupun Gibran terdiam. Setelah itu mereka mulai fokus melihat sesuatu di depan mereka.


"Ini perasaan gue apa emang bener ya kalau tuh dosen caper itu melakukan hal tidak senonoh?" Pertanyaan tiba-tiba Fano membuat Fresa dan Gibran saling pandang.


"Emang." Balas Fresa membuat Fano langsung bangkit dari duduknya. Membuat rasa penasaran keduanya semakin besar. Ya lah, dosen macem Reno harus di kasih pelajaran. Jika dulu Fanisa mengadu tidak ada yang percaya mungkin saat ini berbeda. Karena ada Fano di sini.


Fanisa merasa kesal dengan dosennya tersebut. Kenapa? Karena sedari tadi dosennya tersebut selalu saja mencari perhatiannya. Sudah Fanisa duga, dosen di depannya kurang belaian sekaligus mesum akut.


"Fanisa bapak tahu kamu suka sama bapak, tapi jangan seperti ini." Katanya berusaha menyentuh Fanisa namun di tahan oleh Fano yang datang dengan wajah geram.


"Bapak Reno yang terhormat! Anda ini dosen kenapa selalu saja menggoda mahasiswi? Saya bisa laporkan bapak detik ini juga, dan satu lagi! Don't touch my girl! I see you touch her again? I kill you!" Ucapan Fano membuat Fanisa terdiam. Tapi di lain sisi Fanisa sangat senang. Dosen tersebut langsung bungkam. Karena, memang pria satu itu terbilang kurang ajar. Jika saja dia tidak memukul tangan dosen tersebut sudah di pastikan dosen tersebut akan macam-macam kepadanya.


"Bener sekali Fano! Mending pecat aja dia. Tadi dia juga melakukan hal menjijikan ke kita-kita." Koor teman-teman Fanisa yang lain.


Tidak menunggu lama, seseorang yang di hubungi Fano langsung datang. Yaitu, pihak berwajib. Entah kapan manusia es ini menghubunginya karena mereka langsung tiba bersama dengan pemilik kampus.


"Saya akan balas kamu anak muda!" Teriak Reno membuat sorakan kebencian di utarakan teman-teman sekelas Fanisa.


"Maaf Tuan Fano atas ke tidak nyamanannya" Kepala Kampus Starlight meminta maaf.


"Jangan di ulangi kembali." Lepas kepergian pria berumur tadi, Fanisa langsung mengucapkan terima kasih.


"Thanks No." Balas Fanisa saat lapangan menyisakan mereka berdua.


"Anything. Lain kali hati-hati." Ucap Fano sambil mengusap kepala Fanisa dengan senyuman manisnya. Entah sadar atau tidak. Fresa dan Gibran yang sedari tadi menonton shock dengan tingkah laku makhluk es tersebut. Mereka sudah menduga sesuatu hal terjadi dengan mereka.


"Fix ada yang mereka sembunyikan."


"Heeem..." Jawab Fresa.



Jika Fanisa dan Fresa sibuk dengan masalah dosen mesum. Maka lain halnya dengan Kiki. Gadis cantik tersebut harus merasakan kelelahannya akibat hukuman yang dosennya berikan. Jika saja Mahda tidak berbicara kasar mengenai Fresa, mungkin dia tidak akan terjebak di perpustakaan! Menyebalkan.


"Emang Mahda sialan! Gue sumpahin cepet putus!" Ucap Kiki menggerutu. Tanpa Kiki sadari, rak dekat ia berdiri bergoyang dan....


Brakkk...


Kiki tidak merasakan sakit apapun, cuma ia merasakan tubuh seseorang di bawahnya. Tidak menunggu lama, gadis cantik itu langsung membuka matanya.


"Astaga! Arkan lu gak apa?" Tanya Kiki langsung bangkit dari tempatnya tadi. Dia panik melihat pria yang selama ini mendekati dirinya melindungi dari tumpukan buku yang terjatuh.


"Gak apa, lain kali hati-hati ya. Kalau gak ada gue gimana? Lu bisa luka dan gue gak suka liat lu luka." Perkataan Arkan membuat Kiki terdiam. Bahkan saat Arkan mencium dahinya Kiki masih terdiam.


"Kenap--"


"Kenapa cium lu? Biar lu sadar kalau ada orang ganteng di depan lu. Udah ah rapihin, sebelum penjaga perpustakaan ngamuk." Ucapan Arkan membuat Kiki langsung melaksanakan tugasnya tadi. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa, karena dia sendiri masih shock atas apa yang terjadi. Setelah rasa sakitnya, mungkinkah Tuhan memberikan sebuah petunjuk supaya dia membuka hati kembali?



Bel istirahat berbunyi, Mahda langsung keluar dari kelasnya menuju kelas Alex. Ya seperti biasa mereka akan menempel bagaikan lem.


"Kak Cheryl? Alex ada?" Pertanyaan Mahda membuat Cheryl tersenyum tipis.


"Ke dalam aja, gue duluan ya!" Ucapan Cheryl membuat Mahda langsung memasuki kelas Alex.


"Hai sayang, mau ke kantin sekarang?" Pertanyaan Alex membuat Mahda mengangguk.


Tidak perlu menunggu lama, kedua insan tersebut mulai berjalan keluar dari kelas Alex dan pergi menuju kantin.


Fresa dan yang lain asik menikmati makanan mereka, namun kedatangan Mahda dan Alex membuat kantin seketika hening. Bahkan Mahda hanya melengos saat melihat Fresa dan Kiki.


Fresa sudah tidak tahan! Baru saja ia bangkit untuk menjelaskan semuanya pada Mahda, FEGA menahan Fresa membuat gadis cantik tersebut menggeram.


"Mau jelasin ke Mahda? Percuma! Gue pernah jelasin sebelumnya sama aja, malah dia bilang gini, 'kalau lu cinta sama gue, lu harusnya relain gue! Dan jangan jadi Fresa yang melakukan hal buruk demi hubungan gue putus.' lu tau gak si saat dia ngomong itu? Sakit Fre! Tapi gue diem aja, semoga tuh anak sadar cepat." Balas Evan dingin.


Benar kata Evan, sekeras apapun kita menjelaskan semuanya. Jika Mahda tetap Keukeh pada pendiriannya, sama saja. Fresa harap Mahda sadar sebelum ia tersakiti terlalu dalam. Biarkan hari ini mereka kalah, Fresa yakin nanti kemenangan datang untuk mereka


❤️❤️❤️